Cinta Jessika

Cinta Jessika
Aku ini anakmu


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Angela sudah sampai di Mansion Abraham. Ketiga wanita itu masuk ke dalam Mansion dengan perasaan penuh rasa bahagia.


Endah yang berjalan terlebih dahulu sudang berteriak memanggil nama sang Kakek.


"Kakek... Kakek dimana? Aku datang bawa kabar bahagia nih." Pekik Endah dengan suara yang menggema di seluruh penjuru ruangan.


Abraham yang sedang membaca surat kabar di tepi kolam ikannya dibuat terkejut oleh pekikan suara Endah, hingga membuat surat kabar yang ada di tangannya terjatuh saat ia terkejut.


"Astaga, anak itu.." Gumam Abraham yang meletakkan koran di meja yang ada di samping kursi duduknya.


Abraham berjalan menghampiri Endah yang masih meneriakkan namanya.


"Endah, sudah jangan teriak-teriak lagi, Kakek ada disini nak." Ucap Abraham yang berdiri dibelakang Endah.


"Kakek..." Endah berlari memeluk tubuh sang Kakek dengan manjanya.


Abraham membalas pelukan Endah dengan memeluk wrat tubuh sang cucu kemudian mencium pucuk kening Endah.


"Kek, aku datang kesini bawa kabar bahagia loh, Kakek mau denger ga?" Tanya Endah dengan manjanya, menatap sang Kakek dengan mendongakkan kepalanya tanpa melepas pelukannya pada pinggang Abraham.


"Tentu Nak, Kakek pasti mau mendengarkan semua cerita mu Nak. Ayo katakan kamu bawa kabar bahagia apa humm!" Jawab Abraham yang kemudian mencubit hidung mancung Endah.


"Kek, Kakek akan dapat cicit kembar loh, adikku hamil bayi kembar." Ucap Endah yang memberitahukan kabar bahagia itu dengan senyum yang terukir di wajahnya.


"Wah... Benarkah??? Lalu bagaimana dengan kandungan mu, apa kembar juga?" Tanya Abraham pada Endah.


"Belum terlihat Kek, calon anakku masi sebesar biji kacang hijau." Jawab Endah.


"Kembar atau tidak semoga kehamilan kalian berjalan lancar dan sehat hingga kalian melahirkan nanti ya." Ucap Abraham yang mendoakan kelancaran kehamilan kedua cucunya.


"Terimakasih atas doa yang Kakek panjatkan untuk kami, jadi tambah sayang deh Endah sama Kakek ." Ucap Edah yang kemudian mencium pipi sang Kakek.


"Endah kemana adikmu? Kakek tak melihatnya." Tanya Abraham dengan mata yang mengedarkan pandangannya mencari sosok Jessica yang ia cari.


"Dia sedang ke kamar yang kemarin di tempati Anna bersama dengan Anna Kek, mereka kesana karena ada barang Anna yang masih tertinggal disana Kek," jawab Endah.


"Ooooo begitu, baiklah kalau begitu sekarang kamu pergilah panggil adikmu! Kakek akan menunggu kalian di ruang keluarga bersama Nenekmu. Kalian berdua harus sampaikan langsung berita bahagia ini pada Nenekmu, pasti dia akan senang sekali mendengar kabar bahagia ini." Pinta Abraham yang langsung dijawab Endah dengan anggukan kepala.


"Baiklah Kek, aku ke atas dulu menyusul mereka ya?!" Pamit Endah pada Abraham.


Endah melepaskan pelukannya pada Abraham kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Abraham terus memperhatikan cara cucunya yang menaiki anak tangga dengan sembrono tanpa berhati-hati sedikitpun, membuat Abraham ngilu melihat cara Endah menaiki anak tangga dengan kondisi hamil muda seperti itu.


"Anak itu benar-benar tidak bisa bersikap lebih hati-hati sedikit." Gumam Abraham dengan mata yang terus memperhatikan sang Cucu hingga selesai menaiki anak tangga terakhirnya.

__ADS_1


Abraham melangkahkan kakinya ke ruang baca untuk memberitahu sang istri jika mereka sedang kedatangan cucu-cucu mereka yang sudah lama tidak datang ke Mansion mereka.


Ceklek, suara handle pintu di buka.


"Mom," panggil Abraham pada istrinya.


"Ya Dad, ada apa tumben mencari Mommy sampai ke sini?" Tanya Dewi yang merasa heran dengan kedatangan suaminya di ruang baca pribadinyayang jarang di kunjungi oleh Abraham.


