Cinta Jessika

Cinta Jessika
Pertemuan


__ADS_3

Jimmy menelan salivanya kasar, ketika Tuan muda sekaligus adik iparnya itu menatapnya tajam dengan bola mata yang hampir keluar dari cangkangnya.


Sekilas Andre menoleh ke arah dimana Endah tengah duduk menikmati makanan yang di siapkan sang suami untuknya, tatapan Endah dan Andre pun bertemu.


Sadar, jika sang adik ipar tengah marah padanya, Endah pun menggerakkan tangannya seakan memotong lehernya sendiri. Ia seakan menakuti-nakuti sang adik ipar.


Andre bergidik ngeri, melihat apa yang dilakukan Endah, si kakak ipar bar-barnya itu.


"Katakan mau apa dia dengan istriku?" Tanya Andre yang kembali menatap Jimmy.


"Istriku ingin mempertemukan istrimu dengan Fabian," jawab Jimmy singkat.


"Untuk apa?" Tanya Andre lagi.


"Memberi kesempatan Fabian untuk berpamitan, dia akan pergi menenangkan dirinya, sebelum ia memulai hidupnya yang baru," jawab Jimmy sesuai dengan apa yang dikatakan sang istri padanya.


"Oke. Aku mengizinkannya, istri ku sedang bersama Mami ku di stan makanan, tunggulah dia kembali sebentar lagi, tapi ingat Jan terlalu lama membawanya, pastikan istri ku kembali dalam keadaan baik-baik saja," akhirnya Andre memberikan izin.


"Terimakasih Ndre, sudah mengizinkan istri ku membawa istrimu pergi menemui Fabian, kau tenang saja, aku akan memperketat pengawasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," ujar Jimmy.


"Hemmm, pergilah segera dari hadapanku! Jangan lama-lama disini bersama ku! Aku tidak mau di terkam istri mu itu, karena aku sudah membiarkan mu berdiri terlalu lama di dekat ku," cetus Andre yang meminta Jimmy segera pergi dari dirinya, karena ia sadar Endah terus memperhatikan interaksi mereka berdua.


Jimmy tersenyum mendengar ucapan Andre yang sepertinya enggan berurusan dengannya, karena istrinya yang begitu bar-bar dan seenaknya kepada adik ipar sekaligus Tuan mudanya itu.


"Ternyata tak hanya diriku yang takut pada keperkasaan istri ku, seorang Andre yang memiliki kekuasaan tanpa batas pun punya rasa takut pada istriku ini hahaha, bravo Endah, bravo," batin Jimmy yang menatap wajah Andre penuh arti.

__ADS_1


Dari tatapan Jimmy, Andre sangat mengerti jika Jimmy sedang meremehkan dirinya di dalam hati Jimmy.


"Pergilah! Jangan melihat ku seperti itu! Aku tahu kau sedang meremehkan ku," Andre kembali mengusir Jimmy yang belum beranjak dari tempatnya berpijak.


"Kau seperti Cenayang, Ndre. Selalu tahu apa yang ada daam pikiran ku," timpal Jimmy yang tersenyum mengejak dirinya.


"Cih, Cenayang katamu? Pergilah cepat! Sebelum kesabaran ku habis pada kalian berdua yang sangat menyebalkan," lagi-lagi Andre mengusir Jimmy kali ini dengan nada bicaranya yang sinis.


Melihat wajah kesal Andre, Jimmy pun segera meninggalkan Andre dan kembali ke mejanya bersama Endah.


"Bagaimana Babang? Berhasilkan?" Tanya Endah yang begitu penasaran, ia langsung saja bertanya sampai tak bisa menunggu suaminya itu untuk duduk sempurna terlebih dahulu.


"Berhasil sayang, dia mengizinkan mu membawa adikmu itu menemui cinta di masa lalunya yang tak kunjung usai, karena sepertinya Tuan muda ku itu takut dengan istri ku yang hebat dan perkasa," jawab Jimmy yang mulai menyantap makanannya, Endah terlihat tersenyum senang mendengar jawaban suaminya itu.


"Ikut gue sebentar Jess," ajak Endah yang langsung saja menggandeng tangan sang adik.


Jessica yang digandeng Endah langsung menatap wajah sang suami, yang tengah duduk di sampingnya, ia seakan sedang meminta persetujuan dari suaminya itu. Boleh atau tidaknya dia pergi bersama sang Kakak.


