
Hari ini adalah kali kedua Nico mendatangi Perusahaan Batara Group. Kali ini dia datang sesuai undangan sang besan yang berjanji akan mempertemukan putranya dan juga kedua menantunya saat mendekati jam makan siang nanti.
Begitu semangatnya Nico untuk menemui Mereka bertiga sehingga membuatnya datang lebih awal. Kedatangan Nico lebih awal membuat Brata tak berhenti menertawakannya.
"Hahahaha..., ini baru jam 9 pagi kau sudah datang ke kantor ku yang bener saja Nic, ini terlalu pagi untuk menemui mereka, lagi pula putramu belum datang ke perusahaan ku. Putramu itu selalu datang ontime Nic tidak pernah kurang ataupun lebih dari waktu yang di tentukan. Tidak seperti dirimu saat ini hahahaha...." Brata berkata dan terus menertawakan sahabat sekaligus Besannya itu.
"Aku sudah tak sabar bertemu mereka Brat," sahut Nico dengan wajah menahan kesal karena terus ditertawakan oleh Brata.
"Hahahaha aku tahu kau tak sabar menemui mereka karena jika tak dapat maaf dari mereka jalanmu menemui Lestari akan terus terasa sulit, kau merendahkan dirimu demi rasa rindumu pada istrimu bukan? Kau sudah tak tahan tidur sendirian ya hahahaha?" Tebak Brata yang memang ada benarnya. Ucapan Brata membuat Nico terdiam.
Nico memang sangat merindukan Lestari, sudah puluhan malam ia lewati tanpa kehadiran sang istri di ranjang tidurnya. Ia tak lagi bisa memeluk tubuh sang istri apalagi untuk bercengkrama. Tebakan Brata membiatnya membayangkan saat-saat dimana ia masih tidur mendekap sang istri penuh dengan kehangatan.
"Kau tahu Nic, istri adalah teman hidup yang di hadirkan Tuhan yang paling setia menemani kita sampai kita menutup mata. Apa kau tak pernah menyadarinya?"
__ADS_1
"Apa maksud dari pertanyaan mu Brata?"
"Tolong dengarkan ucapanku kali ini Nic dan coba kau renungkan! Istri mu adalah wanita pilihan hatimu yang sangat kau cintai bukan?"
"Ya aku sangat mencintai istri ku, kau tau sendiri bagaimana perjuangan dan pengorbanan ku demi dirinya. Meninggalkan keluarga ku dan fasilitas Daddy hanya untuk hidup dengan dirinya."
"Ya aku tahu betul perjuangan dan pengorbanan mu untuk dirinya. Tapi kamu melupakan sesuatu Nic karena keangkuhanmu yang tampa kamu sadari membuat kamu merasa dirimu sudah sangat berkorban dan berjuang untuk dirinya hingga melupakan dia juga sudah berkorban dan berjuang untuk dirimu."
"Aku melupakan pengorbanan dan perjuangan dia yang mana Brata? Coba katakan padaku apa yang aku lupakan dari penjuangan dan pengorbanannya itu ?"
"Aku selalu menafkahinya Brat, baik lahir maupun batin, aku tak melupakan kewajiban ku. Aku akui setelah memiliki anak, waktuku lebih banyak dengan anak-anak ku karena aku ingin mengerti bagaimana perasaan anak-anak ku, agar mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan. Tidak di mengerti oleh kedua orang tua ku. Dipaksa menikah dengan perempuan yang tak aku cintai."
"Tapi pada kenyataannya, cara mu mengerti perasaan anak-anak mu terlalu bias Nic. Kau terlalu berpihak pada satu anak dan mengorbankan anak yang lain. Dan yang jadi masalahnya selama ini kau berpihak pada anak yang bukan anak kandung mu. Itulah sebabnya istri mu merajuk dan meninggalkan mu. Banyak rasa sakit hati dan kecewa yang ia rasakan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Ia meragukan perasaan mu padanya karena tidak bisa membedakan yang mana anak kandung mu dan yang bukan. Pengorbanan dan perjuangannya memberimu keturunan seakan tak ada artinya di hidupmu, karena kenyataannya tak ada satupun darah dagingnya yang mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari dirimu malah kau korban kedua anak kandungmu selama ini hanya untuk anak itu, hati ibu mana yang bisa terima Nic?"
__ADS_1
Sejenak Nico kembali terdiam, lalu ia menggaruk rambutnya kasar.
"Arghhhh.... Aku bodoh sangat bodoh..." Umpatnya pada dirinya sendiri.
