
Pukul 03.00 dini hari Fabian pulang ke rumahnya, Dengan berat hati Rania mengizinkan Fabian untuk pulang ke rumahnya dikarenakan Hana putri dari Fabian jatuh sakit, Hana mengalami demam tinggi, dia terus mengigau mencari Fabian dan juga Jessica.
Melihat kondisi cucunya yang seperti itu membuat Suci segera menghubungi anaknya, Fabian. Untuk segera pulang dan melihat kondisi putrinya itu, Inilah kondisi yang tidak disukai oleh Rania. Dimana dia harus berbagi Fabian dengan kedua anaknya.
Meskipun dia sangat membutuhkan Fabian di sisinya untuk saat ini, namun dia harus mengalah dan terpaksa mengalah membiarkan Fabian untuk pulang ke rumahnya.
Ya inilah resiko jika kita mencintai seorang duda dengan dua anak. Apalagi kita hanya mencintai orang tuanya saja tapi tidak dengan kedua anaknya, semua akan terasa berat dan menyakitkan karena merasa di nomor duakan. Seperti yang di alami Rania saat ini.
Setelah kepulangan Fabian Rania hanya duduk termenung sendiri diruang tunggu I C U.
Di sisi lain Fabian yang baru saja pulang dari rumah sakit segera membersihkan dirinya di kamar mandi pribadinya sebelum ia mendatangi kamar kedua putrinya.
Ketika sudah merapikan dan membersihkan dirinya, Fabian segera mendatangi Hana di dalam kamarnya.
"Ceklek" suara daun pintu terbuka.
Fabian melihat kebaradaan Suci yang sedang berbaring di tempat tidur Hana, ia menemani Hana yang sekarang tengah tertidur. Fabian melihat raut wajah anak yang begitu sendu dan gusar di dalam tidurnya.
" Papi mana Tante Jessica ku, aku ingin tante Jessica papi" Hana mengigau dalam tidurnya
Dia menghampiri tubuh mungil putrinya itu, dia meletakkan telapak tangannya di kening Hana, Iya dia sedang mengecek suhu tubuh Hana dengan telapak tangannya.
" Kau masih demam sayang, Kenapa kau bisa sampai sakit seperti ini? Maafkan Papi nak, Papi mungkin tidak bisa mengabulkan permintaanmu dalam waktu dekat" ucap Fabian dengan suara yang begitu lirih. Suara Fabian yang begitu lirih dan pelan itu masih bisa terdengar oleh suci yang tidak tidur dengan pulas di samping Hana. Ia pun akhirnya bangun dari posisi tidurnya. Ditatapnya wajah anak bungsunya itu.
" Kau sudah pulang nak? Kenapa kemarin kau tak pulang ke rumah? Lihatlah anakmu merindukanmu dan Jessica hingga ia jatuh sakit seperti ini!" tanya suci yang sedang menatap wajah anaknya yang sendu.
" Kemarin aku mencari keberadaan Jessica setelah dia pergi dari rumah Mom" jawab Fabian dengan pandangan matanya yang masih setia menatap putrinya.
" Apa Kau menemukannya?" tanya Suci lagi.
" Aku hampir saja menemukannya siang itu tapi aku gagal menghampirinya, karena aku sedang bersama Rania" ucap Fabian dengan wajah sedihnya.
"Dan aku sudah kehilangan Jessica Mom, seseorang sudah memilikinya, aku sudah terlambat" ucap Fabian lagi masih dengan wajah sedihnya.
" Kenapa bisa kamu hilangan dia? Siapa pria yang beruntung itu dan kenapa wajahmu kembali terlihat luka-luka lagi, kau berkelahi dengan siapa lagi nak? Ceritakan pada Mommy apa yang telah kau lalui kemarin!" tanya Suci ketika ia memperhatikan wajah anak bungsunya itu.
" Kemarin ketika Jessica berada di kamarku. Aku melamarnya mom namun lamaranku ditolak olehnya. Setelah makan siang bersama kedua anakku aku pergi dengan Alan mencari keberadaan Jessica. Aku mencarinya ke kampusnya tapi ternyata dia tidak ada di sana. Akhirnya aku pergi berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Rania ke apartemen. Sampai disana aku langsung mengutarakan niat ku pada Rania untuk mengakhiri hubunganku dengan Rania namun aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Rania Mom. Aku telah bersalah merusak anak gadis orang dan dia tidak mau melepaskanku karena aku sudah merebut kegadisannya. Jika aku pergi meninggalkannya. Dia mengancam akan bunuh diri di hadapanku dan Pria yang beruntung mendapatkan Jessica adalah Andre dari perusahaan Batara dan luka-luka pada wajahku ini karena aku kembali berkelahi dengannya." ucap Fabian yang sedang menahan kesedihannya.
