
Jessica memulai menceritakan awal pertemuanna dengan Fabian di Lobby perusahaan milik Fabian.
"Semoga Om Duda masih ingat hari dimana aku datang ke perusahaan Om Duda, hari itu dimana aku datang ke perusahaan mu, kondisi cuaca sangat tidak memungkinkan. Aku kehujanan, bajuku hampir basah semuanya dan kamu yang baru tiba entah dari mana dengan baik hati meminjamiku jas milikmu yang kamu kenakan untukku. Padahal kamu tidak mengenalku sama sekali tapi kamu sudah sangat perduli denganku." Ucap Jessica yang masih memegangi telapak tangan Fabian sembari mengingat pertama kali ia bertemu Fabian.
Flashback on
Malam hari di kediaman Nico, Jessica baru saja pulang dari tempat kerja paruh waktunya. Ia pulang dalam kondisi perut yang sangat lapar seperti biasanya. Demi menghemat pengeluarannya, semalam apapun dia pulang, dia tak akan makan di luar. Dia akan makan dirumah, menghabiskan sisa lauk-pauknya makan malam keluarganya yang dimasak Ibu tercintanya.
Saat ia menikmati makan malamnya yang terlambat, tak sengaja ia melihat brosur lowongan kerja paruh waktu di Perusahaan Fabian yang diletakkan Cynthia di meja makan agar Jessica membacanya.
Karena melihat gaji yang menggiurkan, Jessica pun berminat untuk melamar di perusahaan Fabian. Keesokan harinya setelah pulang kuliah dia langsung pergi melamar pekerjaan di perusahaan Fabian.
Namun di tengah jalan, hujan turun begitu derasnya. Ia berhenti di sebuah halte untuk menggunakan jas hujan. Meskipun sudah menggunakan jas hujan, bajunya tetap kebasahan karena jas hujan yang ia kenakan sudah lama dan terlihat lapuk sehingga air hujan merembes dari celah-celah jas hujan yang terlihat retak-retak.
"Ahhh... Miskin sekali aku Jas hujan saja mengenaskan seperti ini. Mau pulang tanggung udah deket. Mau neduh nih halte udah meronta-ronta kepenuhan. Ya udahlah cuss aja daripada basah kecipratan mobil yang lewat." Ucap Jessica pada dirinya sendiri saat melihat di depan Halte ada kubangan yang di penuhi air.
Ia pun kembali melanjutkan perjalanan dengan motor maticnya. Tidak sampai lima menit Jessica sampai di perusahaan Fabian. Untungnya parkiran motor di perusahaan itu menggunakan atap kerangka besi. Sehingga ia tak kehujanan lebih basah jika membuka jas hujan yang ia kenakan.
"Yah, basah... Gak apa-apalah cuma basah dikit. Nanti kena angin-angin juga kering." Ucapnya yang melihat kemeja putih yang ia kenakan terlihat cukup basah.
Jessica merapikan sedikit penampilannya setelah itu ia berjalan menuju pintu masuk perusahaan dengan membawa CV dan brosur lowongan kerja yang berada di dalam tas yang untuknya anti air.
Waktu ia berjalan ke pintu masuk perusahaan, Jessica melihat Alan sedang membukakan pintu untuk Fabian. Fabian yang baru saja turun dari mobil langsung bertemu pandang dengan Jessica. Mereka sama-sama saling memperhatikan penampilan mereka satu sama lain.
"Ganteng banget sih dia, kelihatan berkharisma dan matang. Pasti sudah menikah dan punya anak. Andaikan dia masih sendiri, aku pasti mau mengantri mendapatkan cintanya." Ucap Jessica dalam batinnya menuji ketampanan Fabian kala itu dan melupakan statusnya yang sudah memiliki kekasih.
"Cantik dan sederhana. Siapa dia dan mau apa dia ke perusahaanku dengan baju basah seperti itu? Terlihat dari penampilannya sepertinya dia mahasiswa yang sedang mencari tempat magang." Fabian bermonolog dengan dirinya sendiri memuji Jessica di dalam hatinya.
Jessica yang tak mengerti pemilik perusahaan yang ia datangi sedang berjalan sambil memandanginya hanya terlihat cuek. Ia berjalan kemeja resepsionis untuk memberikan CV miliknya tapi sebelum itu ia akan menunjukkan brosur lowongan kerja yang ia miliki agar staff resepsionis mau menerima CV miliknya itu.
Fabian yang penasaran dengan maksud dan tujuan Jessica datang ke perusahaannya, memilih untuk mengikuti langkah Jessica hingga ke meja resepsionis.
Saat karyawannya ingin menyapanya, Fabian menempelkan jari telunjuknya ke bibir tipis berwarna merah yang menggoda kaum hawa itu, dengan gerakan tangannya itu ia meminta karyawannya untuk diam tak menyapanya.
