
Siang hari ini Andre dan Jessica makan siang bersama Santoso di sebuah restoran sederhana di dekat lokasi perusahaan Batara Group. Mereka membicarakan mengenai niat Andre yang akan memboyong Anna malam ini ke kota D bersama anggota keluarga istrinya yang lain.
Santoso yang sudah mempercayakan semua tentang Anna kepada Andre langsung mengiyakan niat Andre tersebut. Dengan segera Santoso memberikan kabar mengenai niat Andre pada istrinya yang di sambut baik oleh sang istri yang segera menyiapkan semua keperluan yang akan di butuhkan Anna di sana.
Sedangkan Anna sendiri yang belum mengetahui apa-apa tentang niatan kakak sepupunya itu kini terlihat kesal dari pagi hari hingga siang ini.
Bagaimana tidak, pagi-pagi buta Leon dengan seenaknya membatalkan janjinya menjemputnya Anna untuk mengantarnya ke kampus, ditambah lagi Jessica dan Endah menghilang tanpa kabar, ponsel Jessica tidak dapat di hubungi, operator telepon mengatakan nomor Jessica sedang di luar jangkauan sedang ponsel Endah terlihat sibuk seperti berada dalam panggilan lain.
"Tiga orang bersaudara ini sama-sama menyebalkan hari ini ughhh..." Umpat Anna yang sedang mengendarai mobilnya.
"Mereka bertiga kenapa sih? Satu mode jutek bilang gak mau diganggu, emangnya gue ini pengganggunya apa? Sebel banget gue ama dia, sayang aja cinta kalau gak, dah gue ajak perang tuh dia." Ucap Anna lagi sambil menepuk-nepuk kedua tangannya kesal karena merasa dianggap pengganggu oleh Leon kekasihnya.
"Ini lagi duo adik ipar lak.nat menghilang tanpa kabar. Pakai gak masuk kuliah segala. Berasa kaya anak ilang gue tanpa mereka." Umpatnya lagi yang kali ini kepada sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.
Hari ini setelah menyelesaikan jam kuliahnya Anna memutuskan untuk pergi ke Claudia beutique milik kakak perempuannya satu-satunya.
Mobil yang dikendarai Anna telah terparkir didepan pertokoan dekat butik milik kakaknya itu. Ia pergi kesana untuk menemui sang kakak yang tengah sibuk membuat gaun pengantin untuk adik kesayangannya.
Anna melenggang masuk kedalam butik melewati beberapa karyawan butik yang sedang sibuk membantu para konsumen butik yang juga sedang sibuk memilih-milih gaun yang akan mereka beli. Ia berjalan cuek menuju ruang kerja sang kakak.
Ia masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Claudia berlonjak terkejut dengan kedatangan adiknya itu.
"Anna... Hampir saja jantung gue berhenti berdetak karena lu. Hadduh kebiasaan buruk lubitu benar-benar merugikan gue nih. Lihat ini Ann! Gambar design gue jadi seperti inikan jadinya gara-gara lu ngagetin gue!" Ucap Claudia yang memasang wajah kesal kepada sang adik yang duduk di depan meja kerjanya sembari menunjukkan gambarnya yang tercoret karena kehadirannya yang mengejutkan.
"Cuma gambar kecoret begitu aja, tampang udah kaya dompet tanggung bulan." Sahut Anna sinis yang melirik sebentar design gambar yang di tunjukkan Claudia dengan pandangan meremehkan.
"Eh ini anak bukannya minta maaf malah ngeremehin pekerjaan design gaun yang gue buat seharga mobi mewah lagi." Ucap Claudia yang menanggapi sikap Anna barusan.
"Eleh... Sombongnya lu kak, ya deh gue minta maaf, maafin gue ya Kak Clau." Ucap Endah meminta maaf tak setulus hati.
"Hem, ok dimaafin. Lu mau ngapain kesini gak biasanya lu kesini?" Balas Claudia yang langsung menanyakan tujuan adiknya datang ke butik.
