Cinta Jessika

Cinta Jessika
Hapus dia


__ADS_3

"Anna sayang, tolong jangan tinggalkan Mas seperti ini ya!" Ucap Leon memohon sambil terus mengekori setiap langkah kaki Anna yang tengah sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya.


"Anna sayang, istri Mas yang cantik, maafin Mas ya, tolong jangan diam saja seperti ini! Bicaralah sayang!" Ucap Leon lagi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Anna masih dalam mode diam, beberapa kali Leon berusaha menyentuh tubuh sang istri, beberapa kali pula Anna menghindar dan menangkis tangan Leon.


"Anna kalau kamu pergi, Mas tidur sama siapa hum, Mas gak apa-apa kok, kalau disuruh tidur di depan pintu seperti semalam, asal Anna sayang tidak pergi kemana-mana ya? Jujur sayang, mas tidak mau jauh dari kalian bertiga hum, rasanya hidup Mas akan terasa hampa kembali jika kamu pergi," rayu Leon pada Anna sembari duduk bersimpuh di depan Anna. Lelaki dingin ini berharap sang istri akan luluh dengn rayuan dan sikap manisnya kali ini.


'Cih, tidak akan semudah itu aku memaafkan mu Mas, jika aku terlalu cepat luluh, kamu pasti akan mengulangi kembali, memang saat ini perempuan itu masih tak sadarkan diri, tapi nanti jika dia sudah sadarkan diri, aku bisa pastikan, dia akan bertanya siapa yang membiayai dan mengurusi dirinya saat dia tak berdaya. Dia akan besar kepala dan kembali mengejar cintamu jika dia mengetahui kamulah yang menolongnya, karena dia pasti menganggap semua kebaikan mu itu atas dasar cinta yang masih tersisa di dirimu untuk dirinya, bukan seperti anggapan mu yang menolong dirinya hanya atas dasar kemanusiaan," batin Anna yang menatap dalam diam manik mata Leon.


"Jangan pergi ok!" Pinta Leon lagi dengan memeluk perut buncit Anna.


"Anak-anak ku katakan pada Mama mu, Papa tak ingin di tinggalkan kalian bertiga," ucap Leon dengan menempelkan kepalanya di perut Anna.


"Lepas!" Ucap Anna yang mendorong kuat kepala Leon dari perutnya. Ia segera bergegas keluar dari kamar dengan menarik kopernya.


"Sayang, tolong dong. Duhhh... Kamu tuh jarang ngambek sekali ngambek lebih parah dari Jessica sih," umpat Leon yang mengejar langkah Anna yang pergi meninggalkan dirinya.


"Pak Min!" Pekik Anna memanggil assisten rumah tangga laki-laki di Mansionnya itu untuk membawakan koper miliknya.


"Iya Nyonya," jawab Pak Min yang berlarian menaiki anak tangga.


"Tolong bawain kebawah ya!" Pinta Anna dengan senyum manisnya pada asisten rumah tangganya itu.


"Baik Nyah," jawab Pak Min yang segera menarik koper Nyonya-nya itu.


Namun baru empat anak tangga yang ia turuni, langkah Pak Min terhenti, ketika Leon memekikkan namanya.

__ADS_1


"Pak Min!" Panggil Leon pada Pak Min dengan gaya coolnya, ia berdiri dengan memasukkan satu tanganya ke dalam saku celananya. Pak Min pun menoleh ke arah Leon yang memanggilnya.


"Ya Tuan," jawab Pak Min singkat dengan suara bergetar, Pak Min di liputi rasa cemas, karena baru kali ini Leon memanggilnya dengan suara yang begitu keras seperti saat ini. Ia khawatir ia sudah melakukan kesalahan hingga Leon memanggilnya dengan suara memekik.


"Bawa kembali tas itu!" Perintah Leon, yang membuat Anna mendengus kesal, karena Pak Min, naik kembali kelantai atas.