"Mom, ada cucu-cucu mu datang membawa kabar bahagia untukmu. Ayo letakkan buku-bukumu itu dan ikutlah denganku!" Jawab Abraham yang kemudian memaksanya meletakkan buku-buku kesayangannya yang sedang ia rapikan.


"Ia...ia...Dad.. Jangan buru-buru seperti ini aku bisa jatuh Dad!" Ucap Dewi yang dipaksa meletakkan buku-bukunya dan langsung di tarik keluar dari ruang bacanya.


Endah yang sudah ada di lantai dua tidak langsung menyusul adiknya yang ada di kamar yang pernah di tempati oleh Anna. Kata hatinya mengatakan ia ingin ke kamarnya yang ada di samping kamamr Cynthia.


Tidak ada yang Endah lakukan di kamarnya terkecuali hanya duduk memandangi foto dirinya dan Jimmy yang di pajang diatas dinding kamarnya.


"Apa yang aku lakukan harusnya aku menyusuh adikku dikamar Anna, bukan duduk bersantai menatap foto pernikahan ku seperti ini." Gumam Endah yang menyadari keanehan yang dirinya lakukan.


Ia pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya. Endah begitu terkejut melihat Cynthia yang sedang mengambil ancang-ancang ingin mendorong Jessica dari atas anak tangga.


Dengan refleks Endah teriak.


"Jessica minggir!!" Pekik Endah dengan sekeras-kerasnya.


Teriakan histeris dari Jessica yang terkejut dan Cynthia yang merasa kesakitan membuat orang-orang seisi Mansion menghampiri mereka termasuk Nico.


Nico yang berada di lantai dasar melihat Cynthia yang terkapar di bawah anak tangga dengan darah segar yang keluar dari bawah pangkal pahanya langsung berlari dengan rasa penuh kekhawatirannya. Ia mendongakkan kepalanya melihat Jessica yang berdiri di atas anak tangga dengan wajah terkejutnya.


"Jessica apa yang kau lakukan pada Kakak mu?" Pekik Nico membentak Jessica dengan menatap tajam Jessica dari lantai bawah. Ia lagi-lagi menuduh Jessica tanpa bertanya terlebih dahulu.


Jessica terdiam mendapatkan tuduhan dan amarah dari Nico yang sudah tak ingin lagi ia rasakan. Entah karena hormon ke hamilan atau perasaannya yang lelah. Bukannya menjawab tuduhan yang diberikan padanya Jessica malah menangis sekencang-kencangnya.


"Nico, apa yang kamu lakukan hah? Kamu sudah membentak cucu kesayangan ku demi anak tak tahu diri ini." Ucap Abraham yang meremas bahu Nico yang sedang duduk berlutut mengangkat kepala Cynthia yang sudah tak sadarkan diri.


Sadar Adiknya membutuhlan dirinya Endah datang menghampiri dan menarik tubuh Jessica dalam pelukannya.


"Tenanglah, sudah jangan menangis lagi jangan takut ada gue di samping lu!" Ucap Endah menenangkan Jessica yang menangis tersedu-sedu.


"Dad, sudah cukup aku melihat Daddy bersikap tidak adil pada kedua putri ku. Lihatlah apa yang dilakukan Jessica pada Cynthia! Dia datang kesini hanya untuk mencelakai saudara kandungnya sendiri. Ini benar-benar keterlaluan Dad. Dad, tolong bantu aku! Kita harus segera membawa Cynthia ke Dokter Dad." Ucap Nico yang membuat Abraham mengerasakan kedua rahangnya dan mengepalkan buku-buku tangannya.


"Kau bilang aku tidak adil Nico, kau tidak salah bicara huh!" Ucap Abraham dengan amarahnya, ia menatap tajam Nico yang semakin panik karena Cynthia tak juga membuka matanya, meski dia sudah berusaha membangunkannya.


Endah yang mendengar ucapan tak kalah naik darahnya.

__ADS_1


"Ayah, kau memang sosok ayah yang patut kami benci." Pekik Endah dari lantai atas.


"Endah apa maksud ucapan mu, kenapa kamu memanggil ku dengan sebutan Ayah?" Tanya Nico yang menatap penuh arti wajah kemarahan Endah.


Endah menuruni anak tangga setelah Anna menggantikannya memeluk sang adik.


