Cinta Jessika

Cinta Jessika
Tak ingin jauh darimu


__ADS_3

Entah hormon kehamilannya atau sebuah firasat semenjak kedatangan Fabian di Kota D. Baik Andre dan Jessica saling menempel satu sama lain. Mereka sama sekali tidak mau terpisahkan sedikitpun.


Dimana ada Andre disitu ada Jessica, begitu pula sebaliknya. Sampai-sampai hari dimana orang tengah sibuk mempersiapkan lamaran Leon dan Anna. Jessica malah ikut suaminya bekerja ke perusahaan bersama suaminya.


Tak ada yang dapat melarang dirinya, karena sekali saja apa yang dia inginkan dilarang atau di tegur dia akan menangis sepanjang hari tanpa henti.


Jessica yang sekarang sungguh jauh berbeda dengan Jessica yang dulu. Semua orang berkata perubahan terhadap dirinya karena hormon ke hamilannya namun berbeda penilaian dengan Leon. Menurut kakakk laki-laki Jessica itu semua perubahan pada diri Jessica karena dia terlalu di manja oleh suaminya.


Pagi hari ini, Jessica sudah rapih dengan setelan baju dress hamilnya, sebuah gaun panjang berbentuk kemben berwarna biru navy lengkap dengan blazers berwarna putih untuk menutupi bagian punggungnya yang terbuka lebar. Sejak hamil dia suka sekali dengan baju model ini, bahkan baju tidurnya pun dengan model yang serupa pastinya tanpa blazer.


"Istri siapa ini ya? Pagi-pagi sudah secantik ini." Puji Nico yang mengecup pucuk kepala putri bungsunya saat ia baru saja tiba di meja makan restoran hotel milik keluarganya itu.


"Istrikulah Ayah, memangnya istri siapa yang cantik ini kalau bukan istri ku." Sahut Andre dengan cepat takut jika ada seseorang yang mengakui istrinya.


"Cih, istri jelek tukang ngambek plus cengeng aja di banggain." Ejek Leon pada Andre yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nico dan juga Andre. Sementara Jessica enggan menanggapi ocehan mulut Leon yang seperti perempuan sekarang semenjak bertunangan dengan Anna.


"Leon jaga mulut mu! Ini masih pagi kalian sudah mau mulai pertengkaran kalian lagi. Kenapa setiap kalian berkumpul tidak pernah ada yang bisa akur huh!" Tegur Nico pada putranya.


"Tau nih Bang Leon, pagi-pagi itu cari rezeki bukan cari ribut." Timpal Endah sembari menyantap roti kering di hadapannya.


"Ah... Apalagi Adik yang satu ini sok bener aja bisanya padahal sikapnya sama suaminya lebih minust dari istri diluar sana. Suami disiksa luar dalam jadi deh Suaminya kejam diluaran sana gara-gara istrinya yang kejam." Ujar Leon dengan memutar bola matanya malas kepada Endah.


"So what banget sih Lo Bang. Pagi-pagi nyebelin. Merepet aja tuh mulut kaya petasan." Balas Endah kesal sambil menggebrak meja makan mereka.


Gebrakan meja yang dilakukan Endah membuat semua mata tertuju pada meja makan mereka. Termasuk sepasang mata yang terus memperhatikan Jessica sejak tadi. Sepasang mata itu adalah sepasang manik mata milik Fabian yang menatap Jessica penuh damba dan memuja.

__ADS_1


"Endah cukup! Jimmy jangan diam saja nasehati istri mu agar bisa mengontrol emosinya! Ingat ini bukan rumah, ini hotel tempat umum!" Omel Lestari pada keduanya dengan tatapan yang tajam setajam pisau.


"Maaf bu." Ucap Endah dengan menundukkan kepala ketika Ibunya sudah bertaring.


"Baik bu, akan aku nasehati nanti." Ucap Jimmy setelah Endah.


"Baik bu, akan aku nasehati nanti, jika aku punya nyali." Ucap Jimmy di dalam hatinya.


Lestari kemudian berjalan membawa mangkok cabai mendekati kursi Leon.


"Leon sekali lagi kamu memancing keributan, ibu tidak akan segan-segan menyuapinimu semangkok cabai ini kedalam mulut mu hingga habis." Ancam Lestari yang membuat Leon sulit menelan ludahnya sendiri.


