
30 menit kemudian Endah datang keruang kerja Andre sambil senyum-senyum tidak jelas. Ia menghampiri adiknya dan sahabat yang sebentar lagi akan menjadi Kakak iparnya itu. Ia mendudukkan dirinya ditengah-tengah antara Jessica dan Anna.
"Issshh Endah, kebiasaan suka nyempil-nyempil kaya gini." Ucap Anna kesal yang kemudian menghadiahkan cubitan di paha Endah.
"Sakit Ann, kok nyubit sihh..." protes Endah pada Anna sembari mengusap-usap pahanya yang baru saja di cubit Anna.
"Lu gak boleh nyempil-nyempil lagi kaya gitu Ndah, soalnya ada calon keponakan kita di perut si Njess." Terang Anna pada Endah.
"Hah, ciusssan nih... aaaahhhh telat nyetak anak gue, keduluan ade gue." Ucap Endah yang kemudian menghadiahkan ciuman basah di pipi adiknya itu.
"Ihhh... Endah jigongnya ihhh... ini jigong udah terkontaminasi sama jigongnya Babang Jimmy pasti." Protes Jessica sembari mengelap liur Endah yang menempel di pipinya.
"Hahaha... bisa di bilang begitu." Sahut Endah cengengesan.
"Laper nih gak ada makanan?" Ucap Endah sembari mengelus perutnya yang sidah keroncongan.
"Hah, lu habis olahraga enak-enak di ruang kerja laki lu, sekarang minta makannya disini. Sono minta makan sama laki lu sana Ndah." Ucap Anna sambil berkacak pinggang kepada Endah.
"Galak amat si Mak Anna ini sampai tolak pinggang segala, macam emak-emak ngomelin anaknya aja." Ucap Endah yang mengomentari omelan Anna.
"Kamu lapar sayang, ayo kita pergi makan siang?" Tiba-tiba suara Jimmy dari muka pintu membuat mereka yang duduk di sofa menoleh semua padanya.
"Ayo sayang, aku mau makan di restoran Carrlina yang ada di Mall Grands Adam ya." Jawab Endah dengan cepatnya. Ia langsung beranjak dari duduknya melangkah mendekati sang suami.
"Dah adikku dan calon kakak iparku, sampai ketemu disana ya?!" Ucap Endah sembari melambaikan tangannya ke arah Jessica dan Anna kemudian berlalu pergi bersama suaminya meninggalkan mereka.
"Si Endah makin menjadi ya semenjak punya suami?" Tanya Anna pada Jessica
"Makin jadi apanya Ann?" Jessica malah balik bertanya pada Anna karena tidak mengerti yang di maksud Anna.
"Makin jadi gak warasnya Jess, udah gitu si Jimmy mau-mauan ngikutin apa maunya si Endah." Ucap Anna lagi.
"Ya namanya juga lagi falling in love Ann ya kaya gitu, kaya lu sama bang Leon nggak ajah, dulu Bang Leon tuh gak pernah yang namanya nganter Kak Kia ke kampus ataupun ke tempat kerjanya. Dia lebih cuek sama Kak Kia beda banget gak kaya sekarang, kemanapun lu pergi dia mau anterin lu, dia sampai rela-relain jadi supir pribadi gratisan lu Ann sampai lewatin waktu sarapan paginya bareng kita loh."
"Ah,, masa si Jess...?? Kok jadi so sweet banget dengernya ayang beb gue segitunya sama gue." Ucap Anna sambil mengoyang-goyangkan lengan Jessica.
"Sudah ngerumpinya, ayo kita susul Endah dan Jimmy." Ajak Andre yang membuat obrolan Anna dan Jessica terhenti.
"Ishhh... Kak Andre, lagi seru cerita tentang Bebeb aku juga malah di ajakin nyusulin mereka." Anna berdecak kesal karena Andre pembicaraannya tentang Leon bersama Jessica terhenti.
