
Margareth tanpa sengaja mengikuti langkah Fabian yang keluar dari apartemennya secara mengendap-endap. Ia berhasil mengikuti langkah Fabian sampai di unit apartemen yang pernah ditinggali oleh mantan kekasih suaminya itu.
Semula Margareth menduga, Fabian kembali bermain gila dengan Rania tapi ternyata dugaannya salah. Fabian tengah asyik mengobrol dengan seorang wanita yang memanggilnya dengan sebutan Om.
"Om, aku akan kembali ke kota D bersama dengan Diego. Ia mengajakku untuk segera melakukan penculikan terhadap Jessica. Aku akan minta bantuan anak buah Papiku untuk melancarkan semua aksiku Om." Ucap Cynthia yang tengah duduk berdua dengan Fabian di sebuah sofa panjang dengan sebuah televisi yang dibiarkan menyala.
"Jangan sampai Jessica terluka dalam penculikan ini Cynthia!" Ucap Fabian yang mengingatkan Cynthia agar dia tak melukai wanita yanh di cintainya.
"Ya Om, tenang saja, aku dan Diego tak akan melukai wanita yang sangat kau cintai itu. Kau akan mendapatkan dirinya dalam keadaan mulus tanpa tergores sedikitpun." Balas Cynthia yang membuat Margareth menangkupkan kedua mulutnya.
Margareth begitu terkejut, air matanya jauh begitu saja bersamaan dengan rasa kecewanya. Ia merasa tertipu dengan semua kebaikan yang Fabian berikan selama ini padanya.
"Bie, teganya kau membohongi ku." Gumam Margareth dengan suarayang begitu pelan yang tak mungkin di dengar oleh Fabian.
"Bagus Cynthia aku tak mau dia sampai terluka, aku ingin dia dan bayinya dalam keadaan selamat dan sehat saat bertemu denganku." Ucap Fabian dengan senyum yang mengembang di wajahnyam
"Om sebaiknya memesan tiket yang sama seperti Diego karena Diego akan membawa Jessica menggunakan kapal pesiar dari negara tetangga menuju London, Om."
"Kau tenang saja itu masalah gampang, yang jadi masalahnya bagaimana caranya aku melenyapkan anak itu setelah aku mendapatkan Jessica?"
"Mudah Om, buang saja dia dilaut. Tak akan ada yang mencari keberadaannya. Dia sudah tak memiliki siapapun di dunia ini Om."
"Hahahaha kau benar Cynthia, idemu sangat berlian."
"Lalu bagaimana dengan keluarga Om, apa Om akan meninggalkan mereka demi Jessica?" Tanya Cynthia yang jawabannya sangat di nantikan oleh Margareth.
__ADS_1
"Aku akan meninggalkan mereka, beberapa minggu belakangan aku sudah berusaha membahagiakan mereka. Mereka bisa menganggap semua itu adalah kenangan terindah dari diriku." Jawab Fabian yang menambah sakit hati dan kecewa yang dirasakan Margareth.
"Kejam kamu Bie! Rasa cintamu pada Jessica sudah membutakan mu Bie, kamu rela mengorbankan ketiga anak kita hanya demi wanita yang sudah tak memiliki perasaan apapun padamu." Batin Margareth yang terlihat begitu terluka dengan kenyataan yang ia terima.
"Jika kamu memang berniat meninggalkan kami, biarkan kami saja yang meninggalkan mu Bie." Margareth yang sudah mengetahui semua pembicaraan Fabian dan Cynthia bertekad untuk meninggalkan Fabian.
Ia pergi meninggalkan unit apartemen milik Fabian itu, ia segera kembali ke unit apartemennya. Ia segera mengemasi barang-barang miliknya dan juga ketiga anaknya di bantu oleh salah seorang pengasuh anaknya.
"Nyonya kita mau kemana malam-malam begini?" Tanya Pengasuh Kenzo yang terlihat sangat mengantuk itu.
"Yang pasti kita akan pergi, kamu sudah jangan banyak tanya segera kemasi barang-barang kamu setelah barang-barang kenzo sudah selesai kamu kemasi!"
"Baik Nyonya."
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah siap berkemas dan sampai di basemen, tempat dimana Margareth memarkir mobil miliknya. Mereka semua masuk kedalam mobil sedan mewah keluaran negara Eropa itu. Margareth memasukkan semua barang-barang yang dibawanya menggunakan troli kedalam bagasi mobilnya.
Fabian berteriak memanggil-manggil nama istri dan juga ketiga anaknya. Ia berlari menuju lantai dasar, ia ingin bertanya pada staff resepsionis apakah mereka melihat keluarganya pergi meninggalkan apartemen atau tidak.
