
Fabian, Rania dan Anton menyantap makan malam yang sudah terlanjur disiapkan Anton untuk acara pertemuannya dengan Andre. Setelah menyelesaikan makan malamnya Anton segera menyelesaikan pembayaran di meja kasir. Dia memberikan kartu Kredit platinum miliknya kepada staf kasir di hadapannya. Sang kasir menerima kartu kredit itu dengan senyum yang begitu ramah.
" Maaf Pak, apa ada kartu lain, karena kartu Anda di decline, tertera keterangan itu saat kami melakukan swipe pada kartu Anda di mesin edisi kami" ucap staff kasir dengan senyum yang masih ramah.
Anton mengeluarkan beberapa kartu untuk dicoba di swipe di mesin edisi kasir restoran tersebut. Namun sayang, semua kartu yang diberikan Anton sama-sama mengeluarkan keterangan decline di edisi mesin kasir restoran tersebut. Anton terlihat cemas terbukti dengan keringat dingin yang mengucur deras di tubuhnya dan juga di bagian wajahnya. Dia mengelap keringat yang keluar di wajahnya itu dengan sapu tangannya.
Fabian dan Rania yang menunggu di depan lobby restoran merasa curiga kenapa Anton tidak kunjung menghampiri mereka juga.
"Bie, Kenapa Papi begitu lama sekali menyelesaikan pembayaran ya Bie?" tanya Rania pada Fabian dengan wajahnya yang cemas.
" Ya sebaiknya kita hampiri saja Papi mu di meja kasir agar kita tahu kenapa dia begitu lama menyelesaikan pembayarannya." saran Fabian.
Fabian dan Rania pun kembali masuk ke dalam, mereka menghampiri meja kasir dilihatnya Anton sedang terlihat begitu kalut dan tegang.
" Papi Kenapa lama sekali melakukan pembayarannya apa ada masalah?" tanya Rania pada Anton yang berdiri di hadapannya.
" Semua kartu di dalam dompet Papi sudah Papi guna kan untuk membayar tagihan makan malam kita ini. Tapi semua kartu Papi di decline jadi Papi tidak bisa membayar tagihan makan malam kita karena Papi tidak memiliki uang tunai juga Rania." ucap Anton dengan tubuh yang bergemetar.
" Kenapa bisa begitu Papi?" tanya Rania lagi
" Entahlah mungkin ini karena ulah Tuan Andre, makanya kau jangan berani-beraninya berurusan dengannya atau inilah yang akan terjadi pada kita Rania." ucap Anton dengan suara yang bergetar.
" Bie, bagaimana ini?" tanya Rania pada Fabian yang berdiri di sampingnya.
" Biarkan tagihan makan malam kita ini aku yang bayar." jawab Fabian yang kemudian ia mengeluarkan kartu Black cardnya dari dalam dompet kemudian memberikannya kepada staf kasir yang berada di hadapannya. Pembayaran tagihan makan malam itu pun akhirnya diselesaikan oleh Fabian.
Mereka pun akhirnya Beranjak Pergi dari restoran namun tiba-tiba saja tubuh kekar Anton terjatuh di lobby restoran tersebut. Anton jatuh pingsan. Membuat Rania dan juga Fabian terkejut dan merasa cemas akan kondisi Anton yang seperti itu.
Fabian segera menggendong Anton dan memasukkannya ke dalam mobil miliknya. Rania duduk di belakang menemani Anton yang tidak sadarkan diri. Mereka akan segera melarikan Anton ke rumah sakit agar segera mendapat penanganan dokter.
Fabian melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi, agar segera tiba di rumah sakit. Terlihat raut kesedih dan cemas di raut wajah Rania.
"Bie, Papi ku Bie hiks...hiks..." ucap Rania di kursi belakang sambil menangis.
" Tenanglah Rania kita akan membawa Papi mu ke rumah sakit, Berhentilah menangis" ucap Fabian di balik kemudinya.
