
Dengan mengendarai sebuah mobil sedan, Alan membelah jalanan kota J dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Bagaskara. Ia ingin menemui Bossnya yang sedang dalam proses penyembuhan itu.
Alan masih ingat betul, ketika tadi pagi, waktu ia sedang menikmati sarapan pagi buatan Sisil, kekasihnya itu di kantor.Tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya layar ponsel miliknya itu, ternyata Fabianlah yang menghubunginya. Sudah cukup lama sekali Fabian tak pernah menghubunginya, mungkin lebih tepatnya saat ia mengalami gangguan jiwa. Tanpa berpikir lagi, Alan mengangkat panggilan telepon dari nomor Fabian itu, dan tanpa disangka Fabian dengan nada bicaranya yang normal meminta Alan untuk segera menemuinya. Alan seperti sedang bermimpi mendengar Fabian memintanya untuk menemui dirinya di kediaman orang tuanya.
Mobil yang dikendarai Alan sudah sampai di kediaman Bagaskara, orang tua Fabian. Ia segera masuk dan menemui Fabian yang berada di taman belakang seperti biasa. Ia duduk memandangi kolam ikan milik sang Daddy dengan tatapan kosong.
“Pak Fabian,” panggil Alan yang berdiri dibelakang kursi taman yang sedang di duduki oleh Fabian.
“Duduklah Alan!” sahut Fabian yang meminta Alan duduk di sampingnya.
“Apa Anda sudah merasa baikkan Pak?” tanya Alan yang mendapatkan tatapan tajam dari Fabian.
“Apa kau memiliki anggapan yang sama seperti mereka tentang diri ku, Alan?” Fabian malah melontarkan pertanyaan pada Alan, yang Alan sendiri tak tahu harus menjawab apa. Ia sangat takut menyinggung perasaan Fabian yang ia rasa masih sangat sensitif. Alan memilih untuk diam tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Fabian.
“Aku tahu jawaban mu Alan, dari sikap diam mu yang tak memilih menjawab pertanyaan ku,”ujar Fabian yang seakan bisa menebak jawaban apa yang ada didalam pikiran Alan.
“Maafkan saya Pak,” ucap Alan yang menatap Fabian, namun yang di tatap masih asyik melihat ikan-ikan yang berada di dalam kolam.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengerti Alan,” balas Fabian.
“Aku memanggilmu kemari karena aku membutuhkan bantuan mu, Alan,” ucap Fabian lagi yang kali ini menatap manik mata Alan yang juga sedang menatapnya.
“Bantuan apa Pak?” tanya Alan yang menatap serius wajah atasannya itu.
__ADS_1
“Aku ingin pergi menyusul keberadaan kedua Kakakku, untuk beberapa waktu, aku ingin tinggal bersama mereka. Aku ingin menitipkan Daddyku dan juga Clara yang sedang mengandung anakku, pada mu. Tolong jaga mereka untuk ku, Alan. Aku janji hanya untuk sementara waktudan itupun tak lama,” jawab Fabian yang menatap wajah Alan penuh harap.
“Untuk apa Anda kesana Pak?” tanya Alan yang ingin tahu tujuan kepergiannya.
“Aku butuh waktu sedikit lagi, dan aku rasa aku butuh waktu menyendiri,menyendiri yang jauh dari semua kenangan orang-orang yang aku sia-siakan hidupnya, hanya karena keegoisanku.” Jawab Fabian yang tak malu menitikan air matanya dihadapan Alan.
“Tapi, bagaimana dengan pengobatan Anda, Pak?” tanya Alan lagi.
“Percayalah padaku Alan, aku baik-baik saja. Aku tidak perlu pengobatan yang aku perlukan hanya ketenangan. Kemarin aku melihat Jessica, dia tengah hamil besar, Alan. Ia menghampiri aku dan Clara, ia masih terlihat perduli denganku, meskipun Mommy ku sudah sangat jahat dengan keluarganya, dia menghampiri kami, saat kami sedang menunggu giliran untuk masuk menemui Dokter Yanto. Aku sedikit mendengar dia berbicara singkat dengan Clara.” Jawan Fabian yang malah menceritakan pertemuannya dengan Jessica.
“Pak Fabian, apa Bapak masih memiliki perasaan untuk Nona Jessica?” Tanya Alan dengan hati-hati.
“Jujur, aku masih mencintainya. Tapi aku tak akan mungkin bersamanya Alan, tak akan mungkin... ya tak akan mungkin. Banyak hal yang membuat aku tak akan pernah memilikinya Alan. Lagi pula aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintainya, sekarang aku sedang berusaha melupakannya, meskipun sulit aku akan terus berusaha melupakannya,” jawab Fabian jujur.
