
Mobil Fabian melalui mereka yang masi berdiri di posisi yang sama dengan kecepatan yang tinggi.
Leon melepaskan pelukkan Ana.Ia meraih tangan Ana yang melingkar di pinggangnya. Ia mendorong tubuh Ana perlahan hingga terlepas dari tubuhnya. Leon memegang kedua bahu Ana. Lalu berkata.
"Pulanglah Ana! Ini sudah larut malam. Tidak baik seorang wanita masih berkeliaran diluar di malam yang selarut ini." ucap Leon tanpa menatap wajah Ana dan tanpa menunggu jawaban Ana. Leon kemudian melepaskan pegangannya pada kedua bahu Ana dan meninggalkan Ana begitu saja. Leon berjalan menghampiri Jessica tengah menangis.
"Masuklah kedalam! Berhentilah menangis! aku tidak mau memiliki adik yang cengeng dan lemah seperti dirimu. Jangan berharap aku akan memelukmu dalam kondisi mu yang seperti ini. Belajarlah bersandarlah pada dirimu sendiri. Jangan berharap aku akan menguatkan hati mu. Biasakanlah kuatkan hati mu dengan dirimu sendiri. " Ucap Leon pada Jessica dengan wajah datarnya seakan tak memperdulikannya. Kemudian Leon berlalu begitu saja tanpa memperdulikan lagi keadaan Jessica dan tanggapan Jessica akan perkataanya tadi. Leon berjalan menuju mobil miliknya. Ia hendak memindahkan mobil miliknya yang terparkir dibelakang mobil Ana untuk masuk kedalam pekarangan rumah.
Ana dan Endah dibuat tercengang akan ucapan Leon kepada Jessica barusan.
"Bingung gue sumpah sama sikap dan perkataan si Abang singa ke Cinderella gadungan kita barusan. Tadi dia marah kaya apa coba ampun deh. Dateng-dateng ngasih tendangan bebas ke Om Duda sampe gak bisa bangun si Om Duda dibuatnya seakan dia perduli banget sama adiknya tapi habis itu adiknya kaya dilepehin gitu aja sekarang. Pantes aja Adiknya suka kaya orang stress gak ada obat. Kna mental dia. Tertekan punya abang kaya gitu dan punya kakak perempuan hatinya busuk." ucap Endah pada Ana.
"Maksud Leon itu baik Ndah. Dia marah seperti tadi karena dia tau Fabian itu seperti apa orangnya. Dia sebagai seorang kakak laki-laki dia tadi sudah menjalankan tugasnya untuk melindungi adiknya dan sekarang dia ngomong kaya gitu ke Jessica niatnya baik Ndah, supaya Jessica jadi cewek yang kuat Ndah, Dia mau Jessica gak bergantung sama dia ataupun sama orang lain, gak cepet baper yang dikit-dikit nangis." terang Ana pada Endah.
"Oh gitu..Tapi caranya gak banget menurut gue, kena mental gue kalau digituin mah." ucap Endah.
Andre berjalan menghampiri Jessica ketika Leon sudah berlalu, Andre menarik tubuh Jessica masuk dalam pelukkannya.
"Bersandarlah dengan ku. Menangislah dalam pelukkan ku! Menangislah sampai kau puas sayang. Jangan takut aku yang akan menguatkan hati mu mulai saat ini dan selamanya. Selama jantung ini masih berdetak selama itu pula aku akan ada selamanya berada disampingmu." ucap Andre saat memeluk Jessica. Jessica pun akhirnya menangis dalam pelukkan Andre.
"Setelah ini aku harap tidak ada air mata lagi yang jatuh karena menangisi dia. Air mata mu terlalu berharga kalau hanya untuk menangisi dia." ucap Andre lagi.
Mobil Leon melewati Jessica dan Andre yang sedang berpelukan. Setelah memasukkan mobilnya. Leon kembali keluar menghampiri Jessica dan Andre.
__ADS_1
"Sudah cukup kalian berpelukan! Jessica aku harap kupingmu masih berfungsi dan otakmu masih bisa mencerna kata-kata ku tadi." ucap Leon pada Jessica dan Andre.
Jessica melepaskan pelukkan Andre karena dia tidak mau ada keributan lagi karena dirinya. Andre menariknya kembali tubuh Jessica ketika pelukkan itu hampir terlepas. Andre mengecup puncuk kepala Jessica. Lalu membiarkan Jessica pergi masuk kedalam rumah. Apa yang dilakukan Andre tak luput dari pandangan Leon. Leon memberikan tatapan tajam pada Andre.
"Aku sudah memperingati mu untuk jangan menyentuhnya. Kenapa kau menyentuhnya didepan ku? Apa kau sedang menantang ku?" ucap Leon dengan suara yang meninggi dengan penekanan di tiap kalimatnya.
"Aku tidak sedang menentang mu. Bisakah kau tidak terlalu keras padanya?!" ucap Andre pada Leon.
"Saat ini dia masih tanggung jawabku. Bagaimana cara aku mendidik adikku itu menjadi urusanku kau tidak perlu ikut campur. Aku sudah gagal satu kali dan aku tidak mau gagal untuk yang kedua kali. Adikku adalah harta yang berharga bagi ku. Aku akan menjaganya dengan cara ku sendiri." ucap Leon pada Andre.
