Cinta Jessika

Cinta Jessika
Tertembak


__ADS_3

"Apa kabar Melani?" Sapa Adam saat berdiri tepat di belakang sofa yang di duduki Melani dan Suci.


Kedua wanita itu terkejut bukan main mendengar suara sapaan dari Adam. Mereka berdua rasanya ingin kabur namun tidak mungkin dilakukan oleh mereka, selain mereka berada di lantai dua juga karena kedatangan Adam bersama dengan Fabian.


Kedua wanita itu seketika berdiri secara bersamaan. Kedua wanita itu saling melirik satu sama lain kemudian kembali menatap intens wajah Adam yang terlihat santai berjalan menghampiri mereka.


Wajah Melani yang masih cantik di usianya yang menginjak 40 tahun nampak begitu pucat, badannya bergetar melihat keberadaan Adam di dekatnya. Adam mendaratkan bokongnya di sofa dimana Melani dan Suci tadi duduk bersantai menonton salah satu sinetron kesukaan mereka.


"Kak Adam," cicit Melani dengan suara yang begitu pelan.


"Ya aku...Bagaimana kabar mu sekarang Mel, kau masih nampak cantik seperti dulu," ucap Adam berbasa basi ia duduk dengan santai di sofa diantara Melani dan Suci yang tengah berdiri.


"A-aku baik-baik saja Kak Adam," jawab Melani terbata karena gugup ada di samping mantan calon kakak iparnya.


"Ya tentu kau baik-baik saja aku bisa melihatnya. Duduklah Mel, Tante Suci, apa kalian tidak lelah berdiri terus? Kita bisa bicara santai sembari menonton drama sinetron kesukaan kalian bukan?"ucap Adam sembari melirik keduanya secara bergantian.


Fabian yang berdiri ditempat sebelumnya pun melangkah maju mendekati salah satu sofa yang ada di ruangan itu kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa itu.


"Tuan Adam apa Anda ingin minum sesuatu?" Tawar Fabian pada Adam tamunya.


"Tidak perlu repot-repot Pak Fabian, saya rencananya tidak akan lama disini. Saya hanya ingin temu kangen dengan Melani sepupu mu." Sahut Adam dengan senyum yang di paksakan, Fabian pun menanggapi dengan menganggukan kepala dan membalas senyuman Adam itu.


"Mel, apa kau tahu tujuan ku datang kesini mencarimu?" Tanya Adam yang menatap lekat mata Melani.


"Ti-tidak Kak," jawab Melani masih dengan gugup. Ia tak bisa menutupi rasa takutnya berhadapan dengan pria yang terkenal sebagai salah satu anggota mafia internasional yang sangat di segani dan di takuti.


"Apa kau yakin kau tidak mengetahuinya?" Tanya Adam dengan menatap tajam wajah Melani.


"Be-betul Kak, aku tidak mengetahui maksud dari kedatangan mu kesini."


"Hahaha... Jangan pura-pura bodoh dan terus berusaha membohongi ku Melani, jika kau tidak tahu maksud kedatangan ku kesini kenapa selama ini kamu bersembunyi dari kami hemm? Apa ada sesuatu yang kau tutupi?"Sarkas Adam dengan tatapan mengintimidasi.


"Ti-tidak Kak,"


"Tidak apa Melani? Aku tak mengerti jawaban dari mulutmu itu. Jawabanmu terlalu ambigu bagi ku."


"Ma-maksud ku i-itu...A-aku tidak bersembunyi dan tidak menutupi sesuatu dari dirimu Kak." Jawab Melani berbohong dengan suara yang gugup dan gemetar.


Mata Melani terus menatap wajah Suci seakan meminta perlindungan. Fabian yang duduk bersebrangan dengan ketiga orang dihadapannya terus memperhatikan gerak - gerik Melani dan Suci sang Mommy. Ia melihat kedua kaki Mommynya yang terus bergerak gemetar, kedua kaki itu sudah dirapatkan dan di pegang oleh kedua tangannya agar berhenti bergerak namun sia-sia. Wanita tua itu tak bisa menyembunyikan rasa takutnya berhadapan dengan Adam anak sahabatnya.


