
Suci mendatangi kamar Fabian, Suci membuka pintu kamar Fabian, dia melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat di mana anak bungsunya sedang tertidur. Suci memandangi wajah anak bungsunya yang penuh luka lebam. Tangan suci yang mulai keriput namun masih terlihat terawat sedang mengelus - elus kepala Fabian dengan kelembutan kasih sayag seorang ibu kepada anaknya. Hatinya begitu pilu dan terenyuh melihat kondisi putranya. Air mata Suci pun akhirnya jatuh membasahi pipinya yang usdah terlihat menua.
" Apa yang harus Mommy lakukan agar kau bahagia anakku?" ucap suci pada Fabian yang sedang tertidur.
" Apa kau mencintainya nak? Hingga kau rela terluka seperti ini? Kenapa kau begitu terlambat menyadari perasaanmu sendiri? Andre sudah ada di tengah-tengah kalian, pasti ini semua sudah direncanakan oleh Abraham. Apakah kamu sanggup merebutnya dari tangan Andre dan sanggup melawan kekuasaan Abraham demi cintamu pada Jessica? Mommy tak sanggup jika harus melihatmu terluka kembali." ucap Suci lirih.
" Kasihan sekali kamu Nak kamu harus berjuang sendiri, Mommy hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaanmu, Maafkan mommy yang tidak bisa meminta bantuan kepada Daddy mu, karena itu akan sia-sia saja, Daddy mu tidak akan mau berurusan apa lagi bermasalah dengan keluarga Brata Kusuma ataupun keluarga Abraham Adijaya, Maafkan ketidak berdayaan orang tua mu ini nak, tapi Mommy akan tetap membantumu dengan cara mommy sendiri." ucap Suci pada Fabian yang masih terlelap dalam tidurnya.
Suci menghentikan tangannya membelai kepala anak bungsunya itu, ia mengecup kening putranya lalu pergi meninggalkan putranya yang sedang tertidur, dia tak ingin mengganggu waktu tidur putranya yang terlihat begitu nyenyak.
Di sisi lain Jessica yang baru sampai di kantor didatangi oleh Sisil di meja kerjanya.
"Jess, lu dipanggil bu Lina sekarang, tadi dia pesan sama gue kalau lu udah datang, lu diminta dia langsung ke ruangannya" ucap Sisil pada Jessica yang baru meletakkan tas kerjanya.
" Ada apa ya mbak? Kalau dipanggil sama dia tuh gua agak takut gimana gitu, soalnya dia udah menunjukkan dirinya gak suka sama gue Mbak." tanya Jessica penasaran.
" Wah sayangnya gue nggak tahu, dia nggak ngomong alasannya apa manggil lu, Ya udah gih sana lu ke ruangannya dia, Biar lu tau kenapa dia manggil lu." Sisil mendorong tubuh Jessica agar segera pergi keruangan Lia.
Jessica melangkahkan kakinya menuju lantai 3 ke ruangan Lia. Kini Jessica telah sampai di depan pintu ruangan Lia, Jessica mengetuk pintu.
"Tok...tok...tok." suara ketukan pintu.
"Masuk." suara Lia dari dalam.
Setelah mendapatkan izin Jessica pun masuk ke dalam ruangan Lia. Dilihatnya Lia sedang sibuk di depan komputer.
"Maaf Ibu kata Mbak Sisil Ibu memanggil saya?" ucap Jessica ketika masuk ke ruangan Lia. Lia tidak menjawab Ia hanya melirik malas wajah Jessica lalu pandangannya kembali ke komputernya.
"Sabar...sabar...sabar... Orang cantik memang selalu diuji kesabarannya." batin Jessica ketika mendapat perlakuan acuh Lia.
Jessica dibuat menunggu beberapa saat, sepertinya Lia ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru dia bicara dengan Jessica. Dan betul saja ketika dia terlihat telah menyelesaikan pekerjaannya ia baru melihat Jessica lagi. Tatapan Lia tidak lagi bersahabat seperti dahulu. Tampak sekali ketidak sukaannya terhadap Jessica yang terpancar di wajahnya. Jessica tidak mau ambil pusing dengan sikap Lia yang seperti itu, meskipun diperlakukan seperti itu oleh Lia, Jessica masih saja berusaha bersikap ramah kepada atasannya itu. Jessica menampilkan senyum ramah kepada Lia meskipun wajah Lia begitu tak enak dipandang oleh mata Jessica.
