
Di kota J
Fabian yang sudah sehat dari sebulan yang lalu sudah kembali pada rutinitas. Ia masih tinggal di apartemen Louis bersama sang istri Margareth.
Pernikahan mereka nampak baik-baik saja jika dilihat dari luar tapi tidak dengan batin mereka yang saling tersiksa mempertahankan rumah tangga yang salah satunya tak bisa membalas cinta tulus pasangannya. Baik Fabian dan Margareth mempertahankan rumah tangga ini hanya karena ketiga anak mereka.
Hana yang semula masih saja tidak bisa menerima kenyataan Margareth kembali pada Fabian kini malah sangat menerima dan bahkan sering menyalahkan dirinya saat Ia acap kali melihat sang Mami menangis sendirian di kamar pribadinya karena sikap dingin dan kasar yang di tunjukkan Fabian secara terang-terangan ketika mereka sedang berdua.
"Mami maafkan aku, mungkin ini semua salahku yang selalu menginginkan Tante Jessica jadi pengganti Mami. Aku mengaku salah Mami maafkan aku." Batin Hana setiap kali mengintip sang Mami dari celah pintu kamar orang tuanya yang terbuka.
"Bie, pernikahan ini buka hanya hatiku yang kamu sakiti Bie, tapi juga dengan hidupku, begitu juga dengan hidup anak-anak kita. Tak bisakah kamu melupakan dia? Kenapa kamu berubah Bie? Malam itu kamu berkata ingin memulainya dari awal bersama ku tapi mana Bie, kenyataannya bayangan Jessica di hidupmu tak bisa kamu lupakan. Bagaimanan aku bisa menggantikan posisinya dihatimu jika kamu tak bisa melupakannya? Kenapa kamu tak bisa hargai pengorbanan ku selama ini? Kini aku merasakan penolakan bukan hanya dari Mommy mu Bie tapi juga dari dirimu." Ucap Margareth ketika ia sedang menangis.
"Sakit hatiku Bie, kamu mengauliku seakan sedang membayangkan mengauli Jessica, tak bolehkah aku protes dengan mu, jika aku tak dihargai seperti ini oleh mu Bie. Aku ini istri mu Bie bukan boneka pelampiasan hasrat mu." Ucap Margareth lagi yang makin mengeraskan suara tangisannya.
Fabian memang menyentuhnya, tapi ia selalu berimajinasi sedang menyetubuhi Jessica. Disetiap erangannya tersebut nama Jessica yang sering melukai hati Margareth. Tidak hanya di situ saja Fabian menyakiti Margareth. Margareth sering memergoki Fabian di Perusahaan dengan Clara sekertarisnya yang sedang bercumbu di ruang kerja suaminya itu.
Dulu Fabian selalu menolak jika diajak bermain dengan Clara tapi tidak dengan sekarang. Tanpa di ajak pun Clara sering di gempur habis-habisan oleh Fabian. Meskipun ia sudah menyerah dan berkata ampun, Fabian tak menghentikan permainan kasarnya pada Clara hingga ia mendapat pelepasan dan memekikan nama Jessica di akhir pelepasannya seperti saat ia bermain dengan sang istri. Tidak hanya Margareth yang merasakan tak dihargai oleh Fabian begitu pula dengan Clara.
Bahkan Clara sekarang merasa sangat menyesal pernah menggoda Fabian agar mau menyentuhnya pada saat itu dan ia juga menyesal menyerahkan keperawanannya pada Pria yang hanya menjadikannya pelampiasan nafsu sesaatnya dengan angan-angan bermain dengan wanita lain yang pernah menjadi rivalnya dulu. Terlebih lagi Fabian mengancam jika Clara sampai mengandung benihnya, Fabian tak akan segan-segan untuk menghabisinya.
Fabian benar-benar berubah menjadi seperti ini semenjak ia di campak Jessica ketika ia baru saja bangun dari tidur dalamnya, ia harus menelan pil pahit rasa cinta memdalamnya yang dihempaskan oleh wanita yang sangat ia cintai.
Dan ditambah lagi saat ia sudah keluar dari rumah sakit, rasa ingin bertemu yang masih begitu besar, membuatnya mencari tahu keberadaan Jessica. Disaat ia mencari tahu itulah ia mengetahui Jessica benar-benar meninggalkannya dengan memilih untuk tinggal dan menetap di kota kelahiran Suaminya, Andre. Rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan membuat ia bersikap dingin dan kasar kepada semua wanita.
Namun dibalik rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan, dia masih tak bisa menghapus bayangan Jessica yang sudah melekat di hatinya.
