Cinta Jessika

Cinta Jessika
Akhir perjalanan Rania


__ADS_3

Di kota D


Abraham yang baru saja mendapatkan telepon dari anak sulung ya Adam segera mendatangi Dewi yang sedang berkebun bersama Lestari.


"Mom, segera bersiaplah kita akan ke kota J, cucu-cucu mu sudah kembali dari Paris. Kita akan segera mengadakan konversi pers di kota J, memperkenalkan Leon pada publik sebagai pewaris tunggal dari perusahaan Adi Jaya."


" Baik Dad, aku akan segera bersiap, Lestari lain kali kita lanjutkan berkebun kita nanti ya, sekarang kau beri tahu suamimu agar segera bersiap untuk berangkat ke kota J ya?!"ucap Dewi dengan senyum ramahnya.


"Tidak perlu Lestari, kau tak perlu mengajak suami mu itu, aku sudah mengajaknya tapi dia menolaknya dengan berbagai alasan, kau saja yang ikut kami, dampingi putra kandung mu yang sangat menyayangimu itu." Ucap Abraham dengan nada yang kesal karena kecewa pada Nico, ia menyela Lestari yang ingin menjawab ucapan Dewi istrinya barusan.


"Baik Mom dan Dad,,, aku akan segera bersiap,"sahut Lestari dengan nada bicara dan gestur tubuh yang kecewa.


Di kamar pribadi Nico dan Lestari.


"Ayah apa kau benar tak ingin ikut ke kota J, mendampingi kedua orang tua mu dan putra mu untuk konversi pers?" Tanya Lestari memastikan pernyataan Abraham benar atau tidak sembari berhias diri di meja rias.


"Iya bu aku tak ingin kembali dulu ke kota J walauun hanya sebentar, lagi pula.sudah ada ibu yang mendampingi putra kita nanti. Jika aku kembali ke kota J Cynthia di Mansion ini dengan siapa Bu? Apa ibu tega meninggalkannya sendirian dalam kondisi berbadan dua? Lagi pula aku tak mau Daddy dan Mommy malu karena aku membawa Cynthia ke khalayak publik, para wartawan akan melihat perut Cynthia yang mulai membuncit dan membuat berita yang buruk pada keluarga besarku, sama saja aku menjatuhkan martabat keluargaku nantinya."


"Baiklah jika itu alasanmu, aku pamit dulu Ayah." Lestari tak mau berdebat, ia segera berpamitan mencium punggung tangan suaminya.


"Ya hati-hati di jalan ya bu, jangan lupa sering-seringlah berkabar pada Ayah, ini untuk pertama kalinya kita terpisah kan bu, setelah puluhan tahun bersama?" Ucap Nico dengan wajah yang sendu.


"Hehmmm ya kau betul ayah, ini untuk pertama kalinya kita saling berjauhan, lagi pula kita berpisah karena kamu tidak mau meninggalkan anak kesayanganmu itu sendirian bukan? Padahal di sini cukup banyak orang untuk menjaga anak kesayangan mu itu, dia itu bukan bayi lagi, dia sudah dewasa dan sudah bisa membuat bayi, jadi seharusnya perlakukanlah dia layaknya orang dewasa bukan seperti bayi." jawab Lestari dengan menggerutu, setelah menyelesaikan ucapannya ia berjalan begitu saja meninggalkan Nico sang suami yang terdiam terpaku mendengar gerutuan istrinnya.


Di kota J


Jimmy dengan Angela pergi ke sebuah gedung tua yang belum lama ini kosong, setelah mendapatkan informasi keberadaan Kenzo disana.


"Tuan, kita sapu bersih atau menyerahkan wanita itu baik-baik ke polisi?" Tanya Angela di balik kemudinya.


"Sepertinya dari pertanyaanmu aku bisa menebak kalau kau ingin sekali menyapu bersih wanita itu, bukan begitu Angela?" Jimmy mencoba menebak apa yang diinginkan Angela.


"Hahaha... bukan begitu tuan Aku hanya tidak ingin direpotkan lagi ke depannya oleh ulah wanita itu, belum lama ini dia mencelakai Nyonya muda sekarang keponakan Tuan, entah besok siapa lagi yang akan di celakai dia, jika dia sudah bebas dari penjara jika kita menyerahkannya ke pada pihak berwajib, apalagi wanita itu sudah kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang bersamaan karena ulah Pak Fabian yang di dasari infomasi dari pihak kita."


"Kedua orang tuanya sudah meninggal?" Tanya Jimmy yang terkejut tidak mengetahuinya.


