Cinta Jessika

Cinta Jessika
Ke galauan para suami


__ADS_3

Di restauran Da Costa semua anak buah Bobby tengah sibuk membersihkan area lokasi. Endah dan Jimmy terlihat begitu bahagia berjalan bergandengan tangan keluar dari restauran tersebut.


Adam yang melihat keponakannya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, bisa-bisanya Endah tersenyum begitu bahagia tanpa merasa berdosa telah menghabisi nyawa seseorang.


"Aku tidak tahu terbuat dari apa mental mu Endah, mungkin jika wanita lain akan histeris dan terus merasa bersalah tanpa sengaja harus membunuh seseorang demi menyelamatkan suaminya tapi tidak dengan diri mu. Kamu terlihat biasa saja dan begitu bahagia berjalan di samping pria yang kamu cintai." Gumam Adam yang di dengar oleh Ferry.


"Andai Nona Endah belum menikah mungkin aku akan mengejar cintanya Tuan. Itu pun jika Tuhan memberi ku kesempatan untuk memilikinya." Ucap Ferdy yang menatap serius wajah Adam.


"Ck. Kamu ini bisa saja Fer, bisa-bisanya kamu mau mengejar wanita seperti keponakan ku itu. Kalau aku jadi kamu lebih baik Tuhan tidak memberi kesempatan aku untuk memiliki wanita macam Endah. Kepribadiannya sulit di tebak. Dia terlihat menyedihkan, manja, menyebalkan, bersikap bar - bar, kelakuannya seperti orang yang sudah tidak waras dan sekarang dia terlihat seperti wanita berdarah dingin. Saran ku carilah wanita yang lemah lembut dan bisa memanjakan mu Fer, tidak seperti Endah. Kau bisa ikut tidak waras jika memiliki pasangan seperti dia." Ucap Adam panjang lebar kemudian menepuk pundak Ferdy dan masuk ke dalam mobil miliknya.


Sedang Ferdy tengah asyik melihat Endah dan Jimmy yang bertukar saliva di sembarang tempat.


"Andai aku yang berada di posisi Jimmy mungkin, hari-hari ku akan berwarna."batin Ferdy melihat iri keromantisan mereka.


"Fer, sampai kapan kau masih mau disitu?" Tegur Adam dari dalam mobil, ia membuka kaca jendelanya untuk menegur Ferdy yang masih setia di posisinya.


"Oh... maaf Tuan," Ferdy segera naik ke dalam mobil.


Mobil Adam pun melaju meninggalkan restauran Da Costa. Saat melewati pasangan yang sedang di mabuk cinta itu, Adam meminta supirnya untuk mengklakson panjang mereka berdua.


"Tinnnnnnn..." mereka berdua terkejut dengan suara klakson dari mobil Adam.


Suara klakson mobil Adam membuat mereka menghentikan kegiatan mereka yang saling bertukar saliva.


"Lanjutkan di kamar kalian, dasar pasangan tak tahu malu." Ejek Adam pada keduanya dengan senyum mengejeknya kemudian mobil pun berlalu pergi tanpa menunggu mereka merespon ejekannya.


"Behhh... punya Paman songong minta di gibeng," cerocos Endah sambil menendang udara.


"Gibeng itu apa sayang?" Tanya Jimmy yang tidak mengerti.


" Gibeng itu pukul sayang, kok kamu ganteng-ganteng katro sih hehehe..." ucap Endah kemudian memeluk tubuh kekar suaminya.


"Katro???" Jimmy membeo, lagi-lagi dia tak mengerti denga kata-kata yang di gunakan Endah.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu gak tahu lagi?!"


"Iya aku gak tahu sayang," jawab Jimmy jujur.


"Hahaha... ya sudah buat PR ya, kalau mau mende.sah bareng aku besok, kamu harus udah tau jawaban apa itu katro ya dan ingat gak boleh nanya sama mbah goggle, ingat itu babang Jimmy ku sayang," ucap Endah dengan menoel hidung mancung Jimmy.


"Loh kok gitu?! Jangan dong sayang! Aku susah kalau gak cari di goggle."


"Biasakan bertanya sama orang lain jika kita tidak tahu sesuatu sayang, jangan terus bergantung sama si Mbah oke?! Kalau aku tahu kamu nyari di mbah goggle aku pastikan si Junior akan puasa sampai dua bulan kedepan. Bagaimana hum?" Ucap Endah dengan menurun naikan kedua alisnya.


"Ya Ok, jadi aku boleh unboxing kamu kalau udah tau artinya Katro?"


"Hu'um sayang,"


"Beratnya mau Unboxing kamu aja banyak syarat dan ketentuan berlaku." Ucap Jimmy dengan memasang wajah cemberut seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan.


Di sisi lain, di unit apartemen Andre terlihat kesal dan terus saja uring-uringan. Pasalnya Jessica tidak mau pulang ke unitnya, ia lebih memilih tidur bersama ibunya. Rindu berat pada sang Ibu menjadi alasannya untuk membiarkan suaminya tidur sendiri di unit apartemennya.


Berkali-kali Andre mengirim pesan merayu Jessica untuk kembali ke unitnya namun tidak berhasil, Jessica yang kesal malah mematikan ponselnya, agar Andre tak bisa menghubungi Jessica.


Di kota D, Nico terlihat gelisah sampai tak enak makan. Ia sudah berkali-kali menghubungi Lestari namun ponselnya masih tidak bisa di hubungi. Ada rasa khawatir dan gelisah karena merindukan kehadiran sang istri. Pasalnya baru kali ini Lestari pergi jauh tanpa dirinya.


