
Sementara itu di dalam ruang pabrik, Ferry yang baru saja datang langsung mendekati putri angkatnya yang pernah dengan tega membantu Jimmy membuat dirnya cacat hingga seperti ini seakan melupakan kebaikannya membesarkan Endah meski tanpa kasih sayang tapi dia selalu memenuhi kebutuhan Endah dengan gelimangan hartanya. Seorang pengawal kembali membuka lakban penutup mulut yang dipakai oleh Endah.
Prekkk!!!
"Sssss.... Robek deh ni mulut gue lama-lama udah tiga kali mulut gue dibuka tutup mulu, suami sialan kemana sih lo, sakit nih mulut gue!!!" Pekik Endah sengaja mengeraskan suaranya agar Jimmy yang tengah berjongkok di ujung sana mendengarnya.
Jimmy yang mendengarnya sudah bisa memastikan istrinya akan menganiaya dirinya setelah ini sebagai balasan kelambanan dirinya dalam menolong istri kejamnya itu.
"Endah, tak tersentuhkah dirimu melihat keadaan Daddy seperti ini?" Tanya Ferry yang menggunakan alat bantu bicara pada Endah.
Endah yang jiwa humornya tinggi mendengar suara orang tua angkatnya bersuara dengan serak namun cempreng langsung saja tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahaha.... Hahahahaha..." Tawa Endah menggema ke seluruh ruangan.
"Kau ini bicara apa Ferot? Belajarlah bicara dulu! Baru bicara dengan ku." Seloroh Endah disela tawanya yang tak kunjung hilang.
Bukan hanya Endah yang tertawa, Jessica pun ikut menertawakan suara Ferry dengan mulutnya yang tertutup lakban.
"DIAM!!!" Bentak Ferry yang malah makin membuat Jessica dan Endah makin tertawa keras.
"Endah jika kau tidak mau diam Daddy tak segan-segan untuk menyuruh bodyguard Daddy untuk menembakmu!" Ancam Ferry yang membuat Endah dan Jessica diam seketika.
"Ya-ya-ya aku diam." Sahut Endah dengan wajah malasnya.
"Jawab pertanyaan Deddy Endah, apa tak tersentuh sedikitpun di hatimu melihat kondisi Daddy seperti ini?" Tanya Ferry dengan mentap serius wajah putri angkat yang selalu merengek kasih sayang padanya dahulu kala.
"Kau mengharapkan aku menjawab dengan jujur atau bohong, Tuan Ferrot?" Endah malah balik bertanya pada Ferry yang membuat Ferry menajamkan pandangannya pada Endah tanpa menjawab pertanyaan Endah barusan.
"Tentunya jawaban bohongku akan menyenangkan hatimu Ferrot, aku sangat sedih melihat kondisi mu seperti ini, aku akan mengutuk SUAMI SIALAN KU itu karena telah mencelakai Daddy yang sangat aku sayangi ini, Daddy yang sangat beruntung mendapatkan cinta pertama ku tapi mengabaikannya kerena aku bukanlah putri kandungnya, melainkan putri dari pria yang ia benci karena hampir saja menikahi wanita yang sangat ia cintai dan jawaban jujurku adalah aku sangat bersyukur dengan apa yang diperbuat oleh SUAMI LAMBANKU itu telah membuatmu menjadi seperti ini, bahkan sekarang, aku ingin memerintah SUAMI LELETKU itu untuk menghabisi nyawamu di hadapanku dan aku biarkan Kau mati dibawah Kaki ku. TEMBAK BODOH ATAUKAU SIAP UNTUK TIDUR DILUAR!!!" Ucap Endah diakhir kalimatnya yang menjadi perintah bagi Jimmy mau tak mau menembak Ferry dari kejauhan.
Slep...Slep...!!! Dua kali tembakan dengan peredam suara berhasil menjatuhkan Ferry dari kursi roda. Kepala Ferry jatuh tepat berada di atas kaki Endah dengan cepat Endah menginjak kepala orang tua angkatnya itu yang selalu membuatnya menangis sepanjang malam dan sekarang terlibat dalam penculikan dirinya dan keluarga kandungnya.
"DADDY!!!!" Pekik Melani dan Cynthia bersamaan.
__ADS_1
Bagaikan seorang penembak jitu Jimmy melancarkan aksinya.
Slep...Slep...Slep...!!! Jimmy terus menembak mati seluruh pengawal Ferry yang tak menggunakan jaket kulit hitam, menyisakan beberapa orang-orang Ferry yang sudah membelot.
"Hahahaha mati juga kau Ferot... Hai Nenek Tua sekarang giliran dirimu, tiket ke alam baka menanti sayangnya tunggulah kau harus mati di tanganku." Endah melompat dan kembali berdiri, ia berlari mendekati tembok dan menghatam bangku yang terikat dengan tubuhnya ke tembok.
Brakk!!! Lagi-lagi Endah menghancurkan kursi kayu yang ia duduki.
Ia melepaskan tali pengikat ditubuhnya dengan secepat kilat.
"Jadilah anak yang kuat di rahim Mami nak." Ucap Endah yang mengelus perutnya kemudian berlari kearah pinggang suaminya, ia mengambil senjata api sang suami yang diletakkan sang suami di belakang pinggangnya.
