Cinta Jessika

Cinta Jessika
Perjalanan menuju Kota D


__ADS_3

Pagi itu Andre hanya mengantar Jessica hingga area check-in, setelah Jessica melakukan verifikasi boarding pass oleh petugas dan masuk kedalam area boarding lounge Andre segera kembali ke mobil. Bowo yang mengemudikan mobil milik Andre segera membawa Andre masuk kedalam lapangan udara dimana pesawat Jet pribadi milik keluarga Brata Kusuma itu di parkirkan.


Jessica yang berada di area boarding lounge berbaur dengan teman-teman kerjanya sambil menunggu  boarding time. Dari kejauhan Fabian yang tengah duduk menyendiri terlihat sedang memandangi gerak-gerik Jessica yang mencuri perhatiannya. Ia ikut larut dalam diri Jessica yang ia pandangi, Fabian ikut tersenyum ketika Jessica sedang tertawa dan ia terlihat menyeryitkan alis tebalnya ketika Jessica terlihat sedih karena terus di goda teman-teman kerjanya. Entah mengapa dari tadi malam ia merasakan akan begitu kehilangan sosok Jessica. Saat melihat Jessica seperti saat ini rasanya ia ingin berlari memeluk Jessica dengan erat dan berkata tolong jangan pergi dalam hidupku.


Tanpa terasa airport announcement panggilan boarding pesawat mereka sudah terdengar. Mereka segera bersiap untuk naik kedalam pesawat yang akan mereka tumpangi menuju kota D. Fabian yang melihat Jessica  dan karyawannya yang lain akan berjalan melewati dirinya segera berdiri. Ketika Jessica berjalan melewati Fabian, Fabian segera menarik tangan Jessica dan berjalan sembari menggandeng erat tangan Jessica.


“Biarkan aku berjalan menggandeng tanganmu. Aku takut kamu tertinggal karena jalanmu yang seperti siput ini bisa membuatmu ketinggalan pesawat.”Kata Fabian beralasan pada Jessica.


Jessica yang terkejut dengan apa yang dilakukan Fabian, matanya terus saja memandangi Fabian yang matanya terus menatap kedepan. Dibalik kacamata hitam dan masker yang ia gunakan ia sedang tersenyum senang bisa mendapat kesempatan berjalan bergandengaan tangan dengan Jessica.


“Om Duda, kenapa kamu bisa bersikap semanis ini setelah hatiku sudah jauh pergi meninggalkan mu? Kenapa baru sekarang Om, tanganmu berusaha menggapai diriku yang tak mungkin lagi tergapai olehmu. Maafkan aku Om, maafkan aku yang tak bisa mempertahankan rasa cintaku pada mu Om, ada alasan lain dibalik rasa sakit dan kecewaku pada mu yang membuatku pergi berpaling dari mu Om, karena aku akui aku hanya merasakan getaran cinta hanya pada Kak Andre tidak dengan dirimu. Semoga kamu bisa segera melupakanku dan berbahagia dengan Mbak Rania yang masih menjadi kekasihmu.” Batin Jessica ketika Fabian menggandeng tangannya. Tak terasa buliran bening jatuh dari kelopak mata Jessica membuat Jessica memeluk lengan kekar Fabian yang menggandeng dirinya.


“Kamu kenapa hemm?” Fabian menoleh dan bertanya pada Jessica. Jessica menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


Fabian tahu Jessica sedang menitikkan air matanya.


“Aku tahu masih ada rasa cinta untukku di hatimu Jess, tapi kamu menutupnya dengan begitu rapat karena kamu tidak mau menyakiti dan mengecewakan Andre kekasih mu yang beruntung itu.” Batin Fabian.


Kini mereka sudah masuk kedalam kabin pesawat. Jessica melihat boarding pass miliknya untuk melihat dimana tempat duduknya. Jessica membola seketika setelah menyadari boarding pass miliknya tertulis VIP Class.


“Kenapa?” tanya Fabian.


“Kok aku di VIP class pak?” sahut Jessica.


“Memang kenapa jika kamu di VIP class ? Tidak mungkin aku meletakkan kekasih dari Client ku di economy class kan?” sahut Fabian. Jessica hanya diam mendengar jawaban Fabian yang bisa di terima akal sehatnya.


“Duduklah, sheetmu bersebelahan dengan ku!” pinta Fabian. Fabian mengambil ransel yang Jessica gunakan dan meletakkan tas itu di dalam bagasi kabin.


Jessica duduk bersebelahan dengan Fabian. Dengan posisi Jessica duduk didekat Jendela. Mereka duduk menunggu pesawat take off di landasan pacu.


“Jess, bolehkan izinkan aku memiliki dirimu satu jam saja selama perjalanan kita ke kota D. Sekali saja aku mohon! Sejak semalam aku merasa akan kehilangan dirimu, seakan kamu akan pergi dariku untuk selama-lamanya.”


