
Abraham beserta anggota keluarga yang lain setelah menghabiskan makan malamnya mereka duduk di ruang keluarga. Mereka menunggu Jessica dan Endah beserta pasangan mereka masing-masing untuk bergabung bersama sebelum memulai membahas sesuatu hal yang penting tentang Endah ke depannya.
Di saat mereka sedang menunggu kehadiran Endah dan juga Jessica ponsel Adam berbunyi terlihat di layar ponsel Adam Ferry tengah menghubunginya.
"Sial betul orang ini, benar-benar tidak sabaran," umpat Adam yang memilih untuk tidak mengangkat telepon dari Ferry
Abraham yang melihat wajah anaknya begitu kesal melihat layar ponsel pun bertanya.
"Siapa yang menghubungimu Dams? Kenapa wajah mu begitu kesal seperti itu?" Tanya Abraham yang penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Ferry, Dad" jawab Adam.
"Mau apa lagi dia menghubungimu?" tanya Abraham lagi pada Adam.
"Mau apa lagi kalau bukan meminta saham 30% yang dimiliki oleh cucu menantu mu itu Dad." Jawab Adam masi dengan wajah kesalnya.
"Apa Andre belum memberikannya padamu?"tanya Abraham pada Adam dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Sebaiknya Daddy tanyakan saja mengenai Andre dan saham itu pada cucu laki-laki kesayangan Deddy itu." Jawab Adam yang arah pandangan matanya menuju ke Leon
"Kenapa aku harus bertanya pada cucuku Bukannya kau yang harusnya melakukan negosiasi dengan Andre agar Andre melepas saham itu pada kita?" Tanya Abraham yang mulai menatap Adam dengan tatapan membidik.
"Aku tidak bernegosiasi dengan Andre, Leon lah yang bernegosiasi dengan cucu menantu itu Dad. Dia sudah mengambil alih tugas ku, sepertinya aku akan pensiun di usia muda kalau begini caranya." jawab Adam yang menatap Abraham balik sang Deddy.
"Baguskan, memang itu mau mu sejak awal bukan?Pensiun di usia yang masih produktif untuk menikmati hidupmu yang monoton." Sahut Abraham menyindir.
"Ya memang itu mau ku, Dad perlu kau tahu hidupku tak lagi monoton, sudah ada Jessica yang lucu yang akan selalu menghiburku dan satu lagi aku juga punya Endah untuk ku jadikan teman bertengkar ku. Bodoh sekali Nico menyia-nyiakan anak-anak yang membuat hidupnya berwarna."ujar Adam yang membuat Lestari meradang mengingat Nico yang lebih memilih menemani Cynthia di Kota D.
"Ayah kenapa kau bodoh sekali tak bisa membedakan mana yang anak kandung kita dan yang bukan? Selama ini kau sia-siakan Jessica hanya demi Cynthia yang ternyata bukan anak kandung kita." Umpat Lestari dalam hatinya, setelah mendengar kata-kata Adam.
Sedang Dewi yang duduk di samping Lestari menepuk lembut paha menantunya itu.
"Jangan marah ataupun membenci kekhilafan suami mu Nak!" Tegur Dewi pada Lestari yang seakan dapat menebak kata hati menantunya yang sedang mengumpati Nico putranya.
"I-iya Mom," sahut Lestari gugup karena isi hatinya terbaca oleh ibu mertuanya.
"Leon, apa hasil negosiasimu dengan Andre?Apa Adik iparmu akan menjual saham perusahaan Ferry yang dimiliki olehnya itu pada kita?" Tanya Abraham dengan mimik wajah yang serius.
"Dia tidak menjualnya, Kek. Tapi dia akan memberikannya dengan cuma-cuma pada kita hanya saja ada syarat yang harus kita penuhi sebelumnya." Jawab Leon dengan begitu santainya.
"Apa syaratnya yang diberikan Andre pada pihak kita Leon?" tanya Abraham yang masih menatap serius wajah cucunya itu.
"Dia minta kita tidak menjadi penghalang dalam hubungan Endah dan Jimmy, kalau bisa setelah serah terima saham antara Andre dengan pihak kita, Endah dan Jimmy segera dinikahkan." Jawab Leon lagi.
"Hanya itu?" Tanya Abraham memastikan.
"Ya hanya sesimpel itu syaratnya Kek, apa Kakek bisa memenuhinya?" Leon balik bertanya pada sang Kakek. Kali ini wajah Leon begitu serius menatap sang Kakek.
"Akan aku penuhi," jawab Abraham dengan suara tegasnya.
"Adam perintahkan orang-orang kita untuk mempersiapkan pernikahan Endah dan Jimmy malam ini juga." Perintah Abraham pada Adam
"Malam ini juga Dad? Apa tidak bisa besok?"
__ADS_1
"Ya harus malam ini juga, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum konferensi pers besok siang. Aku ingin masalah Endah sudah selesai sebelum matahari terbit, lagi pula pernikahan Endah dan Jimmy sampai kapanpun tidak akan aku publish ke publik karena itu akan membahayakan keselamatan cucuku."
