
Setelah kepergian Leon, ketiga wanita inipun memutuskan untuk segera masuk kedalam ruangan kelasnya yang berada di lantai dua, tapi sebelum itu mereka harus menyelesaikan pembayaran pesanan makanan dan minuman yang sudah tandas masuk ke dalam perut mereka masing-masing.
"Ann bayar!" Perintah Endah seperti biasanya.
"Lah kok gue?" Tanya Anna dengan suara protesnya.
"Lah emang iya, kan biasanya begitu bukannya?" Sahut Endah yang balik bertanya dengan suara nyolotnya.
"Gimana sih lu Ndah? Tadikan udah di kasih duit masing-masing seratus ribu sama Bang Leon. Ya udah bayar masing-masing aja." Sahut Anna dengan suara yang tak kalah nyolot.
"Gak mau, gue kan ade, lu jadi calon kakak ipar jangan pelit, udah sono bayar!" Titah Endah dengan seenaknya.
"Gak mau gue, gue bukannya pelit Ndah, tapi lu jangan curang dong, kalau mau di hitung main tua-tuaan disini yang bisa di bilang tua itu gak cuma gue tapi ade kesayangan lu noh,,, dia kan nikah sama kakak sepupu gue, berarti dia itu kakak ipar gue." Terang Anna pada Endah.
Seketika kedua wanita itu menatap Jessica yang baru saja datang menghampiri mereka kembali sembari asyik mengenyot es lilin rasa kacang hijau di tangannya. Merasa di tatap oleh keduanya Jessica pun bertanya.
"Ngapain lu pada ngeliatin gue kaya begitu?" Tanya Jessica pada keduanya.
"Jes, bayar!" Perintah Endah pada adiknya itu.
"Bayar apaan?" Tanya Jessica yang tak mengerti.
"Bayar semua makanan dan minuman kita tadi." Jawab Anna.
"Oooo...." Jessica hanya ber-Ooo ria.
"Jangan Oooo aja, bayar Jess!" Pinta Endah lagi dengan memaksa.
"Udah tenang aja, tadi gue beli es lilin sama si teteh suruh langsung bayar ke kasir pas gue mau bayar terus si mbak kasir bilang, kalau kita makan di kantin semuanya gratis sampai lulus nanti, terus katanya dia semua yang kita ambil nanti di bayar sama laki gue. Mbak kasir cuma tinggal nyatet ajah gitu."
"Wah bagus-bagus, asyik nih punya ade ipar baik banget kaya gini, auto makan gratis tiap hari nih. Gak kaya calon Kakak ipar gue nih udah mulai koret ketelaran sama abang singa." Ucap Endah yang kesenangan sembari menyindir dan melirik tak suka pada Anna
"Yeeehhh...dasar cewek komersil." Umpat Anna yang mendengar ucapan Endah dengan lirikan tak sukanya.
"Biarlah gue komersil yang penting hati gue senang." Sahut Endah yang langsung saja berlalu meninggalkan keduanya.
Jessica dan Anna hanya bisa menggelengkan kepala mereka ke kiri dan ke kanan melihat tingkah sahabat sekaligus saudaranya itu. Jessica dan Anna pun akhirnya mengekori Endah yang sudah jalan terlebih dahulu.
"Jess, liat noh kelakuan kakak perempuan lu!" Ucap Anna dengan suara kesalnya.
__ADS_1
"Ya, udah Ann jangan di layanin biarin ajah, kalau gak gesrek bukan Endah namanya. Kuat-kuat ya Ann punya adik ipar macam dia." Ucap Jessica sambil menepuk pundak Anna yang berjalan di sampingnya.
"Ya gue harus kuat mental punya adik ipar macam dia." Sahut Anna masih dengan tampang kesalnya.
Akhirnya ketiganya sudah sampai di ruang kelasnya. Saat mereka tiba di dalam ruang kelas Nanad panggilan dari Nadia, si wanita sok cantik di kelasnya itu memandang sinis ke arah ketiganya. Mereka yang mendapatkan tatapan sinis dari Nanad pun bersikap biasa saja seperti tak menganggap keberadaan Nanad yang bagaikan lalat bagi mereka.
