
Saat ini Endah bersama Adam dan juga Ferdi sudah berada di sebuah restoran yang terlihat mewah di pinggiran kota J. Mereka pergi ke restoran mewah tersebut dengan pengawalan yang sangat ketat namun orang-orang suruhan Adam tidak menyadari keberadaan mobil orang suruhan Jimmy yang mengikuti mobil rombongan mereka dari jarak yang cukup jauh namun orang-orang Jimmy yang terlatih bisa mengejar dan membuntuti keberadaan mobil yang ditumpangi Endah dengan mudah.
Ketika mobil yang ditumpangi Endah, Adam dan Ferdi berhenti tepat di lobby restoran mewah Da Costa mobil-mobil pengawal mereka memisahkan diri tapi tidak dengan mobil orang-orang suruhan Jimmy. Mobil itu ikut berhenti tepat di depan lobby restoran Da Costa.
Seorang security yang berdiri di depan lobby restoran menghampiri Bobby yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Maaf tuan, restoran ini sudah di booking kami tidak menerima pelanggan lain kecuali tamu pelanggan kami yang sudah membuking restoran kami ini ,lagi pula restoran ini sudah ingin tutup, Anda bisa kembali besok lagi tuan." Tegur security itu dengan memasang wajah yang ramah dan juga sopan.
Bobby menatap tajam security yang menegurnya itu. Menarik sedikit jas yang menutupi pinggang bagian belakangnya. Ia seakan menunjukkan senjata api yang ia bawa kepada security tersebut.
Mata security yang mengikuti gerak tangan Bobby bergidik ngeri melihat orang di hadapannya membawa senjata api.
"Panggilkan manajermu katakan padanya Bos Bobby datang!" Perintah Bobby dengan tatapan mata mengintimidasi security di hadapannya.
"B-baik Bos Bobby." Jawab security tersebut tergagap karena rasa takut yang mendominasi berhadapan dengan orang yang membawa senjata api.
Security ini belum mengenal siapa Bobby, Bobby adalah ketua besar mafia di negeri ini tidak satupun pengusaha yang tidak mengenal siapa Bobby. Tidak ada yang bisa memerintah seorang Bobby di negeri ini terkecuali Jimmy dan anggota keluarga Kusuma.
Tanpa diketahui security tersebut pihak resepsionis yang melihat kedatangan Bobby sejak tadi sudah menghubungi manajernya. Belum sempat security tersebut memanggil managernya, manajernya itu sudah datang terlebih dahulu menghampiri Bobby dengan wajah yang menunduk penuh hormat.
" Suatu kehormatan besar Bos Bobby mau datang ke restoran kami, Bos Bobby mau makan apa malam ini kami akan siapkan menu hidangan terbaik restoran kami." Manager restoran Da Costa itu menyapa dengan ramah Bobby yang berada di muka pintu restoran.
" Siapa orang yang membooking restoran mu malam ini?" Tanya Bobby dengan wajah datarnya sembari menyalakan sebuah cerutu.
"Tuan Ferry dan keluarga Bos," jawab manajer restoran itu jujur.
" Apakah karyawanmu sudah selesai memasak hidangan untuk mereka?"
"Sudah Bos, kami hanya menunggu mereka menyelesaikan semua mereka di sini."
"Kalau begitu kalian pulanglah kosongkan restoran ini sekarang juga! Aku akan memberi waktu kalian 3 menit untuk keluar dari tempat kerja kalian ini dan jangan lupa matikan seluruh CCTV restauran ini!" Perintah Bobby sembari menghembuskan asap cerutu yang ia hisap ke wajah manajer tersebut.
"Ba-baik boss." Jawab Manager restauran tersebut dengan rasa takut.
"Joni siapkan kantung mayat, blokade seluruh jalan yang menuju ke restauran ini!" Perintah Bobby yang kali ini ia layangkan untuk anak buahnya, namun perintah Bobby yang dilayangkan untuk anak buahnya ini terdengar sangat menakutkan di telinga Security dan juga Manager restoran tersebut.
Yang membuat mereka mempercepat langkah kaki mereka untuk memberitahukan kepada karyawan lain agar segera pergi dari restoran tempat di mana mereka bekerja itu.
" Aku harus berjalan lebih cepat dan memerintahkan anak buah ku agar segera meninggalkan restauran, aku tidak mau mati di tangan Bos Bobby." Ucap Manager restoran itu saat berjalan menghampiri anak buahnya.
Waktu belum berjalan 3 menit tapi restoran Da Costa sudah nampak lengang. Pegawai restoran tersebut sudah meninggalkan tempat kerja mereka sesuai permintaan Bobby.
Manager restoran kembali menghampiri Bobby yang masih di posisi semula.
" Bos seluruh CCTV sudah saya Matikan dan tidak ada satupun karyawan yang masih tinggal di restoran, saya pamit Bos." Ucap Manager restoran itu dengan suara yang bergetar ia sedang menyembunyikan rasa takut di dalam dirinya.
__ADS_1
"Kerja bagus, ada berapa pengawal Tuan Ferry yang ada di dalam?" Bobby menanggapi ucapan manager restoran tersebut dengan sebuah pertanyaan.
