
Jessica tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia memasuki ruangan kerjanya yang masi nampak sepi. Diletakkannya tas kerjanya di atas meja. Ia melangkahkan kaki ke Pantry. Ia menyeduh mie instan dalam kemasan gelas untuk dia sarapan pagi tidak lupa membuat teh manis sebagai teman mie instannya itu. Sambil menunggu mienya matang. Jessica meracik kopi untuk Fabian sebagaimana tugasnya diawal pagi. Ia mengantarkan kopi ke ruangan kerja Fabian. Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena ia yakin Fabian belum datang sepagi ini. Jessica berjalan mendekati meja kerja Fabian. Meletakkan kopi yang ia buat di atas meja.
"Terimakasih" suara barito Fabian yang mengagetkan Jessica dari belakang. Seketika Jessica menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Fabian sedang merebahkan dirinya disofa dengan menutupi wajahnya menggunakan lengan kekar miliknya. Jessica tidak menyadari keberadaan Fabian yang tengah berbaring di sofa panjang itu. Ia tidak menanggapi ucapan terima kasih yang dilontarkan Fabian padanya. Jessica menghindari Fabian dengan segera pergi meninggalkan ruangan Fabian.
"Tumben sekali dia datang sepagi ini. Apa dia tidak pulang? Dia juga masih terlihat menggunakan baju yang sama seperti semalam." batin Jessica.
Fabian memang tidak pulang kerumahnya melainkan pulang ke apartemen Rania. Ketika ia sedang berusaha memejamkan matanya, Clara mengirimkan sebuah email dari perusahaan Batara Group yang mengajak mereka untuk meeting pagi hari ini untuk membicarakan project besar yang akan di selenggarakan di Kota D pekan depan. Setelah membaca email yang dikirimkan Clara. Fabian memutuskan untuk menginap di kantor saja agar tidak terlambat datang pergi kantor. Tanpa pamit terlebih dahulu dengan Rania, Fabian segera pergi meninggalkan apartemen Rania.
Jessica yang kembali keruang kerjanya dengan membawa mie instan dan secangkir teh manis ditangannya. Ia segera menghabiskan menu sarapan paginya yang berbeda kali ini di meja kerjanya.
Tak lama setelah ia menghabiskan sarapannya Sisil terlihat baru saja datang. Ia meletakkan tas kerja miliknya di atas meja kerjanya kemudian menghampiri meja kerja Jessica.
"Tumben udah dateng. Ada angin apa hah?" tanya Sisil pada Jessica.
"Iya Mbak tadi karena berangkat diantar Bang Leon jadi datang sepagi ini. " jawab Jessica sekenanya
"Kemarin kemana? Udah nyampe kok ga masuk kantor malah ngilang? Lu dicariin Pak Fabian tuh kemarin. Lu berantem lagi ya sama dia?" tanya Sisil.
"Iya mbak." jawab Jessica singkat.
"Gue sih cuma nyaranin lu aja ya, terserah lu saran gue mau dipake atau gak yang penting gue sebagai atasan dan sebagai temen lu cuma mau ingetin lu untuk bersikap profesional dalam bekerja terlepas dari masalah pribadi lu sama si Pak Boss." ucap Sisil dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Jessica.
"Iya mbak, makasi atas saran Mbak Sisil nanti gue akan berusaha profesional dalam bekerja Mbak." ucap Jessica.
"Iya sama-sama... Oh iya Jess nanti kita akan ada briefing pagi ya diruangan pak Fabian sebelum kita berangkat meeting ke Perusahaan Batara group. Gue lupa kabarin lu semalam." ucap Sisil memberikan Informasi pada Jessica.
__ADS_1
"Meeting keperusahaan Kak Andre?? Gimana ini?? Semoga mereka nggak berkelahi lagi kalau bertemu nanti."batin Jessica bermonolog.
Kini seluruh staff divisi AE dan Team Creative berkumpul di ruangan Fabian. Semua berdiri menghadap meja kerja Fabian. Fabian duduk di singgasananya sambil menyeruput kopi yang dibuat Jessica dengan tatapan mata yang terus memandangi wajah Jessica. Jessica di buat menunduk malu karenanya.
"Wajah mu sembab. Aku yakin sepertinya kau menghabiskan malam mu tadi dengan menangisi ku. Itu artinya masi ada cinta di hati mu untukku Jessica." batin Fabian
Fabian merima laporan-laporan kerja yang dibacakan Clara sebelum mem-briefing karyawannya. Dia bisa menarik kesimpulan dari apa yang dibacakan Clara, bahwa maksud dan tujuan perusahaan Batara Group mengajak bertemu untuk menunda atau lebih parahnya lagi membatalkan project yang akan diselenggarakan pekan depan tanpa perdulikan persiapan yang sudah rampung itu.
"Aku seperti sedang di permainkan oleh mu Andre. Kau benar-benar sialan." batin Fabian.