Jessica terlihat begitu sibuk ingin mengeluarkan CV yang ia bawa untuk melamar pekerjaan di perusahaan Fabian sebagai karyawan paruh waktu dibagian data entry. Saat memperhatikan apa yang dilakukan Jessica dihadapannya, Fabian tanpa sengaja memperhatikan staff keamanan yang menatap oenuh nafsu melihat lekuk tubuh Jessica yang begitu terlihat karena bajunya yang terlalu basah di bagian atas.
Fabian dengan sigap melepaskan jas yang ia gunakan dan langsung memakaikan Jasnya ke tubuh Jessica untuk menutupi bagian tubuh Jessica yang terlihat sangat basah dan menggiurkan para lelaki.
Jessica begitu terkejut ketika Fabian tiba-tiba memakaikan jas miliknya pada dirinya. Jessica yang sedang menunduk mencari CV yang ia bawa pun seketika mendongak melihat kearah Fabian yang memiliki postur tubuh yang lebih tinggi darinya itu.
"Pakai saja jas ku ini, bajumu basah," ucap Fabian dengan wajah datarnya tanpa keramahan.
"Ah...makasih Tuan sudah berbaik hati meminjamiku jas milik Anda." Ucap Jessica sembari memanggukkan kepalanya.
"Kamu ada perlu apa kesini?" Tanya Fabian.
"Melamar pekerjaan Tuan." Jawab Jessica dengan memandangi wajah tampan Fabian
"Melamar pekerjaan?? Disini sedang tidak buka lowongan pekerjaan." Balas Fabian yang terlihat heran dengan jawab yang di ucapkan Jessica dengan mimik wajah yang menyebalkan bagi Jessica.
"Iya saya datang kesini untuk melamar pekerjaan Tuan, Tuan tahu darimana disini tidak buka lowongan pekerjaan. Jelas-jelas saya kesini setelah membaca brosur lowongan pekerjaan sebagai pekerja part time dibagian data Entry." Sanggah Jessica yang membuat Fabian mengusap bibirnya dengan dua jarinya.
"Berani sekali dia bicara denganku dengan nada bicara yang seperti ini, belum tahu saja siapa diriku ini bocah tengil." Batin Fabian yang mengumpati Jessica.
"Mana coba lihat brosur yang kamu miliki?!" Pinta Fabian dengan menjulurkan tangannya meminta brosur yang dimiliki Jessica.
__ADS_1
Jessica kembali membuka tasnya dan mengambil brosur miliknya itu kemudian memberikan kepada Fabian. Fabian langsung menerima dan membacanya. Ia begitu terkejut melihat brosur yang di miliki Jessica pasalnya dia tak merasa menyuruh siapapun untuk membuka lowongan seperti yang tertera di brosur tersebut.
"Kamu dapat darimana ini?" Tanya Fabian lagi yang begitu penasaran darimana Jessica mendapatkannya.
"Ada di meja makan semalam, saya tidak tahu brosur ini datangnya darimana mungkin salah satu anggota keluarga saya yang mendapatkannya." Jawab Jessica jujur yang membuat Fabian tersenyum kecut.
"Di sini tidak ada lowongan jadi Data Entry, kalau kamu tetap ingin posisi itu, kamu boleh pulang tapi kalau kamu mau bekerja dengan posisi lain, kamu bisa ikut saa keruang kerja saya dan berikan CV yang kamu buat untuk say pelajari." Ucap Fabian yang begitu terlihat tertarik untuk menjadikan Jessica sebagai salah satu karyawannya karena ketengilan Jessica dimata Fabian.
Tanpa menunggu jawaban Jessica, Fabian melangkahkan kakinya meninggalkan Jessica yang tengah berdiri mematung memikirkan penawaran yang diberikan Fabian.
Tanpa berlama-lama Jessica pun mengejar langkah kaki Fabian yang berjalan menuju lift.
"Tunggu Tuan, saya mau kerja apa saja asal halal tapi hanya bisa kerja paruh waktu di siang hari karena dipagi hari saya kuliah Tuan." Ucap Jessica sembari menyamakan langkah kakinya dengan Fabian.
"Hemmm..." Fabian hanya menjawab dengan berdehem.
…....
Di ruang kerja Fabian, Jessica berdiri di depan meja kerja Fabian tanpa di persilahkan untuk duduk oleh Fabian.
"Ganteng - ganteng tega, gak di suruh duduk, berdiri terus nih lama-lama jadi tiang listrik juga nih." Umpat Jessica dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Fabian.
Namun Fabian berpura-pura tidak mendengarnya dan malah sibuk dengan kegiatannya menghubungi seseorang dengan intercom yang ada di meja kerjanya.
"Beraninya dia mengumpatiku di depan diriku. Dasar Bocah tengil, kamu benar-benar harus diberi pelajaran rupanya." Umpat Fabian dalam hatinya.