"Tak bisakah kau mengenali ku seperti mereka yang bisa mengenali dan merasakan bahwa diriku adalah bagian dari hidup mu A..YAH?" Jawab Endah yang membuat Nico diam dan berfikir.


"Kenapa diam? Apa kau sedang berfikir siapa aku? Aku ini putri kandungmu yang sengaja di tukar oleh mantan calon istrimu Melani, dan anak yang saat ini kau peluk adalah putri dari orang yang selama ini membuat hidupku menderita. Kau beri dia kasih sayang dan mereka memberikan ku penderita. Bukan hanya aku yang menderita adik dan abang ku pun menderita karena kehadiran anak tikus ini di tengah keluarga kandung ku." Tutur Endah penuh berapi-api.


"Apa??? Kamu jangan bicara sembarangan Endah!" Ucap Nico yang terkejut dan tak percaya.


"Hah, aku tak perduli kau mau percaya atau tidak pada ku A-yah. Karena sosok mu sudah tak lagi berarti bagi kami." Ucap Endah yang tiba-tiba membuat hati Nico tertusuk nyeri.


Setelah menyelesaikan ucapannya Endah berjalan meninggalkan Nico yang masih memangku kepala Cynthia. Endah berjalan menghampiri Abraham yang tengah berdiri di belakang Nico.


"Kek, sepertinya aku dan suamiku akan tinggal bersama dengan Ibu dan adikku di Mansion adik iparku sampai Mansion yang Kakek bangun untukku selesai dibangun. Aku tidak ingin tinggal seatap dengan seorang Ayah yang tak punya hati." Ucap Endah dengan suara yang sengaja ia kencangkan agar Nico mendengarnya.


Ya, Nico mendengar ucapan Endah dengan jelas. Hatinya benar-benar merasa sakit mendengar ucapan Endah yang menusuk hatinya. Tak sampai disitu kata-kata Endah menyakiti hati Nico. Endah kembali menyakiti Nico ketika ia dengan sengaja memanggil Jessica untuk turun menyusul dirinya.


"Jessica, adikku sayang, turunlah! Ayo kita pulang! Tidak perlu kita berlama-lama disini bersama orang yang tak menginginkan kehadiran kita di hidupnya. Anak tikus itu lebih berarti daripada kita anak kandungnya." Perintah Endah pada Jessica yang membuat Anna menuntun tubuh Jessica yang masih saja menangis untuk menuruni anak tangga.


" Jika saja tadi aku tidak teriak memanggil adikku untuk minggir, pasti yang tergeletak tak sadarkan diri saat ini adalah adikku bukan anak tikus ini." Terang Endah yang menatap sudut ruang lain saat Nico menatap lengkang wajah kemarahan putri kandungnya.


"Apa??" Pekik Abraham, Nico dan Dewi yang terkejut mendengarnya.


"Lihatlah CCTV Kek! Untuk membuktikan ucapanku. Aku tak terima jika adikku selalu dituduh bersalah oleh orang tak punya hati ini." Ucap Endah yang kemudian menggandeng Jessica melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Kami pulang Nek, besok datanglah ke Mansion adikku, aku akan memberikan kabar bahagia pada Nenek disana." Ucap Endah yang di jawab anggukkan kepala dari Dewi yang sembari megusap rambut Jessica yang masih saja menangis.


"Pulanglah sayang, tenangkan adikmu, hati-hati dijalan ya." Ucap Dewi yang mengizinkan cucu-cucunya oulang sebelum memberikan kabar bahagia yang membuatnya penasaran.


Setelah kepergian cucunya Abraham berjalan meninggalkan Nico yang masih duduk memangku Cynthia, ia ingin mengecek CCTV seperti saran sang cucu padanya.


Namun baru beberapa langkah kakinya melangkah Nico suda memanggilnya.


"Dad, tolong bantu aku membawa Cynthia ke rumah sakit." Ucap Nico yang membutuhkan pertolongan sang Daddy.


Mendengar permintaan tolong Nico, Abraham menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Jika kau meminta bantuanku untuk menguburkannya hidup-hidup pasti aku akan menolongmu, tapi jika kau meminta bantuanku untuk menolongnya. Maaf Nico, aku tidak punya banyak waktu." Ucap Abraham yang sontak membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


Tanpa berkata-kata lagi Abraham segera melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dasar untuk melihat rekaman CCTV.

__ADS_1


__ADS_2