" Kira-kira ada 20 orang lebih Bos," jawab manajer restoran itu sejujurnya.
" Oke kau boleh pulang, ingat rahasiakan semua ini kalau nyawamu tidak ingin melayang di tanganku."
"Ba-baik boss." Jawab manajer itu ketakutan.
Bobby mengibaskan tangannya menyuruh manajer restoran itu segera renyah dari pandangannya.
" John mana senjataku?" Bobby meminta senjata kepada Joni yang memiliki peredam suara dan juga memiliki jumlah peluru yang cukup banyak.
Joni segera memberikan senjata api yang diinginkan Bosnya itu, setelah mendapatkan senjata api yang diinginkan Bobby segera mematikan cerutu yang ia hisap ia membuangnya ke bawah lalu menginjaknya. Kemudian langkah kakinya yang panjang masuk ke dalam restoran Da costa yang sudah nampak sepi.
Ketika Bobby masuk ke dalam restoran, ia melihat anak buah Feri sedang menikmati makanan yang disajikan di meja makan.
"Pantas saja kalian tidak merasa curiga para karyawan restoran pergi meninggalkan setoran ini ternyata kalian sedang menikmati makanan terakhir kalian di dunia ini rupanya." Ucap Bobby dengan wajah dingin dan mematikan.
Tanpa aba-aba Bobby dan anak buahnya segera membrondol seluruh orang yang ada di tempat restoran tersebut. Dalam hitungan detik dan tanpa suara kegaduhan seluruh anak buah Ferry sudah habis tidak bernyawa tanpa perlawanan.
" Jhon rapikan dan bereskan semua ini seperti tidak terjadi apa-apa, aku mau semua ini sudah kembali seperti sedia kala sebelum Tuan Jimmy datang!" Perintah Bobby kepada anak buahnya.
"Baik Bos," jawab Joni yang mendapatkan perintah dari Bosnya itu.
Joni dan anak buahnya segera membereskan dan merapikan area lokasi. Joni dan anak buahnya tengah sibuk memasukkan para pengawal Ferry yang sudah tak bernyawa itu ke dalam plastik sampah hitam berukuran besar lalu memasukkannya kedalam truk pengangkut sampah yang terparkir di depan lobby restauran. Para pengawal itu akan bernasib sama seperti Rania dan kelima anak buahnya hari ini setelah di habisi lalu dibuang di tengah lautan lepas.
" Tuan Jimmy, Saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan. Saat ini kami sedang berada di restoran Da Costa. Mereka sudah kami satu bersih tanpa satupun yang tersisa."
"Baik aku akan segera ke sana." Jawab Jimmy dengan suara dingin dan datarnya.
Di dalam ruang VVIP restoran Da Costa, asisten Ferry sedang mengecek dokumen saham yang diberikan oleh Adam. Ia mengecek satu persatu keaslian dokumen yang diberikan oleh Adam padanya.
" Lama sekali buat apa aku ikut hanya untuk melihat orang mengecek dokumen, tubuhku ini lelah aku baru saja tiba dari perjalanan jauhku." Keluh Endah dengan suara kesalnya yang didengar oleh semua orang termasuk ibu angkatnya yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Endah.
" Sabarlah Sayang ini hanya sebentar, setelah ini kau bisa beristirahat dengan tenang kau tidak akan berurusan dengan mereka lagi." ucapan Paman Adam yang mengelus bahu Endah, ia berusaha menenangkan kejenuhan keponakannya yang duduk di sampingnya itu.
" Tapi ini sudah lebih dari 20 menit, ini sudah cukup lama sekali paman, aku rasanya sudah sangat lelah dan mengantuk." Keluh Endah lagi.
Keluhan Endah yang terus-menerus membuat Nayla istri Ferry geram.
"Kamu ini baru menunggu 20 menit saja sudah mengeluh terus, seharusnya pihak kami yang mengeluh bukan kamu, karena kami sudah membesarkan kamu selama 20 tahun ini." Hardik Nayla pada Endah anak angkatnya.
" Aku ini bukan dibesarkan oleh kalian tapi dibiarkan bertumbuh besar dengan hidup mewah di rumah kalian, karena selama ini kalian tidak pernah memberikan aku kasih sayang. Uang jajan pun kalian batasi tidak seperti anak kandung kalian yang tak pernah kalian batasi dia mau apapun kalian berikan." Tahun Endah dengan penuh emosi.
"Sudah berani bicara kamu ya?" Nayla nampak berdiri dari kursi duduknya ia berkacak pinggang menatap tajam Endah.
__ADS_1
" Sudah Mam tidak perlu menanggapi anak tak tau di untung itu!" Ferry berusaha menghentikan amarah istrinya dengan menarik lengan istrinya untuk kembali duduk.
"Hahaha... siapa yang di sini tidak tau di untung,aku atau kalian? Bukankah kalian setelah membesarkanku jadi untung besar seperti sekarang ini?" Ledek Endah yang membuat Nayla naik pitan.
