
Pagi yang tak baik-baik saja untuk Cynthia. Ia baru saja memejamkan mata tepat pukul 05.00 pagi, padahal Endah berhenti mengerjainya pukul 02.00 dini hari. Sekarang pukul 07.00 pagi para Maid sudah menggedor-gedor pintunya untuk membangunkannya.
"Arghhh, jam berapa ini aku masih benar-benar mengantuk, kenapa mereka sudah membangunkan ku hah!" Umpatnya kesal karena terus di bangunkan
Dengan terpaksa ia bangun untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang telah berani membangunkannya dengan menggedor-gedor pintu kamarnya.
Di lihatnya beberapa orang Maid berdiri di muka pintu kamarnya. Sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh arti. Karena sedang merasakan ngantuk ditambah lagi tak bertenaga. Cynthia hanya bertanya dengan nada bicara yang begitu lemah dan lemas.
"Ada apa?" Tanya Cynthia yang menatap tak suka pada para Maid yang berdiri dihadapannya.
"Tuan besar menunggu Anda untuk ikut sarapan bersama dengan yang lainnya Nona." Jawab salah satu Maid dengan suara yang bergetar. Ia takut akan di caci maki seperti biasanya oleh Cynthia jika sudah dengan berani nya membangun dirinya.
"Aku ingin tidur, aku sangat mengantuk, aku tidak akan ikut sarapan bersama pagi ini, buatkan saja aku susu hamilku dan antar ke kamarku." Jawab Cynthia lalu masuk kembali kedalam kamar dengan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Cynthia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang kemudian memejamkan mata nya kembali. Semalam ia tak bisa memejamkan matanya kembali setelah dikerjai Endah selain merasakan pusing karena tekanan darahnya naik, yang disebabkan karena dia terus mengumpat dan marah-marah didepan pintu kamar Endah hanya untuk menghentikan suara ******* Endah yang sangat menjijikkan menurutnya, juga karena merasakan perutnya yang sangat lapar karena bawaan sang cabang bayi yang selalu membuatnya lapape di tengah malam.
Beberapa kali ia menggedor pintu para Maid agar terbangun dari tidur mereka. Ia terus berteriak-teriak memanggil para Maid, tapi tak ada satupun dari mereka yang datang menghampiri Cynthia.
Malam ini para Maid bisa kembali tidur dengan nyaman tanpa gangguan Cynthia yang suka membangunkan dengan cara yang tak sopan menggedor-gedor pintu kamar mereka sembari berteriak-teriak dengan umpatannya yang sama sekali tidak menghargai perasaan para Maid yang bekerja di Mansion Abraham hanya karena ia merasa lapar di malam hari.
Akhirnya semalam Cynthia hanya mengisi perutnya dengan banyak meminum air putih sembari menangis memanggil nama sang Ayah. Dan ia bisa tertidur bukan karena rasa laparnya sudah hilang tapi karena kelelahan menangis.
.
Di ruang makan, Abraham dan Dewi begitu semangat untuk sarapan pagi pada pagi hari ini. Itu karena mereka akan sarapan bersama keluarga besarnya. Adam akan datang bersama istri, anak, menantu beserta cucu-cucunya yang sudah cukup besar karena sudah menginjak usia enam tahun.
Jessica dan Andre yang di jadwalkan bisa hadir untuk sarapan pagi bersama pun sudah meminta maaf karena ketidak hadiran mereka dikarenakan masih di dalam perjalanan.
Di ruang makan anggota keluarga Abraham sudah mulai berdatangan, mereka sudah duduk ditempat mereka masing-masing. Endah datang keruang makan dengan bergandengan tangan dengan sang suami, wajahy begitu cerah dan terus memancarkan senyum terbaiknya.
Abraham yang membaca raut kebahagiaan cucunya hanya bisa tersenyum penuh arti. Saat Endah mengecup pipi sang Kakek, Abraham pun berbisik.
" Sepertinya rencana yang kamu jalankan semalam berhasil ya Nak?" Bisik Abraham di telinga Endah yang langsung dijawab antusias oleh Endah.
"Tentu Kek, aku sampai sakit perut karena terlalu banyak tertawa di tengah malam, lihatlah Cctv Kek, Kakek akan awet muda karena ikut senang wajah dengan terus tertawa hehehhehe." Jawab Endah dengan suara tawanya yang menggelegar, mengundang dirimya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di meja makan.