"Mom, kau terlihat begitu takut duduk sejajar dengan Tuan Adam. Apakah Tuan Adam begitu menakutkan hingga kau ketakutan seperti itu. Dan apa benar kau dan Kak Melani dalang dari semua ini?" Fabian bermonolog dalam dirinya.

__ADS_1


Suci yang mendapat tatapan minta pertolongan dari Melani tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri sedang mengendalikan rasa takutnya.


"Bagaimana bisa Fabian membawa anak Iblis ini kesini? Dia lebih menakutkan dari Abraham...Aku harap Adam tidak akan membunuhku di depan putraku atas semua kesalahanku. Hidup ku jadi seperti ini karena dirimu Dewi." Batin Suci yang begitu cemas.


"Pandai sekali kau berbohong Melani, aku paling tidak suka di bohongi, kau tau konsekuensinya jika berbohong dengan ku bukan?" Ucap Adam yang kemudian sibuk mengeluarkan sesuatu dari belakang pinggangnya.


Pistol, Adam mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya. Ia menepuk-nepuk pistol di pahanya. Membuat ketiga orang itu takut dan bergidik ngeri.


Glek! Ketiga orang didekatnya sama-sama menelan ludahnya dengan kasar melihat Adam memainkan pistolnya.


"Aku tak menyangka dia membawa pistol." Batin Fabian.


"Jawablah dengan jujur sebelum timah panas mendarat di salah satu bagian tubuh mu Melani!" Adam menatap tajam Malani, ia mendesak Melani menjawab sejujurnya.


"A-aku mengaku salah Kak, aku mohon maafkan aku..." Melani menghampiri Adam dan bersujud di kakinya memohon maaf.


"Maaf kata mu?"Adam menendang tubuh Melani untuk menyingkir dari kedua kakinya begitu saja. Melani pun jatuh tersungkur di lantai.


"Ku kira kau sudah mengenal baik diriku Mel, ternyata kau tak benar-benar mengenalku. Ku beri tahu pada mu Mel, aku tidak suka di bohongi dan aku tidak suka dengan orang yang sudah bermain-main dengan keluarga ku dan segala kesalahan yang di perbuat oleh orang-orang yang bermain-main dengan keluargaku akan selalu ada konsekuensinya dari diriku." Ucap Adam kemudian tanpa kata-kata lagi Adam segera menarik pelatuk pistol di tangannya.


"Dor..dor.." dua kali tembakan dilepaskan Adam di kedua telapak tangan Melani.


"Tuan Adam," pekik Fabian yang terkejut dengan apa yang dilakukan Adam pada Melani.


Fabian terperangah tidak menyangka Tuan Adam yang terlihat begitu santai namun tetap berwibawa bisa dengan tega melukai seorang wanita tanpa belas kasihan. Adam dengan begitu saja menembak kedua telapak tangan Melani tanpa ragu.


Fabian yang seketika itu juga berdiri ingin menolong Melani namun tanpa di sadari Fabian, Ferdy sudah berada di belakang tubuhnya, Ferdy segera menodongkan pistol di kepala Fabian untuk tidak ikut campur urusan mereka.


"FABIAN JANGAN MELANGKAH NAK!" Pekik Suci yang melarang Fabian menolong Melani.


Tubuh Suci begitu lemas seketika berada dalam situasi ini, tubuh tua Suci langsung jatuh pingsan melihat kedua tangan Melani yang ditembak oleh Adam mengeluarkan banyak darah dan melihat kepala putranya ditodongkan pistol oleh Ferdy. Suci sudah mengira hidup mereka bertiga akan berakhir hari ini di tangan Adam.


"Dasar anak iblis...aku akan menunggumu di neraka," cicit Suci sebelum ia jatuh pingsan.


"Mommy.." panggil Fabian ketika melihat tubuh Suci jatuh tersungkur di lantai.


"Dasar wanita tua licik rupanya kau sadar betul tempatmu itu di neraka hahahaha...," tawa Adam yang begitu menggema di seisi ruangan.


Melihat orang tuanya pingsan Fabian ingin melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang Mommy, Ferdy yang melihat Fabian ingin melangkah segera l menarik pelatuk pistolnya.


