Cinta Jessika

Cinta Jessika
Menerima mu


__ADS_3

Bagaimana Endah apa kau masih ingin bersamanya?" Tanya Abraham pada Endah yang masih setia berdiri di sampingnya.


Suruh mata tertuju pada Endah tanpa terkecuali. Mereka menunggu Endah menjawab pertanyaan Abraham. Jimmy terlihat harap-harap cemas menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut manis nan cerewet kekasihnya itu.


Mata Endah menatap seluruh orang yang berada di ruangan itu secara bergantian, dimulai dari Abraham kemudian tatapannya berpindah ke Lestari kemudian ke sang Nenek Dewi lalu ke Pamannya, Adam dan terakhir tatapannya berhenti menatap sang kekasih. Ia menatap dalam mata Jimmy mencari kekuatan untuk menjawab pertanyaan dari sang Kakek.


Sedang Jimmy yang mendapatkan tatapan dalam dari Endah berusaha menguatkan hatinya sendiri. Ia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk jika Endah akan memilih untuk meninggalkannya, karena Endah telah mengetahui siapa dirinya dan apa yang telah Ia kerjakan hari ini saat ia meninggalkan Endah di apartement bersama Margaret.


Endah terlihat melangkahkan kakinya ia berjalan menghampiri Jimmy dengan mata yang terus menatap sang kekasih. Seluruh pandangan mata orang-orang yang ada di ruangan itu terus mengikuti ke mana Endah melangkahkan kakinya. Endah menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Jimmy.


" Babang Jimmy, katakan padaku apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Endah kepada Jimmy dengan terus menatap dalam bola mata sang kekasih.


" Aku mencintaimu hari ini dan seterusnya aku akan tetap mencintaimu, meskipun kau akan memilih meninggalkanku aku akan tetap mencintaimu." Jawab Jimmy dengan wajah datar namun bola mata mereka saling bertemu.


" Aku juga mencintaimu Babang Jimmy tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkanmu. Bagiku profesi apapun yang kau jalani aku tidak peduli asalkan kau tetap bersamaku, mencintaiku setulus hati mu dan terus selalu ada jika aku membutuhkan mu." Ucap Endah dengan tangan yang mengelus dada bidang sang kekasih di depan banyak orang.


" Aku akan selalu berusaha untuk berada di sampingmu, selalu ada dikala kau membutuhkanku, aku akan berusaha menjadi seperti yang kamu mau, bagi ku kamu adalah prioritas ku. Aku akan menjadi Pelindungmu mulai hari ini dan seterusnya." Ucap Jimmy yang kali ini banyak bicara tak seperti biasanya, biasanya dia sangat irit bicara dan lebih banyak menanggapi sesuatu dengan tindakannya.


Jimmy menghentikan aktifitas tangan Endah dengan memegangi tangan Endah yang berada di dadanya. Sejak tadi Endah terus saja mengelus dada bidang Jimmy seakan menggoda dirinya. Jujur saja apa yang dilakukan Endah pada dada Jimmy sudah dapat membangkitkan sang junior di bawah sana. Untung saja Endah melakukannya di depan banyak orang, mungkin jika tidak Jimmy pasti akan khilaf dan melupakan janjinya pada Endah untuk tidak menyentuhnya karena dia tak bisa menahan dirinya yang terpancing oleh sentuhan Endah.


Lain halnya dengan Jimmy yang merasa tergoda dengan sentuhan tangan Endah di dadanya. Saat ini hati Endah sedang merasa begitu berbunga-bunga mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Jimmy. Jimmy yang terkesan kaku dan jarang berkata-kata manis ataupun romantis kali ini benar-benar melelehkan hati Endah.


"Babang Jimmy so sweet, makin cinta Dede sama Babang." Ucap Endah manja kemudian memeluk sejenak sang pujaan hati di hadapan keluarganya tanpa rasa canggung ataupun rasa malu.


" Kakek apa kau sudah mendengarnya? Aku dan dia saling mencintai dan dia akan menjadi pelindungku saat ini daj seterusnya. Jadi bagaimana, apa kau akan merestui kami?" Tanya Endah pada Abraham.


Endah menatap Abraham dengan tatapan penuh harap. Abraham pun mengerti tatapan sang cucu yang mengharapkan restu dari dirinya.


"Aku akan merestui kalian, tapi jika kalian menikah nanti, aku mau kalian menyembunyikan pernikahan kalian demi keamanan mu Endah. Sebagai anggota Mafia pasti Jimmy memiliki banyak musuh, aku tidak mau hal buruk terjadi pada cucu ku." Jawab Abraham yang membuat hati Jimmy dan Endah berbunga-bunga.

__ADS_1


Mendengar Abraham memberikan restu padanya. Endah seketika itu juga berlari dan memeluk tubuh Abraham. Abraham hampir saja jatuh ke belakang karena Endah memeluknya dengan cara menubruknya. Untung saja pijakan kakinya begitu kuat kalau tidak mungkin dia akan jatuh tertiban badan sang cucu yang benar-benar bar-bar.