"Maaf bu, aku janji tidak lagi." Ucap Leon yang meminta maaf pada Lestari sambil memeluk tubuh wanita yang menjadi cinta pertama didalam hidupnya.


"Ibu tahu aja sih," balas Leon yang kemudian mencium kening sang Ibu.


"Tentu tahu, karena aku ini ibumu. Hilangkanlah rasa kecemburuan mu kepada suami adik-adik mu Leon! Supaya mulutmu itu tidak memancing keributan di keluarga ini." Sahut Lestari yang meminta Leon untuk tidak cemburu lagi dengan para suami adik-adiknya yang sudah merebut adiknya dari pelukannya.


"Itu sangat sulit Bu, tapi demi ibu aku akan mengusahakannya ya." Balas Leon dengan senyum manisnya yang kemudian mengantar Lestari untuk kembali ke kursi duduknya diantara Nico dan Jessica.


Tiba-tiba semua pengunjung restoran di pagi hari ini terdiam ketika suara alunan lagu instrumen berubah menjadi lagu pesan terakhir yang di nyanyikan Lyodra.


Jessica menghentikan sarapan paginya ketika mendengar lagu ini diputar. Ia membating alat makannya. Membuat semua orang di meja makan itu terkejut.


"Dia benar ada disini. Perasaan gue gak salah. Dari tadi gue ngerasa ada yang ngeliatin gue terus, pasti dia orangnya dan lagu ininpasti dia ynh request." Jessica membatin.

__ADS_1


Sejak tadi dia diam saja karena dia merasa ada sepasang manik mata yang terus memperhatikan gerak-geriknya sejak keluar dari kamar hotel dimana ia dan suaminya menginap malam ini hingga dua malam kedepan.


"Ada apa sayang? Kamu tidak suka lagu ini hum?" Tanya Andre yang tak dijawab oleh Jessica.


"Sayang..." Panggil Andre lagi dengan sedikit menggoncangkan tubuh sang istri.


"Ehh...i-ya apa Dad?" Jessica malah bertanya pada suaminya saat ia sadar dari lamunannya.


"Ada sesuatukah sayang? Kenapa melamun hum?" Tanya Andre yang menaruh curiga pada istrinya.


"Dad, jangan jauh-jauh dariku boleh?! Aku tak mau jauh darimu Dad."


"Sini mendekatlah! Apa kamu sedang merasakan takut lagi? Tenanglah sayang! Tidak akan lagi ada yang menjahati mu sayang, Jangan takut hum! Aku akan selalu ada di dekat mu, menjaga dirimu dan kedua calon anak kita yang ada di dalam rahimmu." Andre memeluk tubuh Jessica ketika sang istri mendekatkan diri padanya.


Andre mengusap -usap lengan sang istri yang dipeluknya dari samping. Andre menyalurkan rasa nyaman yang diperlukan sang istri saat ini.


Sedang Fabian sedang menikmati sebatang rokok di luar ruang makan menatap perubahan mimik wajah Jessica setelah lagu yang ia request di putar merasa begitu senang.


Iya Fabian senang, karena dia tahu Jessica mengetahui keberadaan dirinya di sekitar dirinya hanya dengan sebuah putaran lagu yang ia request.


"Kau masih mengingat lagu ini, Jes. Itu artinya kau masih mengingat semua tentang diriku Jess. Tunggulah aku Jessica ku sayang! Aku akan membawamu pergi saat waktunya tiba dan kita akan memulai hidup kita yang baru hanya ada kita berdua dan tidak ada yang lain." Batin Fabian yang masih saja terus memperhatikan Jessica dari kejauhan.


Sementara Jessica di dalam pelukan suaminya hanya terdiam dengan wajah yang begitu datar. Kedua orangtuanya tak berani bertanya ada apa dengan putrinya. Karena ia khawatir pertanyaan yang mereka lontarkan hanya akan memperkeruh perasaan anaknya yang sedang sensitif.


"Kenapa perasaan ku akhir-akhir ini jadi tidak enak! Aku merasa ada sesuatu hal besar akan terjadi dan begitu menakutkan ku. Ya Tuhan, tolong lindungi kami." Batin Jessica yang memanjatkan doa.

__ADS_1


__ADS_2