"Baik Dad."
"Sekalian kau atur jadwal pertemuan kita dengan Ferry dalam waktu 2 jam ke depan!" Perintah Abraham lagi pada Adam.
"Leon panggil adik-adikmu ke sini sekarang!" perintah Abraham kali ini pada Leon.
Leon pun segera bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke ruang makan memanggil kedua adiknya.
Endah dan Jessica yang sudah selesai makan ternyata sedang merapikan kursi duduk yang telah mereka pakai tadi.
"Endah, Jessica kalian dipanggil kakek di ruang keluarga," ucap Leon kepada kedua adiknya dengan wajah datar dan melirik cemburu dengan kemesraan Andre dan Jimmy pada kedua adiknya.
"Jim, bagaimana jika sebaiknya kita tunggu di sini saja? Sepertinya mereka ingin membicarakan hal penting."Ajak Andre kepada Jimmy untuk menunggu di ruang makan saja untuk memberikan ruang kepada keluarga inti mereka berbicara bersama.
Belum sempat Jimmy menjawab ajakan Andre, Leon sudah menjawabnya.
"Tidak perlu, kehadiran kalian berdua juga ditunggu oleh kakek, tidak perlu mengucilkan diri kalian di ruang makan." Ucap Leon ketus kepada Andre dan juga Jimmy.
"Tapi tadi kau tidak menyebut nama kami saat mengajak istriku dan Endah, Kakak ipar." Protes Andre pada Leon.
"Sudahlah jadi laki-laki jangan baper harus di sebut dulu baru mau ikut," sahut Leon membalas protes yang dilayangkan adik iparnya.
"Aku tidak baper kak ipar?" Protes Andre lagi karena di sebut Baper.
"Sudah jangan mulai lagi kak Andre, Bang Leon, kalian tuh memang kadang-kadang ya..." Jessica berusaha melerai berdebatan anatara suaminya dan Kakak laki-lakinya.
"Kompak banget bayi kembar hahaha..." Guyon Endah yang membuat Jessica tertawa lebar tapi tidak dengan kedua lelaki yang tak terima di sebut bayi kembar. Sedang Jimmy sedang menahan tawanya di balik wajah datarnya.
"Cukup Jessica Endah jangan terus menertawai kami!" pinta Leon pada kedua adiknya untuk berhenti berbicara namun permintaan Leon sama sekali tidak di gubris ke duanya.
"Ahh...sudah, benar-benar nasib hidupku punya dua adik perempuan yang sama-sama tidak waras." Ucap Leon kesal kemudian pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu.
Akhirnya mereka pun berjalan bersama-sama mengekori langkah Leon yang sudah berjalan terlebih dahulu ke ruang keluarga yang jaraknya tersekat beberapa ruang dari ruang makan. Mereka berempat duduk saling berdekatan dan sejajar di sebuah sofa panjang. Setelah mereka sudah terlihat duduk Abraham pun memulai percakapan.
"Jimmy, jika aku memberi kesempatanmu menikahi cucuku. Apa kau mau menikahi cucuku malam ini juga? Tanya Abraham kepada Jimmy dengan wajah seriusnya dan dengan nada bicara yang tegas dan berwibawa.
"Saya tidak mungkin menolaknya. Saya akan menerima dengan senang hati Tuan." Jawab Jimmy dengan pasti. Jangan ditanyakan lagi kondisi hatinya saat ini, berbunga-bunga dan berdenyut tak karuan.
"TUAN?? Mulai saat ini panggil saya Kakek seperti Endah dan yang lainnya. Karena dalam satu jam kedapan kau akan menjadi cucu menantu Abraham Adijaya." Ujar Abraham dengan melemparkan senyuman yang lebar ke arah Jimmy.
"Baik Kek," balas Jimmy yang langsung memanggil Abraham dengan sebutan Kakek
"Bagus, bagaimana Endah apa kau mau menikah dengan kekasih pilihan mu ini?" Tanya Abraham pada Endah kali ini.
"Mau dong kek, mau banget malah." Jawab Endah yang bangkit dari duduknya dan berlari kepangkuan Abraham.
Endah menghadiahkan ciuman di pipi kanan dan kiri Abraham tanoa rasa malu dan canggung, tingkahnya seperti anak kecil yang kegirangan diberikan mainan.
"Tapi hadiahkan aku rumah seperti istana di samping rumah Jessica ya Kek, jangan lupa beserta pengawal-pengawalnya juga dan mobil yang sangat mewah dan harus anti peluru ya Kek, Kakek tau sendirikan calon suamiku itu seorang Mafia, dan pastinya pernikahanku kan tidak akan dirayakan jadi sebagai gantinya aku minta itu semuanya ya?" Pinta Endah yang seakan merampok Abraham.
Endah mengalungkan lengannya di leher kakeknya itu sembari mengedip-ngedipkan mata genitnya, membuat Abraham.tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Endah.