Anna terlihat cemberut, beberapa kali ia terlihat menghentakkan kakinya ke lantai sembari menatap sebal Leon sang suami yang Sedang berjalan mendekati dirinya.


"Sayang, jangan menghentak-hentakkan kakimu seperti itu, kasihan anak kita!" Larang


Leon yang sudah ada di hadapan Anna.


Anna membatu, ia seakan tak mendengar larangan sang suami, ia terus melakukanya tanpa ada niatan untuk berhenti seperti apa yang diperintahkan sang suami, Anna seperti sengaja membuat singa dingin ini untuk mengamuk. Leon sadar betul, Anna sedang memancing emosinya.


Tanpa Bak-bik-buk Leon segera menggendong istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Anna ingin sekali berontak untuk turun dari gendongan sang suami yang membuatnya kesal, marah dan cemburu, namun ia tak berdaya karena rasa takutnya akan terjatuh dari gendongan Leon jika ia melawan dan ia sampai jatuh dari gendongan sang suami, sudah dapat dipastikan itu sangatlah membahayakan kandungannya.


'Aku akan ikuti cara Jimmy meluluhkan Endah dengan hal yang enak-enak seperti ini,' gumam batin Leon yang kembali berjaln menghampiri Anna.


Mata Anna terbelalak melihat suaminya berdiri dihadapannya tanpa mengenakan busana sehelai pun.


"Kamu mau apa?" Tanya Anna pada akhirnya, setelah hampir dua puluh empat jam diam membisu.


"Arghhh, kalau tahu dengan cara ini kamu bersuara, seharusnya sejak semalam saja aku melakukannya," gumam Leon di dalam hatinya.


"Mas mau nengokin anak kita sayang," jawab Leon yang terus mendekat sambil memegangi juniornya.


"Aku gak mau Mas," tolak Anna tegas.

__ADS_1


"Aitss, istri yang baik tidak boleh menolak ajakan suaminya, kamu mau menanggung dosa menolak ajakan suami?" Ucap Leon yang menakut-nakuti Anna.


"Ihhh, mengesalkan," umpat Anna dengan wajah kesalnya.


"Hayoo sayang, jangan begitu yang ikhlas dong! Kali ini aku mau coba gaya helikopter terbang seperti yang diceritakan Jimmy dan Andre," ucap Leon yang membuat mata Ann membola.


"Gaya apa lagi itu? Aku gak mau lagi ya pakai gaya kuda nyungsepnya mereka,"


"Memang kenapa sayang, sepertinya kemarin kamu menikmatinya?"


"Arghhh, tidak usah banyak tanya, pokoknya sekali tidak ya tidak, nikmat di awal, pusing di akhir buat apa?" Cibir Anna.


Mulutnya terus saja mengomel namun tangannya terus bekerj melapaskan seluruh pakaian yang dikenakan olehnya, hingga ia polos tak berbusan seperti suaminy.


Leon, mengusap perut buncit Anna yang sejak tadi ia perhatikan, ia merasa semakin hari perut Anna itu makin membesar dan makin membuatnya tak sabar untuk melihat bayi kembarnya itu.


"Mas," panggil Anna dengan suara berbisik.


"Hemmm," Leon menjawab dengan berdehem, tangan dan matanya tak beralih dari perut Anna.


"Seberapa pentingkah diriku di hidupmu, Mas?" Tanya Anna yang menatap wajah suaminya yang sama sekali tak melepaskan pandangannya menatap perut sang istri.


"Sangatlah penting, lebih penting dari diriku sendiri, kaulah wanita terpenting kedua setelah Ibuku sayang," jawab Leon yang menatap lekang manik mata Anna.


" Jika aku sepenting itu, tolong hapus dia di hati mu, di pikiran mu dan bahkan di dalam jiwa mu sekali pun, tolong jangan pernah menengok kearahnya dengan alasan apapun! Aku tak mau terluka, aku tak mau berbagi," Pinta Anna dengan deraian air mata.


Leon terdiam, ia menimang-nimang kembali ucapan sang istri sebelum ia menjawab permintaan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2