"Ya betul Tuan, kedua orang tuanya sudah meninggal bahkan dia tak bisa melihat kedua orang tuanya untuk terakhir kali karena berstatus buronan." Jawab Angela.


"Angela, kapan kedua orang tuanya itu meninggal?" Tanya Jimmy lagi.


"Kedua orang tuanya meninggal di hari di mana Pak Fabian mengusir dirinya, Pak Fabian juga menyetop seluruh biaya perawatan Tuan Anton di rumah sakit milik Tuan besar. Karena alat-alat yang dipasang di tubuh Tuan Anton dilepaskan, membuat kondisi Tuan Anton drop dan tak dapat tertolong lagi, pihak rumah sakit mencoba menghubungi Rania namun dia tidak bisa dihubungi akhirnya pihak rumah sakit menghubungi istrinya Tuan Anton, istrinya begitu mendapatkan kabar duka mengenai suaminya begitu amat terkejut, sehingga membuatnya mengalami serangan jantung, entah alasan apa yang membuat beliau telat dibawa ke rumah sakit sehingga nyawanya tak dapat tertolong lagi." Tutur Angela menceritakan hal mengenai Rania yang Jimmy tak tahu.


"Dia benar-benar hancur sekarang. Makanya dia menculik Kenzo agar Margaret mencabut laporannya di kantor polisi."


"Ya Tuan, bisa di bilang begitu."


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Angela pun sudah sampai di tempat tujuan mereka, di sebuah gedung kosong yang letaknya sangat jauh dari pusat keramaian, gedung ini sepertinya bekas bangunan pabrik yang belum lama terabaikan, terlihat dari bangunannya yang masih bagus dan berdiri kokoh.


Seseorang pria berpakaian serba hitam menghampiri Jimmy yang masih berada di dalam mobil. Mengetahui didatangi seorang pria berpakaian hitam Jimmy pun membuka kaca jendela mobilnya.


"Selamat sore Tuan," sapa pria berpakaian serba hitam itu yang diketahui bernama Bobby.


"Sore, ada berapa orang di dalam, Bob?" Sahut Jimmy dengan wajah datarnya.


"Delapan orang Tuan," jawab Bobby singkat.

__ADS_1


"Apa delapan orang termasuk keponakanku?"


"Ya betul Tuan wanita itu dibantu oleh 5 orang preman dua bersamanya dan tiga lainnya berada di luar."terang Bobby.


"Ooooo begitu. Sekarang aku perintahkan pada mu dan anak buah mu. Sapu bersih tiga orang itu tanpa menimbulkan keributan. Jika kalian sudah menyelesaiannya baru aku akan masuk ke dalam," ujar Jimmy yang memerintah Bobby.


"Baik Tuan, akan kami laksanakan sesuai perintah."


"Bobby berjalan meninggalkan Jimmy, sambil berjalan Bobby memasang alat peredam suara pada pistol yang dimiliki oleh dirinya. dengan berjalan santai dengan menyembunyikan pistol di belakang tubuhnya Iy'a menghampiri ketiga anak buah Rania yang tengah duduk di sebuah bangku panjang. Tanpa kata-kata dan dalam jarak sangat dekat Bobby menembak Ketiga orang itu secara bergantian di bagian dada sebelah kirinya. Ketiga orang itu pun jatuh tersungkur tak bernyawa lagi anak buah Bobby yang mengikuti dari belakang sudah membawa 6 kantong mayat yang sengaja mereka bawa untuk menyapu bersih semua orang yang ada di sana terkecuali Kenzo dan pengasuhnya.


"Beritahu Tuan Jimmy bahwa 3 orang itu sudah kita sapu bersih, keadaan sudah aman untuk dia masuk ke dalam," ucap Bobby pada salah satu anak buahnya setelah selesai memasukkan ketiga preman itu kedalam kantung mayat."


"Baik bos," sahut anak buah Bobby dan langsung pergi berlari meninggalkan Bobby untuk menghampiri Jimmy yang masih di dalam mobil bersama Angela.


"Tuan, tiga orang yang berada di luar sudah di sapu bersih oleh Bos Bobby keadaan sudah aman untuk Tuan masuk ke dalam," ucap anak buah Bobby yang menyampaikan informasi dengan nafas yang terengah-engah karena habis berlari.


Jimmy menjawab dengan menganggukkan kepalanya kemudian turun dari mobilnya. Ia berjalan menuju Gedung Kosong di mana Kenzo dan pengasuhnya berada.