"Sabar.. sabar...sabar... Untung atasan coba kalau kita sederajat udah gue ulek-ulek muka lu pakai cobek." gumam Jessica di dalam batinnya merasa kesal atas sikap Lia terhadapnya.
" Jessica, Saya memanggil kamu ke sini hanya untuk menyampaikan sebuah pesan dari Nyonya Suci, tadi Alan menelpon saya, kamu diminta untuk segera datang ke rumah Pak Fabian sesegera mungkin, Nyonya Suci ingin bicara empat mata denganmu." ucap Lia dengan tatapan yang seakan ingin menguliti Jessica
" Baik bu saya akan segera ke sana, tapi saya tidak tahu alamat rumahnya Bu." ucap Jessica.
" Kamu tidak usah khawatir biar nanti kamu diantar Toto ke sana, setelah selesai urusanmu di sana segeralah kembali ke kantor." ucap Lia.
" Baik Bu kalau begitu saya pergi dulu." Jessica pamit keluar dari ruangan Lia, Jessica melangkahkan kakinya menuju ruangannya sendiri. Dia hendak mengambil tasnya dan beranjak pergi ke kediaman Fabian menemui Suci.
__ADS_1
*
*
*
Kini Jessica sudah berada di kediaman Fabian. Bi Inah meminta Jessica menunggu di ruang tamu. Cukup lama Jessica dibuat menunggu. Hingga rasa jenuh pun datang.
"Dimana-mana orang kaya itu selalu bikin kita yang cuma orang kecil menunggu lama tapi coba kalau dibalik dia yang menunggu kita, pasti dia udah mencak-mencak sama kita, kaya si Om Duda itu. Kamu itu sudah buang waktu saya, lelet sekali kamu, kamu itu persis seperti kura-kura, bagaimana hidup kamu mau maju kalau kamu lelet seperti ini. Issshhh... Inget omongan dia kok jadi tambah boring ya." ucap Jessica di dalam hatinya
Terdengar gelak tawa kedua anak Fabian sedang berlarian. Jessica pun menghampiri asal suara tersebut yang tak jauh dari ruang tamu.
" Hana Hani." Panggil Jessica. Kedua anak itu pun menoleh mendengar namanya di panggil. Mereka menoleh kesumber suara. Dilihatnya oleh mereka kehadiran Jessica di sana. Sontak saja kedua anak itu berlari kegirangan menghampiri Jessica.
"Tante Jessica." Teriak kedua anak itu bersamaan. Kedua anak Fabian menjatuhkan diri kedalam pelukan Jessica.
"Tante aku kangen." ucap Hana manja.
"Tante Hani juga kangen sama tante, apalagi dengan ayam kecap buatan Tante Hani kangen banget Tante." ucap Hani menggemaskan.
"Oh ya? Sini cium dulu kalau kangen!" Jessica menciumi pipi cabi kedua anak itu bergantian.
"Tante mau ketemu Omma?" tanya Hana.
"Iya sayang." jawab Jessica sambil membelai rambut panjang Hana.
"Jadi kesini mau ketemu Omma bukan ketemu kita? Tante mau ngapain ketemu sama Omma?" Hana melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Jessica.
"Pasti Omma mau bahas ulang tahun kitalah Kak apalagi." ucap Hani sambil mengemut permen lollipop dimulutnya.
"Kalian mau berulang tahun?" tanya Jessica.
"Iya tante empat hari lagi" jawab Hani.
"Apa kalian berdua mau mengadakan pesta perayaan ulang tahun kalian?" tanya Jessica.
"Tidak tante, aku sudah bilang sama Omma, aku mau ngerayain ulang tahun sama Papi dan Tante dengan jalan-jalan keperkebunan saja, tante mau kan?" ucap Hana dengan wajah penuh harap.
"Tentu sayang apapun untuk kalian." jawab Jessica tanpa ragu, Ia tidak ingin mengecewakan kedua anak tersebut.
"Hore... hore... makasi tanteku." sorak Hana dan Hani kegirangan mendengar jawaban Jessica. Kedua anak itupun memeluk Jessica dengan erat lalu menghujani wajah Jessica dengan kecupan.
__ADS_1
Suci sangat senang melihat dari kejauhan kedua anak Fabian yang sedang bersama Jessica.