"Main aja emang gak boleh, duo ubur-ubur gue semenjak nikah suka ngilang tanpa kabar. Hari ini aja mereka berdua gak masuk dan sama-sama gak bisa dihubungin. Berasa kaya anak ilang gue di kampus tanpa mereka." Jawab Anna sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Hahaha kaya anak ayam kehilangan induknya dong lu?" Tawa Claudia menanggapi jawaban adiknya.
"Ya bisa di bilang begitu, buy the way gaun pengantin gue udah jadi belum Kak?" Ucapnya sambil menanyakan gaun pengantinnya yang dibuatkan oleh kakaknya sendiri.
"Baru delapan puluh persen pengerjaannya, nanti di kabarin kalau udah jadi ya?" Jawab Claudia yang kembali mengerjakan design gaun milik customernya.
"Ok Kak Clau, ngomong-ngomong gue laper nih, makan yuk!" Ajak Anna pada Claudia yang tengah bekerja.
"Pesen aja, gue gak bisa keluar, customer gue yang pesen gaun ini habis makan siang mau kesini buat liat rancangan design yang gue buat."
"Ya udah, gue suruh Ema pesenin bebek goreng kaya biasanya ya Kak?"
"Hemm... Iya boleh." Jawab Claudia yang tetap fokus pada pekerjaannya.
Anna pun keluar mencari keberadaan Ema untuk menyuruhnya memesankan makanan kesukaan mereka berdua itu.
Andre dan Jessica yang sudah kembali dari makan siang bersama Santoso terlihat terkejut saat melihat Alan dan kedua anak Fabian yang masih menggunakan seragam sekolah berada di meja resepsionis perusahaannya.
__ADS_1
Ketika tak sengaja mata Hana melihat bayangan sosok yang selama ini di rindukan, ia langsung berlari ke arah Jessica untuk memeluknya. Tubuh Jessica terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuh karena Hana menabrak tubuh Jessica saat ingin memeluknya. Untung Andre dengan sigap menahan tubuh istri kesayangannya itu agar tidak jatuh terjungkal kebelakang.
"Tante Jessica, Hana sangat merindukan Tante, Tante kemana saja?" Ucap Hana sambil menangis haru saat memeluk Jessica.
Jessica tidak menjawab ia hanya mengusap rambut panjang Hana dalam dekapannya sembari menatap sang suami. Andre yang di tatap hanya menganggukkan kepalanya seakan mengizinkan istrinya itu untuk berinteraksi dengan Hana.
Alan dan Hani yang melihat Hana berlari kepelukan Jessica, akhirnya datang menghampiri kedua orang yang ingin mereka temui.
"Selamat siang Tuan Andre dan Nyonya Jessica, maaf mengganggu waktu Anda dengan kedatangan kami yang tiba-tiba tanpa membuat janji terlebih dahulu," sapa Alan saat sudah berdiri dihadapan Andre dan Jessica.
"Siang Alan, tidak apa-apa hari ini saya tidak terlalu sibuk." Andre membalas sapaan Alan dengan ramah meskipun timbul tanda tanya dalam dirinya tentang kedatangan Alan ke perusahaannya.
"Maaf Tuan jika Anda berkenan, apa bisa saya meminta waktu Anda sebentar untuk membicarakan maksud dan tujuan saya datang kesini?" Ucap Alan yang meminta waktu Andre dengan sopan.
"Ok, silahkan ikut kami ke ruang kerja saya." Jawab Andre yang memberikan waktunya untuk Alan berbicara padanya.
Andre langsung menggandeng tangan istrinya setelah Alan menarik tubuh Hana dari pelukan posesif Hana pada Jessica. Alan dan kedua anak Fabian berjalan mengekori langkah Andre dan Jessica yang berjalan di depannya.
Sesampainya di lantai ruangan Andre, Andre bertemu dengan sekretarisnya yang sedang membawa gelas kotor berjalan mengarah ke ruang pantry.
"Tolong buatkan minum untuk tamu saya!" Perintah Andre yang tanpa melihat dan menyebutkan nama sang Sekretaris. Ia bersikap begitu dingin kepada semua wanita terkecuali ibu yang melahirkannya, sanak saudaranya dan istri tercintanya tentunya.