"Pergilah sayang, aku mengizinkan mu," ucap Andre yang mengerti arti tatapan sang istri.


Jessica pun pergi mengikuti kemana arah kaki Endah melangkah, hingga sampai di ruang VVIP restauran. Kaki Jessica berhenti melangkah, ia berdiri mematung menatap seseorang yang ada di hadapannya, yang juga sedang menatap dirinya dengan tatapan sendu.


Tak lama dari Jessica dan m masuk ke ruang makan VVIP itu, terdengar lagu yang pernah Fabian putar saat dia memutuskan untuk menyerahkan dan melepaskan Jessica untuk pertama kalinya.


Endah yang melihat adiknya terus berdiri di muka pintu pun akhirnya kembali menghampiri sang adik.

__ADS_1


"Dia hanya ingin berpamitan, beri dia kesempatan untuk bicara, ini demi kebaikan kita bersama," bisik Endah di telinga Jessica.


Endah kemudian menuntun Jessica untuk duduk berhadapan dengan Fabian. Ia dengan setia mendampingi sang adik demgan duduk di samping sang adik.


"Bicaralah Om! Aku beri waktu 10 menit untuk mu bicara dengan empat mata dengan adikku, anggaplah aku tak ada diantara kalian," pinta Endah pada Fabian yang terus memandangi wajah Jessica.


"Aku ingin pamit dari hidupmu Jess, sebelum aku memulai hidupku yang baru tanpa dirimu dan tanpa kenangan tentang dirimu, tapi sebelum aku pergi izinkan aku mengutarakan isi hatiku padamu," Fabian memulai percakapannya tanpa tanggapan sedikitpun dari Jessica. Ia hanya duduk dan memilih menjadi pendengar sejati.


"Jujur aku masih mendoakan dirimu sampai detik ini, doa yang awalnya kupanjatkan untuk mengharapkan kehadiran mu kembali disampingku, hingga akhirnya doa yang ku panjatkan untuk kebahagiaan mu bersama pria pilihan mu," ucap Fabian yang kemudian terhenti melihat reaksi Jessica yang masih terdiam.


"Aku sadar aku bukanlah rumah bagimu, aku hanya sekedar tempat singgah bagimu, terimakasih Jess karena sudah pernah menjadikan aku tempat singgah mu dan maaf jika selama kau jadikan diriku tempat singgah mu, aku selalu melukai hatimu, dengan kata-kata kasar yang aku lontarkan pada mu, perbuatan ku yang semena-mena dengan mu, dan bahkan orang sekitar ku pun ikut menyakiti mu, maafkan aku, aku mohon kamu bisa memaafkan ku," Fabian kembali menghentikan ucapannya dan kembali menunggu respon Jessica yang masih saja memilih diam dan mendengarkannya.


"Bisakah kamu bicara sepatah kata untuk menanggapi semua ucapan ku?" Pinta Fabian yang di respon helaan nafas kasar dari Jessica.


Endah sang kakak yang duduk di sampingnya menoleh, mendengar suara helan nafas kasar sang adik.


"Bicaralah Jess, jangan diam saja! Andre tak akan marah dan dia pasti bisa mengerti. Dia sudah tahu kalau gue bawa Lo nemuin Om Duda," ucap Endah yang menatap wajah sang adik dan sedikit meremas pelan tangan sang adik.


Endah ingin sekali pertemuan antara Jessica dan Fabian cepat usai, karena sang suami sudah memperingatinya dengan alasan tak enak dengan Tuan Brata dan Nyonya Ayumi. Jika Jessica hanya berdiam diri terus-menerus, dapat di pastikan pertemuan ini pasti akan berlangsung lama.


"Cepat bicaralah Jess!" Pinta Endah kembali, karena Jessica tetap diam membisu.


Jessica menatap dalam manik mata Endah, mencari kebenaran atas apa yang Endah sampaikan padanya. Ia yang sejak tadi hanya berdiam diri menjadi pendengar sejati kembali terdiam dan terus terdiam, kali ini dia diam untuk berpikir sejenak. Menimang-nimang ia harus bicara atau tidak. Jujur saja ia sangat menjaga perasaan sang suami yang sangat mencintainya.


Sementara itu Fabian terus memperhatikan interaksi adik kakak di hadapannya. Ia menunggu dengan sabar tanggapan Jessica dari semua ucapannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2