"Si Nanad matanya pengen gue colok kaya cilok." Ucap Endah dengan kesalnya saat duduk di kursi miliknya.
"Colok aja matanya, gue dukung." Sahut Anna yang menyemangati Endah.
"Eh, lu berdua mau nimba ilmu atau mau jadi kriminal?" Sahut Jessica yang merauk wajah Anna dan Endah bersamaan dengan tangan kanan dan kirinya.
"Yeahhh.... sok bener lu, gue udah bosen dengan tingkahnya yang sok cantik dan sok iye banget di kampus ini." Ucap Endah yang menyandarkan tubuhnya kasar ke sandaran kursi.
Jessica dan Anna diam sejenak, membiarkan Endah menenangkan dirinya. Jika mereka terus menanggapinya dapat di pastikan emosi Endah makin meledak-ledak.
"Lama amat nih dosen ga dateng-dateng pingganh gue udah pegel duduk nungguin." Keluh Jessica dengan suara yang sengaja di keraskan suapaya Endah dan Anna yang asyik dengan ponselnya mendengar.
Endah dan Anna yang mendengar keluhan Jessica segera menyimpan ponselnya, Endah langsung melepas sweater tipis yang ia kenakan kemudian meminta Anna melakukan hal yang sama setelah itu Endah menggabungkan sweater itu dan melipatnya seperti bantal kecil kemudian meletakkannya di belakang pinggang Jessica.
"Dah senderan biar gak pegel," pinta Endah kemudian mengusap bahu Jessica.
"Stop Jess, gue gak mau di anggap gak normal gara-gara dapat ciuman dari lu." Ucap Endah dengan dua tangan yang ingin mendorong tubuh adiknya tapi tak sampai menyentuh tubuh Jessica.
"Iya...iya..."jawab Jessica dengan wajah di tekuknya.
"Kok kalian berdua jadi sok sweet ya. Jadi gemes deh liat kalian berdua." Ucap Anna yanh kemudian mencubit pipi Endah dan Jeasica secara bergantian.
"Sakit Ann," pekik Endah dan Jessica bersamaan.
"Kompak banget kaya bayi kembar." Sahut Anna yang mendengar kekompakan mereka.
"Mau dong bayi kembar kalau bisa tiga sekaligus dua cewek dan satu cowok, jadi hamilnya sekali aja." Sahut Jessica yang langsung di aminkan oleh keduanya.
"Aminnnnn..." sahut Endah dan Anna dengan kedua tangan yang menengadah di depan wajahnya kemudian mengusap kedua tangannya itu ke wajah mereka masing-masing.
Jessica pun tertawa lepas melihat kelakuan keduanya. Saat dia sedang tertawa seorang Dosen pria menggunakan kemeja putih dengan lengan panjang namun di gulung datang melewati dirinya. Sontak Jessica terperangah dengan kehadiran sosok dosen pria itu. Mulutnya terbuka lebar, dan kedua tangannya menarik lengan Endah dan Anna untuk membuka wajah mereka yang tertutup saat mengamiinkan keinginan Jessica memiliki bayi kembar tiga.
Endah dan Anna pun menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. Keduanya ikut terperangah melihat sosok Dosen yang duduk di depan mata mereka. Begitupun seluruh wanita yang ada di dalam ruang kelas itu. Bagaimana tidak Dosen yang lama sekali mereka tunggu adalah sosok yang sangat di idam-idamkan kaum wanita. Wajah yang tampan bak oppa-oppa korea, tubuhnya yang proposional menunjang ketampanannya. Apalagi saat ini dia menggunakan setelan kemeja putih dengan tangan di gulung, dada bidangnya begitu menonjol serasa memanggil para kaum wanita untuk memeluknya.
__ADS_1
"Ini beneran dia Dosen mata kuliah kepemimpinan kita?" Tanya Anna yang seakan tak percaya sosok pria di hadapannya menjadi Dosen di salah satu mata kuliahnya.
"Ihhh.... pantesan lama, kebiasaan bikin orang nunggu. Sampe pegel ni pinggang duduk kelamaan." Umpat Jessica dengan suara sedikit keras agar sang Dosen itu mendengarnya.