Sang sekretaris hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil melihat siapa tamu bosnya itu.
Sesampainya di ruang kerja Andre. Andre meminta Jessica untuk duduk bersandar di sofa.
"Tunggu di sini sebentar ya sayang, setelah ini baru aku temani kamu berbaring nanti.$ ucap Andre yang mengelus dan mengecup kening sang istri.
"Iya sayang, akan aku usahakan cepat." Jawab Andre dengan melemparkan senyum pada istrinya.
Andre melirik Hana dan Hani yang tengah berdiri bergandengan tangan dengan Alan yang berada di tengah-tengah antara Hana dan Hani.
"Sini anak-anak cantik, duduklah bersama Tante Jessica, Om mau bicara penting dengan Om Alan." Ucap Andre yang melambaikan tangannya meminta Hana dan Hani menghampirinya.
Hana langsung berjalan menghampiri sofa yang di tempati oleh Jessica tidak dengan Hani yang melirik kearah Alan meminta persetujuannya terlebih dahulu.
"Pergilah Hani, duduklah bersama kakakkmu dan tante Jessica disana." Pinta Alan kepada Hani yang dijawab senyuman manis dari putri Fabian itu.
"Makasih Om." Jawabnya setelah itu ia melangkah mendekati sofa dimana Hana sudah duduk bersandar manja di tubuh Jessica terlebih dahulu.
Setelah Hani duduk di bersama istrinya, Andre melangkah mendekati Alan.
"Ikutlah denganku, aku tak ingin kita bicara di depan mereka." Ucap Andre dengan suara yang pelan nyaris tak terdengar namun hanya Alan yang dapat mendengarnya.
Alan mengikuti langkah kaki Andre kesebuah ruangan yang tak jauh dari ruang kerjanya, nampak ruang ini seperti ruang meeting dengan susunan meja yang melingkar dalam ukuran lebih kecil mungkin hanya muat untuk delapan sampai sepuluh orang di dalamnya.
"Silahkan duduk Alan!" Andee mempersilahkan Alan untuk duduk.
Alan duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari posisi Andre duduk. Tak lama dari mereka duduk, sekertaris Andre datang mengetuk pintu dan masuk kemudian langsung meletakkan minuman dan suguhan makanan kecil untuk Alan, tamu dari bosnya itu.
"Silahkan diminum Tuan!" Ucap sang sekretaris dengan ramah mempersilahkan tamu bosnya itu untuk meminum, minuman yang ia buat.
__ADS_1
Saat sekertaris Andre ingin beranjak pergi, Andre langsung meminta sekertarisnya untuk memanggil Jimmy sang Asisten.
"Tolong panggilkan Jimmy untuk kesini segera!" Perintahnya dengan nada dingin.
"Maaf Tuan, Tuan Jimmy dan istrinya sedang keluar katanya ada urusan penting, beliau akan usahakan segera kembali secepatnya. Begitulah pesan beliau oada saya jika Tuan menanyakan keberadaannya." Tutur sekertaris Andre dengan ramah.
"Hemm ok, kalau begitu kamu boleh keluar." Ucapnya lagi dengan wajah datar tanpa melihat sang sekretaris.
"Sedingin ini dia bersikap pada sekertarisnya yang begitu cantik, jauh berbeda dengan perlakuan Pak Fabian dan Clara. Pantas saja Jessica lebih memilih Tuan Andre." Gumam Alan dalam hatinya.
Setelah sekertaris Andre keluar dari ruangan, Andrepun mempersilahkan Alan untuk berbicara maksud dan tujuannya datang kesini.
"Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan pada Tuan Andre, yang pertama mengenai pekerjaan yang kedua mengenai masalah pribadi Anda daj istri Anda yang bersangkutan dengan atasan saya Pak Fabian."
"Silahkan sampaikan!" Andre kembali mempersilahkan dengan wajah tenang dan terkesan dingin.