Saat di perusahaan, Fabian lebih memilih bekerja di ruang AE dan duduk di meja kerja yang pernah ditempati oleh Jessica. Semua jejak-jejak Jessica dikantor di tapaki semua oleh Fabian. Mulai dari meja kerjanya yang ia gunakan hingga gelas minum yang biasa Jessica gunakan sekarang ia pergunakan.
Seluruh karyawan kantor menganggap CEOnya itu terlalu cinta mati terhadap Jessica yang selama ini selalu ia sakiti.
__ADS_1
"Memang bener kata orang dulu bilang ya Sil, kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga." Bisik Lina pada kepala bagiannya yang sudah menjadi sahabat dekatnya itu.
"Itu bukan kata orang dulu tapi lu lagi nyanyi Linul." Sarkas Sisil menanggapi bisikan Lina di telinganya.
"Hehehehe... Tau aja lu Sil." Ucap Lina Cengengesan.
Para staf bagian AE merasa sangat canggung ketika pertama kali bekerja satu ruangan dengan Fabian hingga berjam-jam namun lama-kelamaan mereka pun merasa terbiasa dan rasa canggung pun hilang.
Di meja kerja Jessica, Fabian mengobrak-abrik semua isi laci meja Jessica yang di penuhi dengan kertas yang merupakan gambar sketsa wajah dirinya yang Jessica print dan tambahi coretan-coretan diwajahnya.
Dan tak hanya coretan-coretan diwajahnya, Jessica menambahkan kata-kata ungkapan suasana hatinya saat ia sedang meeting bersama Fabian. Ya, Jessica selama ini setiap kali meeting selalu mengprint sketsa wajah Fabian, di sela kesibukannya mencatat hal-hal penting saat rapat dia ternyata sibuk mengumpati CEOnya dengan sketsa wajah Fabian yang ia print.
Dikala hatinya sedang senang dengan Fabian. Ia akan mengagumi Fabian dengan berbagai kata pujian yang tertulis di lembar sketsa wajah Fabian itu. Fabian yang membacanya sampai dibuat senyum-senyum sendiri.
"Gantengnya Boss ku, pujaan hatiku, blaem-blaem ku, pengen deh nikah sama doi buat perbaiki keturunan, biar keliatan berkharisma kaya doi ya Allah." Tulis Jessica disalah satu lembar kertas sketsa wajah Fabian yang membuat hati Fabian berbunga-bunga.
"Dulu kau benar-benar mengagumi ku Jessica, aku menyesal tak membalas semua ungkapan perasaanmu dengan baik waktu itu, andai saja aku bisa membalas perasaan mu lebih awal mungkin kau tak akan pergi berpaling dariku." Batin Fabian yang kemudian lesu menatap lembar kertas ditangannya.
Ya, jika hati Jessica kesal dan sedih mendapati amarah Fabian, Jessica menuangkan rasa kesalnya kedalam sketsa wajah Fabian yang ia print. Jessica akan membuat wajah Fabian nampak culun dengan kaca mata, senyum dengan gigi yang nampak bolong karena ia hitami dengan pulpen dan kata-kata umpatan yang menyebut.
"Dasar pangeran kodok buruk rupa, aku sumpahin hidupmu tak bahagia karena selalu menyakiti aku, pemuja rahasia mu. Gak rahasia deng seluruh kantor tau kok hehehe ... kamu juga tahu tapi kamu nolak aku, isshhh..... bilang aku bukan tipe kamu... Jahat banget sih Om Duda kalau ngomong, pasir ajah punya ayakan masa mulut om gak punya saringan. Nolak tapi deket-deketin terus." Tulis Jessica di selembar kertas sketsa wajah Fabian dengan kalimat umpatannya.
"Sumpah mu padaku menjadi kenyataan Jess, hidupku tak bahagia tanpa dirimu." Fabian kembali merapikan kertas-kertas yang ia ambil dari laci meja kerja Jessica. Saat Sisil memintanya mengecek email dari Client.
Fabian meminta Sisil menyalakan komputer yang ada di meja kerja Jessica, ia akan melihat layout yang di kirim Client melalui email langsung dari komputer yang ada di meja kerja Jessica saja. Karena dia sudah membukanya di ponsel namun gambar layout yang dikirimkan Client kurang jelas terlihat dari ponselnya.
Saat komputer dinyalakan, betapa hatinya begitu tersayat-sayat merasakan penyesalan mendalam. Jessica memasang foto dia dan kedua putrinya. Terlihat kedua putrinya sedang mencium pipi Jessica dari kiri dan Kanan sambil tersenyum begitu bahagia. Tertulis di bawah foto itu calon Mommy pengganti on the way.
