Cinta Jessika

Cinta Jessika
Merasa Hancur


__ADS_3

Terjadinya perdebatan antara tim medis dengan Jimmy yang menjalankan perintah Andre yang tak bisa diganggu gugat lagi. Mau tak mau dengan berat hati tim medis rumah sakit pun akhirnya mengikuti permintaan pemilik rumah sakit yang sedang murka pada salah satu pasien mereka yang sedang dalam masa observasi.


Dengan berat hati Dokter yang menangani Cynthia mendatangi Nico yang sedang terduduk lesu dengan menopangkan dagunya pada kedua tangannya dengan pandangan mata yang hanya melihat lantai rumah sakit.


"Permisi Tuan, bisa kita bicara sebentar keruangan saya. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan mengenai pasien." Tutur Dokter Hadi yang berdiri di depan Nico.


Nico mendongakkan kepalanya melihat siapa lawan bicaranya. Setelah mengetahui lawan bicaranya tanpa menjawab Nico yang lesu bangkit dari duduknya dan mempersilahkan sang Dokter untuk jalan terlebih dahulu dan ia mengikuti dari belakang.


Sesampainya di ruang Dokter. Dokter Hadi langsung mengungkapkan hal penting yang baru kali ini ia bicarakan pada keluarga pasiennya. Dokter Hadi menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya untuk menyampaikan berita yang mungkin akan mendapatkan protes dari keluarga pasiennya itu.


"Tuan, sebelumnya saya atas nama pribadi dan rumah sakit minta maaf, jika apa yang saya sampaikan ini sangat tidak dapat diterima oleh Tuan dan keluarga." Ucap Dokter Hadi penuh keraguan.


"Ya, katakan saja Dokter, apa yang mereka perintahkan pada Dokter?" Sahut Nico yang mengerti arah pembicaraan sang Dokter.


"Jadi Tuan sudah..." Kalimat Dokter Hadi terpotong karena Nico meminta Dokter Hadi segera menceritakan apa yang diperintahkan Andre padanya.


"Katakan saja langsung,tidak perlu bertanya ataupun berbasa-basi." Potong Nico yang mulai meradang hatinya, ia bicara dengan nada yang sedikit meninggi.


Kejadian pengusiran yang dilakukan Andre sangat menginjak harga dirinya. Ia sampai tak bisa mengontrol emosinya pada Dokter Hadi yang tak punya salah apapun padanya karena mengingat kejadian itu dan menurut Nico pasti Dokter Hadi mengajaknya bicara empat mata seperti ini buntut dari pengusiran terhadap dirinya tadi atas segala kesalahannya dan Cynthia lakukan kepada putrinya sendiri, Jessica.


"Maaf Tuan, saya paham sekali perasaan Anda sedang tidak baik-baik saja, maaf jika saya terlalu lancang tadi ingin bertanya pada Anda. Jadi begini, saya hanya menyampaikan perintah dari pemilik rumah sakit ini untuk meminta Tuan mencari Rumah Sakit lain untuk menangani putri Anda. Kami tidak diizinkan dan di perkenankan untuk melakukan penanganan lanjutan pada putri Anda." Tutur Dokter Hadi dengan penuh keraguan, ia sangat khawatir lawan bicaranya akan marah dan tidak terima.


"Baik, saya akan memindahkannya." Jawab Nico dengan singkat dengan senyum kecutnya.


Tanpa mengucapkan satu patah kata apapun lagi, ia langsung bangkit dari kursinya dan keluar dari ruang kerja Dokter Hadi. Ia berjalan menghampiri Berry yang nampak bingung karena sudah membawa kotak yang berisi empat kantung darah namun di tolak pihak rumah sakit saat menyerahkannya tadi.

__ADS_1


"Om, ada apa ini kenapa kantung darah yang aku bawa di tolak, ada apa dengan Cynthia. Apa operasi pengambil janinnya dibatalkan?" Tanya Berry yang begitu khawatir.