“Hah… maksud Bapak saya mau mati gitu? Kok serem banget sih ngomongnya, mana pesawat kita mau lepas landas lagi. Saya jadi takut kaya di film-film nih.”ucap Jessica yang salah mengartikan ucapan Fabian.


“Bukan begitu maksud aku Jes.” Sahut Fabian sambil tersenyum geli melihat wajah Jessica yang berubah ketakutan namun menggemaskan menurut Fabian.


“Ya terus apa? Jangan ngomong yang aneh-aneh deh!” cerocos Jessica yang menyadarkan tubuhnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di dadanya.

__ADS_1


“Kasih aku kesempatan memperlakukanmu layaknya kekasihku 1 jam saja selama kita di dalam perjalan menuju kota D.” Pinta Fabian yang menatap wajah Jessica penuh harap.


“BIG NO Pak, itu namanya aku selingkuh.”


“Tidak kamu tidak selingkuh, aku tidak akan melakukan apapun aku hanya akan menggenggam tangan mu seperti tadi selama perjalanan kita.”


“Gandeng-gandeng aja tapi ga dengan memperlakukan aku layaknya kekasih Bapak. Inget Pak Mbak Rania itu masih jadi kekasih bapak lho. Jadi belajarlah menjadi laki-laki yang  setia pada pasangannya dan jangan suka menyakiti hati perempuan karena hanya keinginan sesaat saja. Bukannya bapak punya anak perempuan. Apa Bapak mau anak perempuan Bapak diperlakukan sama seperti Bapak memperlakukan Mbak Rania?” Jessica menggurui Fabian.


“Ya baiklah… Kau terlalu keras kepala sekali ternyata.” Umpat Fabian yang merasa kecewa permintaanya di tolak Jessica.


Jessica mengubah jaringan ponselnya menggunakan fitur Airplane mode kemudian mendengarkan musik mp3 yang tersimpan di memori ponselnya dengan menggunakan headset bluetooh miliknya. Saat pesawat mengudara Fabian terus saja menggenggam sebelah tangan Jessica. Sedang Jessica terlihat menikmati penerbangannya dengan memejamkan mata sembari mendengarkan musik dengan volume suara yang tinggi. Ia lebih memilih beristirahat dalam perjalanannya karena dia tahu ketika sampai di kota D dia akan disibukkan dengan berbagai persiapan event.


Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan sempurna di Bandara Kota D. Para penumpangan pesawat segera turun meninggalkan cabin pesawat. Fabian kembali menggandeng Jessica turun dari pesawat. Fabian tidak memperdulikan lagi pandangan para karyawannya pada dirinya dan Jessica. Sedang Jessica mulai tak perduli dengan tatapan penuh arti yang diberikan teman-teman kantornya kepada dirinya. Dia menganggap toh sebentar lagi kontrak kerjanya di perusahaan Fabian akan segera berakhir dan dia tak akan lagi bertemu dengan orang-orang  kantor yang tidak menyukai dirinya.


Semenjak turun dari pesawat Fabian makin merasa gelisah. Perasaannya makin tak enak dan karuan, dia tidak mengerti mengapa dia merasakan gejolak aneh didalam dadanya. Setelah keluar dari Bandara mereka naik sebuah bus eksekutif yang telah disewa oleh perusahaan Fabian untuk mengangkut dirinya dan juga karyawannya selama mereka berada di kota D.


Fabian meminta supir Bus membawa mereka ke Mall Grand Abraham, selain untuk mengajak makan siang bersama para karyawannya di restorant yang ada didalam Mall, dia juga akan melakukan pengecekkan di bagian Loading Dock Mall terlebih dahulu sembari menunggu Mall buka. Ia ingin memastikan mobil pameran yang harganya milyaran rupiah itu sudah berhasil masuk kedalam area pameran  Mall.


Bus yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat berada di depan area Loading Dock Mall. Fabian dan seluruh karyawannya turun dari bus. Fabian tercengang melihat mobil yang akan dipamerkan masih berada di luar. Pantas saja hatinya begitu merasa tak enak dan gusar. Ternyata terjadi masalah disini.


“Gung… Kenapa semua mobil pameran ini belum masuk? Bukannya seharusnya mobil ini masuk dari pagi dini hari?” tanya Fabian yang begitu was-was.


“Iya Pak kita tidak dapat izin masuk, saya dari tengah malam sedang menunggu orang yang berwenang memberikan izin.” Jawab Agung.


“Kamu bawa surat izin yang diterbitkan mereka-kan?” tanya Fabian.


“Bawa Pak.”


“Lalu kenapa tidak boleh masuk? Ini mobil mahal Gung, kalau dibiarkan diluar seperti ini dan sampai lecet gimana?” tanya Fabian dengan raut wajah yang kesal marah dan cemas menjadi satu.


