Cinta Jessika

Cinta Jessika
Tak bisa di akhiri


__ADS_3

Langkah kaki Fabian terhenti di depan unit apartemen 608. Ia menekan tombol Bel unit apartemen Rania.


"Ting tong." suara bel Apartemen.


Rania membukakan pintu dengan wajah yang berseri-seri. Senyum lebar terlihat diwajahnya, Ia nampak bahagia di datangi sang pujaan hati yang telah lama mengabaikannya. Rania langsung memeluk Fabian yang berdiri di depan pintu.


"Akhirnya kamu datang juga Honey, aku sangat merindukan mu, apa kamu juga merindukan ku seperti diri ku merindukan mu?" ucap Rania saat Ia memeluk Fabian namun Fabian hanya diam tak menjawab.


Fabian tak membalas pelukan ataupun pertanyaan Rania. Fabian hanya berdiri mematung saat tubuh kekarnya dipeluk oleh Rania. Fabian melepaskan diri dari pelukan Rania, ia mendorong tubuh Rania perlahan. Sikapnya begitu dingin, Rania dapat merasakannya.


"Kau kenapa Bie? Kenapa sikap mu sedingin ini pada ku? Biasanya kau datang langsung menghujaniku dengan ciuman sedangkan saat ini aku peluk saja kau bagaikan patung, apa semua ini karena Nenek lampir itu?" Rania membatin.


"Nia bisakah kita masuk kedalam, ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucap Fabian dengan wajah datar.


"Masuklah honey!" ucap Rania. mempersilahkan Fabian untuk masuk ke unit Apartemennya.


Fabian melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa panjang diruang tamu. Ia duduk bersandar di sofa itu.


"Sayang, aku akan membuatkan mu minum, tunggulah aku sebentar ya Bie." ucap Rania dengan manis. Fabian hanya menjawab dengan anggukan kepala. Fabian menunggu Rania yang sedang membuat minuman untuknya. Fikiran Fabian saat ini hanya memikirkan bagaimana cara ia untuk memulai bicara pada Rania, tentang niatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Rania saat ini.


Rania menghampiri Fabian dengan membawa secangkir kopi hitam dan kue kering yang ia letakan diatas nampan. Senyum Rania belum juga luntur dari wajah cantiknya. Ia meletakkan secangkir kopi dengan anggun di atas meja. Setelah meletakkan kopi ia duduk disebelah Fabian dan memeluk dada bidang Fabian.


"Kamu mau bicarakan apa honey?" ucap Rania dengan manja.


Fabian melepaskan pelukan Rania.


"Nia bisakah kita akhiri hubungan kita ini?!" ucap Fabian dengan wajah datarnya.


Rania terlihat begitu terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Fabian.


"Apa kata mu akhiri hubungan kita? Apa aku tak salah mendengarnya?" tanya Rania tak percaya dengan apa yang Fabian ucapkan.


"Kamu tak salah mendengarnya, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita yang hanya berjalan ditempat seperti ini." jelas Fabian.


Rania merasakan sesak di dadanya mendengar keinginan Fabian. Ia merasa seperti sampah yang dibuang pemiliknya. Bagi Rania Fabian begitu seenaknya memperlakukan dirinya. Setelah Fabian minta untuk tidak diganggu oleh Rania dengan alasan banyak kesibukan dalam menggarap Project dari Client. Tiba-tiba dia datang meminta hubungan ini berakhir.

__ADS_1


"Aku tidak mau, mudah sekali bagi mu mengucapkan kata mengakhiri hubungan ini pada ku, setelah apa yang telah aku berikan pada mu." ucap Rania tak terima Fabian mengakhiri hubungannya.


"Aku hanya lelah dengan semua ini Nia, dan asal kau tau, sudah ada seseorang yang menggantikan posisimu dihati ku." ucap Fabian sedikit meninggi pada Rania. Seketika mata Rania membola mendengar ucapan Fabian sudah ada yang menggantikan posisinya.


"Hahahaha..." Rania tertawa getir.


"Kamu pasti sedang berbohong." ucap Rania tak percaya sudah ada yang menggantikan posisinya.


"Aku tahu kamu lakukan ini pasti karena permintaan Mommy bukan? Dia memang tidak suka padaku, dia selalu menjadi penghalang hubungan kita, tiga tahun aku bertahan dengan mu, bertahan dengan kebiasaan buruk mu yang selalu menghabiskan waktu malam mu dengan wanita-wanita murahan itu, bertahan dengan perlakuan ibu mu dan kedua anak mu yang tidak menyukaiku. Sekarang begitu mudahnya kau membuangku, kau tidak perdulikan perasaanku dan perjuangan ku Bie." ucap Rania lirih, senyum kegembiraan yang sejak tadi ia pancarkan pun telah sirna berganti dengan wajah sedih dan kecewa.