Nayla bangkit dari kursinya bersamaan dengan assiten Ferry yang menghampiri Adam untuk meminta tanda tangan. Saat assiten Ferry menyodorkan dokumen serah terima yang akan di tanda tangani Adam, Nayla menampar wajah Endah sekuat tenaga.
Plak! Satu tamparan melayang di pipi putih mulus Endah.
"Argh Paman...sakit,"pekik Endah yang memegangi pipinya.
"Hey apa yang kau lakukan pada keponakan ku hah," ucap Adam yang menatap tajam Nayla.
Tangan Adam mencengkram kuat lengan Nayla yang ingin memukul kembali Endah. Adam mengangkat tinggi tangan Nayla, Nayla berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari Adam dengan menatap wajah sang suami yang terlihat terperangah melihat ke arah muka pintu.
Tiba-tiba teriakan Nayla memekik dengan keras, "Aaaaaaghhhh sakit." Tangan Nayla yang di cengkram Adam tiba-tiba mengalir darah segar. Sebuah tembakan dari arah pintu telah menembus lengan putih mulus Nayla yang terawat itu.
Adam yang melihat darah segar mengalir dari tangan Nayla segera melepaskan cengkraman tangannya. Ia melihat arah tatapan mata Ferry yang sedang terperangah ke arah pintu. Ferry seakan sudah tidak memperdulikan istrinya yang langsung jatuh pingsan melihat tangannya sudah bersarang sebuah timah panas yang di hadiahkan Jimmy karena perbuatannya pada Endah.
Ya ternyata Jimmylah dengan pistol di tangannya yang sudah berhasil menyarangkan timah panas ke tangan Nayla.
"Dasar menantu bodoh, kau hampir saja menyelakaiku." Umpat Adam saat melihat Jimmy yang berada di ambang pintu.
"Menantu? Kenapa Tuan Adam menyebut assiten Jimmy dengan sebutan menantu? Bukankah kedua anak Tuan Adam dua-duanya sudah menikah? Lalu Assiten Jimmy sudah menikah dengan siapa hingga membuat dia memanggil Assiten pencabut nyawa itu dengan sebutan menantu??" Ferry bermonolog pada dirinya sendiri.
Jimmy hanya menanggapi umpatan paman istrinya itu dengan senyumannya kemudian ia berjalan menghampiri Endah dan Adam, ia mengelus pipi Endah yang memerah karena bekas tamparan Nayla.
"Sakit sayang?" Tanya Jimmy saat ia mengelus pipi yang memerah itu.
"Sayang??? Endah dengan assiten pencabut nyawa itu??" Batin Ferry dengan tubuh yang bergidik ngeri.
"Sakit banget bang," jawab Endah dengan suara manjanya dengan tangan yang memegangi lengan Jimmy yang sedang mengelus pipinya.
Ketika semua orang fokus kepada dua manusia itu Ferdy dengan cekatan membereskan dokumen saham yang tidak mungkin jadi diserahkan jika sudah terjadi keributan seperti ini.
Dengan sisa keberaniannya Ferry menggerakan matanya, dia sedang memberi kode pada assistennya untuk meminta assitennya untuk menghubungi para pengawal yang berada di luar. Assistennya yang mengerti segera menghubungi ketua pengawal yang berada di luar. Assisten Ferry terlihat sibuk menghubungi ketua pengawal itu namun sayang ia tidak berhasil menghubungi ketua pengawalnya itu, meskipun sudah berkali-kali ia menghubungi dengan ponselnya namun tidak tersambung juga.
"Apa kalian sedang menghubungi salah satu anak buah kalian yang berada di luar untuk menyerang kami?" Tanya Jimmy dengan tatapan mengejeknya.
"Jika benar, kalian tak akan bisa menghubungi mereka lagi, karena setelah mereka makan malam tadi, aku sudah memberikan mereka semua tiket menuju alam baka." Jawab Jimmy dengan santainya.
"Tiket menuju alam baka hahahahaha...."tawa Adam menggema di seisi ruangan.
Saat ia menyadari arti kalimat yang di ucapkan oleh Jimmy. Adam langsung mencengkram kerah kemeja baju Jimmy.
"Hai, kau sudah tidak waras hah, kau sudah menghabisi orang yang tidak bersalah. Harusnya kau musnahkan Bosnya Jimmy bukan anak buahnya."
__ADS_1
Assiten Ferry yang mendengar seluruh pengawal yang ikut bersamanya ke restauran Da Costa sudah di habisi seketika itu juga ia tersedak saat menelan ludahnya kasar. Rasa takut mendominasi pada diri assiten itu. Dari ujung kaki hingga ujung kepalanya sudah bergetar hebat, bahkan cairan seni sudah keluar tak terkendali dari bawah sana.
Saat melihat Jimmy dan Adam berseteru, Ferry mengambil kesempatan mengambil pistol dari belakang pinggangnya. Baru saja ia ingin mengarahkan pistol yang ia bawa ke arah Adam dan Jimmy. Ferdy dan Bobby langsung melumpuhkannya dengan sebuah tembakan. Ferdy menembak kakinya, sedang Bobby menembak lengannya. Kedua orang itu sama-sama melindungi Boss mereka masing-masing.