
Seorang Chef yang sejak tadi tengah sibuk berperang dengan alat masaknya di dapur kini tengah menghidangkan menu makan malam di atas meja makan bersama dengan asistennya.
Chef yang bernama Marco, yang merupakan Chef terkenal karena kemahirannya dalam membuat masakan lezat ini sengaja di datangkan oleh Adam dari hotel miliknya untuk menyajikan makan malam spesial untuk malam yang spesial seperti malam ini.
Kini mereka sudah duduk di kursi meja makan. Mereka akan memulai makan malam mereka dengan menyantap menu makanan appetizer yang sudah tersaji dengan sempurna di meja makan yang telah di siapkan Chef Marco dan assistennya.
Chef Marco menyiapkan kroket kentang kesukaan Jessica sebagai menu appetizer sesuai dengan request Adam sang Paman yang mengetahui Jessica sangat menyukai menu makanan yang satu ini.
Jessica yang melihat kroket mulutnya langsung mengecap-ngecap tak sabar ingin melahapnya.
Leon yang melihat tingkah adiknya langsung berkata," Sabar dulu Jes, biasakan berdoa dulu sebelum makan, Kakek akan memimpin doa dulu sebelum kita makan." Ucap Leon yang langsung membuat Jessica memanyunkan bibirnya.
Adam, Abraham dan Dewi memandang gemas melihat tingkah Jessica yang seperti itu. Sedang Lestari dan Endah hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Jessica. Berbeda dengan Andre yang langsung menatap tajam sang Kakak ipar yang membuat istrinya cemberut sedangkan Jimmy hanya diam dengan wajah datarnya.
Jessica bisa menyantap menu kesukaannya itu setelah mereka berdoa bersama-sama dengan Abraham yang memimpin doa mereka.
Kroket buatan Chef Marco benar-benar enak dan nikmat Jessica sampai menghabiskan tiga kroket sekaligus. Jessica masih meminta lagi ketika kroket ketiga yang dia makan hampir saja habis. Namun sayang Chef Marco tidak dapat memberikan Jessica Kroket lagi karena kroket yang dia buat sudah habis. Jessica menekuk wajahnya kecewa karena tidak mendapatkan kroket lagi. Andre yang melihatnya segera memberikan kroket miliknya yang masih terlihat banyak, Andre hanya memakannya sedikit karena dia tidak terlalu menyukai kroket kentang. Walaupun tidak menyukainya Andre tetap memakannya sebagai bentuk menghargai Tuan rumah dan Chef yang sudah susah payah menyajikannya.
"Makanlah milikku sayang!" Ucap Andre yang menukar piring makannya dengan piring makan Jessica.
"Dengan senang hati suami ku," ucap Jessica yang tersenyum senang.
Jessica pun melahapnya sampai habis. Melihat Jessica yang sangat lahap dan menyukai kroket buatan Chef Marco membuat Adam memerintah Chef Marco untuk membuatkan stok kroket kentang berbentuk frozen untuk Jessica. Chef Marco pun menyanggupi apa yang di perintahkan sang pemilik hotel tempat ia bekerja.
Kini chef Marco dan assiten menghidangkan tenderloin steak sebagai menu main course pada hidangan makan malam keluarga Abraham malam ini. Kali ini wajah Endah yang berbinar kesenangan melihat assiten Chef meletakan menu kesukaannya di hadapannya.
"Apa kau buat menu ini dengan jumlah banyak Chef?" Tanya Endah pada Chef Marco yang tengah sibuk meletakan tenderloin steak untuk Adam.
"Maksudnya bagaimana Nona?" Tanya Chef Marco tidak mengerti.
"Apa ada lebih jika aku minta tambah Chef?" Tanya Endah to the poin pada akhirnya dengan nada penuh penekanan.
"Maaf Nona, saya hanya membuat dua porsi tambahan untuk menu main course malam ini." Jawab Chef Marco.
