Cinta Jessika

Cinta Jessika
Hati Nico mulai tak baik-baik saja


__ADS_3

Pagi hari di apartemen Louis. Lestari sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya dan kedua menantunya. Dia meminta putranya untuk membangunkan kedua putrinya dan kedua menantunya itu dengan mendatangi ke Unit apartemen mereka masing-masing karena Lestari sudah mencoba menghubungi ponsel kedua putrinya dan juga kedua menantunya namun mereka sangat sulit untuk dihubungi.


" Cepat datangi kedua adikmu di unit suami mereka Nak! Nanti masakan ibu ke buru dingin." Pinta Lestari pada Leon putranya.


"Sudahlah bu, kita sarapan terlebih dahulu saja, ibu seperti tidak tahu apa yang dilakukan pengantin baru saja." Sahut Leon yang menolak mendatangi ke dua unit aparteman kedua adiknya itu.


"Kamu tuh selalu malas kalau di suruh bangunkan adik-adik mu Leon. Kalau kamu tidak mau biar ibu saja yang bangunkan mereka." Lestari berkata yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan putranya yang sedang menikmati secangkir kopi di meja makan seperti kebiasaan Nico sang Ayah di pagi hari.


"Ja-jangan bu, nanti ibu bisa mengotori mata ibu melihat apa yang mereka lakukan!" Cegah Leon yang menarik lengan sang Ibu. Namun usahanya itu tak berhasil, Lestari menghempas kasar tangan Leon yang memegangi tangan sang Ibu.


Lestari melangkahkan kakinya keluar dari unit Leon dan berjalan ke unit Jessica terlebih dahulu dengan di ekori ileh sang putra. Ia menekan bel yang berada di samping pintu.


Dua kali ia menekan bel, pintu unit apartemen Andre pun terbuka. Bi Lastri yang tengah memasak sarapan untuk Tuan dan Nyonya-nya itu menghentikan kegiatan memasaknya untuk membukakan pintu.


"Nyonya, ada di sini?!" Tanya Bi Lastri yang terkejut dengan kehadiran Lestari di depan pintu unit apartemen majikannya.


Bi Lastri sudah mengenal Ibu dari Nyonya mudanya itu, karena saat acara pernikahan Andre dan Jessica ia turut menghadiri acara terpenting di hidup Tuan muda yang sejak kecil ia asuh itu.


"Iya Bi, apa anak dan menantunya sudah bangun Bi?" Tanya Lestari.yang masih berdiri di muka pintu.


"Belum Nyonya, sepertinya baru tidur setelah jam 5 pagi." Jawab Bi Lastri yang mengetahui dari suara ******* ke duanya yang menggema di seluruh ruangan.


"Boleh saya masuk Bi?" Tanya Lestari lagi pada Bi Lastri.


"Maaf Nyonya saya jadi lupa mempersilahkan Nyonya untuk masuk, silahkan masuk Nyonya." Ucap Bi Lastri dengan membungkukkan tubuhnya.


Lestaripun masuk ke dalam unit apartemen sang menantu.


"Dimana kamarnya Bi?" Tanya Lestari yang berjalan terlebih dahulu.


"Di atas Nyonya." Jawab Lastri yang menengadahkan kepalanya menunjuk kamar Tuan dan Nyonya mudanya.


Lestari melangkahkan kaki menuju anak tangga untuk menuju ke kamar anak dan menantunya itu namun labgkahnya di cegah oleh Leon.


"Bu, sudah biarkan mereka tidur, nanti juga kalau mereka merasa lapar mereka akan bangun. Mereka itu bukan anak kecil lagi." Leon mencegah langkah Lestari untuk menaiki anak tangga.


"Justru karena adik mu bukan anak kecil lagi, dia harus di biasakan bangun pagi untuk mengurusi kebutuhan suaminya, jangan mentang-mentang menikahi anak orang kaya dia melupakan kewajibannya." Ucap Lestari tegas kemudian menghempas lengan Leon.


Lestari tetap melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Kali ini Leon tak lagi mengikui langkah sang Ibu karena ia tak mau mengotori matanya melihat pemandangan yang tak ingin ia lihat. Leon memutuskan untuk tetap menunggu di bawah anak tangga terakhir.


