
Satu Minggu setelah kejadian itu terjadi. Disebuah rumah mewah di kota J. Seorang pria duduk termenung di taman belakang rumahnya.
"Fabian, sudah waktunya kamu minum obat Nak." Ucap Pria Tua yang kini menghabiskan waktu tuanya untuk merawat putra bungsunya yang mengalami gangguan jiwa.
Fabian membuka mulutnya dan membiarkan sang Daddy memasukkan obat penenang ke dalam mulutnya. Ia menengguk segelas air putih yang disodorkan sang Daddy padanya.
Bagaskara tidak memilih untuk memasukkan Fabian ke Rumah Sakit Jiwa yang akan menambah kehancuran keluarganya di mata masyarakat luas. Setelah beredar kabar tak menyenangkan mengenai keluarganya karena meninggalnya Margareth sang menantu yang berprofesi sebagai Model go internasional itu.
Isu perselingkuhan Fabian dengan sang sekertaris terhembus media karena banyak kamera paparazi yang sempat mengabadikan Fabian dan Clara pernah Cek in disalah satu hotel berbintang dikota J. Yang membuat Publik mengait-ngaitkan meninggalnya Margareth dan ketiga anaknya karena pergi dari Fabian setelah mengetahui perselingkuhan dirinya dengan Clara padahal kenyataannya bukan seperti itu.
Fabian diberikan obat penenang dalam dosis tinggi karena jika ia tak mengkonsumsi obat-obatan tersebut ia sering menagis dan mengamuk ketika ingatannya akan semua kesalahannya pada istri dan ketiga anaknya terlintas di dalam pikirannya.
"Masuklah Nak! Awan sudah hampir gelap, sepertinya akan turun hujan siang ini. Jika kamu disini terus kamu akan kehujanan." Pinta Bagas yang memegangi pergelangan tangan Fabian.
"Istriku dan ketiga anakku disana pun kehujanan Daddy." Ucapnya dengan tatapan mata yang kosong.
"Tidak Nak, mereka tidak kehujanan karena mereka memiliki rumah baru di alam sana. Mereka tak merasakan kehujanan apalagi kepanasan. Masuklah Nak! Jangan membuat mereka sedih karena melihat mu seperti ini!" Balas Bagas yang seakan sedang merayu anak kecil.
Fabian segera menuruti perkataan Bagas, ia mengekori langkah Bagas yang berjalan masuk kedalam rumah. Ternyata di dalam rumah sudah ada Alan dan juga Sisil yang datang untuk meminta tanda tangannya.
"Pak Fabian apa kabar?" Tanya Alan saat netra mereka saling bertemu.
"Baik." Jawab Fabian singkat.
"Syukurlah jika keadaan Anda Baik. Kedatangan saya kesini untuk meminta tanda tangan Anda untuk kepentingan perusahaan.
__ADS_1
"Silahkan duduklah Alan, Sisil!" Ucap Bagas yang meminta Alan dan Sisil untuk duduk kembali di sofa ruang tengah.
Bagas menuntun Fabian untuk duduk di hadapan mereka. Fabian duduk disebuah sofa dengan tatapan kosongnya yang menatap ke satu arah. Netra Sisil terus saja memperhatikan Fabian. Meskipun Alan sudah menoel pahamya agar berhenti menatapi wajah Bossnya itu tapi Sisil tetap saja tak mengindahkan.
"Mana berkas yang harus di tanda tangani Fabian?" Tanya Bagas pada Alan.
"Sisil mana berkasnya?!" Pinta Alan pada Sisil yang matanya masih saja memperhatikan Fabian.
"Oh... Ini Pak." Sisil memberikan berkas-berkas itu kepada Bagas.
Bagas menerimanya dan sejenak membacanya.
"Perusahaan mereka, masih bersedia menggunakan perusahaan kita untuk acara besar mereka?" Tanya Bagas yang tak percaya dengan keputusan pemimpin perusahaan Batara Group yang masih mau menggunakan jasa perusahaan anaknya itu.
"Fabian, tolong tanda tangani beberapa berkas ini Nak!" Pinta Bagas yang memberikan sebuah ballpoint pada tangan Fabian.
Masih dengan tatapan kosongnya Fabian menandatangani berkas-berkas itu di bantu sang Daddy.
"Alan terimakasih telah membantu menjalankan bisnis putraku entah sampai kapan kondisinya akan seperti ini." Ucap Bagas ketika ia memberikan kembali berkas-berkas itu kembali pada Alan.