"Sudah waktunya makan siang Ann, kita harus makan tepat waktu kalau tidak kita bisa sakit. Kamu bisa lanjutkan cerita lagi nanti di mobil." Sahut Andre yang segera mengandeng ke duanya.
Mereka berlima pun menghabiskan waktu makan siang mereka di restaurant Carrlina yang berada di Mall Grand Adam. Setelah menghabiskan makan siangnya Andre dan Jimmy langsung kembali ke kantor sedang Jessica, Anna dan Endah melanjutkan kegiatan mereka di Mall Grand Adam untuk berbelanja tak lupa di temani oleh Bowo dan Angela yang selalu setia berjalan satu meter dibelakang mereka.
Endah dan Anna terlihat keluar masuk dari toko satu ke toko yang lain, sibuk memilih barang-barang koleksi terbaru yang ingin mereka miliki. Sedang Jessica hanya duduk diam menunggu untuk dipanggil mereka berdua untuk menyelesaikan pembayaran.
__ADS_1
Untuk kali ini ia tak lagi di buat pingsan seperti dahulu oleh Anna dan Endah. Mereka sengaja tidak memberitahukan berapa jumlah nominal yang harus Jessica bayar saat dia berada di meja kasir, mereka hanya memanggil Jessica ketika kasir sudah menyebutkan nominal yang harus Jessica bayar dengan kartu ajaib yang diberikan suami tercintanya pada dirinya dan Jessica sendiri sudah tidak mau ambil pusing dengan berapa uang suaminya harus keluar untuk membayar belanjaan adik sepupu suaminya itu dan Kakak Kandungnya yang hobby di traktir belanja barang branded.
Setelah membeli baju, mereka memutuskan untuk membeli sepatu dan kini mereka sudah berada di sebuah toko sepatu bermerek terkenal. Jessica kembali hanya duduk menunggu keduanya memilih-milih model sepatu yang mereka inginkan.
Tiba-tiba saja Jessica berfikir dia perlu sepatu bermodel flat shoes dimasa kehamilannya ini. Walaupun nantinya Andre akan menyiapkan tapi apa salahnya jika ia membeli sendiri satu atau dua sepatu bermodel flat shoes.
Akhirnya Jessica memutuskan untuk meminta bantuan Angela untuk membantunya mencari sepatu model flat shoes yang ia inginkan.
"Angela..." panggil Jessica pada Angela yang setia berdiri tak jauh dari dirinya.
"Ya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Angela dengan segera menghampiri Jessica.
"Angela bisakah kamu menolongku? Tolong carikan sepatu model flat shoes untukku warna apa saja asal jangan terlalu mencolok!" Pinta Jessica pada Angela.
"Baik Nyonya akan saya carikan, nona mau berapa banyak sepatu yang saya pilihkan?" Jawab Angela yang kemudian memberikan pertanyaan kembali pada Jessica.
"Terima kasih sudah mau membantuku Angela. Aku hanya perlu satu atau dua sepatu saja Angela, dan jangan buat aku memilih, pilihkan saja dengan mu ya?!" Jawab Jessica yang membuat hati Angela merasa senang.
Ya hati Angela selalu senang jika mendapat perintah dari Jessica yang selalu menghargai dirinya dan sikap Jessica yang begitu hangat padanya. Seakan tak membedakan kasta antara dia dan dirinya.
"Sama-sama Nyonya, saya tinggal dulu mencari sepatu yang anda inginkan." Ucap Angela yang kemudian pergi meninggalkan Jessica bersama Bowo yang masih setia berdiri satu meter dari tempat Jessica duduk.
Saat Angela sedang sibuk mencari sepatu yang diinginkan Jessica. Lina dan Sisil yang sama-sama berada di toko tersebut dan baru saja selesai melakukan pembayaran tak sengaja bertemu dengan Jessica yang tengah duduk membaca pesan singkat dari suaminya untuk tidak banyak berjalan kesana kemari mengikuti Endah dan juga Anna.