Lestari menghentikan langkahnya di muka pintu kamar anak dan menantunya yang terbuka lebar itu. Nampak Andre masih bertelanjang dada memeluk tubuh sang istri yang tanpa busana namun tertutup selimut tebal.


Dengan ragu ia melangkah menghampiri ranjang anak dan menantunya itu. Membangunkan putrinya yang memeluk tubuh proposional sang suaminya.


"Jessica...Jessica...Jess...bangun nak," Lestari memanggil nama anaknya sambil menggoncangkan tubuh sang anak.


"Hemm... iya bu." Sahut Jessica dengan mata yang masih terpejam mendengar suara ibunya memanggil dan mengguncangkan tubuhnya.


"Bangun nak, tidak baik seorang istri bangun terlalu siang. Kamu masih ingat pesan ibu kan?"


"Hemm iya bu..." jawab Jessica membuka matanya berat.

__ADS_1


"Bersihkan dirimu, lalu siapkan semua keperluan suami mu sebelum ia bangun!" Perintah Lestari pada Jessica yang kini tengah duduk bersila, ia sedang mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran di alam mimpi.


"Hadduh ada ibu jadi gak bisa bangun siang padahal aku baru banget tidur ini." Umpat Jessica dalam hatinya.


"Jess, jangan tidur lagi bangun!" Lestari kembali menggoncangkan tubuh sang anak yang masih saja duduk sambil memejamkan mata, dapat di pastikan olehnya jika Lestari beranjak pergi pasti Jessica akan tidur kembali.


"Iya bu... ini aku lagi ngumpulin nyawa 5 menit lagi bu,"jawab Jessica dengan mata yang masih terpejam.


"Jangan banyak alasan Nak! Memangnya nyawa kamu berceceran di mana harus kamu kumpulin humm?" Balas Lestari yang mencubit hidung mancung sang anak.


"Iya...iya... aduhhh sakit bu, owhhh...ihhh aku terjajah Ibu sekarang setelah tengah malam dijajah Kak Andre." Sahut Jessica yang menuruti perintah sang Ibu.


Ia turun dari ranjangnya begitu saja, Jessica tak memperdulikan lagi pandangan Lestari sang Ibu yang melihatnya turun dari ranjang dalam kondisi polos tanpa tertutup sehelai benang pun. Dengan cueknya ia berjalan menuju kamar mandi dengan tak menutup tubuhnya itu. Membuat Lestari segera melihat kebelakang mengecek adakah Leon disana, Lestari khawatir Leon melihat apa yang dilakukan adiknya itu. Lestari merasa begitu lega karena tak melihat bayangan putranya di muka pintu kamar anak menantunya itu.


Setelah ia memastikan Jessica membersihkan diri di kamar mandi, Lestari memutuskan keluar dari kamar anak menantunya itu. Ia menuruni anak tangga nampak Leon masih setia menunggu dirinya di bawah anak tangga terakhir.


"Apa Ibu berhasil membangunkan putri tidur ibu itu?" Tanya Leon pada sang Ibu.


"Ya, adik mu sedang membersihkan dirinya di kamar mandi."


"Apa ibu akan membangunkan Endah dan Jimmy juga? Mereka itu masih pengantin baru bu, ibu tahukan pasti mereka sedang berbuat apa?" Tanya Leon lagi pada sang Ibu dengan lirikan mata yang tajam .


"Tidak nak, Ibu tak akan mengganggu pengantin baru itu, lagi pula ibu belum pernah mengajari Endah tentang hak dan kewajiban seorang istri pada seorang suami."


"Ibu, baik banget sih mau ngajarin kedua putri ibu bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Bu, nanti Anna di ajarin juga ya bu, biar Anna bisa jadi istri yang baik seperti ibu," ucap Leon yang langsung memeluk tubuh mungil sang ibu.


"Tentu sayang, ibu akan berusaha bersikap adil kepada anak dan menantu ibu. Kebahagian kalian adalah kebahagian ibu. Kesedihan kalian adalah kesedihan Ibu juga."


"Leon kamu tidak boleh seperti itu. Kamu ini ya posesif sekali, kalau kamu seperti ini kamu jadi sangat mirip sekali dengan ayahmu."