" Kau begitu kejam Tuan Andre kepada aku dan keluargaku. Kau buat Papiku seperti karena wanita murahan itu. Lihat saja aku akan membalas perbuatanmu! Besok di ulang tahun perusahaan Tuan Santoso, aku akan meminta bantuannya untuk membalikkan keadaan dan aku akan membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan menjadi gembel." batin Rania yang dipenuhi rasa dendam. Rania tidak mengetahui kalau Tuan Santoso adalah Om dari Andre, lebih tepatnya Santoso adalah adik dari Brata Kusuma, Papinya Andre.
*****
Di sisi lain di kediaman Jessica. Sebuah mobil mewah bermerek Audi terparkir di pekarangan rumah Jessica. Andre menepati janjinya untuk membantu Jessica meminum obat dengan datang ke rumahnya. Andre keluar dari pintu belakang mobil saat Jimmy membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Andre melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ke kediaman Jessica. Dia pun mengetuk pintu rumah Jessica. Salah satu anggota keluarga Jessica membukakan pintu, ya Leon lah yang membukakan pintu untuk Andre.
" Mau apa kau datang ke rumahku malam-malam seperti ini?" tanya Leon dengan nada bicaranya yang ketus kepada Andre.
" Aku datang hanya menempati janjiku kepada adikmu untuk membantunya meminum obat." jawab Andre dengan wajah dengan memasang senyuman kepada Leon.
" Oh begitu baiklah, Masuklah ke dalam! Ibu sedang kewalahan membujuk Jessica untuk meminum obatnya." ucap Leon ketika Andre sedang melangkahkan kakinya untuk masuk di dalam rumah.
Andre berjalan menuju kamar Jessica, saat dibuka pintu Andre melihat Lestari sedang membujuk putrinya untuk meminum obat namun Jessica terlihat terus menggeleng-gelengkan kepalanya menolak meminum obat. Andre segera masuk ke dalam kamar Jessica.
"Bu, biar saya saja yang membujuknya meminum obat." ucap Andre ketika menghampiri Lestari dan juga Jessica di tempat tidur. tak lupa Andre mencium punggung tangan calon ibu mertuanya itu.
" Oh ada Nak Andre, Baiklah Jika nak Andre mau membantu ibu, ibu tinggal dulu ya, Ibu ingin merapikan meja makan terlebih dahulu." ucap Lestari kemudian bangkit dari duduknya Ia pun meninggalkan Jessica dan Andre di dalam kamar.
" Kau cepat sekali datangnya Kak, aku baru saja menghabiskan makan malam ku." ucap Jessica pada Andre
" Ya aku mempercepat urusanku dengan Clientku tadi. Bagiku dirimu lebih penting dari segalanya makanya aku mempercepat urusanku." ucap Andre dengan menatap Jessica penuh dengan kasih sayang.
" Kau selalu bisa saja membuat hatiku berbunga-bunga Kak" ucap Jessica dengan pipinya yang merah seperti tomat karena rasa malu dan senang bercampur menjadi satu.
" Mana obatnya sini aku bantu minumkannya?" tanya Andre pada Jessica.
" Itu di meja nakas Kak" jawab Jessica dan menunjuk meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
" hanya satu macam obat saja ini sayang. Kenapa kau sulit untuk meminumnya?" tanya Andre
" Aku sulit menelan ya Kak. Karena rasa pahitnya yang begitu mendominasi di dalam mulutku." jawab Jessica dengan alasan klasiknya.
" Kau mau mencoba minumnya sendiri atau aku bantu?" tanya Andre pada Jessica.
" Bukannya tadi aku sudah bilang aku tidak bisa meminumnya sendiri karena obat itu terasa pahit sekali." jawab Jessica.
" Baiklah aku akan membantumu minum obat tapi dengan caraku sendiri." ucap Andre dengan tersenyum melihat wajah Jessica.
Andre membuka kemasan luar obat tersebut, dia mengambil air di dalam gelas yang ada di atas meja nakas. Andre memasukkan obat dan air minum tersebut kedalam mulutnya tanpa menelannya. Hingga membuat pipinya mengembung besar seperti orang yang sedang meniup balon. Andre menghampiri Jessica dan menarik tengkuk Jessica. Ia mencium bibir Jessica hingga membuat mulut Jessica terbuka lebar dan obat yang ada didalam mulut Andre pun masuk kedalam perut Jessica dengan mudah tanpa disadari oleh Jessica. Karena ciuman yang Andre berikan sangat memabukkan dan menjadi candu bagi Jessica, begitu pula dengan Andre.