"Ya operasinya di batalkan, kita harus cari rumah sakit lain. Pihak rumah sakit ini menolak menangani Cynthia atas perintah anak pemilik rumah sakit ini." Jawab Nico dengan pandangannya yang kosong.


"Kenapa bisa Om, ada masalah apa sampai di tolak seperti ini? Aku ingin segera membawa pulang jenazah anakku Om." Berry kembali bertanya pada Nico dengan menggebu-gebu.


"Benar apa kata mu Berry, Jessica tidak mencelakai Cynthia, tapi Cynthia-lah yang ingin mencelakai Jessica namun tidak berhasil dan naasnya malah dia yang jadi seperti ini. Dan lebih parahnya lagi Suami Jessica adalah anak pemilik rumah sakit ini. Dia meminta Dokter yang menangani Cynthia berhenti menanganinya dan meminta kita membawa pergi Cynthia dari sini." Ungkap Nico dengan suaranya yang memelas.


"Sudah jatuh tertimpa tangga pula kamu Cynthia. Karena kecerobohan mu, calon anakku tidak bisa diselamatkan. Om, aku akan memohon pada suami Jessica untuk melanjutkan operasi pengambil Janin, untuk penanganan selanjutnya aku serahkan bagaimana Om, karena kedatangan ku ke kota ini hanya untuk calon anakku, dan sekarang anakku sudah tiada. Aku tak ada urusan lagi dengan Cynthia. Aku hanya ingin menuntaskan urusan ku untuk membawa calon anakku yang sudah tiada kembali ke kota J hari ini juga." Ucap Berry yang nampak kesal, ia kemudian berjalan meninggalkan Nico kembali seorang diri.


Dengan bermodalkan bertanya pada pihak rumah sakit Berry akhirnya bisa menemui Andre yang tatapannya tak seramah saat pertama kali ia temui.


"Ada apa kau menemui ku?" Tanya Andre dengan tatapan yang seakan menusuk Berry.


"Tuan Andre yang terhormat, saya tahu Anda orang baik seperti orang tua Anda yang sudah memberikan bantuannya pada saya hingga saya bisa sampai di kota ini. Maksud dan tujuan saya kesini hanya untuk memohon bantuan Anda sekali saja dalam hidup saya. Tolong izinkan Dokter untuk melakukan operasi pengambilan janin pada Cynthia. Saya ingin membawa pulang calon anak saya yang sudah tiada ke kota J hari ini juga. Untuk urusan kedepannya mengenai Cynthia saya tidak perduli lagi. Anda boleh mengusirnya dari rumah sakit ini setelah Operasi pengambilan janin sudah dilakukan nanti." Tutur Berry yang duduk bersimpuh dibawah kaki Andre.


"Bangunlah, temui Dokter yang menangani Cynthia katakan padanya aku hanya mengizinkannya mereka menangani Cynthia hanya untuk melakukan operasi pengangkatan janin tidak lebih dari itu." Ucap Andre yang menepuk bahu Berry yang sedang duduk bersimpuh di kaki Andre.


"Terimakasih Tuan... Terimakasih atas kebaikan Anda." Ucap Berry dengan tangis bahagianya karena merasa permohonannya di setujui dengan mudahnya oleh Andre yang ia datangi dengan tampang yang sedang tak bersahabat.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Andre, Berry segera kembali menemuin Dokter dan satu jam kemudian Cynthia pun di bawa ke meja operasi untuk melakukan pengangkatan janin yang telah tiada di dalam kandungannya.


Sementara itu Nico semenjak di tinggal Berry menemui Andre ia tidak lagi menunggu Cynthia di ruang tunggu IGD, ia memilih untuk kembali ke Mansion menemui sang Daddy.


"DADDY.... DADDY... DIMANA KAMU DAD..." Pekik Nico dari luar Mansion sampai ke dalam Mansion hingga ia menemukan sosok sang Daddy yang ia cari.

__ADS_1


Ia berlarian menuju ruang kerja sang Daddy dengan perasaan tak karuan. Rasa marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


Brak!!! Suara pintu ruang kerja Abraham di buka dengan kasar oleh Nico.