"Tapi lebih Ganteng dan baik aku kan bu?"


"Iya putra ibu memang lebih ganteng dan baik dari Ayahnya. Ayo nak, kita balik ke unit mu." Ajak Lestari yang merangkul lengan putranya.


"Terus gak nunggu Jessica dan Andre untuk sarapan pagi bersama dulu nih bu?" Tanya Leon sembari menunjuk kamar Andre dan Jessica.


"Sepertinya ndak perlu nak, biar nanti Bi Lastri ambil masakan ibu untuk mereka." Jawab Lestari yang membuat Leon memutar bola matanya.


"Terus ngapain kesini bu klo gak nungguin mereka untuk sarapan bareng sama kita?" Tanya Leon dengan mimik wajah yang kesal namun tertahan.


"Cuma mau ingetin adikmu akan kewajibannya, jangan mentang-mentang punya suami anak orang kaya lalu dia bisa seenaknya melupakan kewajibannya karena sudah ada banyak assiten yang membantunya. Ayo nak, kita pulang ibu sudah merasa sangat lapar," Jawab Lestari yang kemudian menarik lengan putranya.


"Aduh Ibu ini kaya nggak bisa nanti saja ngingetinnya, kan nggak harus kesini sekarang juga cuma untuk bangunin Jessica buat ngingetin tugas dia sebagai seorang istri, aku udah ketar-ketir rencana aku dan kakek berantakan gara-gara Ibu tadi." Batin Leon.


Abraham dan Leon memang sudah merencanakan untuk tidak mengajak Jessica dan Endah. Untuk melancarkan rencana mereka.


*


*


*

__ADS_1


Lestari menikmati sarapan pagi mereka bersama dengan suasana hangat karena tanpa di sangka saat mereka kembali ke unit apartemen Leon, sudah ada Anna yang sedang menunggunya di meja makan.


Anna yang datang langsung mendapatkan training menjadi calon istri yang baik oleh calon ibu mertuanya. Setelah Leon meminta sang Ibu di depan Anna untuk mengajarinya bagaimana menjadi isri yang baik versi Lestari.


Anna yang ingin menyenangkan hatu Leon dan Lestari terus mengikuti apa yang dikatakan oleh Lestari. Anna mencoba melayani Leon di meja makan sesuai arahan yang Lestari berikan. Anna terus mengulas senyumnya menutupi rasa gugup dan rasa bahagianya yang menjadi satu.


Sementara itu di kota D, Cynthia menikmati sarapan paginya sendiri tanpa di temani sang Ayah. Nico memilih menyendiri di taman milik sang Mommy. Nico menatapi satu persatu pot-pot bunga yang belum lama di tanami oleh sang istri.


"Bu, apa kamu marah pada ku, hanya karena aku tak menemani putra kita di konferensi pers yang mengukuhkan putra kita sebagai pewaris kerajaan bisnis Daddy ku?" Gumam Nico dalam hatinya.


"Kenapa ke dua anak kita mengikuti jejak mu yang tak mau mengangkat panggilan teleponku, bahkan Jessica masih memblokir nomor telepon ku. Apa salahku pada mereka tidak bisa di maafkan? Kenapa mereka seakan menjauhiku dan membangun benteng yang begitu tinggi diantara diri ku dan diri mereka? Apakah ini karma yang harus ku terima setelah aku melakukan hal yang sama kepada kedua orang tuaku?" Gumam Nico yang begitu merana dalam lamunannya.


"Ayah, kenapa tidak sarapan dengan ku, aku jadi harus sarapan sendirikan jadinya?" Ucap Cynthia protes begitu saja saat menghampiri Nico. Namun Nico yang tengah melamun tak mendengar protesan Cynthia.


"Ayah... Ayah..." panggil Cynthia yang mengguncangkan tubuh Nico. Ia berusaha menyadarkan Nico dalam lamunannya.


"Eh... kamu nak, sudah makan sayang, apa perutmu sudah tak merasa mual muntah lagi hum?" Tanya Nico yang begitu perhatian dengan kehamilan Cynthia.


"Ayah kenapa melamun disini sih, aku jadi sarapan sendirikan jadinya." Protes Cynthia pada Nico.