"Bobby yang sudah berdiri di muka pintu segera membuka pintu gedung tersebut ketika melihat sosok Jimmy dengan kaca mata hitamnya datang, langkah kaki Jimmy di ekori oleh Angela dan beberapa anak buahnya yang lain.


Srekkkkk... suara pintu yang nyaring terdengar saat dibuka.


Suara pintu itu membuat Kenzo yang tengah tertidur pun terkejut dan terbangun dari tidurnya.


Suara tangisan Kenzo menggema di seisi gedung kosong tersebut. Membuat Rania yang tengah asyik menyiksa sang pengasuh Kenzo menghentikan asksinya dan berjalan menghampiri putra Margareth dan Fabian.


"Anak sia.lan rupanya reaksi obat tidur itu sudah habis ya?! Mendengar suara derikan pintu saja kau menangis histeris seperti ini, cemen sekali kau jadi anak laki-laki, hahahaha....apalagi jika aku memukul dirimu lagi kau pasti akan menangis tanpa henti bukan hahahaha...aku senang sekali membuat mu menangis seperti Papimu yang sering kali membuat ku menangis sepanjang malam hahahahaha...." umpat Rania pada Kenzo yang diletakkannya di tong besi besar sambil tertawa seperti orang yang hilang akal.


Sudah dua malam Kenzo tertidur di dalam Tong besi besar tanpa alas apapun sudah dua hari pula Kenzo tertidur dengan obat tidur yang sengaja diminumkan oleh Rania pada anak tidak berdosa itu, tidak ada satu asupan susu yang diberikan oleh Rania untuk Kenzo. Hanya air putih dan obat tidur saja yang masuk ke dalam perut bocah itu, sungguh kejam Rania memperlakukan anak yang tidak berdosa itu.


Seketika Rania menoleh ke arah sumber suara orang yang memanggilnya.


"Tuan Jimmy." Rania menyebut nama Jimmy ketika melihat sosok pria yang berjalan menghampirinya.


"Tuan untuk apa Anda datang ke sini? Dan siapa mereka? Sepertinya aku tidak ada urusan denganmu." Tanya Rania saat berada di hadapan Jimmy.


Rania begitu heran dengan kedatangan Jimmy asisten Andre itu.


"Benarkah, kau tidak memiliki urusan denganku?"


" Tentu saja tuan. Aku merasa seperti itu. Aku tidak punya urusan apapun denganmu." Jawab Rania yang menatap wajah dingin Jimmy.


"Sepertinya perasaanmu itu salah Rania kau punya urusan denganku."


"Salah??"


"Ya Perasaanmu itu salah, apa kau tak mengenal siapa anak yang kau culik itu hem?"


"Tentu aku sangat mengenalnya dia adalah putra dari Margareth dan Fabian, Anak itu tidak ada urusannya denganmu Tuan Jimmy. Fabian dan Margareth bukan siapa- siapa bagi Tuan Andre dan juga bagi dirimu Tuan Jimmy." Ucap Rania dengan penuh penekanan matanya menatap tajam wajah Jimmy yang terlihat datar


"Itu hanya dugaanmu Rania, memang jika urusannya dengan Fabian tidak ada kaitannya dengan Tuan Andre dan juga diriku tapi jika berurusan dengan Margaret kau akan berurusan dengan diriku, anak yang kau culik adalah keponakan tersayang ku."


"A-apa???" mata Rania membola seketika rasa takut hinggap pada dirinya kakinya mulai gemetar begitu juga dengan tubuhnya yang lain.


"Bukankah kau sudah jatuh miskin ketika Fabian sudah meninggalkan mu? Aku sedang berfikir bagaimana caramu membayar 5 anak buahmu ini? Aku rasa selembar uang pun kau sudah tak punya, apa kau membayar mereka dengan tubuh indah mu ini?" Ejek Jimmy sambil menyentuh jijik bahu Rania.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu Tuan Jimmy." sahut Rania yang mendepak tangan Jimmy dari bahunya.


"Ya benar caramu membayar mereka bukanlah urusanku. Yang jadi urusan pentingku pada mu sekarang hanya memintamu untuk melepaskan keponakanku dan pengasuhnya itu saja." Ucap Jimmy dengan santainya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mereka sebelum Margaret mencabut laporannya di kantor polisi tentang kejadian aku menusuk Fabian." Tolak Rania.


"Jangan mencoba menantangku dengan menolak permintaan ku, Rania. Cepat lepaskan dan bebaskan pengasuh keponakanku itu dan berikan Kenzo padaku sekarang juga cepat. Kenzo yang melihat kedatangan Omnya langsung diam seketika. Ia tak lagi menangis malah tertawa mendengarkan suara perdebatan Omnya dan Rania.