"Aku akan segera mengambil alih tanggung jawab mu Leon kalau cara mu seperti ini. Kau tidak berusaha mengerti perasaanya sebagai seorang kakak harusnya kau bisa menjadi sandarannya, aku tidak terima kau berkata-kata seperti itu tadi padanya, jika kamu memiliki masalah jangan kau limpahkan amarah mu padanya. Jika alasan mu memperlakukan Jessica seperti itu karena masalahmu dengan keluarga Dahlan. Aku pastikan besok menjadi hari yang menyedihkan untuk mereka. Akan ku buat perusahaannya rata dengan tanah dan kalau perlu Dahlan-nya pun masuk kedalam tanah. Air mata Jessica yang disebabkan oleh mu harus dibayar mahal oleh kekasih mu Kiara.Saat ini aku tidak lagi perduli kau cucu seorang Abraham. Bagi ku siapapun yang melukai hati Jessica itu akan menjadi musuhku. Camkan itu Leon"!! ucap Andre pada Leon dengan mengangkat dan mencengkram kuat kerah baju Leon. Andre meninggalkan Leon yang berdiri mematung mencerna kata-kata ancaman dari Andre.
Dari dalam rumah dibalik jendela Cynthia sejak tadi menyaksikan yang terjadi diluar rumahnya.
"Lihat saja Jessy! Aku akan mengadukan hal ini pada ayah besok pagi, bersiaplah menerima kemarahan ayah." ucap Cynthia dengan senyum liciknya.
******
Setelah Leon meminta Fabian untuk pergi. Fabian pun angkat kaki dari sana. Dia meninggalkan mereka dengan perasaan yang tidak dapat diungkapkan lagi dengan kata-kata. Fabian memutuskan untuk pulang ke apartemen Rania. Dia akan tinggal beberapa hari disana hingga luka - luka ini membaik. Dia tidak ingin pulang kerumah dalam kondisi seperti ini lagi. Ia takut menemui kedua putrinya, takut membuat kedua putrinya khawatir, takut membuat kedua putri kecewa karena tidak bisa menjadikan Jessica sebagai ibu sambung untuk mereka dan takut menghadapi pertanyaan kedua orang tuanya dengan kondisinya yang berkali- kali pulang dalam keadaan yang seperti ini.
Kini Fabian sudah sampai di depan Unit Rania. Fabian menekan bell berkali-kali dengan ritme yang cepat. Membuat Rania berteriak -teriak dari dalam.
"Sabar.... sabar... Tunggu sebentar...Siapa sih bertamu selarut ini? Ini juga resepsionis kenapa diizinkan tamu datang selarut ini bukannya ditolak saja." ucap Rania kesal.
__ADS_1
Rania membuka pintu apartemennya. Dia sangat terkejut dengan kedatangan Fabian. Dan lebih terkejut lagi melihat Fabian datang dalam kondisi yang berantakan dan terlihat terluka di bagian tangan dan terlihat ada luka baru diwajahnya.
"Kamu kenapa Bie? Kamu habis berkelahi lagi?" tanya Rania.
"Aku akan tinggal bersama mu untuk beberapa hari ini disini. Tolong obati luka-luka ku Nia!" pinta Fabian. Dia tidak menjawab pertanyan Rania. Dia malah menjelaskan maksud kedatangannya. Fabian menerobos masuk kedalam melalui tubuh Rania yang berdiri di muka pintu, Fabian merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Rania mengambil kotak P3K untuk mengobati luka-luka Fabian. Rania membersihkan darah yang mengering ditangan kanan Fabian, Ia mencabut pecahan kaca yang menancap pada buku-buku jarinya. Dia juga membersihkan dan mengibati luka diwajah Fabian.
"Kamu kenapa Bie? Apa kamu tidak mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu, hingga kamu bisa terluka seperti ini?" tanya Rania pada Fabian yang sedang memejamkan matanya. Terlihat buliran bening menetes dari matanya yang terpejam.
"Aku ingin istirahat besok saja kita membahasnya." jawab Fabian dengan mata yang masi terpejam.
"Gantilah pakaian mu dulu Bie!" pinta Rania pada Fabian.
"Biar kan aku seperti ini dulu. Aku akan tidur di sofa malam ini, kau bisa kembali tidur Nia. Maafkan aku jika aku merepotkan mu." ucap Fabian masih memejamkan matanya.
"Baiklah kalau itu mau mu Bie. Aku akan kembali ke kamar, jika kamu membutuhkan diriku kau bisa memanggilku" ucap Rania pada Fabian.
"Terima kasih Nia. Tolong matikan lampunya!" pinta Fabian. Rania pun mematikan lampu dan kembali ke kamarnya.
Didalam gelapnya ruang apartemen Rania tempat dimana ia membaringkan tubuhnya, Fabian membuka matanya. Dia membiarkan air matanya berjatuhan. Fikirannya sedang melayang. Dadanya sesak mengingat bagaimana penolakan Jessica hari ini padanya, usahanya yang sia-sia untuk melepaskan diri dari Rania malah berujung mendapatkan tuntutan Rania yang ingin di nikahi, dan ancaman Rania yang akan mengakhiri hidup jika dia meninggalkan Rania dan Ucapan Hana yang ingin Jessica menjadi Ibu sambungnya. Membuat hidupnya merasa terbebani.
Fabian begitu menyesal, terlambat menyadari Jessica teramat berarti bagi hidupnya, menyia-nyiakan Jessica yang sudah menyodorkan diri padanya kala itu. Ia malah menolak dan menyakiti Jessica. Kini Jessica sudah di miliki oleh orang lain, ia begitu tak rela. Ia berniat akan merebut Jessica dari tangan Andre, tidak perduli apapun yang akan terjadi nanti. Dia harus mendapatkan Jessica kembali. Meskipun harus menyakiti perasaan Rania yang mencintainya dan dia juga harus mengorbankan perusahaan yang ia bangun dari nol yang pastinya akan diratakan dengan tanah oleh Andre.
bersambung
__ADS_1