Melani dan Cynthia berteriak ketakutan melihat Suci ditodongkan pistol oleh Endah.
"Jangan lakukan itu anak pungut sialan!" Pekik Cynthia yang tak di perdulikan Endah.
"Endah, tolong jangan lakukan itu! Maafkan kami!!" Pekik Melani yang ingin menghampiri langkah Endah namun Jimmy langsung menodongkan pistol kearahnya. Membuat langkahnya terhenti dan hanya bisa saling berpelukan dengan putrinya.
Dan Nico, ia terus saja menggelengkan kepalanya melihat anak menantunya melakukan tembak menembak melenyapkan nyawa seseorang dengan mudahnya tanpa rasa takut padahal putrinya itu tengah mengandung dan Endah terlihat begitu kejam dengan tawanya yang terdengar sangat menyeramkan.
"Ayo Nenek tua, kau salah mencari lawan, kau kira aku cupu humm tapi sayangnya aku ini suhu hahahaha... Sebelum kau binasakan aku dan kedua orangtuaku, kau dulu yang aku binasakan wahai nenek tua bau tanah... simpan dendammu pada Nenek tercinta ku di hati mu yang busuk itu hingga kau membusuk nanti di alam kubur! Sekarang ucapkan selamat tinggal pada dunia perhaluan mu yang ingin membawa adikku pergi bersama anakmu yang jadi Duda tak berkualitas itu, yang sampai sekarang tak kunjung datang batang hidungnya." Ucap Endah yang langsung di sahuti Fabian yang ternyata sudah berdiri di ujung pintu sejak tadi.
"Aku disini!! Sejak tadi aku disini mendengar dan menyaksikan semuanya." Sahut Fabian yang berjalan menghampiri Endah dan Suci.
"Fabian...." Suara lirih Suci yang begitu pelan memanggil putranya.
"Pasti kau mendengar semuanya, mendengar Mommy yang membunuh istri dan ketiga anakmu. Maafkan Mommy Nak, semua Mommy lakukan juga untuk kebahagiaan mu untuk bersatu bersama dengan wanita yang sangat kamu cintai, Jessica." Batin Suci yang terfokus dengan kehadiran Fabian.
Slep...!! Satu tembakan dengan peredam suara dilepaskan Endah dan langsung membuat Suci jatuh tersungkur ke tanah.
Brakkk!!!! Tubuh tua itu jatuh dan menggelepar diatas lantai.
"Upsss sorry sengaja hahahahaha...." Ucap Endah diakhiri tawanya yang menyeramkan.
__ADS_1
Tak ada raut kesedihan ataupun keterkejutan di wajah Fabian saat Sang Ibu jatuh tertembak dalam jarak yang sangat dekat oleh Endah. Berbeda dengan Melani dan juga Cynthia.
"TANTE SUCI!!" Pekik Melani melihat tubuh Tantenya jatuh terkapar bersimbah darah.
"OMMAA!!!!" Pekik Cynthia yang menangis sejadi-jadinya melihat tubuh Suci jatuh mengelepar bagaikan seekor ikan yang diletakkan di daratan.
"Endah Lo sudah gila!!! Dasar wanita gila!!!" Pekik Cynthia mengumpati Endah.
"Jika gue ini gila, lantas Lo apa Huh?" Sahut Endah dengan suaranya yang memekik.
Diego yang berdiri mematung di samping Jessica melihat Fabian datang langsung berkesiap membawa Jessica pergi sebelum Fabian merebut wanita pujaan hatinya itu.
Diego melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan Jessica dan tiba-tiba saja satu tembakan bersarang di kakinya.
"Slepp..." Satu tembakan dengan peredam suara di hadiahkan Endah di kaki Diego.
"Aaaaaaa.... Sakit....sakit banget gila Lo Ndah!!" Rintih Diego memegangi betisnya yang tertembak.
"Jangan Lo kira gue lengah Diego! Tak ada yang bisa membawa adik gue pergi kecuali gue dan suaminya." Ucap Endah dengan wajahnya yang tenang namun menyeramkan.
Endah sudah sangat mirip dengan Jimmy, si pembunuh berdarah dingin.
Tiba-tiba Endah langsung mengarahkan pistol tepat di dada Fabian yang berdiri di dekat adiknya.
"Lo sentuh adik gue, nasib lo akan sama seperti Mommy tersayang Lo Om Duda!" Ancam Endah yang membuat Fabian menoleh kearahnya.
"Bunuhlah aku dihadapannya Endah! Aku bersedia mati di hadapannya." Balas Fabian dengan wajah sendunya menatap Jessica.
Ia tiba-tiba menjatuhkan dirinya sambil menangis tersedu-sedu di pangkuan Jessica.
"Biarkan sesaat saja aku menangis di pangkuan mu Jessica ku." Ucap Fabian pada Jessica yang terus menggoyangkan Kakinya seakan risih dengan apa yang di lakukan Fabian padanya.
Tiba-tiba sosok Andre datang dengan kepala dan lengan tangannya yang sudah berdarah-darah.
__ADS_1