"Tidak, sampai mati pun aku tak akan membebaskan mereka sebelum permintaanku dipenuhi oleh Margareth cabut laporan Margaret tentang diriku dan juga Margaret harus meninggalkan Fabian untukku." Rania kembali menolak dan seakan menantang Jimmy.


Jimmy yang hatinya sedang tak baik-baik saja mendapat penolakan dan seakan ditantang oleh Rania membuat emosinya naik, ia meradang.


"Kau bilang sampai mati pun, berarti kau memilih mati di tanganku Rania bukan begitu?" Ucap Jimmy yang meradang dengan tatapan yang begitu tajam.


Rania diam tak menjawab.


"Angela beri wanita ini pelajaran!" perintah Jimmy apa ada Angela yang berdiri tak jauh dari posisi Jimmy.


Angela yang mendengar perintah dari atasannya segera menghampiri mereka berdua tanpa aba-aba Angela segera menarik rambut Rania secara kasar hingga membuatnya terjatuh ke lantai gedung yang kotor.


Ketika semua orang fokus pada Angela dan Rania anak buah Bobby memanfaatkan kelengahan mereka. Salah satu dari mereka ada yang mengambil Kenzo dan salah satu dari mereka membebaskan pengasuh itu. Dengan segera mereka membawa Kenzo dan pengasuhnya pergi dari Gedung Kosong itu.


Melihat Rania sedang dianiaya oleh Angela, kedua preman tersebut langsung saja ingin menodongkan pistol ke arah Jimmy namun belum sempurna kedua preman itu mengangkat pistolnya tubuh kedua preman tersebut sudah jatuh tersungkur di lantai dengan keadaan sudah tak bernyawa lagi, setelah Bobby melepaskan tembakan tanpa suara ke arah 2 preman tersebut secara bergantian.


Rania begitu tercengang melihat kedua preman itu jatuh tersungkur bersimbah darah. Rasa takut hinggap di benaknya seakan dewa kematian sedang menunggunya di hadapannya.


"Hahaha kau terlihat begitu takut Rania. Apa kau takut Rania seharusnya kau tak menentangku jika kamu tak mau melihat nyawa anak buahmu melayang di hadapanmu. Inilah akibat jika kau menentangku."


"Kau salah Tuan Jimmy. Aku sungguh tidak takut pada dirimu." Sangkal Rania.


"Oh ya. Benarkah??? Sepertinya mulutmu dan tubuhmu itu tidak sinkron Rania Lihatlah tubuhmu begitu takut dan gemetar tapi mulutmu tidak mau mengakuinya."


"Angela kau mau langsung sapu bersih atau menjadikannya mainanmu terlebih dahulu hem? tanya Jimmy pada Angela.


"Aku tak ingin membuang waktuku untuk wanita ini Tuan Jimmy. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?" Sahut Angela dengan wajah menyeringai.


"Baiklah jika itu maumu, silakan sapu bersih dirinya jangan sampai meninggalkan jejak buang mereka semua ke Tengah laut hari ini juga."


"Siap Tuan,"


GLEK! Rania dengan susah payah menelan salivanya. Setelah mendengar perintah Jimmy pada Angela.


Jimmy pun meninggalkan Angela dan juga Rania di dalam Gedung Kosong itu langkah Jimmy diikuti oleh Bobby dari belakang bersama anak buah yang lain.


"Kerja bagus Bob, aku akan memberikan bonus kepadamu setelah kau dan Angela membersihkan semua ini tanpa jejak."


"Baik Tuan.Terima kasih atas kebaikan Tuan yang akan memberikan kami bonus."


"Hem." Jawab singkat Jimmy dengan satu deheman.


Bobby mengantarkan Jimmy hingga sampai ke sebuah mobil yang sudah terparkir di depan pintu Gedung Kosong tersebut.


Sedang di dalam gedung kosong Angela langsung mengeksekusi Rania dengan pistol Makarov miliknya dalam jarak yang sangat dekat.


"Aku akan membantumu menyusul kedua orang tua mu Rania dan menghentikan semua penderitaan mu." Ucap Angela sebelum menekan pelatuk pistolnya. Rania tak menanggapi ucapan Angela ia hanya memejamkan matanya saat Angela menodongkan pistol di hadapannya.

__ADS_1


"Dor" satu tembakan dilepaskan ke dada sebelah kiri Rania. Seketika Rania jatuh tersungkur ke lantai dalam kondisi tak bernyawa. Mata Rania terbelalak dengan butiran bening yang terakhir kalinya wanita itu keluarkan.


__ADS_2