"Oo... baguslah, biarkan dua porsi lebih itu untuk ku saja."sahut Endah dengan cueknya sembari menyantap menu makanan kesukaannya itu yang sudah nelambai-lambaikan dirinya untuk di lahap Endah.
"Ingat diet, kalau tidak mau kekasih pujaan hati mu itu kabur karena tubuhmu yang akan tumbuh kesamping jika kamu suka makan dalam porsi besar seperti ini," tegur Adam tanpa menatap Endah. Ia masih kesal pada keponakannya itu.
__ADS_1
"Hemm... jika itu terjadi Paman hanya perlu menembak mati dirinya saja. Tidak perlu menyiksaku dengan aturan diet, hidup itu harus di nikmati begitu pula dengan makanan. Bukan begitu Chef?" Sahut Endah dengan santainya sembari memasukan potongan daging steak ke sukaannya itu ke dalam mulutnya.
"Uhuggg...uhugg..." seluruh orang tersedak bersamaan terkecuali Endah dan Adam, saat mendengar Endah menyahuti teguran sang Paman untuk menembak Jimmy jika berani meninggalkannya.
"Be-benar Nona," jawab Chef Marco dengan terbata.
Semua orang terlihat sibuk mengambil air putih untuk meminumnya. Menghilangkan rasa perih dan pedih di tenggorakan dan hidung karena tersedak makanan.
"Dengan senang hati paman akan melakukannya untuk mu," sahut Adam yang membuat Jimmy menelan kasar air minum yang sedang di tengguknya.
Glek! Jimmy segera meletakkan gelas air putih yang sudah kosong itu di atas meja. Tak lama berselang ia meletakkan gelas. Endah pun kembali menyahuti ucapan sang Paman.
"Aku pun akan berterimakasih dari dasar hati ku untuk itu Paman," sahut Endah lagi yang mendapat tatapan tajam Jimmy yang ada di sampingnya. Tak hanya Jimmy semua orang pun menatap tajam ke arah Endah dan Adam.
Endah dan Adam memilih cuek dan tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya, karena telah membuat semua orang yang sedang makan tersedak mendengar pembicaraan mereka, malah dengan sengajanya mereka melanjutkan pembicaraan mereka itu.
"Paman dan keponakan sama-sama tidak waras." Gumam Dewi pelan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan bicara seperti itu mam, biar begitu dia itu anak dan cucu mu!" Tegur Abraham yang mendengar ucapan sang istri.
"Endah, jangan bicara seperti itu nak! Tidak baik wanita bicara seperti itu, sayang," ucap Lestari lembut mengingatkan sang putri yang duduk di sebelahnya.
"Iya bu," sahut Endah dengan menunjukkan cengir kudanya ke Lestari.
"Sudah biarkan saja bu, ibu tak perlu menganggap omongan Endah itu serius, dia itu samanya dengan Jessica, mereka berdua itu tidak jauh beda. Jadi jangan menghabiskan waktu ibu yang berharga untuk menasehatinya Bu, itu hanya akan membuang waktu mu Bu, karena dia tidak akan pernah berubah." Ucap Leon pada Lestari yang juga duduk disamping ibunya itu
"Kok jadi aku di bawa-bawa sih Bang? Klo mau ngomongin Endah aku jangan di bawa-bawa dong." Sahut Jessica yang tak terima namanya dibawa-bawa oleh Leon.
Ingin rasanya Leon menyahuti Jessica atas ketidak terimaanya dia membawa-bawa namanya namun ia mengurungkannya, karena Leon sudah mendapatkan tatapan tajam dari algojo Jessica yang duduk di samping adiknya itu.
"Aishh... bucin sekali dia, sudah pasang badan melindungi Jessica dari celotehanku selanjutnya." Gumam Leon dengan suara pelan namun masih dapat di dengar semua orang. Leon dan Andre pun saling beradu pandangan. Abraham yang melihatnya segera menegur Leon untuk memutuskan tatapan yang seakan siap menyerang.