__ADS_1
"Apa aku melewatkan sesuatu yang menyenangkan?" Tanya Adam yang ingin tahu apa yang ditertawakan keponakannya itu bersama sang Daddy.
"Ya Dams, kau melewatkannya, setelah sarapan pagi ikutlah denganku, kita akan melihat apa yang dilakukan anak nakal ini semalam. Katanya semalam dia habis bersenang-senang dengan anak itu. Hahaha aku jadi penasaran bagaimana reaksi anak itu di kerjai cucuku yang nakal ini." Jawab Abraham yang kemudian mencubit pipi gemas pipi sang cucu itu.
Pemandangan di meja makan kali ini sungguh luar biasa, bagaimana tidak ada tiga pewaris perusahaan terbesar di negeri ini dan asisten pewaris perusahaan nomor satu di negeri ini sedang duduk bersama di ruang makan masion Abraham untuk menikmati sarapan pagi bersama mereka dengan ikatan persaudaraan.
Setelah selesai menyantap sarapan pagi mereka ke empatnya menyempatkan untuk beramah tamah sebelum berangkat ke perusahaan mereka masing-masing. Begitu pula dengan istri - istri mereka yang berkumpul di taman bersama Dewi dan Milea istri Adam setelah mengantarkan cucu Adam dan Milea ke depan pintu Mansion karena meraka harus berangkat kesekolah diantar supir dan para pengawalnya.
Anak-anak Adam dan Milea bisa berbaur dengan baik dengan Endah dan juga Anna. Mereka terlimbat dalam perbincangan persiapan pernikahan Anna yang akan di langsung dua atau tiga bulan lagi. Mereka siap membantu jika diperlukan.
Sementara keempat wanita muda itu dibuk membicarakan rencana pernikahan Anna dan Leon. Dua wanita beda generasi yang masih awet muda sedang menyirami bunga mawar dan juga anggrek yang ada di taman itu. Sambil berbincang kecil seperti biasanya.
"Mom, aku tak lihat Lestari kemana dia Mom? Apa dia masih tak mau kembali ke kota ini karena masih ada anak itu di sini?" Tanya Milea pada ibu mertuanya.
"Dia ada, dia sudah kembali ke kota ini Lea. Saat ini dia sedang menemani Nico di rumah sakit." Jawab Dewi sembari menyirami tanaman yang ia miliki.
"Syukurlah jika dia sudah kembali, aku sangat mengerti bagaimana perasaannya saat ini Mom, sungguh berat kenyataan hidup yang harus ia jalani. Jika aku yang mengalaminya aku yakin, aku tak akan sekuat dan setegar dia." Timpal Milea dengan wajah sedihnya.
"Kau benar Lea, Mommy sangat merasa bersalah dengannya, bagaimanapun semua ini terjadi karena Mommy yang jadi penyebabnya. Andai saja Mommy tidak termakan bujuk rayu sahabat Mommy untuk menjodohkan keponakannya itu dengan Nico pasti semua ini takkan terjadi Lea." Ucap Dewi dengan lirihnya di sertai buliran bening yang berjatuhan dengan derasnya dari kelopak mata yang memiliki bulu mata begitu lentik alami itu.
Abraham memang menjodohkan Adam dengan dirinya, tapi tidak seperti orang-orang kaya pada umumnya. Menjodohkan putra dan putri mereka dengan orang yang sederajat atau bahkan dengan orang yang lebih kaya dari dirinya.
Abraham menjodohkan Adam putranya dengan dirinya yang hanya seorang anak supir pribadinya. Yang ia rawat dan besarkan di Mansion ini. Milea tumbuh dan besar di Mansion Abraham setelah sang supir dan istrinya tiada karena sebuah tragedi kecelakaan. Untungnya dari kejadian itu Milea kecil yang berada di kursi belakang dapat di selamatkan, setelah melakukan beberapa rangkaian pengobatan di rumah sakit pusat Central Kusuma pada waktu itu.
Milea terus mendekap sang mertua dalam pelukannya, membiarkan ibu mertuanya itu menangis untuk meringankan sesak di dadanya karena terus merasa bersalah.