Fabian terdiam dan terus meratapi layar komputer dihadapannya dengn menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang pernah mematahkan hatimu yang tulus mencintaiku Jess, aku pantas kau campakan seperti ini, rasa sakit yang ku rasakan kini tak sebanding dengan rasa sakit yang pernah ku torehkan padamu. Maafkan aku yang hadir dalam hidupmu yang pernah merasakan kasih sayang dan perhatian mu tapi tak bisa membalas semua kebaikan dan cinta yang tulus yang kau berikan kepada kami. Andre memang pantas mendapatkan mu karena dia selalu berusaha membahagiakan mu dari awal ia hadir di dalam hidupmu tidak seperti aku. Tapi mengapa hatiku begitu berat melepaskan mu? Tuhan seperti sedang menghukumku Jess..." Batin Fabian begitu lirih.
Fabian menyadari betul kesalahannya. Bukannya membuka email dari Client, Fabian malah pergi entah kemana dengan wajah kusutnya.
Di sisi lain Melani dan Suci sudah berada di Rumah sakit Central Kusuma, mereka sedang berjalan menuju ruang rawat Ferry yang dijaga ketat oleh orang-orang Ferry yang sudah berhianat pada Ferry dan menjadi orang-orang suruhan Brata namun Suci dan Melani hanya mengetahui orang-orang itu masih menjadi orang-orang suruhan Ferry yang setia.
Saat sudah di ruangan Melani langsung menceritakan maksud dan tujuannya mendatangi Ferry.
"Ferry, bagaimana kabar mu sekarang?" Tanya Melani yang duduk di tepi ranjang Ferry.
Ferry tidak dapat menjawab pertanyaan Melani dengan baik karena lidahnya sudah di potong atas permintaan Jimmy. Suara yang di keluarkan Ferry seperti suara orang sedang berkumur-kumur. Melani yang merasa kurang jelas pun mendekati mulut Ferry untuk mendengarkan kembali jawaban Ferry.
"Mel, bawa aku pergi dari sini! Apapun yang kamu minta akan aku berikan." Ucap Ferry yang meminta Melani membawanya pergi dari Rumah sakit.
"Ya, aku akan membawamu pergi dari sini, tapi dengarkan penjelasanku dulu Fer." Ucap Melani yang mendapat anggukan kepala dari Ferry.
Ferry menyetujui untuk mendengarkan penjelasan yang akan diberikan Melani.
"Fer, maafkan aku yang baru bisa menceritakan kebenaran ini padamu, anak keduaku yang dibesarkan oleh Nico adalah putri kandung mu Fer. Sekarang dia dalam keadaan tak baik-baik saja di kota D bersama keluarga besar Abraham. Aku memerlukan banyak uang untuk mengambil putri kita dari sana karena Tante Suci memperlukan modal untuk membalaskan dendamnya pada keluarganya mereka." Jelas Melani yang membuat mata Ferry membulat menatap tajam pada dirinya.
"Teganya kamu menukar putri ku Mel, aku kau buat membesarkan putri Nico sedang Nico membesarkan putriku demi dendam Tante gila mu itu." batin Ferry yang menatap tajam Melani.
"Mel, bawa aku pergi dari sini! Bawa aku ke kota D temui aku dengan putriku, aku akan memodali Tante mu untuk membalas dendam pada mereka." Ucap Ferry dengan suara kumur-kumurnya yang masih bisa dipahami oleh Melani.
Mendengar jawaban Ferry, Melani segera memberitahukan pada Suci apa yang di ucapkan Ferry padanya. Suci dengan senangnya langsung bersemangat mengurus kepulangan Ferry bersama anak buah Ferry yang berjaga di depan pintu ruang rawatnya.
Salah satu anak buah Ferry segera mengabari pergerakan yang dilakukan Melani dan Suci kepada Brata.
"Ikuti mereka dan terus berkabarlah dengan ku, jika aku mengetahui kalian berhianat padaku. Kalian akan tahu sendiri akibatnya." Ucap Brata di sambungan telepon pada salah satu anak buah Ferry yang berhianat.
__ADS_1
"Baik Tuan, kami akan tetap setia dengan Anda." Jawab anak buah Ferry yang menjadi kalimat penutup komunikasi mereka.
"Teruslah laksanakan rencana buruk kalian yang akan membuat kalian masuk kedalam perangkap ku." Ucap Brata dengan seringai liciknya.