"Kenapa kamu terlalu bodoh mementingkan hawa nafsumu dibandingkan akal sehatmu? Sekarang kau menyesal bukan?! Lihatlah karena hawa nafsumu yang bodoh itu anakmu menjadi korban dan kau kehilangan wanita yang kau cintai." ucap Suci pada anaknya dengan rasa kecewa.
" Iya mom, tak hanya kedua anakku yang menjadi korban dari kesalahan yang diriku perbuat. Jessica pun menjadi korban kecemburuan dari Rania" ucap Fabian dengan rasa sedih dan penyesalan.
" Apa yang diperbuat perempuan sundal itu pada Jessica Fabian?" tanya Suci dengan rasa kesal dan kebenciannya pada Rania.
" Kemarin tangan Jessica disiram air panas oleh Rania, dia cemburu karena melihatku menggandeng tangan Jessica ketika kami baru saja tiba di perusahaan" ucap Fabian yang mengejutkan Suci.
"Wanita itu begitu kejam dan jahat, lihatlah Fabian dia saja bisa melakukan tindakan kriminal itu kepada Jessica. Apa kamu tidak memiliki rasa takut dan khawatir jika nanti dia akan berbuat hal yang sama pada kedua putri mu?" tanya Suci pada anaknya.
__ADS_1
"Mom, jangan terlalu berprasangka buruk kepadanya! Dia melakukannya karena kesalahanku. Jika aku tidak menghadirkan Jessica diantara kami pasti dia tidak akan melakukannya." ucap Fabian yang seakan membela Rania dimata Suci.
" Sampai kapan kau dibutakan matamu oleh dia Nak? Seharusnya kau menyadari bahwa dia bukanlah wanita yang baik. Jika dia wanita yang baik seperti Jessica mungkin kedua anakmu sudah menerima kehadirannya sejak dulu." ucap suci yang berusaha membuka mata hati Fabian.
"Mom, Tolonglah jangan sudutkan aku! saat ini aku sedang merasa bimbang dengan jalan hidupku ini. Aku tidak bisa meninggalkan Rania tapi hatiku tidak terima Jessica meninggalkanku. Aku ingin merebut Jessica kembali dari tangan Andre. Tapi Rania saat ini sedang membutuhkanku. Andre sudah menghancurkan kehidupan Rania ketika dia mengetahui Jessica tersakiti oleh tindakan Rania." ucapan Fabian.
" Seharusnya sebagai pria yang sungguh-sungguh mencintai Jessica kau akan melakukan hal yang sama seperti Andre, Nak" ucap Suci kemudian meninggalkan Fabian begitu saja.
*
*
*
*
Pagi hari di kediaman Jessica, seluruh keluarga Nico sedang berada di ruang makan. Mereka akan menyantap sarapan pagi mereka bersama-sama seperti biasanya. Ketika mereka ingin mulai menyantap sarapan pagi mereka. Jessica malah menangis dan merengek.
" Ibu, aku tidak bisa makan sendiri Bu tanganku masih sakit dan perih jika digerakkan. Tolong suapin aku bu perutku sudah lapar!" ucap Jessica merengek dan menangis kepada ibunya.
" Dasar anak manja!" umpat Cynthia kesal mendengarkan suara tangisan dan rengekan Jessica pada Lestari ibunya.
" Tunggu ya Sayang! Bolehkah ibu menghabiskan makanan Ibu dulu baru ibu menyuapimu?" jawab Lestari yang meminta pada Jessica untuk menunggunya.
"Heeehh itu lama sekali bu" ucap Jessica dengan suaranya yang manja menanggapi permintaan Lestari untuk menunggunya.
"Ayah lihatlah Abang Leon begitu kejam mengatakan itu pada ku, dia tidak menyayangiku ayah, ayah maukah ayah menyuapini aku, mau kan?" Jessica mengadu dan merengek pada Nico yang sedang asyik menyantap sarapannya.
Saat Nico ingin menjawab permintaan putrinya terdengar suara ketukan pintu
"Tok..tok..tok."
"Ahhh... Siapa sih pagi-pagi seperti ini sudah bertamu?" ucap Leon kesal kemudian ia bangkit dari duduknya. Ia ingin membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu sepagi ini di rumahnya.
"Ceklek" suara pintu terbuka.
Didapatinya Andre sedang tersenyum di muka pintu ketika Leon membukakan pintu untuknya.
" Untuk apa kau datang sepagi ini Ndre? Kau mengganggu waktu sarapanku saja." ucap Leon kesal kepada Andre.
" Hai calon kakak ipar, Kenapa kau suka sekali marah padaku? Aku datang ke sini untuk menjemput adikmu" ucap Andre masih tersenyum ramah pada calon kakak iparnya itu.
