
Sekepergian Kiara. Leon bagaikan singa yang kehilangan taringnya di hadapan Endah. Adiknya ini sangant berbeda dengan adik bungsunya yang tak pernah menegurnya apalagi menghardiknya.
Sudah hampir 30 menit Endah terus mengomel dan berceramah pada Leon yang kupingnya sudah panas mendengar ocehan sang adik yang tak kunjung berhenti.
"Sudahlah Endah, abangkan sudah minta maaf dengan Anna, lagi pula Anna saja tidak mempermasalahkannya lagi. Kenapa jadi kamu yang seakan-akan memperpanjang masalah ini sih?!" Protes Leon yang sejak tadi terus diam tanpa diberi kesempatan membela diri.
"Anna diam karena dia terlalu mencintai mu bodoh! Dia rela di sakiti oleh Abang karena takut di tinggalkan oleh Abang. Abang mikir dong! Abang tuh punya dua adik perempuan kalau kita di gituin sama para suami kita karena karma dari abang gimana?" Endah tak menerima protes Leon dan kembali menyalahkan Abangnya itu.
"Ya gak gimana-gimanalah." Sahut Leon yang malas menanggapi omelan Endah yang tak ada ujungnya.
"Apa? Gak gimana-gimana kata Abang?! Ohhh... Jadi Abang ga perduli sama kita berdua hah?!" Endah berjalan mendekati Leon sambi meninju telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya yang mengepal sempurna.
Anna yang berdiri merangkul sang calon suaminya itu segera menyingkirkan setelah Endah mengusirnya dengan sorot matanya yang tajam. Leon tiba-tiba bergidik ngeri melihat wajah Endah yang sudah seperti singa yang akan menerkamnya.
"Eh, Endah mau ngapain hah? Jangan macam-macam ini kantor!" Leon berkata dengan kedua tangannya seakan mendorong Endah untuk menjauh dari dirinya.
"Aku mau ngapain? Hahaha ..." Tanya Endah dengan tawa devilnya seketika membuat Leon kembali bergidik ngeri melihat wajah Endah.
Sedang Jessica hanya senyum-senyum sendiri melihat kedua saudaranya berdebat dari sebuah sofa tempat ia duduk saat ini sambil mengelus perutnya yang buncit. Ia sudah tahu Leon pasti akan habis di unyeng-unyeng oleh Endah.
"Ann, sini! Nonton dari sini aja! Jangan berdiri terus ntar lo makin kaya tingang listrik! Lo mau pegang siapa Ann? Bang Leon apa Endah? Gue pegang Endah, jadi Lo pegang Bang Leon ya? Kalau gue menang Lo masakin gue udang saos tiram kaya kemarin ya? Kalau gue kalah Lo gue beliin tas yang lagi Lo incar." Jessica memanggil Anna untuk duduk bersamanya dan mengajaknya taruhan.
Anna tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan kelakuan calon adik iparnya yang menjadikan pertengkaran kedua saudaranya jadi ajang taruhan.
Leon habis diunyeng-unyeng oleh adiknya, ia tak membalas sedikitpun apa yang dilakukan Endah padanya. Ia membiarkan sang adik meluapkan emosinya terhadap dirinya.
Bisa saja ia melawan dan mengalahkan Endah tapi itu akan membahayakan calon bayi yang sedang di kandung adiknya itu.
__ADS_1
Beberapa kali Anna meneriaki Endah untuk berhenti namun Endah tak kunjung berhenti menganiaya calon suaminya yang pakaian dan rambutnya sudah acak-acakan.
Betapa terkejutnya Jimmy yang tengah berdiri mematung di muka pintu melihat Istrinya yang menghilang meninggalkan Mansion tanpa pamit ternyata datang ke kantor cabang perusahaan Adijaya hanya untuk menganiaya Leon.
Jimmy segera berjalan menghampiri sang istri yang sedang menganiaya Leon ketika dia sadar istrinya itu sedang hamil muda, apa yang dia lakukan pada Leon sangat berbahaya bagi kandungannya.
Jimmy mengangkat tubuh sang istri untuk menjauh dari Leon. Endah terus meronta-ronta tidak mau menjauh dari Leon karena dia belum mau berhenti memberi pelajaran pada Abanhnya itu.
"Babang, kenapa memisahkan aku dengan Bang Leon? Bang Leon harus di beri pelajaran karena tidak memperdulikan perasaan ku dan Jessica." Omel Endah pada suaminya yang tengah menatap tajam dirinya.
"Dede sadar kamu sedang hamil, Jangan petakilan seperti itu bisakan?! Kamu bisa membahayakan nyawa calon anak kita!" Jimmy balas memarahi Endah.
"Ishhh.... Bilang saja Babang membela dia." Ucap Endah sambil menunjuk Leon yang sedang meringis kesakitan karena wajahnya sudah penuh dengan cakaran tangan Endah.