"Ini bukan permintaan Mommy, ini murni keinginan ku untuk mengakhiri semuanya Nia, aku tidak pernah melihat kamu berjuang meluluhkan hati kedua anakku Nia, apalagi Mommy ku, aku ini mencari istri yang bisa menerima kedua anak ku bukan istri yang hanya menerima diriku saja" ucap Fabian menatap tajam Rania.


"Apa kata mu Bie? Ternyata kamu hanya bisa menyalahkan aku Bie, kamu bilang, kamu tidak pernah melihatku berjuang?! Bukannya terbalik Bie, kamulah yang tidak pernah mau mendekatkan aku kepada kedua anak mu, aku yang selalu kamu tuntut harus berjuang sedang kamu apa??" ucap Rania tak terima.


"Sudahlah Nia tidak perlu kita membahasnya lagi, aku kesini hanya ingin mengatakan mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!"ucap Fabian tanpa memperdulikan apa yang dirasakan Rania, Fabian bangkit dari duduknya.


Melihat Fabian berdiri sontak Rania pun ikut berdiri dan menarik lengan Fabian.


"Jika kamu mau hubungan kita berakhir, bisakah kamu kembalikan keperawanan ku lagi pada ku? Jika kamu bisa aku akan melepas mu." ucap Rania dengan suara yang begitu lirih, tatapan Rania pada Fabian begitu tajam.


"Apa kau sudah gila Nia! mana mungkin aku bisa mengembalikannya." ucap Fabian, ia membalas tatapan tajam Rania dengan tatapan yang sama, terlihat wajah Rania yang sudah basah karena air mata kesedihan.


"Jika kau tidak bisa maka jangan harap aku akan melepaskanmu, kalau kau nekat meninggalkan ku, aku akan mengakhiri hidupku saat ini juga dihadapan mu." ancam Rania.


Mendengar ancaman Rania. Fabian akhirnya menjatuhkan kembali tubuhnya ke sofa. Ia terduduk kakinya melemas. Pikirannya begitu kalut. Lagi-lagi ia membangun dinding penghalang untuk ia bersatu dengan Jessica karena nafsu sesaatnya.


"Maafkan aku Nia sudah melakukan kesalahan pada mu." ucap Fabian penuh rasa sesal.


"Aku tidak butuh kata maaf dari mu Bie, aku hanya butuh pertanggung jawabanmu, aku tidak mau terus digantung seperti ini." ucap Rania tegas.


"Baiklah aku akan bertanggung jawab, tapi beri aku waktu untuk bicara dengan kedua orang tua ku, aku harap kamu mau bersabar." ucap Fabian


"Aku selalu bersabar menghadapi kamu Bie" timpal Rania.


Fabian duduk terpaku, tatapan matanya begitu kosong. Harapan untuk hidup bersama Jessica seakan sirna begitu saja.

__ADS_1


*


*


*


*


"Bie, apa kau tidak mau mengajakku datang ke ulang tahun perusahaan Adi Perkasa? Clara bilang kamu sudah dapat kartu undangannya." tanya Rania pada Fabian yang sedang asyik melamun setelah pertengkaran mereka tadi.


"Bie.... bie..." panggil Rania.


"Ya... Tadi kamu tanya apa Nia? Maaf aku tidak mendengar dengan jelas pertanyaan mu." tanya Fabian yang tidak fokus dengan pertanyaan Nia.


"Bagaimana kamu mau Fokus, kamu sedang asyik melamun, Apa sih yang kamu fikirkan? sepertinya aku harus cari tau dari Clara, apa jangan-jangan memang benar sudah ada yang menggantikan posisiku di hatinya?" batin Rania.


" Tadi aku bilang apa kau tidak mau mengajakku datang ke ulang tahun perusahaan Adi Perkasa milik Tuan Santoso? Clara bilang kamu sudah dapat kartu undangannya Bie, apa kamu akan datang dengan perempuan lain Bie?" Rania mengulang ucapannya.


"Bukannya kamu sudah tahu aku hanya akan datang bersama mu." jawab Fabian.


"Jika tadi aku tetap kamu tinggalkan pasti kamu akan datang dengan wanita lain-kan Bie, wanita yang menggantikan posisi aku di hatimu?" tanya Rania menelisik.


"Wanita yang mana? tadi aku hanya berbohong, itu hanya alasan agar kamu mau aku tinggalkan." ucap Fabian berbohong.


"Oh.. Aku kira posisi ku dihati mu sudah terganti ternyata tidak." ucap Rania merasa lega walaupun dihati kecilnya ia masih menaruh rasa curiga.


"Kalau begitu Bie, aku harus beli gaun pesta untuk menghadiri ulang tahun perusahaan Adi Perkasa milik Tuan Santoso itu Bie." ucap Rania.


"Beli-lah jika kamu mau." ucap Fabian


"Ayo Bie kita ke Claudia Boutique! pasti sudah banyak koleksi gaun pesta disana." ajak Rania.


Fabian pun mengiyakan permintaan Rania. Ia kemudian menghubungi Alan agar segera bersiap menunggunya di lobby apartemen.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2