"Maafin ayah ya sayang, ayah hanya sedang memikirkan ibu mu yang belum memberi kabar ataupun menghubungi Ayah. Ayah sangat merindukan ibu mu Nak,"


"Ibu pasti baik-baik saja Ayah, ayah jangan terlalu khawatir seperti itu. Ayahkan bisa hubungi Bang Leon untuk mengetahui kabar Ibu atau Jessica kalau perlu. Ayah lebay banget sih Ibu baru pergi sehari saja ayah sudah seperti ini." Balas Cynthia yang seakan tak mau mengerti dengan apa yang di rasakan Nico.


"Ayah sudah coba hubungi mereka tapi Leon tak mau mengangkat panggilan telepon ayah sedang adikmu masih memblokir nomor ayah."


"Mungkin Bang Leon sibuk kali Yah, lagi kenapa coba Jessica blokir-blokir nomor ayah? Jessica memang dasar anak gak tahu diri, makanya ayah jangan terlalu memanjakan dia, jadinya dia seperti itu sekarang, apalagi mentang-mentang sudah menikah dengan Andre dia jadi ngelunjak. Ya sudah kalau begitu Ayah coba hubungi Kakek atau Nenek saja supaya dapat kabar Ibu." Cynthia membahas Jessica dengan rasa tidak sukanya.


Namun kata-kata Cynthia tentang Jessica sama sekali tidak Nico gubris. Jauh dilubuk hati terdalamnya ia sedang merasa kehilangan sosok seorang putri yang selalu terlihat bahagia jika berada di hadapannya. Selalu diam tanpa kata jika ia memarahinya, tak pernah sedikitpun Jessica protes meskipun ia memperlakukan Jessica tidak adil.


"Tidak nak, jika harus menghubuni Kakek dan Nenek mu lebih baik tidak usah." Sahut Nico dengan wajah murungnya.


"Kenapa tidak mau si Ayah, ribet deh ayah ini, apa salahnya sih hubungin Kakek dan Nenek? kalau ponsel Cynthia ada pasti Cynthia bantu ayah hubungi ibu." Sahut Cynthia dengan muka kesalnya karena Nico menolak sarannya.


"Memangnya kamu kemana ponsel mu Cynthia? kamu itu suka sekali menghilangkan ponsel, ini ponsel ke 4 di tahun ini yang kamu hilangkan Cynthia. Uang tabungan ayah hanya habis untuk membelikan mu ponsel mu yang maha itu," Nico menatap kesal wajah Cynthia, dia sangat menyesal selalu membelikan ponsel mahal keluaran terbaru pada Cynthia dan sudah 4 kali di hilangkan. Nico merasa Cynthia benar-benar tak menghargai pemberian darinya.


Karena kesal pemberiannya tak di hargai Nico pun mengeraskan kedua rahangnya, ia juga mengeratkan gigi-giginya karena kesal bahkan mencengkram lengan Cynthia.


Tiba-tiba bayangan rasa bersalah pada Leon dan Jessica yang tidak pernah di belikan ponsel oleh dirinya hinggap di fikiran Nico.


Pasalnya Leon memiliki ponsel pertama kalinya karena memenangkan sebuah kuis adu kecerdasan dan ponselnya saat ini adalah fasilitas dari kantornya. Sedang Jessica memiliki ponsel pertama kalinya karena menang juara lari estafet di sekolahnya dan ponselnya saat ini ia beli sendiri dari jirih payahnya bekerja paruh waktu.


Cynthia yang pandai memainkan perasaan Nico pun langsung memasang wajah sedihnya sembari mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Membuat Nico melonggarkan rahangnya dan melepaskan cengkramannya.


"Maafkah Ayah Cynthia, kondisi hati ayah sedang tidak baik-baik saja. Nanti siang ayah akan membelikan mu ponsel baru, sekarang kembalilah ke kamar untuk istirahat. Ibu hamil harus banyak istirahat supaya perut kamu tidak kram."


"Benarkah Ayah?" Tanya Cynthia dengan wajah sumringah.


"Ya nanti siang ya." Jawab Nico sekenanya.


"Makasih Ayah, aku sayang ayah, ayah memang ayah yang terbaik di dunia ini." Ucap Cynthia yang memeluk erat tubuh Nico.

__ADS_1


__ADS_2