" Untuk apa kau menjemputnya sepagi ini? Bukankah pestanya nanti malam?" tanya Leon pada Andre.
" Aku ingin membawanya menemui kedua orang tuaku yang sudah datang di apartemen ku." jawab Andre.
" Oh kalau begitu masuklah, kau bantu dia makan dia sedang merengek minta disuapin oleh ibu dan juga Ayah. katanya tangannya masih sakit dan dia sulit menggerakkannya." ucap Leon mempersilahkan Andre untuk masuk.
__ADS_1
Andre dan Leon pun masuk ke dalam rumah mereka melangkahkan kakinya ke ruang makan. Kehadiran Andre disambut hangat oleh kedua orang tua Jessica.
"Nak Andre mari bergabung bersama kami, kita sarapan bersama" ucap Nico pada calon mantunya itu. Andre menghampiri Nico dan Lestari seperti biasa Andre selalu tak lupa untuk mencium tangan kedua calon mertuanya itu.
"Bu ambilkanlah piring untuk Andre makan" pinta Nico pada Lestari istrinya.
Lestari segera mengambilkan dan meletakkan piring untuk makan Andre yang duduk di samping Jessica.
"Terimakasih bu.Maafkan aku sudah merepotkan ibu" ucap Andre ketika Lestari meletakkan piring untuknya.
"Tidak Nak, kamu sama sekali tidak merepotkan ibu, Ibu sangat senang kamu mau ikut sarapan bersama kami." ucap Lestari dengan senyum ramah yang diberikan kepada Andre.
Setelah Lestari kembali ke kursinya. Andre menyendokkan nasi dan lauk pauk di dalam piringnya lalu melakukannya lagi untuk piring Jessica yang masih kosong. Ya Andre mengambilkan makanan untuk Jessica santap.
Andre mengambil sesendok nasi dan lauk pauknya dari piring makan Jessica.
"Hemmm makanlah, aku akan menyuapi mu... a...a...ammm" ucap Andre yang tengah menyuapini Jessica.
Jessica dengan senang hati menerima suapan dari Andre karena perutnya sudah begitu lapar. Seluruh anggota keluarga Nico melihat apa yang di lakukan Andre pada Jessica.
"Semoga dia akan selalu bersikap sebaik ini pada putriku." Nico berharap dihati kecilnya.
"Terimakasih Tuhan karena menghadirkan Pria yang begitu baik, yang terlihat begitu tulus mencintai putriku." rasa syukur Lestari di hati kecilnya.
" Kenapa dia selalu jauh lebih beruntung dibandingkan aku? Apa yang dilakukan mereka berdua sangat membuatku iri" batin Cynthia.
"Cih... Sekarang kau berlaku manis di hadapan adikku seperti malaikat, tapi kau bersikap seperti iblis ketika adikku dan keluargaku disakiti orang lain. Bahkan kau pernah tak segan-segan mengancam ku hanya karena aku memarahi adikku sendiri. Kau sungguh mengerikan Andre dibalik wajah tampan dan sikap baikmu itu ada sifat pembunuh berdarah dingin." batin Leon.
Jessica menyantap habis sarapannya dari tangan Andre. Andre tersenyum bahagia melihat Jessica menghabiskan makanannya.
"Mana obat mu? Minumlah obat mu sekarang! Kamu mau minum sendiri atau mau aku yang membantu mu lagi seperti semalam?" ucap Andre dengan mengedipkan satu mata genitnya kepada Jessica.
"Tidak aku akan berusaha meminumnya sendiri" ucap Jessica yang mengerti arah pembicaraan Andre.
Mendengar ucapan Jessica, Seluruh anggota keluarga Nico berdecak kagum. Andre mampu membuat Jessica mau meminum obatnya sendiri padahal Jessica sangat sulit untuk diminta meminum obatnya sendiri bahkan selalu saja tercipta drama-drama karena keengganannya meminum obat.
Jessica pergi ke kamar pribadinya untuk mengambil obat. Dia kembali dengan membawa obat di tangannya. Dia duduk kembali di kursinya. Ia membuka kemasan obat itu dan Andre mendekatkan air minum untuk Jessica. Jessica meminum obat dihadapan keluarganya dengan begitu mudahnya.
"Aakhhh pait sekali:" keluh Jessica yang merasa pahit di mulutnya karena menelan obat.
"Gadis yang pintar" ucap Andre ketika Jessica berhasil meminum obatnya.
"Prok...prok...prok" suara tepuk tangan Leon.
"Lihatlah Ibu Ayah, ratu drama kita sudah bisa minum obatnya sendiri" ucap Leon kepada orang tuanya. Kedua orang tuanya hanya menanggapi ucapan Leon dengan tersenyum.
bersambung
__ADS_1