"Leon.." Abraham memanggil nama cucunya.
"Ya Kek," sahut Leon yang menatap ke arah Abraham.
"Habiskan makanan mu!" Pinta sang Kakek padanya.
__ADS_1
"Baik Kek," sahut Leon.
"Syukurin di tegor Kakkek," gumam Endah dan Jessica dengan suara pelan secara bersamaan namun masih dapat di dengar yang lainnya. Keduanya saling bertukar pandang dan cekikikan bersama.
"Sayang sudah jangan tertawa terus nanti kamu tersedak lagi." Tegur Andre pada istrinya.
"Maafkan aku sayang, aku berhenti tertawa nih hemm." Balas Jessica yang menunjukkan kedua bibirnya yang ia rapatkan sembari tersenyum menggemaskan bagi Andre namun menyebalkan bagi Leon.
Acara makan malam pun selesai dengan drama di meja makan yang baru di rasakan Abraham dan juga Dewi di sepanjang umurnya. Biasanya hanya keheningan dan dentuman sendok garpu yang berbunyi diatas piring makan ketika mereka melewatkan makan bersama keluarga. Walaupun demikian Abraham dan Dewi merasa hidupnya lebih berwarna dan bahagia setelah bisa berkumpul bersama anak menantu dan cucu dari Putranya, Nico.
Setelah selesai makan malam semua orang meninggalkan ruang makan terkecuali Endah dan Jessica bersama pasangannya. Jangan di tanya mereka sedang apa, tentunya mereka sedang menghabiskan menu deseert yang disiapkan oleh Chef Marco.
"Endah sayang, Apa kau serius dengan perkataan mu tadi, ingin pamanmu menembak ku jika aku meninggalkan mu hemm?" Tanya Jimmy yang mencubit pipi mulus Endah dengan gemess .
"Heem... kenapa memangnya sayang? Jika benar apa kau takut?" Jawab Endah yang malah balik bertanya pada Jimmy.
"Tidak,aku tidak takut, mungkin dari sekarang aku harus persiapkan diri untuk menulis surat wasiat untuk berjaga-jaga." Jawab Jimmy.
"Untuk apa membuat surat wasiat sayang? Berarti kamu niat meninggalkanku ya?"tanya Endah curiga pada Jimmy yang malah membuat Jessica menjawabnya.
"Untuk ninggalin hutang yang dia punya, dia bakal limpahin hutangnya ke elu-lah Ndah, apa lagi Jimmy suka makan bakwan di Ce' Odah gak pernah bayar hahahahaha..."
"Serius lu Njess? Ce'Odah tukang nasi uduk langganan kita itu Hahahaha... kok bisa dia makan disitu pake ngutang lagi?"tanya Endah dengan tawanya.
"Ya seriuslah mana gue boong hahaha... Bisalah waktu gue kabur, gue sama kak Andre dan dia suka makan di sana." jawab Jessica dengan tawanya.
"Ganteng-ganteng kere dong lekong gue Njess...bakwan ajah pakai gak bayar"
"Bisa di bilang begitu, menang ganteng doang hahahaha... tapi lumayan bawa laki u makanan gue gratis semua...hahahaha"
Jimmy memandang kesal kedua adik kakak yang sedang menertawakannya.
"Aku makan bakwan itu karena di tawari dan lebih tepatnya di paksa oleh Nyonya muda, dan waktu aku mau bayar Ce'Odah itu tidak mau di bayar bukan karena aku tidak mau bayar, tapi di gratiskan. Nyonya muda tolong jangan fitnah saya."
"Hai, Babang Jimmy stop panggil adikku Nyonya muda, panggil saja dia Njess seperti aku, yang majikan mu itu suaminya bukan istrinya, bukan begitu adikku sayang? Hahahaha...."
"Aku setuju dengan mu kakakku sayang hahahahaha."
__ADS_1