"DADDY,,," panggil Nico dengan suara yang meninggi.


Abraham tak menjawab panggilan sang putra yang sudah terlihat begitu marah. Ia hanya terus memandangi sang putra yang sedang bernafas dengan tersengal-sengal.


"Daddy sudah puaskah dirimu memberikan aku pelajaran hidup sekejam ini padaku?" Tanya Nico dengan nada tinggi, ia masih dikuasai oleh emosinya.


"Jangan bicara dengan ku dengan keadaan emosional seperti itu! Tenangkan saja dirimu dulu, baru bicara baik-baik dengan ku nanti saat kamu sudah merasa tenang." Ucap Abraham dengan santainya dengan bersandar di bangku kebesarannya.


"Bagaimana aku bisa tenang? Mulai hari ini hidupku tak akan pernah tenang sebelum mereka memaafkan ku. Kau sungguh kejam Dadd, membiarkan aku dalam kesalahan ku tanpa memberitahukan ku hingga aku di jauhi dan dibenci istri dan anak-anak ku sendiri. Caramu membalas dendam padaku sungguh keterlaluan." Tutur Nico dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jadi kamu menyalahkan Daddymu ini Nic?" Tanya Abraham dengan tersenyum kecut.


"Iya aku menyalahkan Daddy, seharusnya Daddy memberitahukan ku terlebih dahulu mengenai Endah dan Cynthia yang sengaja di tukar oleh Melani agar semua ini tidak terjadi." Jawab Nico.


"Ck, kamu sungguh lucu Nico, kamu datang kepada Daddy hanya untuk menyalahkan Daddy atas semua yang terjadi pada dirimu tanpa kamu introspeksi dirimu sendiri terlebih dahulu. Sadarlah Nic, bagaimana tabiatmu selama ini? Bagaimana caramu mendidik anak-anak mu? Apa selama ini kamu mau mendengarkan perkataan Daddymu ini Nic? Apa selama kamu kembali tinggal di Mansion ini kamu pernah menganggap keberadaan Daddy dan Mommy mu? Mengajak kami bicara atau menyapa kami? Kamu membangun benteng yang terlalu tinggi pada kami Nic, mengabaikan kami dan terlalu fokus pada Cynthia anak Melani itu. Seharusnya jika kamu punya perasaan, kamu bisa merasakan kenapa kami seakan acuh dan tak menerima kehadirannya di Mansion ini, bukan malah makin memanjakannya disini Nic." Tutur Abraham panjang lebar yang membuat Nico seketika terdiam.


Kata-kata Abraham seakan menamparnya dan menyadarkan dirinya atas segala kesalahannya.


Melihat putra bungsunya terdiam membisu setelah mendengar perkataannya. Abraham bangkit dari kursi kebesarannya, ia berjalan meninggalkan ruang kerjanya. Ia berjalan berlalu begitu saja melewati Nico dan meninggalkannya begitu saja.


Ketika Nico berada seorang diri di ruang kerja sang Daddy. Nico meluapkan emosinya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Ia menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya. Memukul-mukul wajahnya, ia berharap semua ini hanya mimpi buruknya saja. Ruang kerja Abraham sudah tidak berbentuk lagi, begitu nampak hancur berantakan seperti penampilan Nico saat ini.

__ADS_1


Buku-buku tangannya dipenuhi luka-luka dan darah segar mengalir dari luka yang terbuka saat ia memukul meja kaca di hadapannya hingga hancur lebur. Beberapa pecahan beling menancap di tangannya.


Bagi Nico saat ini rasa sakit pada tangannya yang terluka tidak terlalu sakit dari pada rasa sakit hati yang ia rasakan saat di rumah sakit tadi. Ketika Lestari menolaknya, Endah melontarkan kata-kata pedas yang menusuk hatinya dan menantu yang mengusirnya dengan cara yang tak hormat, sungguh sangat menginjak harga dirinya sebagai seorang Ayah mertua.


__ADS_2