Baru saja Fabian menginjakkan kakinya di lantai dasar dan belum sempat ia bertanya pada staff resepsionis, Fabian melihat bayangan mobil Margareth baru saja melewati Lobby apartemen.
"Sial dia pergi! Apa dia mendengar pembicaraan ku tadi dengan Cynthia? Gawat jika dia mengetahuinya, dia bisa saja membocorkan semua ini pada Jimmy, assisten Andre." Umpat Fabian kesal.
Ia segera mengambil langkah cepat namun masih terlihat normal agar tidak mengundang kecurigaan orang disekitarnya. Ia berjalan ke parkiran mobil yang berada tak jauh dari Lobby apartemen.
Ia hendak menyusul Margareth, ia akan menanyakan penyebab mengapa dia membawa anak-anak mereka pergi meninggalkan dirinya. Jika Margareth mengetahui semua pembicaraannya dengan Cynthia.
__ADS_1
Maka Fabian akan mengancam Margareth, dia akan mengambil hak asuk ketiga anak mereka, seperti dahulu kala.
Fabian menancapkan kecepatan tinggi pada kendaraannya menyusul keberadaan mobil Margareth yang sudah berada jauh di depannya. Dia berulang kali mencoba menghubungi ponsel Margareth namun tak berhasil karena Margareth tengah berusaha menghubungi Jimmy. Ia ingin mengatakan semua yang ia dengar dari pembicaraan Fabian dan Cynthia pada adik sepupunya itu.
Namun belum sempat ia tersambung sebuah truk dari arah berlawanan datang dan terlihat sengaja menabrak mobil Margareth hingga hancur tak berbentuk.
Seseorang wanita tua yang berada di dalam mobil yang tak jauh dari tempat kejadian terlihat tersenyum senang melihat bagaimana mobil itu terus terseret dan terguling-guling berkali-kali. Sungguh wanita yang tidak memiliki hati nurani.
"Akhirnya aku bisa menyingkirkan dirimu dan ketiga anakmu yang sudah jadi penghalang berkali-kali didalam rencanaku, Margareth. Seharusnya sejak dulu saja aku melenyapkan mu." Ucap wanita tua itu tanpa belas kasih sama sekali. Menghilangkan nyawa menantu dan tiga cucunya sekaligus.
"Fabian, putraku, Mommy datang untuk membantu mu Nak hahahhaha... Kamu tidak perlu khawatir dia tak akan sempat menghubungi siapapun Nak, karena Mommy mu sudah meretas ponsel milik istri bodohmu itu. Rencanamu bersama keponakan tercinta mu akan tetap terlaksana tanpa ada yang menghalangi kalian lagi. Dewi bersiaplah untuk menangis setelah ini. Hahahaha....." Ucap wanita tua itu yang tak lain adalah Suci.
Fabian mulai mengurangi kecepatan mobilnya ketika jalanan yang lengang tiba-tiba menjadi padat, karena banyak orang yang menghentikan kendaraannya.
Rasa tanya menyeruak di dalam hatinya, ada apa di depan sana kenapa semua orang menghentikan kendaraannya. Tiba-tiba saja perasaan hatinya tidak enak, gelisah menghampiri dirinya. Fabian benar-benar menghentikan kendaraannya ketika mobilnya tak bisa lagi melaju.
Fabian memutuskan untuk turun dan bertanya pada seseorang yang berlawanan arah yang sudah melewati jalan yang belum ia lewati.
"Maaf Pak, ada apa di depan sampai tak bisa jalan seperti ini?" Tanya Fabian yang terlihat begitu penasaran dan diliputi kegusaran di dalam hatinya.
"Ada kecelakaan Pak, seorang pengendara wanita dengan tiga anaknya, sepertinya mereka tewas di tempat setelah sebuah truk melakukan tabrak lari Pak. Ada juga seorang Baby sitter yang terkapar karena berusaha menyelamatkan diri dengan melompat Pak." Jawab pengguna jalan yang melintas itu.
"Apa??" Fabian terkejut mendengar penuturan pengguna jalan itu.
Tubuhnya melemas, tubuh kekarnya itu hampir saja terhuyung jatuh namun ia berusaha kuat dan tetap dalam kesadarannya.
__ADS_1
Hanya dengan mendengarkan apa yang disebutkan oleh orang tersebut membuat Fabian yakin bahwa Margareth dan ketiga anaknyalah yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
Bukan perpisahan yang seperti ini yang Fabian inginkan bersama istri dan ketiga anaknya.