"Sama-sama Tuan, saya juga berterima kasih karena telah diberikan kepercayaan pada Anda untuk menjalankan perusahaan yang sudah di rintis Pak Fabian dari nol. Kalau begitu kami pamit Tuan, karena masih banyak pekerjaan yang sedang menunggu kami." Balas Alan yang tidak mau berlama-lama disana.
Karena jujur saja hatinya merasa sangat sedih melihat kondisi Fabian yang seperti sekarang ini. Apalagi melihat Bagas yang terlihat letih dimasa Tuanya yang harusnya ia menikmati semua hasil kerja kerasnya selama ini harus kembali merintis dari Nol karena ulah istrinya yang kini menghilang entah kemana.
Bagas tidak mengetahui jika Suci telah tiada. Ia bahkan sudah tak mencari tahu keberadaan sang istri setelah hari itu dimana ia ingin menceraikan sang istri yang terus saja berulah dibelakangnya. Fabian sendiri dikembalikan oleh orang tak dikenal sudah dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
Bagas sama sekali tak menaruh curiga dengan kondisi Fabian yang di bantu seseorang untuk kembali ke kediamannya, karena dia tahu betul sang putra mengalami kesedihan yang mendalam setelah ditinggalkan istri dan ketiga anaknya.
Sekepulangan Alan dan Sisil, Bagas membantu Fabian kembali ke kamarnya yang kini ada di lantai bawah. Bagas mengunci kamar Fabian dari luar setelah memasukkan putranya kedalam kamar.
Saat dia keluar dia dikejutkan dengan kedatangan Clara yang diekori oleh langkah seorang Security yang berusaha menghalangi langkah Clara untuk menemui Tuan Rumahnya.
"Mau apa kau kesini Clara?" Tanya Bagas dengan tatapan ketidak sukaannya.
"Aku hamil anak Putramu, aku butuh uang untuk menggugurkan anak dalam kandungan ku. Aku tak mau melahirkan anaknya yang akan menjadi beban hidupku saja." Ucap Clara tanpa rasa malu dan sopan santun sama sekali.
"Aku tak akan memberikan sepeserpun uangku untuk mu menggugurkan anak itu, jika kau mau uang, tinggallah disini bantu aku merawat Fabian dan juga biarkan anak itu tumbuh di rahimmu! Bukankah kau ini begitu mencintai putraku? Jika kau menolak tawaran yang sudahnku berikan, silahkan kau pergi dari sini dan jangan coba-coba untuk muncul kembali di hadapan ku!" Ucap Bagas dengan tegas pada Clara.
Clara terdiam sejenak untuk berfikir lalu ia menjawab tawaran yang diberikan Bagas padanya.
"Beri aku waktu seminggu untuk berfikir Tuan Bagas, aku akan kembali lagi kesini seminggu lagi dari sekarang. Jika aku tak kembali berarti aku tak menyetujui tawaran yang Anda berikan." Jawab Clara kali ini dengan nada bicara yang sopan.
"Ya berpikirlah dengan jernih sebelum kau mengambil keputusan yang besar dalam hidupmu Clara. Jangan sampai kau menyesal seperti Putraku sekarang! Kembalilah kesini dengan jawaban yang terbaik di dalam hidupmu, Clara! Percayalah tak selamanya Fabian akan terus seperti ini. Jika kamu tulus mencintainya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tidak jauh kemungkinan jika Fabian sembuh nanti akan membalas segala kebaikanmu dengan cinta tulusnya apalagi ada anak yang hadir ditengah-tengah kalian." Ucap Bagas yang seakan menasehati Clara.
"Baik Tuan, kalau begitu aku pamit dulu." Clara memilih segera pamit untuk berfikir tawaran yang diberikan Bagas padanya.
Saat ini dia memang membutuhkan tempat tinggal baru yag tertutup seperti kediaman orang tua Fabian. Dimana ia tak akan bertemu banyak orang yang terus menggunjingkan dirinya dan terus mengaitkan kematian Margareth dan ketiga anaknya dengan dirinya yang tak tahu apa-apa.
"Sepertinya aku akan menerima tawaran Tuan Bagas yang akan membuat hidupku tenang dan nyaman. Aku tidak harus mendengarkan guncingan orang-orang mengenai diriku lagi." Batin Clara yang berjalan keluar dari kediaman Bagas.
Dan dari dalam kamar, Fabian memdengar semua pembicaraan Bagas dan Clara barusan. Dia tak berkata-kata apa-apa baik di mulutnya ataupun dihatinya. Tapi cairan bening kembali mengalir dari kelopak matanya yang selalu menatap kosong langit - langit kamarnya.
__ADS_1