"Anak-anak itu terlihat begitu bahagia bersama Jessica, Jessica seperti ibu bagi mereka, semoga Fabian dapat berjodoh dengannya. Tak hanya anakku yang akan merasa bahagia bisa hidup bersama Jessica, kedua cucu ku pun akan merasakan hal yang sama, Tuhan bantu aku untuk menyatukan mereka." batin Suci.
Suci berjalan menghampiri Jessica yang tengah memeluk kedua Putri Fabian.
" Aku melihat kau begitu menyayangi kedua cucuku Jessica." ucap Suci ketika menghampiri Jessica, Suci menjatuhkan dirinya disebuah sofa yang berhadapan dengan Jessica. Suci duduk begitu anggun dan elegan.
Jessica menanggapi perkataan Suci dengan senyuman.
"Tentu tante Jessica menyayangi kami Omma, kata Omma Lestari, Tante Jessica hanya masak masakan kesukaan orang yang disayanginya saja, kemarin Tante masakin kami ayam kecap tentunya karena tante menyayangi kami." Ucap Hani menimpali Suci.
"Betulkan tante yang diucapkan Hani?" tanya Hana.
"Iya sayang" jawab Jessica tersenyum malu ketika melirik Suci yang terus memperhatikan gerak gerik Jessica bersama kedua anak Fabian.
" Baiklah kalau begitu, Jessica jadilah kamu menantu di keluarga ini, jadilah Ibu sambung untuk kedua cucuku, aku melihat ada pancaran kasih sayang seorang ibu pada anaknya, Ketika aku melihat kamu bersama kedua cucuku" pinta Suci to the point kepada Jessica.
"A..apa maksud nyonya?" tanya Jessica terkejut hingga membuatnya gugup.
" Aku memintamu menjadi menantuku, apa kau bersedia?" tanya Suci dengan wajah yang begitu serius sehingga membuat Jessica tegang.
"Maafkan saya nyonya... Saya rasa saya tidak pantas bersanding dengan Pak Fabian, derajat kami berbeda, saya ini hanya wanita biasa tidak setara dengan Pak Fabian dan keluarga. Lagi pula Pak Fabian belum tentu mau menjadi Suami saya, dan belum tentu pak Fabian mencintai saya nyonya, lagi pula saya hanya akan menikah dengan orang yang mencintai saya." tolak Jessica.
"Aku tidak berbicara tentang kepantasan mu menjadi menantuku, aku hanya bertanya kamu bersedia atau tidak menjadi menantuku, menurut mu dua kali anakku pulang dalam keadaan babak belur karena memperebutkanmu itu bukan karena cinta?" ucap Suci meninggi karena mendengar penolakan Jessica.
"Apa..??!" Jessica terkejut Suci mengetahui semuanya.
" Aku mengetahui semua yang dilakukan anakku untuk memperjuangkan cintanya kepadamu. Kau Lihatlah sendiri kondisi Fabian sekarang di kamarnya, Dia sedang tidur dalam kesakitan. Kesakitan di hatinya dan juga kesakitan di sekujur tubuhnya, yang didapatkan dia semuanya ini karenamu." Suci berdiri dari duduknya, Ia mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan membuat Jessica merasa bersalah.
" Maafkan saya Nyonya sungguh saya tidak bermaksud untuk menyakiti Pak Fabian." Jessica meminta maaf kepada suci dengan menangkupkan kedua tangannya.
" Aku akan memaafkanmu Jika kamu mau menjadi menantuku, bersikaplah sedikit peduli dengan perasaan Fabian kepadamu, Bi Inah akan mengantarkanmu ke kamar Fabian, hari ini kamu tidak perlu bekerja di kantor, kamu cukup bekerja di sini saja merawat Fabian dan kedua anaknya, Belajarlah menjadi menantu yang baik di keluarga ini." Suci meninggalkan Jessica begitu saja setelah menyelesaikan ucapannya. Tanpa peduli tanggapan Jessica.
"Aishhh... Ibu sama Anak sama-sama pemaksa... benar-benar buah jatuh gak jauh dari pohonnya... harusnya kalau minta gue jadi menantunya itu ngerayu manis-manislah eh ini apa..." batin Jessica kesal diperlakukan seperti itu oleh Suci.
bersambung
bagi yang penasaran akan terjadi sesuatu Apakah di kamar Fabian antara Jessica dan juga Fabian simak di episode Selanjutnya ya....
makasih udah mau baca karya Author
__ADS_1