“Saya tidak tahu Pak, saya juga bingung. Saya sampai tidak tidur dan belum makan apapun karena ini semua Pak.” Agung sudah bingung mau menjawab apa.


Fabian yang mendengar jawaban Agung hanya bisa diam dan tidak bisa menyalahkan karyawannya ini. Karena kesalahan terketak dari pihak Mall Grand Abraham yang seenaknya tidak memberi izin padahal karyawan Fabian sudah mengantongi surat izin yang di terbitkan Mall Grand Abraham untuk memasukkan keperluan pameran.


Fabian menghampiri karyawan Mall dan menanyakan semua pertanyaan yang ada di kepalanya pada karyawan Mall itu. Karyawan Mall menanyakan nama Fabian dan posisi Fabian di perusahaannya. Setelah mendapatkan jawaban dari Fabian. Segera karyawan Mall mengabari seseorang menggunakan HT (Handy Talky) menggunakan bahasa isyarat yang Fabian tidak mengerti.


Tak lama berselang dari karyawan Mall yang menghubungi seseorang. Datanglah seorang pria berkaca mata hitam yang menghampiri Fabian dengan menggunakan setelan jas hitam.

__ADS_1


“Selamat pagi menjelang siang Pak Fabian, Perkenalkan saya Ferdi.”


“Ya Pak Ferdi langsung saja kenapa barang-barang saya tidak diizinkan masuk kedalam?” tanya Fabian dengan nada kesalnya kesabarannya sudah mulai habis.


“Baik Pak Fabian mohon ditunggu sebentar ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda.” Ucap Ferdi dengan ponsel ditangannya dan menyodorkan ponsel itu pada Fabian. Fabian pun mengambilnya.


“Hallo Fabian, perkenalkan saya Adam, anak dari pemilik Mall Grand Abraham.” Sapa Adam memperkenalkan diri.


“Hallo Pak Adam.” Sapa Fabian.


“Mungkin Anda terkejut karena pihak kami tidak mengizinkan mobil dan barang-barang Anda untuk masuk kedalam Mall milik kami ini.”


“Ya tentu ini sangat membuat saya terkejut dan was-was. Sebenarnya ada apa Pak Adam tolong langsung pada pokok intinya saja.” Fabian sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Adam.


“Baiklah jika Anda ingin langsung pada pokok inti dari permasalah ini Pak Fabian. Sebenarnya keluarga Anda sedang bersitegang dengan keluarga besar Abraham. Kesalahan Ibu Anda dan sepupu Anda Melani yang sudah menukar dan membuang cucu perempuan Tuan Abraham membuat Tuan Abraham marah besar kepada kesalahan fatal yang dilakukan keluarga Anda. Tuan Bagas berjanji akan membawa Melani kehadapan Tuan Abraham namun sampai sekarang tidak ada kabar apapun dari Tuan Bagas, Orang tua Anda itu. Jadi Tuan Abraham dengan berat hati membatalkan izin penggunaaan Mall Abraham untuk Event yang akan Anda selenggarakan.”


“Tapi tidak bisa begitu Pak. Pak Adam tidak bisa memncampurkan masalah pribadi dengan urusan bisnis Pak.”sanggah Fabian.


“Tentu bisa Pak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan?” ucap Adam.


“Saya mohon Pak, Client saya yang menggunakan jasa saya adalah perusahaan Batara Group. Perusahaan nomor satu di negeri ini. Jika Event mereka sampai gagal karena masalah keluarga saya. Saya akan dalam masalah besar.”


“Itu sudah jadi urusan Anda Pak Fabian terkecuali Anda mau melakukan syarat-syarat yang saya berikan kepada Anda maka saya akan mengizinkan Anda memnggunakan Mall saya ini untuk Event yang kalian gagas.” Tawar Adam.


“Baik apapun syaratnya akan saya penuhi Pak Adam.” Sahut Fabian segera menyanggupi tawaran Adam.


“Baiklah kalau begitu. Syarat yang pertama Anda harus membantu kami menemukan Melani, Syarat yang kedua saya menginginkan Anda memberikan karyawan Anda yang bernama Jessica pada saya.”


DEG!! Jantung Fabian seakan berhenti berdetak. Ia menatap Jessica yang sedang berdiri jauh dari dirinya, yang tengah sibuk berswafoto bersama teman-teman kerjanya. Tak sampai hati ia menukar wanita yang ia cintai untuk pria tua yang tengah menghubunginya itu. Bagaimana jika Andre mengetahui dia menukar kekasihnya dan seakan menjual Jessica demi Eventnya? Fabian dalam dilema.


“Untuk syarat yang pertama aku akan melakukannya dan untuk syarat yang kedua apa bisa diganti dengan yang lain?” Fabian mencoba menawarnya.


“Maaf Pak Fabian saya tidak menerima tawar – menawar.”


“ARRGHHHHH” pekik Fabian sembari menedangkan kakinya ke udara.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2