"Menangislah Mom, luapkanlah kesedihan mu Mom, aku akan selalu ada disampingmu menjadi sandaran Mommy dan siap menguatkan Mommy." Ucap Milea saat mendekap sang ibu Mertuanya yang makin membuat Dewi makin menangis menjadi - jadi.
Tangis Dewi yang menjadi-jadi menarik perhatian keempat wanita yang tengah asyik mengobrol. Keempatnya memusatkan perhatian mereka kepada kedua wanita yang sedang berpelukan itu.
"Kenapa tuh Nenek berpelukan kaya Teletubbies sama Tante Milea?" Tanya Endah dengan ucapannya yang absurd.
"Itu pemandangan biasa bagi kami, apalagi yang di tangisi Nenek selain rasa bersalahnya yang belum tentu semua itu kesalahannya." Jawab Vioni dengan tatapan mata memandang ke duanya.
"Ya kejadian yang di alami Nenek membuat kita tidak percaya arti kata sahabat. Sahabat yang begitu jahat memaksakan sahabatnya untuk menjodohkan keponakannya yang sudah hamil duluan dengan putra sahabatnya sendiri dengan maksud yang belum diketahui sampai saat ini dan akhirnya membuat Om Nico pergi dan menghilang tanpa kabar." Tambah Viona.
__ADS_1
"Ya dan kalian perlu tahu, meskipun kami tinggal disini sejak kami lahir, kami tidak pernah merasakan kasih sayang Nenek sejak kecil. Karena saat kami kecil Nenek mengalami depresi hingga kami kuliah Nenek baru dinyatakan sembuh oleh dokter." Tambah Vioni yang makin membuat Endah dan Anna terkejut.
"Menurutku semua ini terjadi karena Melani dan Suci bukan karena Nenek." Ucap Anna yang menanggapi ucapan Viona dan Vioni.
"Kau benar, Nenek hanya menjadi korban dari kelicikan mereka." Timpal Viona.
"Dan yang menjadi dalang semua ini adalah Suci, sahabat baik Nenek." Timpal Vioni.
"Dan Suci pernah memaksa adikku untuk menikahi Fabian putranya yang sudah menduda. Pasti ada maksud tertentu dan niat jahatnya terhadap nenek yang belum tercapai." Timpal Endah.
"Ya sepertinya dia masih berniat menjahati Nenek kita dan itu tak akan aku biarkan." Tambah Vioni dengan wajah garangnya.
"Aku akan membalas perbuatan mereka Kak, karena mereka pula aku hidup terpisah dari orang tua dan saudara-saudaraku sejak kecil. Dibesarkan tanpa kasih sayang oleh kedua orang tua angkatku." Tambah Anna dengan wajah yang tak kalah menyeramkan.
"Aku akan membantu mu, adikku." Ucap Viona yang memegangi punggung tangan Endah.
"Aku juga akan membantu mu, jangan pernah kamu merasa sendiri sekarang! Kami akan siap mendukung mu." Tambah Vioni.
"Penderitaan harus dibalas dengan penderitaan. Fabian, putra kesayangan Suci sudah cukup menderita dicampakkan dan dihempaskan rasa cintanya pada Jessica oleh Jessica sendiri." Ucap Anna.
"Kita punya bahan untuk membalas perbuatan mereka saat ini kak, waktunya kita bersenang-senang hahahhaha..." Ucap Endah dengan tawa Devilnya.
"Ya, kau benar, ada keturunan mereka di kandang kita sendiri. bodohnya mereka hahahhaha...." Tambah Vioni dengan tawa Devilnya.
"Dia menganggap dirinya ratu sejak awal tinggal disini dan kami biarkan karena kami menunggu waktu yang tepat untuk memangsanya. Hahahaha...." Tambah Viona dengan tawa Devilnya pula.
"Tapi dia sedang hamil." Anna berusaha mengingatkan kepada tiga wanita yang meniliki karakter yang sama.
"Aku tidak perduli." Sahut ketiganya bersamaan.
Ketika mereka menyadari kekompakan mereka, mereka pun kembali tertawa.
"Hahahaha.... hahahaha.." tawa ketiganya yang mengundang Milea untuk memandangi mereka bertiga.
"Dasar cucu-cucu tidak punya akhlak Neneknya menangis sedih mereka malah asyik tertawa." Umpat Milea yang masih memeluk sang ibu Mertuanya.
__ADS_1