"Poin pertama mengenai pekerjaan, sebelumnya saya ingin bertanya terlebih dahulu pada Tuan Andre, apakah perusahaan kami masuk dalam daftar blacklist di perusahaan Anda?" Tanya Alan dengan sopan.
"Tidak sama sekali." Jawab Andre singkat dengan sejujurnya.
"Benarkah?" Tanya Alan yang seakan tak percaya dengan jawaban Andre.
"Tidak ada untung atau rugi aku berbohong padamu Alan."
"Maaf Tuan atas keraguan saya, karena baru kali ini saya selalu mendapati penolakan dan kekalahan secara beruntun saat mengajukan proposal untuk piching ke perusahaan-perusahaan lain, semenjak event terakhir kita di kota D."
"Sepertinya kau salah tempat untuk membicarakan masalah ini padaku, sebaiknya kau menemui Tuan Abraham untuk membicarakan masalah ini, mungkin tuduhan yang kau layangkan padaku dialah yang melakukannya." Tanggap Andre dengan santainya.
Ia sudah tahu dan menduganya, siapa yang sudah melakukan pencekalan terhadap perusahaan Fabian setelah mendengar penuturan Alan.
"Maaf Tuan atas prasangka saya terhadap Anda."
"Ya tidak apa-apa, sangat wajar jika kau mencurigaiku Alan. Aku bisa memahami mu."
"Tuan, sebelumnya saya minta maaf jika pembahasan poin selanjutnya menyinggung Anda karena ini menyangkut masalah pribadi Anda."
"Ya Alan katakan saja padaku apa yang ingin kau sampaikan!"
"Tuan, mungkin Anda sudah tahu atau belum tahu tentang kondisi Bos kami yang sekarang terbaring lemah tak sadarkan diri."
"Ya ada sangkutan apa kondisi Bos mu itu denganku Alan."
"Maaf Tuan, bisakah saya memohon bantuan pada Anda untuk Anda berkenan membawa istri Anda ke rumah sakit tempat dimana Pak Fabian di rawat. Izinkan kami melakukan usaha terakhir kami untuk membangunkannya dari kondisi tidur dalamnya. Saya mohon Tuan, tolong kasihanilah kedua putri Pak Fabian yang sudah amat terluka melihat kondisi Papinya yang seperti itu ditambah lagi Maminya yang terlihat depresi setelah bertemu dengan asisten Anda. Saya membawa mereka kesini bukan semata-mata ingin menemukan mereka pada Nyonya Jessica hanya saja mereka sudah hampir tak terurus. Tuan Bagas berada di rumah sakit menjaga Pak Fabian, Nyonya Suci menghilang entah kemana dan Nyonya Margareth depresi seperti saat ini. Mungkin assiten Anda sedang ke apartemen melihat kondisi kakak sepupunya itu." Tutur Alan dengan tatapan serius menatap Andre.
"Jauh sebelum kau bicara pada ku, aku sudah meminta istriku menemui bosmu itu di rumah sakit tapi dia tidak mau dan aku tak bisa memaksanya." Sahut Andre yang membuat raut wajah Alan nampak kecewa.
"Tapi hari ini aku akan membujuknya di depan kedua anak Fabian untuk ke rumah sakit." Ucap Andre lagi yang seketika membuat senyum terukir di wajah Alan.
"Terimakasih Tuan, Anda memang orang yang sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana cara saya membalas kebaikan Tuan." Ucap Alan yang begitu merasa berterima kasih kepada keputusan yang Andre ambil.
"Sama-sama." Jawab Andre dengan senyum biasnya.
__ADS_1
"Aku melakukan ini bukan untuk Fabian, aku melakukan ini untuk kenyamanan dan ketentraman rumah tanggaku kedepannya tanpa di ganggu lagi dengan urusan Fabian yang belum tertuntaskan dengan istriku. Bagaimana pun aku punya andil kesalahan dari keadaan Fabian yang seperti ini karena aku telah merebut Jessica dari dirinya. Toh hari ini akan jadi hari terakhir kainberada di kota ini. Akan kuberi dia kesempatan menemui istriku untuk terakhir kalinya." Ucap Andre di dalam hatinya.