“Pak Fabian, semoga Anda berhasil melupakan perasaan cinta buta Anda terhadap Nona Jessica, dan mohon maaf, jika sudah tidak ada lagi yang ingin Anda sampaikan, saya ingin undur diri, karena hari ini saya sedang mempersiapkan acara penutupan dari rangkaian perayaan ulang tahun perusahaan Batara Group,” tutur Alan yang membuat Fabian terdiam namun menatap dalam wajah Alan.
“Pak Fabian, saya harap Anda tidak berbuat sesuatu yang membuat citra buruk perusahaan kita, karena seluruh dunia kini sudah tahu siapa Nona Jessica,” ucap Alan yang seakan memperingati Fabian.
“Kamu tenang saja Alan, aku bisa menempatkan diri,” ucap Fabian meyakinkan Alan.
Dengan berat hati Alan membawa Fabian, kesebuah hotel berbintang di kota J. Tempat dimana acara itu diselenggarakan.
Pukul tujuh malam, acara perayaan ulang tahun perusahaan Batara Group di mulai, Jessica terlihat hadir dengan menggandeng mesra lengan sang suami. Ia berjalan memasuki ballroom hotel beriringan dengan kedua mertuanya. Banyak mata yang memperhatikan Jessica yang tampil memukau dibalik gaun malam yang sangat terlihat mewah, meskipun tengah hamil besar karena mengandung dua bayi kembar, sama sekali tidak mengurai pesona kecantikan ibu hamil itu. Senyum terus terukir di wajah cantik Jessica malam ini, hingga sosok seseorang yang tak sengaja ia lihat ada di belakang meja FOH, tengah memperhatikan dirinya, mampu memudarkan senyum itu. Ia meremat lengan sang suami, seakan memberi kode bahwa ia saat ini merasa tak baik-baik saja.
__ADS_1
Sadar, jika sang istri merasakan sesuatu, Andre segera menolehkan pandangannya kepada sang istri.
“Ada Apa Mommy?” tanya Andre yang menaataap manik mata Jessica yang sedang melihat ke satu arah.
“Daddy, dia disini,” jawab Jessica yang masih memandang Fabian yang tengah berdiri dibalik meja FOH.
Andre yang mendengar jawaban sang istri segera mengikuti araah pandangan mata sang istri.
“Apa Mommy takut padanya?” tanya Andre yang juga menatap Fabian daari kejauhan.
“Tidak Daddy, hanya saja kata Clara, dia mengalami gangguan jiwa, untuk apa dia kesini coba, Dad? Apa Daddy mengundangnya?” jawab Jessica yang juga melontarkan pertanyaan untuk sang suami.
“Daddy tidak mengundangnya dan daddy tidak tahu untuk apa dia datang kesini Mommy, yang pasti dia datang kesini bukan untuk bekerja tapi untuk melihat istri Daddy yang masih bertahta di hatinya,” ujar Andre yang membuat mata Jessica mendelik.
“Jangan mulai Daddy! Mommy itu hanya milik Daddy dan Daddy hanya milik Mommy, jadi jangan ngomong sembarangan, kalau Daddy tidaak mau menerima hukuman dari Mommy! Ingat!! Hanya Daddy yang bertahta di hati Mommy dan begitu juga sebaliknya. Dia itu hanya masa lalu, jadi jangan coba ungkit-ungkit itu lagi!”
“Iya dia itu hanya masa lalu yang tidak selesai-selesai kalau kata Endah karena Mommy masih kepo dan peduli dengan dirinya, bukan begitu humm?”
“Daddy… cukup ya! Mommy gak suka Daddy ngomong kaya gitu.” Protes Jessica yang malah membuat Andre tersenyum melihat wajah kesal sang istri yang menggemaskan baginya.
“Mommy, lucu ya mukanya kalau lagi kesal dan marah sama Daddy kaya gini, jadi pengen cium Mommy aja deh disini.” Ucap Andre yang smencubit lembut pipi Jessica yang sedikit cuby.
“Daddy! Jangan macam-macam ya disini! Cukup satu macam saja nanti di kamar kita, oke?” ucap Jessica yang dijawab dengan anggukan kepala berkali-kali dari sang suami.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana perasaan Fabian saat melihat keromantisan Andre dan Jessica, rasa sakit masih ada, kecewa pada diri sendiri pun masih ada, namun bayangan Hana dengan permintaan terakhirnya di detik-detik terakhir hidupnya, mulai mengikis rasa sakit itu. Dia lebih merasa pedih ketika mengingat bagaimana anaknya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan dirinya.
“Hari ini, mungkin menjadi hari terakhir diriku mengagumi dirimu, hari terakhir aku merasakan cinta butaku padamu, yang tak akan pernah mungkin terbalaskan oleh mu, aku ini hanya seseorang yang pandai menorehkan luka pada semua orang yang menyangi dan mencintaiku,” ucap Fabian dari kejauhan yang tak mungkin didengar oleh Jessica.