
Rombongan Leon yang sudah sampai di kota D sudah berada di perjalanan menuju Rumah Sakit pusat Central Kusuma yang ada di kota D. Setelah sebelumnya orang-orang Abraham menjemput kedatangan mereka.
Sesampainya mereka di ruang rawat Nico, Nico terlihat terkejut karena keturut sertaan Endah yang datang bersama dengan istri, putranya dan juga calon istri sang putra, Anna. Jika kedatangan Anna sama sekali tidak mengundang keterkejutan Nico, karena ia tahu Anna adalah calon menantunya, lain halnya dengan kedatangan Endah yang terus menempelkan dirinya pada asisten sang menantu. Membuat ia terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Untuk apa Endah sahabat putriku itu jauh-jauh ikut datang ke sini untuk menjengukku? Kenapa dia begitu dekat dengan Jimmy? Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Nico di dalam hatinya.
Melihat wajah Nico yang seakan bertanya-tanya, Lestari yang mengerti raut wajah sang suami yang memiliki banyak pertanyaan yang ada di benaknya, langsung saja menjelaskan keturut sertaan Endah berada disana dengan alasan yang ia buat-buat sendiri namun sedikit apa adanya.
"Jika ayah penasaran dengan sahabat putrimu ini dekat dengan asisten menantu kita, itu karena Endah ini sudah menikah dengan Jimmy asisten menantu kita, ayah. Dan perlu ayah tahu untuk sementara waktu dia akan menumpang tinggal di Mansion Daddy mu hingga rumah yang sedang Jimmy bangun itu rampung. Tentunya mereka akan tinggal di Mansion Daddymu sesuai dengan tawaran yang Daddy mu berikan kepada mereka. Dan perlu ayah tahu juga mereka datang kesini hanya sekedar mampir meluangkan waktu untuk menjenguk Ayah, jika Ayah sedang mencari keberadaan putri dan menantu ayah, mereka belum bisa kesini karena mereka masih dalam perjalanan menuju kota D dengan menggunakan mobil, Jessica tidak dianjurkan menggunakan transportasi udara,Ayah. Jadi bersabarlah jika ingin menemui putrinu yang satu itu." Ucap Lestari dengan wajah dinginnya menatap tak ramah wajah sang suami.
"Iya Bu, Ayah akan sabar menunggu Jessica datang menjenguk Ayah." Sahut Nico yang menatap dalam sang istri penuh kerinduan namun sang istri malah membuang pandangannya.
"Endah... Jimmy... Terimakasih sudah menyempatkan waktu menjenguk Om ya." Ucap Nico yang menatap keduanya dengan memberikan senyum ramah di wajahnya yang masih terlihat pucat.
"Om kata mu, Ayah? Apa kau tidak bisa menyadari atau merasakan aku ini putri mu, Ayah? Kau bahasakan dirimu dengan sebutan Om, sekarang? Biasanya kau membiasakan kami memanggilmu dengan sebutan Ayah. Pasti semua ini karena Cynthia. Baiklah Ayah kau terlalu mengikuti kemauannya, mulai saat ini dan sampai seterusnya aku akan memanggil mu dengan sebutan Om." Batin Endah yang tak terima dengan Nico yang membahasakan dirinya dengan sebutan Om.
Endah hanya diam tak menyahuti ucapan Nico lain halnya dengan sang suami yang langsung menyahuti ucapan Nico, sang Ayah mertua dengan ramahnya.
"Sama-sama Tuan," sahut Jimmy sembari tersenyum ramah ia membalas senyum ramah yang diberikan Nico padanya.
Endah malah makin memandang tak suka pada Ayah kandungannya itu setelah melihat sang suami bersikap ramah pada ayah kandung nya itu. Endah menginjak kaki sang suami dengan sepatu high heels yang ia gunakan, hingga sang suami mengerang pelan menahan sakitnya.
__ADS_1
Setelah menginjak kaki sang suami tanpa rasa bersalah, Endah malah menambah memberikan tatapan sinis ke wajah suaminya yang sedang berdiri disampingnya kemudian tatapan sinis itu berpindah pada wajah pucat sang Ayah yang belum mengetahui dialah putri yang selama ini sengaja di tukar oleh Melani dan Suci.
Jimmy yang mendapat amukan kecil dari Endah hanya bisa mengelus dadanya menatap Leon dan Lestari.
"Kamu yang kesal pada Ayahmu, kenapa aku yang jadi pelampiasan mu, sayang? Lihat saja apa yang kamu lakukan padaku saat ini akan ada hukumannya. Bersiaplah tak bisa berjalan besok pagi." Batin Jimmy dengan seringai liciknya.