__ADS_1
"Hem...hemm... bagaimana kakek tua ku sayang? Jangan hanya tertawa terus, tolong kabulkan permintaanku?" Pinta Endah masih dengan mata genitnya.
"Mom, lihatlah tingkah cucu mu ini!" Abraham menoleh ke arah Dewi yang sejak tadi hanya tersenyum melihat tingkah absurd Endah. Sungguh ini pertama kalinya Dewi melihat Abraham diperlakukan seperti ini dengan cucunya, pasalnya kedua anak perempuan Adam tidak seperti anak-anak Nico.
"Sudah berikan saja, biarkan dia tinggal berdekatan dengan saudara kandungnya kalau perlu Leon juga kau buatkan Dad l, supaya adil."Saran Dewi sembari mengelus rambut panjang Endah yang di kuncir kuda.
"Nenek ku baik sekali... makasi Nenek ku sayang," ucap Endah yang langsung mengjadiahkan ciuman di pipi Dewi bertubi-tubi.
Saat ini Endah masi mengalungkan lengannya di leher Abraham namun ia menghampiri wajah Dewi untuk menciumnya membuat tengkuk Abrahampun tertarik. Abraham tidak marah ataupun melakukan perlawanan dia hanya diam saja di perlakukan apapun oleh Endah.
"Ayo Kek, Nenek saja sudah setuju bagaimana dengan Kakek?" Tanya Endah lagi setelah selesai mencium sang Nenek.
"Ok baiklah beri waktu Kakek 3 bulan untuk membangun istana megah yang sama seperti adikmu." Jawab Abraham yang membuat Endah berteriak dan berjoget-joget kegirangan.
Semua orang hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Endah. Adam yang baru masuk dari Balcon melihat heran kegirangan Endah.
"Kamu kenapa jingkrak-jingkrak seperti itu Nak?" Tanya Adam yang masih sibuk memegangi ponselnya yang terus berbunyi notifikasi pesan masuk.
"Paman Adam, aku akan menikah malam ini dan Kakek akan memberikan rumah mewah beserta isinya sebagai hadiah, Paman jangan lupa beri aku hadiah ya?!" Jawab Endah masih berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Lestari yang melihat tingkah Endah hanya tersenyum saja sedang Leon terus saja menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jangan tanyakan lagi bagaimana respon Jimmy melihat tingkah Endah. Dia tetap datar dan seakan tak masalah dengan tingkah Endah yang menurut Leon memalukan.
"Kamu mau hadiah apa?" Tanya Adam dengan entengnya.
"Semua barang-barang branded dari mulai tas sepatu baju dan lain-lain untuk istana baru ku yang akan di bangun Kakek di samping mansion Jessica."
"Ok,, seluruh brand terkenal akan datang dengan koleksi terbarunya ke rumah impianmu, jika rumah impianmu itu sudah jadi." Jawab Adam yang membuat Endah berlari dan loncat ke tubuh Adam. Adam dengan sigap menopang tubuh Endah yang ia gendong.
Endah bergelayut manja dan menghujani pipi Adam dengan ciuman.
"Muach... muach makasi Paman,"ucapnya kegirangan. Bahagia hati Endah saat ini karena merasa mendapatkan kasih sayang tanpa harus mengemisnya seperti biasanya.
Andre yang melihat apa yang dilakukan Endah langsung mengelus-ngelus perut Jessica dan berkata dalam hatinya.
"Amit-amit cabang bayi... jangan meniru tingkah tante mu yang absurd itu nak!"batin Andre.
"Kak ngapain ngelus perut aku kaya gini?Keras banget ya perut aku Kak? Kayanya aku kekenyangan deh nih kak, enak banget perut aku di elus-elus kaya gini sama Kakak." Bisik Jessica di telinga Andre yang belum mengetahui jika dirinya tengah mengandung.
"Ya benar perut mu ini keras sayang, biarkan aku elus-elus sepeeti ini ya biar gak keras lagi." Ucap Andre dengan senyum manisnya pada sang istri.
"Iya kak elus terus enak dan aku jadi keenakan mau lagi dan lagi," jawab Jessica yang mencium pipi suaminya sambil tersenyum malu.
"Ayo Endah sudah sekarang kamu harus turun, kamu itu badannya kecil tapi tubuh mu itu sangat berat, itu karena makan mu banyak sekali." Ucap Adam pada Endah.
"No... lagi enak." Endah masih enggan turun.
"Kamu bukan anak kecil lagi, turun!"pinta Adam dengan wajah yang menahan berat badan Endah.
"No... lima menit lagi ok,"
"Tidak-tidak pinggang ku bisa patah kalau harus menunggu 5 menit lagi. Ayo cepatlah, kamu harus bersiap, penghulu akan tiba dalam waktu 10 menit lagi. Kamu jadi mau menikah tidak kalau tidak mau turun akan aku batalkan pernikahan mu malam ini?"
"Jangan-jangan...Ya ok...aku turun..." Endah pun turun dari gendongan Adam dengan wajah ditekuk.
__ADS_1