
Sambutan yang diberikan Abraham pada Endah, membuat tangis haru Endah pecah. Bukannya memeluk sang suami ataupun memeluk anggota keluarganya, ia malah memeluk salah satu Maid yang membawa papan yang bertuliskan we love you Endah, sambil terus menjawab "I love you to... Makasih ya, kalian budah baik banget dan sayang banget sama aku." Ucap Endah disela tangisannya.
Anna yang sedang menjaga imagenya di depan keluarga calon suaminya pun sudah tak bisa menahan diri melihat apa yang dilakukan Endah pada para Maid yang ia peluk lalu ciumi pipi kanan-kirinya satu persatu.
"Eh Markonah, kenapa meluk ciumnya kesana? Emang kadang-kadang lu ya, Kakek Nenek lu disini?! Yang buat sambutan itu Kakek Nenek lu bukan mereka." Pekik Anna yang mengundang tawa mereka semua
Endah yang merasa dipanggil oleh Anna pun membalikkan badannya dengan wajah sembab dantampang bodohnya.
"Lah kok iya-ya ..." Ucap Endah saat berbalik menatap keluarganya, ia baru menyadari apa yang dilakukannya barusan, dengan menampilkan cengiran kuda di wajahnya ia menghampiri sang suami sambil berlari kecil.
Setelah sampai dihadapan sang suami dengan wajah malunya, Endah langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu dan sambil berkata, "Babang Jimmy, aku malu banget mereka ngetawain aku." Ucap Endah dengan suara manjanya yang terdengar oleh semua orang membuat Leon yang mendengarnya makin mengeraskan tawanya.
"Bukannya adikku yang satu ini memang kelakuannya lebih memalukan dari yang satunya hahahahha..." Ucap Leon di sela tawanya yag membuat ia mendapatkan tatapan tajam dari sang adik ipar.
"Hei, Jimmy beraninya kau menatap calon suamiku seperti itu, sepertinya kau mau merasakan matamu ku colok dengan high heels ku ya." Ancam Anna sambil berkacak pinggang menatap Jimmy.
Endah yang semula bersembunyi di dada sang suami langsung berbalik ketika mendengar calon kakak iparnya itu ingin menganiaya sang suami.
"Hai, Anna calon kakak ipar yang banyak minustnya. Jangan macam-macam ya dengan suami gue! Sebelum lu sentuh laki gue, langkahin dulu nih mayat gue." Ucap Endah yang juga berkacak pinggang.
"Hah, siapa berani!!! Ayooo!!!" Sahut Anna yang bukannya menghampiri Endah malah menggandeng sang kekasih memasuki Mansion.
Sebelum ia melangkahkan kakinya bersama sang kekasih tak lupa Anna berpamitan dengan Abraham dan Dewi yang berdiri diantara mereka dan Endah serta Jimmy.
"Kakek Nenek, Anna dan Bang Leon masuk duluan ya?!" Ucap Anna sambil sedikit membungkuk tubuhnya. Kemudian masuk kedalam Mansion meninggalkan mereka semua yang masih berdiri di teras.
"Hai, Anna kenapa lu masuk?! Kita belum duel dasar penge.cut lu. Gue udah pasang kuda-kuda lu malah pergi." Pekik Endah yang melihat Anna dan Leon pergi meninggalkannya.
"Kan tadi gue bilang siapa berani bukan siapa takut. Gue sayang banget sama tubuh gue, Ndah. Gue gak mau ada mahakarya lu berbekas di tubuh indah gue Ndah." Sahut Anna yang menghentikan langkahnya berbalik menatap Endah.
Abraham dan Dewi yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepala mereka.
"Mom, hidup kita akan berwarna dengan hadirnya mereka sekarang." Ucap Abraham pada sang istri yang menyandarkan kepalanya di lengannya.
"Iya Daddy, andai saja kejadian itu tak terjadi mungkin sudah sejak dulu hidupnkita berwarna Dad." Sahut Dewi dengan lirihnya.
"Jangan melihat lagi kebelakang Mom, kita harus sambut kehadiran mereka tanpa melihat kejadian yang lalu, yang perlu kita lakukan adalah merobohkan benteng yang di bangun Nico kepada kita dan menyadarkan dia bahwa Cynthia anak kesayangannya itu bukan putri kandungnya." Balas Abraham yang kemudian mememluk tubuh sang istri yang mulai menangis sedih.
Sementara itu Endah yang berjalan mengikuti langkah para Maid yang menunjukkan dimana letak kamarnya pun dibuat terpana dengan lantai yang dihiasi penuh mawar merah diatasnya.
"Babang Jimmy, ini tuh kaya penyambutan suami sama istrinya mirip kaya di film-film romansa ya Bang?!"
"Iya sayang, Dede Endah suka yang seperti ini? Kalau Dede suka nanti Abang akan buat yang seperti ini tapi kalau kita sudah tinggal dirumah kita sendiri ya?!"