Sebenarnya Fabian tengah sibuk menghubungi Clara sekertarisnya untuk minta di buatkan kopi hitam pekat dengan sedikit gula untuknya dan juga teh manis hangat untuk Jessica yang terlihat kedinginan karena bibirnya sudah terlihat membiru.
Karena tak juga bisa menghubungi Clara sang sekretaris yang mungkin tidak ada diruangannya. Fabian pun berniat untuk meminta Jessica membuatkan dirinya secangkir Kopi hitam pekat dengan sedikit gula.
"Saya gak diminta duduk dulu Tuan, kaki saya mulai pegel berdiri terus." Jawab Jessica dengan mengeluh, jawaban yang diberikan Jessica sungguh melenceng dari pertanyaan yang diberikan Fabian.
"Kamu mau duduk?" Tanya Fabian dengan wajah mengejeknya.
"Mau Tuan, kaki saya pegel." Jawab Jessica dengan wajah ditekuk.
"Duduklah!" Balas Fabian yang mempersilahkan Jessica untuk duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya.
"Siapa nama mu?" Tanya Fabian lagi mengulangi pertanyaannya.
"Jessica Nurlita Sari. Panggil saja Jessica." Jawab Jessica dengan senyum yang terbit di wajah cantiknya.
"Ok Jessica mana CV mu, saya akan pelajari CV mu sekarang juga, saya akan menerima kamu kerja disini asal kamu bisa membuatkan saya secangkir Kopi hitam pekat dengan sedikit gula sekarang dan juga teh manis jangan terlalu manis untuk saya sekarang." Pinta Fabian pada Jessica yang malah terperangah mendengar permintaan Fabian padanya.
"Sebenarnya siapa sih Om ganteng ini? Seenaknya nerima karyawan tanpa tes tertulis malah di test bikin kopi pahit sama teh manis, ini kantorkan bukan tempat cari nomor unik biar bisa menang undian?" Jessica bermonolog dengan tatatpan kosongnya.
"Hai Jessica kok kamu malah bengong, gimana kamu bisa buatkan saya kopi tidak?" Tanya Fabian sambil menepuk kedua tangannya di wajah Jessica sehingga membuat Jessica sadar dari lamunannya.
"Maaf Tuan, mau tanya, Tuan sebenarnya siapa ya? Ini perusahaan bergerak di bidang Event Organizerkan bukan perdukunan kan?" Tanya Jessica dengan polosnya yang seketika membuat Fabian tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut di buatnya.
"Hahahaha.... Kamu lucu, kamu kira saya dukun?" Ucap Fabian disela tawanya.
Jessica tidak menanggapi ucapan Fabian yang sembari tertawa itu. Setelah menyelesaikan tawanya baru di sadari oleh Fabian, sudah enam tahun lamanya ia tak pernah tertawa selepas ini. Fabian menatap dalam wajah Jessica yang duduk di hadapannya dan kembali meminta Jessica membuatkan kopi untuknya. Setelah itu dia berjalan ke lemari pakaian ganti miliknya yang ada di ruangan itu. Ia mengambil ke meja putih miliknya yang sudah kekecilan baginya dan memberikannya pada Jessica.
"Sebelum kamu buatkan saya Kopi, ganti pakaianmu yang basah dengan kemeja saja ini. Ini lebih baik daripada kamu terus menggunakan pakaian basahmu diruang ber-AC seperti ini. Saya akan jawab pertanyaan mu setelah kamu buatkan saya kopi dan teh manis hangat." Ucap Fabian sembari menyodorkan kemeja putih miliknya.
__ADS_1
Jessica menerima kemeja putih yang disodorkan Fabian dan kemudian memberikan Fabian CV yang diminta oleh Fabian kepadanya lalu bergegas pergi dari ruangan Fabian.
Jessica kembai sudah berganti pakaian yang terlihat kebesaran dan juga nampan yang berisi kopi dan teh yang di minta Fabian. Bagaimana Jessica bisa membuat kopi dan teh yang diminta Fabian padahal dia baru pertama kali datang ke perusahaan Fabian? Jessica bisa membuat pesana Fabian dengan dibantu Cleaning Service yang bertugas berjaga di toilet karyawan yang ada di lantai 5 ruang kerja Fabian.
Jessica meletakan minuman yang dipesan Fabian di atas meja kerjanya dengan mata Fabian yang terus memperhatian penampilan Jessica dengan tatapan dinginnya.
Fabian segera menyeruput kopi buatan Jessica. Fabian terlihat begitu menikmati kopi buatan Jessica yang benar-benar pas di lidahnya. Setelah menyeruput kopinya hingga habis, Fabian meminta Jessica meminum teh mais yang ia buat untuk menghangatkan badannya. Setelah itu Fabian meinta Jessica berdiri dan Fabian menghampiri Jessica.
