
Sudah satu minggu berlalu, kondisi Cynthia sudah benar - benar pulih. Masih dengan bantuan Dokter Hadi, Cynthia diantarkan ke kediaman Melani, setelah sebelumnya Cynthia sempat menghubungi Melani dengan ponsel milik Dokter Hadi.
Bagi Cynthia Dokter Hadi adalah dewa penolong baginya. Sebelum ia menghubungi Melani, Cynthia sempat berusaha menghubungi nomor ponsel Nico namun nomor Nico selalu tidak tersambung karena tidak aktif. Terlintas kekhawatiran dan pikiran buruk di diri Cynthia tentang menghilangnya Nico selama seminggu ini.
Namun rasa kekhawatiran dan pikiran buruknya mengenai Nico ia singkirkan terlebih dahulu karena yang ia butuhkan saat ini setelah Nico menghilang hanya sosok sang Mommy yang akan menjadi pelindung dan pendukungnya disetiap langkah yang ingin dia lakukan.
Mobil yang di kendarai sopir pribadi Dokter Hadi sudah berhenti disebuah rumah besar di dalam kompleks perumahan elit di kota D.
"Kita sudah sampai Pak," ucap sang supir dari balik kemudinya.
"Iya Tarman, tunggulah disini! Saya akan masuk untuk mengantarkan Cynthia ke dalam." Ucap Dokter Hadi dari kursi belakang yang kemudian menarik handle pintu dan keluar dari mobil setelah pintu terbuka. Begitu pula dengan Cynthia. Cynthia memandangi rumah besar nan mewah di hadapannya.
"Ternyata Mommy memang bukan orang sembarangan, aku tak akan merasakan hidup miskin ataupun sederhana lagi meskipun tidak tinggal bersama Ayah." Ucap Cynthia di dalam hatinya, awal perjalanan tadi Cynthia sangat takut untuk bertemu dengan Melani ia takut harus menerima kenyataan akan menjalani hidup susah bersama sang Mommy, seperti yang ia ketahui Melani tidak memiliki pekerjaan ataupun penghasilan untuk membiayai hidupnya sendiri dan selama ini selalu bergantung dari Omma Suci.
Dokter Hadi menekan tombol bel yang ada di di dinding pagar rumah mewah bermodel minimalis itu.
Seorang pria tinggi besar dengan perawakan menyeramkan keluar dari pintu rumah. Ia berjalan menghampiri pagar dan membukakan pintu pagar agar keduanya bisa masuk.
"Silahkan masuk! Nyonya dan Tuan sudah menunggu Anda di dalam Nona." Ucap pria menyeramkan itu dengan wajah dingin dan datarnya.
Keduanya masuk kedalam rumah berjalan membuntuti pria yang bertampang menyeramkan yang merupakan anak buah dari Ferry.
"Tuan Nyonya, mereka sudah datang." Ucap anak buah Ferry kepada Melani dan Ferry yang sedang duduk di ruang keluarga. setelah sebelumnya anak buah Ferry meminta Cynthia dan Dokter Hadi untuk duduk dan menunggu di ruang tamu.
Melani berjalan keruang tamu sembari mendorong kursi roda yang terdapat Ferry di dalamnya. Ferry lumpuh dan tak bisa lagi disembuhkan karena Brata dengan orang-orang suruhannya sudah menyuntik permanen kelumpuhan Ferry.
Melani mengunci kursi roda Ferry, kemudian berjalan menghampiri Cynthia yang tengah berdiri mematung manatap dirinya penuh tanya, begitu pula dengan Dokter Hadi yang berdiri mematung menatap Ferry yang terduduk di kursi roda.
"Tuan Ferry, adik ipar Tuan Santoso kenapa dia ada disini? Kenapa dia menggunakan kursi roda apa dia lumpuh?" Timbul pertanyaan didalam benak Dokter Hadi ketika melihat Ferry.
Melani memeluk tubuh putri satu-satunya itu dan berkata.
__ADS_1
"Cynthia anakku sayang, maafkan Mommy yang tidak mengetahui musibah yang telah kamu alami Nak, sabarkan hati mu Nak, Sekarang Mommy dan Daddymu sudah ada disini bersama mu." Ucap Melani yang menangis saat memeluk Cynthia.
"Daddy ku, apa maksud Mommy? Bukankah Daddy ku sudah meninggal di penjara seperti yang dulu Mommy ceritakan padaku?" Tanya Cynthia dengan nada yang meninggi, melepas pelukan Melani dengan kasar.
Dokter Hadi menyeryitkan kedua alisanya mendengar ucapan Cynthia.
"Ternyata kalian bukalah keluarga baik-baik." Imbuh Dokter Hadi didalam hatinya.
"Maafkan Mommy yang berbohong padamu saat itu sayang, Daddy kandungmu adalah dia, Ayah angkat dari Endah putri kandung Ayah Nico mu."
Baik Cynthia maupun Dokter Hadi terkejut mendengar penuturan Melani.
"Apa??? Kegilaan apa lagi ini Mommy? Kau biarkan aku hidup dengan kesederhanaan diambang kemiskinan sedang Endah, kau buag di tempat yang nyaman oenuh dengan gelimangan harta." Cynthia langsung protes yang membuat Dokter Hadi mengetahui tabiat asli wanita yang ia tolong selama ini.
"Maafkan Mommy sayang, maafkan Mommy... Duduklah sayang kita bicarakan baik-baik." Ucap Melani yang berusaha menenangkan Cynthia dengan bermain mata kepada putrinya itu agar putrinya segera sadar jika ada orang lain di tengah-tengah mereka. Cynthia yang mengerti langsung terdiam dan duduk meskipun wajahnya ia tekuk.