__ADS_1
"Suka si bang, tapi kalau bisa jangan bunga mawar yang di tebarin kaya gini." Jawab Endah dengan senyum liciknya.
"Terus bunga apa? Bukannya wanita itu suka saa bunga mawar?!" Tanya Jimmy yang mencium kecurigaan dari raut wajah Endah yang terbaca olehnya.
"Ya mungkin wanita lain akan suka dengan bunga mawar tapi kalau aku lebih suka bunga Bank hihihi..." Jawab Endah sambil menutup mulutnya.
"Ohh, aku mengerti sekarang apa yang kamu inginkan, kamu pasti ingin yang di tabur dilantai seperti ini uang bukan mawar kan?! Tebak Jimmy yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Endah.
"Hahaha baiklah, aku akan wujudkan keinginanmu asal kau puaskan aku malam ini , bagaimana?! Tawar Jimmy dengan mata genitnya.
"Ayo siapa takut, aku akan memimpin permainan kita malam ini. Aku akan membuat si Junior lemas dan tak bisa bangun lagi."
"Waw... Aku suka gaya kamu yang ganas sayang," bisik Jimmy di telinga Endah kemudian menjilati daun telinga Endah hingga keleher jenjangnya.
"Jedug." Suara kepala yang berbenturan.
Jimmy dan Endah sama-sama mengusap kepalanya yang sakit karena saling terbentur.
"Lu berdua bisa gak sih mesumnya di dalam kamar aja. Kaya gak punya kamar aja lu!" Omel Anna pada keduanya.
Endah memandang kesal kearah Anna dan Leon.
"Syirik banget lu, ganggu banget jadi orang. kalau iri bilang Boss,bilang aja lu pengenkan Ann?! tuh Bang Leon nganggur." Pekik Endah yang kesal dengan suara yang keras.
"Eh jangan sembarang nuduh ya, gue gak pengen tuh kaya lu yang maniak." Sahut Anna yang tak terima akan ucapan Endah.
"Ah jadi cewek jangan muna lu Ann, sekali dijoblos abang gue, lu pasti ketagihan ujung-ujungnya minta lagi dan lagi." Balas Endah masih dengan suaranya yang keras.
"Apa sih lu Ndah gak jelas omongan lu," timpal Anna lagi.
Cynthia yang merasa terganggu karena suara berisik didepan kamarnya yang tak kunjung berhenti membuatnya keluar dari kamarnya. Dengan wajah menahan kesal ia membuka pintu kamarnya.
"Argh... Siapa sih malam-malam berisik banget, ganggu orang tidur tau." Omel Cynthia dengan penampilan yang berantakan.
"Oh Tuan putri maaf ya jika keberisikkan kami mengganggu waktu tidur mu, tapi emang kita sengaja, ya kan Ann?" Sahut Endah dengan wajah mengejeknya.
"Iya betul sekali, kalau mau sepi bobonya di kuburan sayang jangan disini!." Timpal Anna yang membuat Leon dan Jimmy menahan tawanya karena ucapannya secara tidak langsung meminta Cynthia untuk tidur di kuburan.
"Kalian ngapain datang kesini hah, ini itu bukan rumah kalian?" Pekik Cynthia dengan kesalnya.
"Kita kesini mau ngapain?! Gak salah ni Tuan putri nanya kaya gini ke kita Ann?" Ucap Endah yang menanggapi Cynthia.
"Tau nih si Tuan putri palsu, kalau nanya tuh dipikir dulu jangan asbun. Ya gak sayang?!" Timpal Anna yang membuat Cynthia memicingkan matanya ketika ia menyandarkan dirinya pada Leon.
__ADS_1
"Bang Leon, kenapa Abang mau aja di deketin sama si Jones ini, bang?" Tanya Cynthia yang menarik tubuh Anna menjauh dari Leon.
"Eee....eeee..." Teriak Anna ketika tubuhnya di tarik paksa oleh Cynthia.
Dengan gerakan refleks melihat Anna di tarik paksa oleh Cynthia, Endah langsung mendorong pelan tubuh Cynthia agar melepaskan tubuh Anna. Cynthia yang menarik simpati Leon dan Jimmy pura-pura terjatuh.
"Auuu...." Rintih Cynthia yang terjatuh kemufian memandangi wajah Leon dan Jimmy berharap kedua lelaki itu membantunya.
Namun sayang Jimmy yang di tatap malah diam tak bereaksi. Hanya Leon yang menatap malas kearah Cynthia kemudian denga wajah dinginnya Leon meminta Cynthia untuk bangun sendiri.
"Bangunlah Cynthia!! Buang jauh sifat manjamu jika berhadapan denganku. Sampai kapanpun aku tak akan membantumu untuk bangun karena aku lelah mau istirahat, selamat malam." Ucap Leon yang kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
Anna yang melihat sang kekasih pergu meninggalkan segera menyusul langkah kaki Leon dan merangkul manja lengan Leon untuk diantarkan ke kamar tidurnya. Sedang Jimmy segera menggendong mesra Endah dan membawa Endah masuk kedalam kamar mereka yang bersebelahan dengan Cynthia.