Nico yang merasa mendapatkan tatapan sinis dari Endah merasakan hatinya begitu sakit seperti di tusuk belati, karena tak biasanya Endah yang ia kenal sebagai sahabat putrinya yang biasa nya bersikap manja dan tersenyum ceria padanya itu kini terus menatap sinis dirinya penuh kebencian.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada kata-kataku yang salah ku ucapkan tadi,hingga ia memandang ku sesinis itu? Dan kenapa hatiku seakan tak terima mendapatkan kesinisannya? Kesinisannya ini seakan melukaiku hingga kerelung hatiku." Batin Nico yang terus menatap wajah sinis Endah kepadanya.
"Semoga Ayah bukanlah golongan Om-om senang yang menyayangi wanita cabe-cabean seperti Cynthia. Seharusnya sebagai Ayah kandungan ku, kau bisa merasakan getaran hati mu kepada ku seperti yang dirasakan Ibu, Nenek, Kakek dan juga paman Adam. Ahh... Aku lupa bagaimana Ayah bisa merasakan getaran itu jika Anak keong racun itu ada didekatnya. Adikku saja terhempas apalagi aku yang keberadaannya belum diketahui Ayah." Ucap Endah di dalam hatinya sembari menyunggingkan senyum sinis kearah Nico.
Tatapan dan senyuman sinis Endah pada Nico terus di perhatikan Leon dan Anna.
Sedangkan Leon hanya tersenyum penuh arti menatap sang adik yang memiliki sifat dan sikap sedikit berbeda dengan Jessica.
"Ayah ku harap kesehatan jantung mu akan baik-baik menghadapi putri kandungmu yang satu ini." Batin Leon.
"Cepatlah pulih Nico dan saksikanlah tontonan seru bersama aku dan Adam kakakmu yang akan dipersembahkan oleh putri kandungmu yang luar biasa menakjubkan ini. Ia akan mendapatkan kembali haknya yang telah direbut oleh anak Melani dan menyadarkan mu dengan kesalahan mu selama ini terhadap kedua anakmu yang lain." Batin Abraham dengan menyunggingkan senyum penuh arti pada Nico.
Sementara itu Dewi yang melihat pemandangan yang tak mengenakan bagi hatinya itu hanya bisa berdiam diri menahan sedihnya. Dihatinya begitu tak tega karena sang suami seperti mempermainkan perasaan putranya, namun mau bagaimana lagi. Nico orang yang sangat sulit menerima pendapat orang lain, dia tidak bisa diberitahukan secara baik-baik.
__ADS_1
Membicarakan semua kenyataan ini pada Nico, tanpa membuatnya sadar terlebih dahulu hanya akan jadi sia-sia belaka. Apalagi dengan pernah terjadinya kejadian di masa silam. Di mana sang Mommy yang telah terhasut oleh sahabatnya sendiri untuk menjodohkannya secara paksa pada seorang wanita yang salah kepada dirinya hingga semua masalah ini terjadi.
Hingga akhirnya ia membiarkan suaminya menggunakan cara ini asal pada akhirnya keluarga mereka kembali bersatu dan bahagia, pikir Dewi yang memandangi wajah sedih anaknya yang mendapatkan tatapan sinis dari putri kandungnya yang belum ia ketahui.
..........
Di Mansion Abraham, Cynthia yang sedang berbunga-bunga hatinya sedang duduk di ruang makan, ia menikmati makan malamnya yang dilayani seperti biasanya oleh para Maid. Kali ini dia tidak marah - marah seperti biasanya, senyum di wajah cantiknya yang jarang terlihat di Mansion ini, malam ini begitu sering terlihat.
Banyak para Maid yang membicarakan hal yang tak biasa ini. Mereka menduga-duga apa penyebab yang bisa membuat wanita pemarah itu terus saja melemparkan senyum.
"Dia sudah gila atau dia habis menang undian ya Tin, dari tadi senyum-senyum sendiri?" Tanya Momon salah satu Maid yang bekerja dibagian ruang makan.
"Iyo-yo Mon, harusnya kui orang tuane sakit yo mbo sedih, ini yo kok ben seneng, kepiye to?" Jawab Tina dengan mulutnya yang berdecak.
"Iya-ya Tin, aku juga gak habis pikir, Nyonya Lestari juga gak pulang-pulang setelah ikut Tuan Besar dan Nyonya Besar, padahal anaknya inikan lagi hamil mana gak ada Bapaknya lagi."
"Eh dalah-dalah ojo mengubar berita yang ngapusi Mon, salah-salah kamu bisa dipecat."
"Yehh, Kamu ini gak percayaan orangnya Tin, aku ya tau dari Maid pribadinya Nyonya besar."
"Opo??" Pekik Tina yang membuat Cynthia melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Hai, kalian sedang bicarakan apa?" Tanya Cynthia yang kali ini tidak dengan nada sombongnya.
"Ahh enggak Non, ini si Tinah kaget kalau harga cabai naik di pasar." Jawab Momon berbohong dan Cynthia yang biasanya tak percayaan dan terus mencecar mereka hanya menanggapi dengan membentuk hurif O pada bibirnya lalu meneruskan kembali menghabiskan makanan yang ada dihadapannya.