"Dokter Hadi, mohon maaf atas sambutan yang tidak menyenangkan ini." Ucap Melani yang duduk di samping Cynthia berhadapan dengan Ferry yang duduk di kursi roda.
"Baiklah Dokter Hadi, terimakasih banyak atas kebaikan Dokter Hadi pada putri kami. Tolong terimalah ini sebagai tanda terima kasih kami yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan Dokter Hadi selama ini terhadap putri saya l." Ucap Melani yang memberikan goodie bag yang berisikan amplop coklat penuh uang didalamnya.
"Tidak perlu seperti ini Nyonya, saya ikhlas membantu Cynthia." Tolak Dokter Hadi.
"Tolong hargai pemberian kami Dokter, saya sangat tahu Dokter sangat baik hati dan ikhlas menolong putri kami, tapi tolong terimalah pemberian kami ini." Pinta Melani dengan memohon.
Untuk mempersingkat waktu Dokter Hadipun menerimanya, ia mengucapkan terima kasih dan pamit undur diri.
Sesampainya di dalam mobil. Dokter Hadi segera menghubungi seseorang yang sangat penting dan sangat menyeramkan jika ia sampai berkhianat padanya. Ya siapalagi orang itu jika bukan Tuan besar Brata Kusuma.
"Hallo Tuan, saya ingin mengabarkan saya sudah mengantar Cynthia kepada kedua orang tuanya. Ternyata Cynthia adalah putri kandung Tuan Ferry adik ipar adik Anda,Tuan Santoso." Ucap Dokter Hadi di sambungan teleponnya bersama Tuan Brata.
"Oh, ternyata Cynthia adalah putri kandungnya, Baiklah Hadi teruslah berbuat baik pada keluarga itu, mereka pasti akan sering menghubungi mu karena kebaikanmu pada putrinya. Pantau mereka dan teruslah melaporkannya padaku. Aku akan memberikan hadiah pada mu setelah urusanku dengan mereka selesai." Tanggap Brata dengan janjinya
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Dokter Hadi dengan singkat yang menjadi kalimat penutup komunikasi mereka.
Sementara itu di kantor pusat Batara Group yang berada di kota D. Nico sedang menatap penuh arti sahabat baiknya yang sudah menjadi besannya itu.
"Hei Nic, jangan menatapku seperti itu hah! Tatapan mu itu sungguh menakutkan. Apa kau tak terima jika aku melakukan sesuatu pada putri kesayangan mu itu?" Protes Brata yang mendapatkan sorotan tatapan penuh arti dari Nico setelah Nico mendengar pembicaraannya denga Dokter Hadi.
"Kau bunuh putri Melani itupun aku tak perduli Brat." Ucap Nico yang masih menatap Brata dengan tatapan tajam penuh arti itu.
"Hahahaha benarkah? Apa rasa sayang mu padanya sudah berubah menjadi rasa benci?" Tanya Brata yang seakan meledek Nico.
"Aku datang kesini bukan untuk kau ledek Brat, aku datang kesini untuk meminta bantuan mu mempertemukan aku dan keluargaku yang sudah menjauhi ku." Protes Nico.
"Oh, iya aku lupa kau datang kesini untuk mereka. Istrimu setiap hari selalu punya kegiatan rutin dengan istriku dan istri Kak Adam. Apalagi mereka kini sibuk menyiapkan pernikahan putramu yang hampir di depan mata dengan keponakan ku, Anna." Terang Brata yang membuat Nico manggut-manggut.
"Lalu bagaiman dengan kedua putri ku, Brat?"
"Endah dan Jessica maksudmu?"tanya Brata dengan nada meledek sahabatnya itu.
"Memangnya siapa lagi putriku, selain mereka Brat?" Balas Nico dengan bertanya dengan nada bicara yang begitu ketus.
"Ya ku kira, kau masih menganggap Cynthia itu putri mu." Jawab Brata yang oembali meledek Nico yang langsung mendapatkan lemparan ballpoint dari Nico.
"Berhentilah meledek ku Brat, ini sungguh tidak lucu." Ucap Nico yang sudah naik darah karena terus diledek Besannya itu.
"Endah sedang hamil muda, ngidamnya anak mu itu sungguh menyusahkan suaminya. Ada-ada saja yang di pinta putrimu itu, sedang menantuku Jessica kehamilannya membuatnya bertingkah pecicilan yang juga membuat putraku ketar-ketir melihatnya yang tak bisa diam. Kau tahu Nic, Mansion Andre itu tak pernah sepi, Mansion itu sepi jika kedua anakmu dan calon menantu mu itu tidur. Karena jika mereka tidak tidur ada saja keributan yang mereka ciptakan, sampai-sampai istri mu pusing menghadapi mereka, makanya istrimu sekarang memiliki kegiatan rutin di luar bersama istriku dan istri Kak Adam untuk menghindari ke stressannya menghadapi kedua putrimu dan calon menantu mu yang satu server itu. " Ucap Brata yang membuat Nico tersenyum namun terasa nyeri di hatinya.
"Brata, bantu aku memperbaiki semuanya. Terutama bantu aku mendapatkan maaf dari Putraku dan putra mu. Jika aku tak minta maaf terlebih dahulu pada mereka. Jalanku menemui istri dan kedua putriku seakan tertutup oleh mereka berdua." Pinta Nico kali ini dengan wajah yang memohon.
"Aku akan membantu mu Nic, maaf jika sikap anakku tak sopan padamu dan menyakiti hatimu Nic, aku paham betul kenapa dia melakukan semua itu, itu semua karena dia terlalu mencintai putrimu Nic." Jawab Brata.
"Ya aku mengerti dan sudah memaafkan semua kesalahan Putramu padaku, Brat." Jawab Nico dengan suara lemahnya.
__ADS_1