"Jessica...ini bener kamu Jes?" Sapa Lina yang tak percaya bertemu dengan wanita yang menghilang ditelan bumi satu bulan yang lalu semenjak kejadian di kota D.
"Mbak Lina sama Mbak Sisil kesini habis beli sepatu juga ya?" Tanya Jessica berbasa-basi.
"Ya iyalah Cil, kesini beli sepatu masa kesini beli gado-gado Mpok Eha." Jawab Lina sembati menepok jidatnya.
Mendengar jawaban Lina tentang gado-gado Mpok Eha,tiba-tiba Jessica menjadi merasa sangat lapar dan ingin makan gado-gado Mpok Eha yang ada di dekat perusahaan milik Fabian itu.
"Duh jadi laper lagi, nanti habis dari sini ke warung Mpok Eha deh beli gado-gado." Batin Jessica.
"Kamu apa kabar Jess?" Tanya Sisil pada Jessica.
"Baik Mbak, Mbak sendiri apa kabar?" Jawab Jessica yang kembali menanyakan kabar Sisil.
"Aku baik tapi Kak Alan yang tidak baik."
"Oh ya, kenapa dengan Kak Alan, Mbak?" Tanya Jessica yang penasaran dengan kabar Alan yang tak baik menurut penuturan Sisil.
"Ya semenjak kamu menghilang di kota D. Kak Alan sibuk menggantikan posisi Pak Fabian di perusahaan, apalagi sekarang kondisi Pak Fabian antara hidup dan mati." Jawab Sisil dengan wajah sendunya.
"Maksudnya gimana Mbak kok bisa kondisinya antara hidup dan mati?" Tanya Jessica yang begitu penasaran tentang kabar Pak Fabian.
__ADS_1
"Pak Fabian koma Jes." Jawab Lina yang seketika itu membuat Jessica terkejut dan menutup mulutnya yang tiba-tiba terbuka dengan kedua tangannya.
"Koma??? Apa kondisinya seperti ini karena aku??" Tanya Jessica yang tiba-tiba merasa bersalah pada Fabian dan terlintas dalam fikirannya bagaimana kondisi Hana dan Hani saat ini dengan kondisi Fabian yang seperti ini.
"Tidak juga, kamu pasti kenal Rania bukan?" Jawab Sisil tak pasti membuat Jessica terus di liputi rasa bersalah.
"Iya aku mengenalnya Mbak, kenapa dengan dia?"
"Dia berusaha membunuh Pak Fabian setelah tahu Pak Fabian kembali rujuk dengan istrinya hingga menyebabkan ia koma sampai saat ini."
"Jadi Pak Fabian sudah rujuk dengan istrinya? Sejak kapan?" Tanya Jessica yang begitu penasaran.
"Sejak kamu menghilang dan tidak bisa di temukan." Jawab Sisil dengan wajah datat menatap wajah Jessica.
"Cil, lu tau gak kenapa si Boss balikan sama bininya? Kalau lu tau, lu pasti terkaget-kaget kaya gue waktu pertama kali tahu alasan dia balikan sama mantan istrinya." Tanya Lina yang sejak tadi diam, namun pertanyaan Lina tentu saja tidak di ketahui oleh Jessica.
"Aku gak tahu mbak, emangnya apa alasan dia balikan sama istrinya?" Tanya Jessica yang begitu penasaran dengan jawaban yang akan Lina berikan.
"Ternyata tuh torpedo si Boss emang penjelajah ulung, mantan bininya pernah nyamar jadi pengasuh si kembar dan ditidurin sama si boss sampai punya anak Cil kan bener-bener gokil si Boss. Untung lu gak jadi sama dia dan menghilang entah kemana waktu itu, coba lu masih kerja sama kita, kalo gak patah hati dan gak enak makan tujuh hari tujuh malam lu Cil gegara dia." Jawab Lina yang membuat hati Jessica sedikit terasa nyeri.