"Selangkah saja kaki mu maju, jangan salahkan aku jika timah panas dari pistol ditanganku ini akan menembus kepalamu." Ancam Ferdy yang membuat Fabian mengurungkan langkahnya.

__ADS_1


Adam berjalan menghampiri Melani yang sedang merasakan kesakitan di kedua telapak tangannya. Ia berjongkok di depan Melani yang terus meringis kesakitan dengan kedua tangan yang bersimbah darah.


"Sakit Mel?"tanya Adam tanpa dosa. Melani menjawab dengan menganggukan kepalanya.


"Hahaha... ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan pada keluargaku. Kedua tangan ini yang sudah dengan beraninya menukar dan membuang keponakan ku dipanti asuhan. Kau wanita yang sangat pintar kau bakar panti asuhan itu untuk menghapus jejak keberadaan keponakanku. Kau benar-benar wanita yang tak punya hati Mel. Aku pastikan ini baru awal dari penderitaanmu Melani dan aku pasti akan melakukan hal yang sama pada buah hatimu jika kau tidak mau mengatakan dimana keberadaan keponakan ku sekarang." Ucap Adam sembari menekan telapak tangan Melani dengan ujing pistol miliknya. Ia menekan kuat pada telapak tangan yang tertembus timah panas dari pistol miliknya.


Apa yang dilakukan Adam seakan menambah rasa sakit yang dirasakan Melani.


"Aaaaa... sakit kak cukup," pekik Melani kesakitan.


"Jangan Kak Adam! Ku mohon jangan sakiti anakku, kasihani dia Kak, dia sedang mengandung jangan sakiti dia ku mohon. Ini semua salahku Kak, biar aku yang menanggungnya seorang diri." Melani memohon sambil menangis dengan suara yang gemetar merasakan sakit dan bercampur dengan rasa takut.


"Ku mohon kata mu... hahahaha... Kau memohon pada ku? Apa aku tidak salah dengar?"


"Sekarang katakan dimana keponakanku berada atau..." kalimat Adam terpotong.


"Keponakanmu di adopsi oleh Tuan Ferry pengusaha Batu Bara di pulau K..." potong Melani cepat, ia segera memberitahukan keberadaan keponakan Adam itu, ia tidak mau anaknya menjadi sasaran empuk pria sikopat di hadapannya.


Di dalam dasar hati Melani sekarang ia sangat menyesal ikut berurusan dengan keluarga mantan calon suaminya itu. Andai waktu dapat di ulang lagi ia tak akan mau terkena bujuk rayu Suci untuk membalaskan dendam pada Nico dengan cara menukar putrinya dan membuang putri Nico ke panti asuhan.


Mendengar jawaban Melani, Adam melangkahkan kakinya keluar dari Villa Fabian. Meninggalkan begitu saja Melani yang terluka. Kepergian Adam di ikuti oleh Ferdy yang mengekori langkahnya dari belakang.


"Siapkan pesawat untuk kita pergi ke pulau K, kita temui Ferry hari ini juga. Aku akan membawa pulang keponakan ku hari ini juga apapun yang terjadi." Perintah Adam pada Ferdy.


"Baik Tuan." Jawab Ferdy yang menerima perintah dari Tuannya.


Fabian melangkahkan kakinya mendekati Melani.


"Kak Mel, ayo kita ke rumah sakit. Kedua tanganmu harus segera di obati."ucap Fabian dengan suara yang begitu mengkhawatirkan Melani.


"Tidak Fabian, panggilkan saja dokter kesini untuk mengobatiku."


"Kenapa tidak Kak Mel? Jika dokter yang kesini itu akan memakan waktu lama sedangkan tanganmu harus segera diobati."


"Aku tidak mau keluar dari Villa ini, aku tidak mau di penjara Fabian, aku ini seorang boronan."


"Apa??? Buronan??" Fabian terkejut dan terduduk lemas di dekat Melani yang kedua tangannya berlumuran darah.


"Kejahatan apalagi yang kau lakukan Kak Mel?" Tanya Fabian dengan wajah yang lesu.


Tanpa di sadari oleh Fabian selama ini dia sudah menampung seorang buronan di Villa pribadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2