Cynthia memandang mereka penuh amarah dan kebencian.
"Awas saja kalian, aku akan membalas semua perbuatan kalian padaku. Sekarang Kakek sudah menyayangiku, aku akan buat Kakek seperti Ayah yang selalu menuruti apa keinginan ku, menyakiti kalian secara perlahan, lalu mendepak kalian dari sini." Ucap Cynthia dengan penuh percaya diri. Cynthia berusaha bangun dari posisinya yang pura-pura terjatuh tanpa seorang pun yang membantunya, kemudian dia masuk kembali ke kamarnya untuk kembali beristirahat.
Namun sayang, keinginannya untuk beristirahat harus ia kubur dalam-dalam, karena malam ini menjadi malam yang melelahkan dan menyebalkan baginya.
Bagaimana tidak suara erangan permainan Jimmy dan Endah terdengar begitu keras hingga ke kamar Cynthia. Seberapa keras Cynthia mengumpati Endah dan Jimmy malah membuat Endah makin mengeraskan suara jeritan kenikmatan yang diberikan suami tercintanya itu kepada dirinya. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa terganggu dan gelisah pastinya.
Cynthia sudah menutup telinganya dengan bantal agar tak mendengar lenguhan lak.nat dari mulut Endah yang suaranya sengaja ia keraskan, namun usahanya sungguh sia-sia. Suara lenguhan itu sampi menggema hampir ke seluruh ruangan utama Mansion Abraham.
Berbeda dengan Cynthia, Abraham dan anggota keluarga lain bahkan para Maid yang berada di dalam Mansion tak akan mendengar suara lenguhan keras Endah, karena kamar istirahat mereka sudah di pasang alat peredam suara yang dapat di atur secara sentral dari ruang kerja Abraham ketika Cynthia berada di rumah sakit menjaga Nico.
Berbeda dengan kamar para Maid yang dipasang peredam suara oleh Abraham, peredam suara yang ada di kamar Cynthia malah dinonaktifkan oleh Abraham sesuai permintaan Endah. Abraham menonaktifkan pengaturan peredam suara dari kamar Cynthia.
Sekilas dari tampilan pengaturan peredam suara itu seakan berfungsi tapi tidak pada kenyataannya. Meskipun Cynthia menyalakan peredaman suara melalui tombol pengaturan yang ada di kamarnya agar tak mendengar suara permainan Endah dan Jimmy tetap akan sia-sia. Abraham sengaja menyetingnya sedemikian rupa agar misi balas dendam sang cucu berjalan sesuai keinginannya.
Dan kejailan Endah pun untuk mengerjai Cynthia pun dimulai, meski dia sudah menyelesaikan permainannya, ia terus mende.sah tanpa henti membuat Cynthia terus mengumpatinya dan berteriak meminta mereka untuk diam dan menghentikan permainan mereka.
"Berisik, bisakah kalian berhenti!! Ini bukan hotel ataupun rumah bordil bodoh!! Dasar wanita murahan ******* mu sungguh menjijikkan!" Pekik Cynthia yang mengudang tawa Endah pecah. Ia makin menjadi-jadi mendesah karenanya.
Jimmy yang sudah dibuat tak berdaya oleh Endah lebih baik mengabaikan kejahilan sang istri dan memilih untuk memejamkan matanya dengan menutup telinganya dengan bantal. Ia tak mau mendengar sang istri mende,sah yang dibuat-buat bahkan sampai memukul-mukul sofa bahkan meja nakas pun ia benturkan ke dinding yang menempel dengan kamar Cynthia. Ia membuat seolah-olah permainan mereka begitu luar biasa.
"Dasar perempuan murahan sudah jam dua pagi kamu masih saja bermain dengan suami jongosmu itu, benar-benar membuatku tak bisa tidur. Kalian sungguh menjijikkan dan tak tahu diri. Kalian jadikan Mansion Kakekku tempat mesum kalian. Dasar kurang ajar." Pekik Cynthia dari luar pintu kamar Endah.
Endah yang mendengarnya malah makin mende.sah dan memukuli sofa dimana tempat ia duduk sekarang, ia pura-pura tak mendengar pekikan suara Cynthia dari luar pintu.
"Ahhh...sayang... Percepat lagi... terus... ya... ya...sebentar lagi .Ahhh..... Ahhm.. empppp" ucap Endah dengan suara des.ahan palsunya.
Karena kesal di acuhkan Cynthia pun menendang pintu kamar Endah dengan kerasnya, setelah itu Endah menyalakan perdam suara di dalam kamarnya. Di waktu dini hari ia tertawa begitu keras merasakan bahagia bisa mengerjai Cynthia untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Cynthia ini baru permulaan, mari kita lanjutkan besok aku mau istirahat mengumpulkan tenagaku untuk mengerjai mu lagi pagi hari nanti...bye..bye Cynthia selamat menikmati tekanan darahmu naik ya hahahahha." Ucap Endah sebelum pergi tidur.