"Ok, untuk meeting dengan perusahaan Batara group team creative tidak perlu ikut serta biar beberapa staff AE saja yang ikut, untuk team creative tetap kerjakan deadline yang di minta Client dan berikan laporan hasil kerja kalian nanti siang di meja kerja saya!" ucap Fabian penuh wibawa. Kemudian Fabian menggibaskan tangannya meminta seluruh karyawannya untuk keluar. Seluruh karyawan pun akhirnya keluar dari ruangan Fabian. Tersisa Clara di dalam ruangan Fabian.
"Apa Alan sudah datang Clara?" tanya Fabian.
"Belum pak, sepertinya Alan tidak masuk Pak. Karena tidak biasanya dia belum datang sampai jam segini." jawab Clara
"Jadi nanti kita ke perusahaan Batara group dengan siapa Pak?" tanya Clara.
"Dengan Toto saja. Cukup satu mobil bukan? Kita hanya pergi berlima." jawab Fabian.
"Baik pak saya akan menghubungi Toto untuk segera bersiap." ucap Clara.
"Hmmm..." Fabian menanggapi dengan deheman saja kemudian kembali menyeruput kopi yang ada di tangannya.
Kini Fabian sudah berada di dalam mobil Alpard yang dikendarai oleh Toto. Fabian sedang menunggu kedatangan Sisil Lina dan juga Jessica.
__ADS_1
"Maaf pak sudah buat bapak menunggu." ucap Sisil dengan sopan ketika membuka pintu mobil. Fabian hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Sisil dan Lina naik kedalam mobil terlebih dahulu hingga menyisakan Jessica. Jessica naik ke dalam mobil dengan bertumpuan pada tangan kanan yang memegang paha Fabian tanpa sengaja. Fabian membiarkan Jessica menyentuhnya. Hati Fabian begitu pedih ketika netranya terfokus melihat cincin yang masih tersemat di jari manis Jessica. Ingin rasanya Fabian melepas dan membuang cincin itu jauh-jauh dan menganti dengan cincin pemberian darinya. Namun apalah daya dia tak bisa melakukan keinginannya.
Jessica duduk di kursi paling belakang duduk diantara Sisil dan juga Lina hanya terlihat diam tak seperti biasanya mulutnya selalu senantiasa berkicau membahas sesuatu yang tidak penting. Didalam perjalanan hanya terdengar kesunyian di dalam mobil. Tak satu pun diantara mereka mengeluarkan suara. Jessica malah nampak tertidur selama perjalanan. Sisil dan Lina menatap heran wajah Jessica yang terpejam itu. Baru kali ini Jessica tertidur dalam perjalanan, biasanya mulutnya senantiasa berkicau tiada henti menurut Sisil dan juga Lina .
Mobil yang dikendarai Toto pun telah tiba di lobby perusahaan Batara Group. Fabian turun terlebih dahulu disusul oleh Clara. Mereka berdua menunggu ketiga orang yang duduk di belakang untuk turun namun mereka tak juga turun, membuat Fabian yang tak sabar menunggu akhirnya naik kembali kedalam mobil. Ia melihat kedalam mobil, di dapatinya Lina dan Sisil sedang berusaha membangunkan Jessica yang terlihat tertidur begitu pulas.
"Rupanya kalian tidak kunjung turun karena dia tidur?" ucap Fabian pada Lina dan Sisil.
"Iya pak, Susah sekali dibangunkannya." keluh Lina yang sedang mengguncang tubuh Jessica agar segera bangun.
Fabian yang masuk kembali kedalam mobil. ikut menggoyang-goyangkan tubuh Jessica dan menepuk-nepuk pelan pipi mulusnya itu.
"Jessica bangun!! Hey bangun kita sudah sampai!" ucap Fabian pada Jessica yang tertidur.
Dari menepuk-nepuk pelan pipi Jessica akhirnya Fabian malah mengelus lembut pipi Jessica. Ia menatap penuh kasih wajah wanita yang dicintainya itu, andai saja tidak ada Lina dan Sisil mungkin Fabian akan mendekap erat tubuh Jessica dalam pelukkannya. Membiarkan dia melanjutkan tidurnya dan Fabian akan menemani Jessica untuk tidur bersamanya. Namun sayangnya ini hanya sebatas angan-angan Fabian.
"Jess kamu mau bangun atau aku akan mencium mu sampai kamu terbangun?" ancam Fabian dengan suara yang keras dan dengan nada yang meninggi.
Suara Fabian yang keras sampai masuk ke alam mimpi Jessica, Jessica tersentak terbangun mendengar Fabian ingin menciumnya. Ia membuka matanya betapa terkejutnya Jessica melihat Fabian berada di hadapannya sedang mengelus pipinya dengan jemari Fabian. Nampak bola mata Jessica yang memerah khas orang yang dipaksa bangun dari tidur nyenyaknya, dengan gerakan reflek Jessica menghempas tangan Fabian yang ada di pipinya.
"Jauhkan tangan mu dari wajah ku Pak!" ucap Jessica menatap Fabian tajam dengan mata merahnya.
"Bangun...!! Bekerjalah dengan benar jangan tertidur saat waktu bekerja!" ucap Fabian lalu keluar dari mobil. Mereka bertigapun akhirnya keluar dari mobil. Nampak Clara sudah berwajah masam melihat Jessica dan juga kedua temannya.
__ADS_1
bersambung