"Aku tidak membelanya, apa untungnya bagiku membela dia hum? Aku hanya mengkhawatirkan dirimu dan calon anak kita sayang." Balas Jimmy yang mengusap bahu sang istri.
"Ahh, kalian para pria memang sama saja. Gatel gak bisa setia sama istri. Mulai sekarang di perusahaan Adijaya ataupun Batara Group tidak ada sekertaris CEO ataupun wakil CEO yang berjenis kelamin perempuan. Jika ada dia akan berurusan dengan ku." Sahut Endah dengan kembali meninju-ninju keras telapak tangannya dengan tangannya yang lain hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
"Ohh... Karena itu kamu datang kesini dan menghajar Abang mu itu hahahhaha..." Jimmy tertawa senang setelah mengetahui alasan sang istri pergi dari Mansion sampai membuat dirinya panik setengah mati dan melihat sang istri yang ia cari sedang menganiaya Kakak Ipar yang sangat bahagia jika ia sedang dihukum oleh istrinya yang memiliki sikap dan sifat yang langka.
"Diam kau Jimmy!!" Pekik Anna dan Leon bersamaan. Mereka berdua sama-sama tidak terima Jimmy menertawakan Leon.
"Hai, Anna beraninya lo bentak laki gue?" Tegur Endah dengan berkacak pinggang dan mata yang melotot.
"Ya Beranilah, lo aja berani aniaya calon suami gue sampai kaya gini coba." Ucap Anna yang mengelus wajah Leon yanh dipenuhi luka cakaran Endah.
Disaat mereka semua berdebat, Jessica malah sibuk melakukan Video Call dengan suaminya, ia mengarahkan kamera belakangnya kearah keempat orang yang tengah berdebat saling tidak terima pasangannya di aniaya.
__ADS_1
"Serukan Dad? Kamu melewatkan tontonan gratis ini." Ucap Jessica sambil tertawa kecil yang membuat keempat orang yang dihadapannya mendengar tawa itu dan menghentikan perdebatan mereka.
"Dasar Adik laknat, kita berselisih disini dia malah cekikikan disana. Pasti dia lagi nelepon suaminya yang sok ngeboss itu." Ucap Endah yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati sofa dan memperhatikan ponsel adiknya yang benar sesuai dugaannya.
Adiknya itu tengah menikmati pertikaian mereka bersama suaminya melalui sambuang Video Call.
"Seru ya Jess?!" Tanya Endah dengan lirikan matanya yang sinis.
"Seru banget." Jawab Jessica tanpa menoleh kearah Endah yang tatapannya sudah seperti ingin menerkam adiknya itu.
"Seru banget ya hehehee..." Endah membeo dengan tawanya yang meniru tawa Jessica yang seakan mengejeknya itu segera menolehkan pandangannya ke arah kakak perempuannya itu.
Didapati oleh Jessica wajah Endah yang terlihat marah padanya, entah bawaan bayi atau bagaimana, seketika itu juga Jessica menangis seperti layaknya anak kecil yang takut saat mendapati tatapan seseorang yang marah terhadapnya.
Mendengar istrinya menangis, Andre terus meneriaki nama Jimmy.
"Jimmy... Jimmy... Apa yang diperbuat oleh istrimu pada istriku hah, Sampai istri ku menangis seperti itu?" Kata Andre di dalam sambungan video call yang masih terhubung.
"Istriku tidak melakukan apa-apa, istri mu saja yang cengeng Ndre." Jawab Jimmy dengan suara yang keras karena jarak ponsel Jessica dan dirinya cukup jauh.
"Apa kau bilang Jim? Sepertinya kau cari masalah dengan ku,Jim. Bersiaplah aku akan memberikan mu pelajaran setelah aku pulang nanti." Andre telihat tak menyukai Jimmy yang mengatakan Jessica cengeng yang memang benar adanya.
Namun Andre tidak rela jika ada satu orangpun menyebut sang istri dengan sebutannya cengeng. Biarkan hanya dia yang berhak mengatakan hal itu pada Jessica tidak dengan orang lain.
"Baiklah aku tunggu kepulangan mu di Mansion ku." Sahut Jimmy yang menerima tantangan Andre.
"Baiklah tunggulah kedatangan diriku dengan duduk manis di Mansion kebanggaan istri mu!" Ucap Andre di akhir panggilan teleponnya.
__ADS_1
Bagaimana baik dan buruknya Endah, dia tetap istrinya yang sangat ia cintai. Dia akan membela sang istri meskipun dia harus berhadapan dengan adik iparnya yang memiliki kekuasaan itu.
Tak lama dari Andre menutup panggilan teleponnya. Angela dan Bowo datang untuk membawa sang istri Tuan Mudanya itu untuk kembali pulang dan istirahat.