Ia membuka gesper yang melilit di pinggang nya dan meminta Jessica merentangkan tangannya.
"Rentangkan tangan mu!" Pinta Fabian denhan terus menatap wajah cantik Jessica.
Jessica dengan ragu-ragu mengikuti permintaan Fabian.
"Duh, aku mau diapain nih sama si Om? Ya Tuhan,tolong lindungi Jessica jika si Om mau berbuat kurang ajar." Gumam Jessica didalam hatinya.
Fabian yang melihat Jessica sudah merentangkan tangamnya segera melingkarkan gesper branded miliknya dipinggang mungil Jessica. Ia merapikan pakaian Jessica hingga terlihat enak dipandang.
Saat kepala Fabian berada di dekat dada Jessica, jantung Jessica tiba-tiba bergemuruh antara rasa malu dan rasa mengagumi kebaikan yang diberikan Fabian kepadanya.
"Terimakasih Tuan," ucap Jessica saat Fabian terlihat sudah selesai merapikan pakaiannya.
"Hemmm.." jawab Fabian hanya dengan suara dehemannya.
"Saya suka kopi buatan mu, mulai besok kamu sudah bisa mulai bekerja di sini sebagai staff part time dibagian Account Eksekutif. Jam kerjamu akan menyesuaikan dengan jadwal kuliahmu dan untuk gajimu akan sesuai dengan isi brosur yang kamu tunjukkan tadi pada saya." Ucap Fabian yang menatap dalam wajah Jessica.
"Makasih Tuan, kalau begitu saya permisi undir diri dan besok saya akannkembali setelah jam pulang kuliah." Sahut Jessica sembari memanggukkan kepalanya kepada Fabian.
Mendengar Jessica berpamitan Fabian melihat kearah jendela. Ia melihat hujan masih turun begitu derasnya.
"Tunggulah disini hingga hujan benar-benar telah reda. Jika kamu mau istirahat, istirahatlah di sofa itu sembari kamu menunggu hujan itu reda." Saran Fabian yang seakan tak rela Jessica pulang dengan kembali kehujanan.
"Tapi Tuan...." Jessica ingin menolak tapi belum selesai ia menyelesaikan ucapannya, Fabian sudah memotong ucapannya terlebih dahulu.
"Saya tak terima penolakan, mulai sekarang saya atasanmu, pergilah untuk istirahat di sofa itu." Potong Fabian dengan nada memaksa.
Jessica dengan terpaksa menurutinya. Ia duduk di sofa panjang itu sambil menunggu hujan reda, tanpa sadar karena keletihan dan kehujanan membuat dia tertidur di sofa panjang itu.
Entah dorongan darimana Fabian yang melihat Jessica tertidur bukannya marah malah menyelimutinya dengan jas yang ia pakaikan tadi pada Jessica.
Cukup lama Jessica tertidur dan ketika bangun ia menyadari tubuhnya sudah diselimuti oleh Fabian dengan jasnya. Sikap Fabian yang begitu perhatian padanya membuat Jessica mengagumi sosok Fabian yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya dibalik meja kerjanya.
Fabian yang menyadari Jessica sudah terbangun dan tengah memperhatikannya, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
"Kamu sudah bangun? Hujannya sudah berhenti kamu bisa pulang sekarang." Ucap Fabian tanpa menatap wajah Jessica.
Jessica yang mendengar ucapan Fabian segera melepaskan Jas Fabian yang menyelimuti tubuhnya kemudian beranjak dari posisi duduknya. Ia berjalan menghampiri meja kerja Fabian untuk mengucapkan terimakasih atas kebaikan Fabian hari ini padanya.
"Tuan kamu begitu tampan dan baik hati, semoga saja kita berjodoh dan kamu belum memiliki pasangan ataupun istri agar aku bisa mengejar cintamu untukku." Batin Jessica ketika menghampiri meja kerja Fabian.
"Tuan, terimakasih untuk kebaikan Tuan hari ini, saya pamit undur diri, sampai besok Tuan." Ucap Jessica yang dibalas senyuman oleh Fabian.
flashback Off
"Dari situlah aku mengagumi mu dan memiliki rasa ketertarikan pada mu Om, maaf jika aku selalu membuatmu marah padaku, karena aku sangat suka melihat ekspresi marahmu pada ku. Maaf jika aku yang mengejar cinta mu dan berakhir seperti ini. Maafkan aku yang tak tahu malu menyakitimu sedalam ini. Jujur kamulah orang pertama yang ku cintai tanpa perduli kamu mencintaiku atau tidak, Om Dud. Saat hubungan ku berakhir dengan Diego dengan mudahnya aku mengalihkan semua perasaanku pada mu Om... Tapi...."
__ADS_1