"Yah... alamat laki gue pulang malam, berkurang deh jatah ronde gue, bagaimana Jimmy junior berhasil di cetak kalau di limpahin kerjaan terus, dasar adik ipar lak.nat." Umpat Endah dengan suara yang sengaja di keraskan juga agar sosok sang Dosen mendengarnya.
Anna terlihat senyum-senyum sendiri melihat kedua sahabatnya yang akan menjadi adik iparnya itu menatap kesal ke arah Dosen yang ternyata adalah Kakak sepupunya itu.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Andreansyah Dosen mata kuliah ke Pemimpinan di semester kalian kali ini. Maaf jika ke datangan saya terlambat, karena saya tadi terjebak macet. Sekian perkenalan dari saya. Sebelum pelajaran di mulai ada yang ingin di tanyakan?" Ucap Andre dengan wajah datarnya yang memikat hati seluruh wanita di ruang kelas iti terkecuali Endah dan Anna yang mengetahui siapa dirinya.
"Saya pak mau tanya." Ucap Fanya dengan mengacungkan tangannya. Fanya adalah teman dekat Nadya.
"Ya silahkan kamu mau tanya apa." Sahut Andre masih dengan wajah datarnya.
"Mau tanya nomor telepon bapak berapa? Buat nanya tugas-tugas nanti ke depannya." Tanya Fanya dengan suara centil dan pura-pura malunya. Membuat Jessica, Anna dan Endah memutar bola matanya malas.
"Awas kalau ngasih nomor telepon kamu, siap-siap puasa." Umpat Jessica dengan suara pelan namun masi bisa di dengar oleh sang suami yang berdiri tak jauh dari mejanya.
Andre segera mengambil spidol di meja Dosen kemudian menulis sebuah nomor telepon yang membuat Endah menatap tajam Andre seakan ingin mengajak perang dengannya. Sedang para wanita lain langsung sibuk memasukkan nomor telepon yang Andre tulis kedalam buku telepon yang ada pada ponsel mereka masing-masing.
"Adik ipar sialan, nomor laki gue yang di tulis, nyari mati nih laki lu Jess." Umpat Endah dengan mengeratkan giginya.
"Jangan di bunuh Ndah, gue gak mau jadi janda." Sahut Jessica yang tiba-tiba memasang wajah sedih menatap wajah Endah.
"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Andre lagi setelah menulis nomor telepon milik assitennya di papan tulis.
"Saya pak," ucap Nadya yang kali ini menunjuk tangannya.
"Ya, kamu apa yang ingin kamu tanyakan?" Sahut Andre masih dengan wajah datarnya tanpa perduli dengan menanyakan nama mahasiswi yang bertanya padanya.
"Bapak masih singel atau sudah ada yang punya?" Tanya Nadia dengan suara manja dan tangan yang memainkan rambut panjangnya.
"Cih, bibit pelakor nyari mati." Sahut Endah dengan suara keras dan lantang yang di dengar seluruh isi kelas. Membuat seluruh isi kelas mentap ke arahnya.
"Ok, terimakasih atas pertanyaan yang tidak berbobotnya tapi saya akan menjawab pertanyaan Kamu. Saya sudah menikah dan istri saya adalah salah satu mahasiswi di kampus ini yang sekarang ada di hadapan saya." Jawab Andre tegas yang berdiri di depan meja Jessica dan menepuk bahu sang istri yang dibalas cubitan dari sang istri.
Seluruh wanita yang ada di ruang kelas nampak kecewa mendengar jawaban Andre yang langsung mengakui Jessica adalah istrinya.
"Ada pertanyaan lagi? Jika tidak ada silahkan buka modul mata kuliah kepemimpinan yang kalian miliki. Saya akan memulai pembelajaran mata kuliah saya sekarang!" Pinta Andre yang kemudian di ikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di ruang kelas tersebut tanpa terkecuali.
__ADS_1
Selama 90 menit Andre mengajar di ruang kelas Jessica dengan profesional. Para Mahasiswa dan Mahasiswi begitu menyukai cara penyampaian pembelajaran yang di berikan Andre. Banyak yang berharap semua dosen menggunakan cara penyampaian pembelajaran yang seperti Andre, mudah di mengerti dan di pahami dengan bahasa yang lugas dan tegas disetiap kalimatnya.