"Ya Tuhan, aku sudah salah pernah mengagumi dan mencintai seorang lelaki seperti Om Duda. Terima kasih sudah menjauhkan ku dari pria seperti dia dan menjodohkan ku dengan Kak Andre yang begitu baik padaku." Batin Jessica yang begitu bersyukur memiliki suami seperti Andre.
"Jess, bisa gak kamu ikut kita sekali saja untuk temuin Pak Fabian di rumah sakit? Semua orang termasuk Tuan Bagas sedang mencari kamu, untuk mencoba membangunkan Pak Fabian dari tidur dalamnya, karena pernah Kak Alan mencoba memutar suara rekaman suara kamu bernyanyi dan Pak Fabian langsung meresponnya, ia sadar untuk beberapa saat tapi setelah mendengar suara Nyonya Suci, kondisinya kembali memburuk dan di nyatakan koma kembali." Pinta Sisil dengam memberi keterangan pada Jessica agar Jessica mau pergi bersamanya ke Rumah Sakit.
"Maaf Mbak Sisil dan Mbak Lina, aku sekarang sudah bersuami, aku gak bisa menemui laki-laki yang jelas-jelas ada di masalalu aku tanpa seizin dia, aku harus jaga perasaan suami aku." Tolak Jessica secara halus dengan memberi alasan yang masuk akal kepada mereka berdua.
"Kamu sudah menikah? Dengan siapa?" Tanya keduanya dengan wajah terkejutnya.
"Aku menikah dengan Tuan Andre dari Batara Group, ternyata kami sudah di jodohkan, makanya dia waktu itu terus mendekatiku."
"Apa Tuan Andre?? Jadi kamu cucu dari Tuan Abraham Adijaya yang kini sedang hamil anak dari Tuan Andre?" Tanya Lina yang begitu antusias.
"Ya Mbak Lina." Jawab Jessica singkat.
"OMG... ternyata lu cucunya Sultan, bener-bener bego nih si Boss nyia-nyiain dan nyakitin cucunya Sultan selama ini." Ucap Lina yang menyayangkan sikap kasar Fabian selama ini pada Jessica.
"Semoga pernikahan lu langgeng ya Cil dan persalinan lu nanti lancar." Ucap Lina sambil mengusap perut Jessica yang sudah membuncit walaupun usia kandungannya baru beberapa minggu.
"Bagi nomor telepon lu dong Cil, nomor lama lu udah gak aktif lagi kan?" Pinta Lina yang langsung menyodorkan ponselnya kepada Jessica.
"Yah, aku gak hafal nomor ku Mbak, Mbak aja yang masukin nomor ponsel Mbak ke ponsel aku." Ucap Jessica yang kemudian menyodorkan ponsel miliknya kepada Lina.
Lina pun memasukkan nomornya ke ponsel Jessica kemudian menghubungi ponselnya dari ponsel Jessica agar nomor Jessica masuk kedalam panggilan teleponnya, agar ia bisa menyimpan nomor ponsel Jessica.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Jessica Lina dan Sisil pun pamit meninggalkan Jessica namun sebelum pamit Sisil kembali meminta Jessica untuk menyempatkan waktu untuk menjenguk Fabian.
__ADS_1
"Jess, jika ada waktu izinlah dengan suami mu untuk temui Pak Fabian, jika kamu enggan bertemu dengannya karena rasa sakit hati mu padanya, tapi tolong sekali saja temui Pak Fabian, hanya untuk berbelas kasihlah pada kedua anaknya yang sangat merindukan sosok Papinya yang sehat seperti sedia kala, aku yakin dia akan sadar dengan kehadiran kamu, Jess." Ucap Sisil dengan wajah penuh harap sembari mengusap-usap pundak Jessica.
"Ya Mbak akan aku usahakan menemuinya nanti." Jawab Jessica dengan memberikan senyum terpaksanya kepada Sisil.