Abraham membalas pelukan Endah dengan melingkarkan kedua tanganya ke belakang pinggang sang cucu. Merasa pelukannya di balas Abraham, Endah menumpukan berat tubuhnya pada lengan tua Abraham yang masih kuat dan kekar.


"Makasih Kakek Tua ku yang ganteng," ucap Endah di dalam pelukan Abraham dengan kepala yang mendongak menatap sang Kakek.


"Hemm... sepertinya kau harus diet tubuhmu cukup berat." Ucap Abraham yang langsung mendapat pukulan dari sang cucu.


Jimmy melangkahkan kakinya mendekati Abraham dan Endah.


"Makasih Tuan sudah merestui kami," ucap Jimmy saat berada di dekat mereka.


"Jangan kau sakiti cucu ku Jim, kau tahu akibatnya jika menyakitinya bukan?" Pinta Abraham dengan nada mengancam.


"Saya mengerti Tuan." Sahut Jimmy.


" Babang Jimmy, Katakan padaku siapa yang kau bunuh hari ini?" Tanya Endah yang kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh sang Kakek. Ia menatap serius wajah sang kekasih.


"Rania kekasih Om Duda?" Tanya Endah meyakinkan.


"Ya." Jawab Jimmy singkat.


"Terimakasih telah memusnahkan dia dari dunia ini. Aku punya dendam yang belum tuntas padanya saat di pesta waktu itu, karena dia sudah membuat tangan adikku sakit sampai tidak bisa beraktifitas dan karena itu aku direpotkan dengan sikap manjanya. Kamu memang keren Babang Jimmy ku." Puji Endah yang membuat semua orang yang mendengarnya menyeryitkan kedua alisnya.


"Apa?? Kau menganggap apa yang dilakukan kekasih mu itu keren. Menghabisi nyawa seseorang kau bilang keren. Endah kau benar-benar tidak waras!" Ucap Adam yang heran dengan cara berfikir Endah.


"Dia jauh lebih keren dari Paman yang hanya menembak kedua tangan orang yang telah menukarku, kalau aku jadi Paman mungkin aku akan langsung menghabisi wanita yang sudah membuatku hidup menderita selama ini." Sahut Endah dengan suara yang lantang dan mata yang tajam menatap sang Paman.


"Apa?? Kak Adam sudah bertemu dengan Melani dan menembak ke dua tangan wanita itu." Batin Lestari yang terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Hah... dari mana kau tau aku menembak kedua tangan Melani?" Tanya Adam heran.


"Aku tahu darimana itu tak penting. Seharusnya Paman menghabisinya jika Paman tidak menghabisinya pasti dia akan membuat penderitaan baru untuk diriku suatu saat nanti." Jawab Endah dengan suara yang kecewa.


"Aku ini bukan kekasihmu yang tega membunuh wanita. Lagi pula bukankah dia akan melindungi mu, mana mungkin Melani akan berani menyentuhmu jika kau di lindungi pria berdarah dingin macam dia." Ucap Adam dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Endah merasa tak suka tidak di anggap keren oleh Endah dan merasa kalah saat di bandingkan oleh Endah dengan Jimmy anak yang baru besar kemarin baginya.


"Paman kau kenapa?" Tanya Jessica dengan menepuk bahu sang Paman dari belakang.


Ia baru saja tiba bersama Andre dan Leon kemudian berjalan menghampiri mereka di ruang televisi. Saat mereka masuk, mata Jessica terfokus melihat Adam yang berdiri dengan wajah yang di tekuk dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.


"Jessica..." Adam memanggil nama Jessica ketika sadar yang menepuk pundaknya adalah keponakan tercintanya. Adam segera memeluk keponakan tersayangnya itu.


"Kondisi mu baik-baik sajakan setelah mengalami pingsan di bandara tadi?" Tanya Adam begitu khawatir.


"Aku baik-baik saja Paman." Jawab Jessica dengan suara yang lembut.


"Lihatlah ada ibu mu yang sedang berdiri disamping nenek mu sepertinya dia sudah sangat merindukan mu, hampirilah dia Nak!" Ucap Adam sembari menunjukkan keberadaan Lestari yang tengah menatap Jessica dan Adam dari posisi yang tak jauh dari mereka.


"Ibu..."panggil Jessica yang berlari berhamburan memeluk sang Ibu yang juga di rindukannya.


Saat Jessica berlari Andre, Adam dan Leon memasang wajah yang khawatir.


"Jessica bisakah kau tidak berlari seperti itu, itu sangay berbahaya bagi mu!" Pekik Leon refleks mengomel pada sang Adik karena rasa khawatirnya. Namun apa yang di lakukan malah mendapat toyoran dari Adam dan juga injakan kaki dari Andre.


"Jangan mengomeli adikmu!" Ucap Adam di telinga kiri Leon setelah menoyor kepala Leon.


"Jangan bentak istriku, dia bukan lagi tanggung jawabmu!" Ucap Andre di telinga kanan Leon setelah menginjak kaki Leon.

__ADS_1


"Aghhh... kenapa kalian berdua jadi menganiaya ku? Aku hanya mengkhawatirkan dia," Tanya Leon dengan wajah kesal menatap kedua lelaki yang berada di samping kanan kirinya secara bergantian.


__ADS_2