Meskipun obat yang ada di mulut Andre sudah masuk ke dalam tubuh Jessica, Andre belum juga melepaskan ciumannya. Andre malah memperdalam ciumannya kepada Jessica, Ia melihat Jessica menikmati sensasi ciuman yang diberikan olehnya, bahkan membalas ciuman itu dan ikut andil dalam ciuman yang memabukkan ini, sesekali Andre memberikan kesempatan Jessica untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya ketika ia menyadari Jessica hampir kehabisan nafas karena mengimbangi ciumannya.
Andre melepaskan pangutan bibirnya pada bibir ranum Jessica. Ketika ia mengharapkan lebih dari sekedar ciuman dari Jessica.
"Aku harus bersabar menahan hasrat yang sudah membumbung tinggi ini"batin Andre.
__ADS_1
"Istrirahatlah ini sudah malam! Aku harus pulang, besok aku akan kembali kesini menjemputmu untuk menghadiri ulang tahun perusahaan Om Santoso, cepatlah pulih sayang." ucap Andre kemudian mencium pucuk kepala Jessica. Jessica menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Peluk aku sebelum kau pulang!" pinta Jessica pada Andre dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Kau ingin aku memeluk mu? Baiklah kemarilah!" ucap Andre dengan merentangkan tangannya agar Jessica masuk dalam dekapannya. Andre mencoba melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Jessica, namun Jessica malah mempererat pelukannya seakan ia tidak mau lepas dari pelukan Andre. Andre pun tersenyum dibuatnya.
" Ayolah jessicaku sayang aku harus kembali pulang untuk istirahat, Aku berjanji padamu akan segera kembali esok hari" rayu Andre pada Jessica agar mau melepaskan pelukannya.
" Tunggu sebentar lagi, aku masih nyaman berada dalam pelukan mu Kak" ucap Jessica dalam pelukan Andre.
" Ayolah sayang aku tidak enak Jika dilihat kedua orang tuamu dan kakakmu" Rayu Andre lagi.
" Baiklah, Berjanjilah kau tidak akan memeluk wanita selain diriku Kak" ucap Jessica ketika ia melepaskan pelukannya dari tubuh Andre.
" Ya aku berjanji tidak akan memeluk wanita lain selain dirimu, tapi Izinkan aku memeluk Ibuku dan adik-adik sepupuku." ucap Andre sambil tersenyum.
" Ya terkecuali mereka aku mengizinkannya." ucap Jessica.
" Aku menyukai sikapmu yang posesif kepadaku, Aku pulang dulu ya." ucap Andre lagi, membuat Jessica berdiri.
" Aku ingin mengantarmu ke depan Kak." ucap Jessica ketika Andre meliriknya
" Tidak perlu mengantarku ke depan aku jadi tidak ingin pulang kalau kau mengantarku ke depan nanti" ucap Andre menolak keinginan Jessica
" Oke baiklah kalau itu maumu." ucap Jessica di akhir pertemuannya.
Andre pun keluar dari kamar Jessica ia menemui Leon yang berada di ruang televisi.
" Besok datanglah ke ulang tahun perusahaan Om Santoso!" ucap Andre ketika dia duduk di samping Leon
" Untuk apa aku datang?" tanya Leon
" Kakekmu ingin menemuimu dan ingin berbicara empat mata denganmu." terang Andre
" Oke aku akan datang jika kakek memang menginginkan bertemu denganku." ucap Leon dengan wajah datarnya.
" Baiklah kalau begitu aku pamit dulu sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu." Andre pamit kepada calon kakak iparnya itu.
" Ya aku akan menyampaikan salam mu pada mereka." ucap Leon di akhir pertemuannya dengan Andre di ruang televisi.
Leon mengantarkan Andre sampai depan pintu rumah. Andre pun masuk ke dalam mobil miliknya. Mobil Andre pun pergi meninggalkan kediaman Jessica.
__ADS_1
bersambung