"Saat kita tua seperti ini anak-anak kita sudah menikah dan memilih untuk hidup tak seatap lagi bersama kita. Hidup kita yang tadinya ramai akan terasa sepi dan hampa Nic. Hanya tinggal istri yang akan setia menemani kita hingga azal menjemput, kau boleh menyayangi anak-anak mu tapi kau juga harus menyayangi istri mu melebihi rasa sayangmu pada dirimu sendiri. Kau ingin mengerti bagaimana perasaan anak-anak mu tapi kau juga harus mengerti bagaimana perasaan hati istri mu. Menjadi kepala keluarga tidak mudah Nic, kau belum banyak belajar tapi kau malah meninggalkan keluarga mu, kau meninggalkan mereka tanpa mau mendengarkan mereka yang juga membatalkan pernikahan mu karena mengetahui saat Melani mau menikah dengan mu, ia dalam kondisi hamil bukan anakmu. Pergi dan menghilang buka cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah dan malah menimbulkan masalah seperti ini Nic. Kau sudah melakukan kesalahan dengan menanam kebencian pada kedua anakmu untuk dirimu sendiri tanpa kau sadari Nic, dan kau membiasakan mereka tanpa dirimu hingga mereka terbiasa hidup berjuang tanpa uluran tangan mu dan kau tahu Leon sudah mengetahui kebenaran dimana setiap langkahnya selalu mendapat uluran tangan Daddymu. Dan dia menyayangkan sikapmu yang tak sama seperti Daddymu. Dia kecewa pada mu. Kehidupan yang ia lalui begitu berat diluar sana dan kau tidak mengetahuinya, bagaimana kau bisa mengetahuinya jika didalam rumah tanggamu hanya anak Melani yang kau dengar keluh kesahnya tidak dengan anak kandungmu sendiri. Dan untuk putrimu Jessica, seandainya Daddymu tak turun tangan menyelamatkan hidupnya yang sedang masuk perangkap Tante Suci, mungkin sekarang ia sudah menikah dengan putra bungsunya yang berstatus Duda itu. Entah rencana jahat apa yang ia ingin lakukan pada keluarga mu, ini semua dampak dari kegagalan pernikahan mu dengan Melani. Ingatlah Nic, Daddymu tak seburuk yang ada di pikiran mu." Brata menasehati Nico panjang lebar.
Penjelasan yang Brata berikan membuat Nico terus memutar otaknya untuk berpikir tentang semua kesalahan yang ia lakukan selama ini. Rasa penyesalan menyeruak di dalam hatinya. Hingga akhirnya butiran bening pun kembali ia teteskan tanpa rasa gensi dihadapan sahabat sekaligus besannya itu.
"Sadarilah kesalahanmu sebelum kau menemui mereka, meminta maaflah dengan tulus pada mereka atas kesalahanmu bukan karena rasa rindumu ingin mendekap istri mu lagi. Buang rasa egomu Nic, akui kesalahan mu pada mereka. Putrimu Endah jauh lebih menderita dari kedua anakmu yang lain. Dan kamu harus bersyukur dia memiliki jiwa yang kuat seperti Daddymu hingga ia bisa bertahan dengan kewarasannya yang sedikit absurd. Kau harus mengerti kelebihan dan kekurangannya." Ucap Brata sembari berjalan ke arah kursi duduk Nico.
Ia menepuk-nepuk pundak sang sahabat, berusaha menguatkan ketika tangis penyesalan itu mulai pecah.
"Sepertinya kau perlu waktu meyendiri sebelum menemui mereka. Tenangkan dirimu Nic!! Maaf jika aku tak bisa menemanimu karena pagi ini aku ada meeting. Kau tunggulah mereka disini!" Ucap Brata yang kemudia pergi meninggalkan Nico ketika Nico menjawab ucapannya yanya dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
Ia menangis sejadi-jadinya ketika Brata pergi meninggalkannya seorang diri di ruang kerjanya. Dan tanpa di sadari oleh Brata dan Nico. Jimmy sejak tadi menguping pembicaraan mereka dan ketika mengetahui Brata akan pergi, Jimmy buru-buru bersembunyi.
Jimmy datang ke ruangan kerja Tuan Besarnya yang menganggap dirinya seperti anak sendiri itu atas perintah Andre yang meminta Jimmy memastikan sendiri dengan mata kepalanya jika Papinya itu sudah datang ke perusahaan. Karena Papinya itu memiliki jam karet luar biasa setelah tidak terlau aktif di perusahaan. Itu semua karenake bucinannya terhadap sang istri, Ayumi. Kedua anaknya yang sudah berumah tangga, membuat mereka kembali pada masa-masa indah hidup berdua saat pertama kali mereka menjalani biduk rumah tangga.