Nico hanya butuh mendengar suara sang istri untuk mengobati kegelisahannya. Ia mencoba menghubungi putranya untuk menanyakan kabar sang istri, namun Nico seperti sengaja tak mau mengangkat panggilan telepon sang Ayah. Nico sangat mengerti Leon tengah kecewa padanya karena tidak ikut hadir bersama sang istri serta ke dua orang tuanya ke kota J untuk menghadari konversi pers besok.


Ingin rasanya Nico mengesampingkan gensinya untuk menghubungi Dewi sang Mommy ataupun Abrajam, agar bisa mengetahui kabar sang istri ataupun bahkan berbicara dengan sang istri, namun gensi daj egonya masih terlalu tinggi, ia masih sulit untuk membuka komunikasi terlebih dahulu oleh kedua orang tuanya setelah sekian puluh tahun dia menutup komunikasi dengan kedua orang tuanya setelah ia kabur di acara pernikahannya dengan Melani.


"Bu, bagaimana kabar Ayah? Apa ibu sudah memberi kabar kepada Ayah?" Tanya Jessica yang sedang berbaring disamping Ibunya.


"Kabar Ayahmu baik dan sehat Nak, ibu sedang tidak ingin bicara dengan ayahmu, ponsel Ibu, ibu biarkan mati agar ayahmu tidak bisa menghubungi Ibu." Jawab Lestari sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Pasti sekarang ayah sedang tidak bisa tidur karena mencemaskan Ibu." Jessica menebak yang terjadi pada Ayahnya disana.


"Mungkin, karena ini pertama kalinya kami berjauhan dan tanpa kabar."

__ADS_1


"Apa ibu sedang mencemaskan Ayah juga sekarang?"


"Tidak, rasa cemas ibu sudah menghilang entah kemana."


"Kok bisa sih bu, bukannya ibu tak bisa seharipun tanpa ayah? Bukannya ibu selalu cemas jika ayah telat pulang kator walau hanya 5 menit saja?"


"Itu dulu, tidak mulai dari hari ini. Semua rasa tentang ayahmu sudah terkubur dengan rasa kecewa yang ibu rasakan saat ini."


"Bu, jangan bicara seperti itu bu!"


"Setelah mengetahui jika Cynthia bukan anak ibu dan mengingat perlakuan ayahmu terhadap mu dan Leon, ibu mulai membenci ayah mu. Dia terlalu menyayangi Cynthia yang bukan darah dagingnya sendiri, bahkan dia rela tak mau ikut mendampingi Abang mu untuk konversi pers besok hanya larena takut meninggalkan Cynthia sendirian disana, dia sudah menirikan kedua anak kandungnya sendiri hanya demi satu anak yang hukan darah dagingnya. Itu sangat menyakitkan bagi hati seorang Ibu Nak."


"Bu, ayah seperti itu karena tidak mengetahuinya, bu."


"Seharusnya sebagai seorang ayah, dia harusnya punya naluri yang kuat dan bisa membedakan yang mana anak kandung dan tidak seperti ibi yang sulit untuk menyayangi Cynthia. Pantas saja sejak lahir Cynthia tidak pernah mau diberi asi oleh ibu, karena dia bukan anakku." Tutur Lestari dengan air mata yang mengalir begitu deras dari kelopak matanya.


Sementara itu, mobil yang di tumpangi Jimmy dan Endah sudah sampai di apartemen Louis. Sang supir menurunkan mereka di lobby apartemen. Mereka masuk kedalam apartemen dengan saling bergandengan tangan dan juga saling melemparkan senyuman satu sama lain saat mereka saling beradu pandang.


Di dalam lift, setelah Jimmy menekan tombol lift ke lantai yang mereka tuju. Endah langsung naik ke tubuh Jimmy bagian depan. Jimmy dengan sigap langsung menggendong Endah.


Endah langsung menyambar bibir Jimmy yang terus menggodanya untuk di ***** habis.


"Kamu agresif, aku suka ini sayang." Ucap Jimmy di tengah-tengah ciuman mereka.


"Ting" suara bunyi lift tak menghentikan aksi mereka yang sedang bertukaran saliva. Jimmy keluar dari lift dengan menggendong Endah dan masih dalam posisi menggendong Endah.


Jimmy sudah memiliki ide untuk membawa masuk Endah ke unitnya dengan sengaja tak melepaskan ciuman hotnya dengan sang istri, namun sayang ide untuk membawa masuk Endah ke unitnya tidak di dukung dengan sikon yang ada, karena Andre tengah berdiri di depan pintu unit apartemen Jimmy.


"Apa kalian tidak punya rasa malu melakukannya sambil berjalan seperti itu?" Tegur Andre pada Jimmy dan Endah.


Membuat Jimmy melepaskan pangutannya dan menurunkan Endah dari gendongannya.


" Tuan apa Anda mencari saya?" Tanya Jimmy dengan suara dan wajah datarnya.

__ADS_1


"He'em Jim, temani aku menghabiskan malam ini, aku tak bisa tidur, istriku tidur dengan Ibunya." Jawab Andre dengan wajah lelah namun terlihat frustasi.


"Hah, gak Paman dan gak adik ipar kerjaannya ganggu aja. Cuma karena ditinggal Jessica tidur sama Ibu aja udah jadi penggangu kaya gitu apa lagi ahhhh....ngeselin" Gerutu Endah yang berjalan berlalu meninggalkan keduanya begitu saja setelah mendengar ucapan Andre.


__ADS_2