
Margaret meninggalkan diriku begitu saja di Coffee Shop. Sebelum pergi dia hanya menekankan padaku. Bahwa ia tak akan menuntutku untuk bertanggung jawab dengan putra yang telah dilahirkannya. Tapi walau bagaimanapun putranya itu adalah darah dagingku. Tak akan aku biarkan dia hidup tanpa sosok diriku disampingnya.
Aku berusaha menyusul langkah kaki Margaret namun sia-sia. Ia telah pergi begitu cepat meninggalkan diriku. Ku hampiri Alan yang sedang bekerja menghandle semua pekerjaan ku.
"Alan apa kau yang menghubungi Margaret untuk datang kesini?"tanya ku pada Alan yang sedang memegang Rundown acara puncak pameran dengan suara yang meninggi.
"Iya Pak, Maafkan kelancangan saya karena sudah ikut campur urusan pribadi Bapak." jawab Alan dengan suara yang gemetar.
"Untuk apa kau memintanya kesini Alan?"
"Untuk menghentikan aksi mabuk-mabukan bapak di kamar hotel. Sudah cukup berhari-hari bapak menghabiskan waktu untuk berdiam diri dengan mabuk-mabukan Pak. Saya tidak bisa membiarkan Bapak merusak tubuh bapak seperti itu. Jika Bapak sampai jatuh sakit seperti dulu yang akan jadi korban adalah anak-anak Bapak. Dan saya memiliki pemikiran wanita yang bisa menghentikan aksi Bapak selain Jessica ya Ibu Margaret mantan istri Bapak."
"Kau benar Alan. Terimakasih atas perhatian dan kebaikan mu. Alan, apa kau tau dimana Margaret menginap? Dia baru saja pergi meninggalkanku begitu saja setelah menemaniku menemui Tuan Andre." tanya ku pada Alan.
"Di hotel yang sama dengan kita Pak." jawab Alan dengan pasti.
"Apa Bapak ingin menemuinya kembali? Saya akan segera menghubunginya untuk mendatangi Bapak. Bapak tak perlu repot-repot mendatanginya."
"Tidak perlu Alan aku sendiri yang akan mendatanginya." Saat aku ingin melangkah meninggalkan Alan. Alan menarik lenganku.
"Pak, biar Ibu saja yang mendatangi Bapak. Bapak tunggulah disini!" pinta Alan pada ku saat ia menarik lenganku dengan kuat. Ini pertama kalinya Alan mencegahku melakukan sesuatu.
"Kenapa kau begitu takut aku mendatanginya Alan. Memangnya dengan siapa dia datang kesini Alan? Hingga kau menghalangiku mendatanginya seperti ini." Alan terdiam mendengar pertanyaanku. Ia seperti berusaha menutupi sesuatu dari diri ku.
"Jawablah dengan jujur Alan dengan siapa dia datang menyusul ku kesini? Apa ada pria lain yang datang bersamanya? Hingga kau menganggap aku akan bertambah hancur jika aku menyusulnya?" tanya ku lagi dengan suara yang menekan Alan untuk segera menjawab pertanyaanku.
"Ya Pak dia bersama laki-laki lain kesini. Laki-laki yang tak lain adalah Putramu yang baru menginjak usia 3 bulan, dia juga datang bersama Baby sisternya Pak." jawab Alan dengan lantang.
Deg!
"Dia bersama Putra ku." Aku terdiam sejenak.
Lalu mengambil langkah mundur dan berlari menyusul keberadaan Margaret.
Aku tak lagi mempedulikan teriakan Alan yang terus memanggilku. Jika bicara tentang Anak hatiku langsung luluh lantang.
Dalam fikiranku saat ini, aku tak harus lagi memikirkan perasaanku pada Jessica. Aku harus melupakannya. Dan untuk rasa bersalah ku padanya aku akan mengikuti kata-kata Andre. Jika takdir mempertemukanku kembali dengannya aku hanya akan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku. Dan sekarang aku rasa dia akan baik-baik saja di tangan Andre. Si Tuan penguasa itu. Sekarang yang lebih penting aku harus bertanggung jawab dengan perbuatanku pada mantan istriku.
Aku kembali ke hotel dengan menggunakan taksi. Sesampainya di hotel aku segera berlari kemeja resepsionis menanyakan di mana kamar Margaret menginap. Setelah mengetahui dimana kamar Margaret. Segera ku langkahkan kakiku menuju kamarnya. Aku begitu bersemangat berlari menuju kamar Margaret. Aku tekan bel pada pintu kamar Margaret setibanya aku dimuka pintu kamar hotel dimana Margaret menginap.
Jantung ku berdetak tak menentu. Rasa sedih dan bahagia menjadi satu. Aku seakan melupakan begitu saja perasaanku pada Jessica setelah mengetahui aku memiliki seorang putra dari mantan istriku.
Seorang Baby sister membukakan pintu kamar hotel. Ia mendangi wajahku berusaha mengenaliku. Aku bertanya padanya. "Apa benar ini kamar Ibu Margaret?"
"Betul Pak, mohon maaf Bapak siapa?" tanya Baby sister itu padaku.
"Mantan suaminya."jawabku singkat.
__ADS_1
"Tapi maaf Pak nyonya sedang istirahat. Bapak bisa datang lagi kesini nanti sore atau malam." Baby Sister itu menolak kedatanganku setelah mengetahui aku mantan suami majikannya.
Ia dengan segera ingin menutup pintu kamar. Aku yang melihatnya mencoba menahan pintu itu agar tidak tertutup dengan kakiku. Ku dorong sekuat tenagaku menghalangi aksinya yang mendorong pintu agar tertutup. Namun tenaga Baby Sister itu tak begitu besar. Sekali hentak doronganku di pintu membuatnya jatuh kelantai, pintu pun berhasil terbuka lebar, segera aku menerobos masuk kekamarnya.
Baby Sister itu terus saja menarik kaki ku yang melewati dirinya. Ia masih berusaha menghalangi langkahku menghampiri Margaret namun tenaganya yang tak sebanding denganku. Membuat usahanya menjadi sia-sia. Ku hempaskan kaki ku dengan kuat hingga membuatnya jatuh kembali tersungkur dilantai. Ku lihat kondisi Baby Sister itu yang tergeletak tak berdaya karena hentakan kaki ku. Dia tak lagi bergerak namun nafasnya terlihat teratur. Ku rasa dia pingsan.
Ku ambil ponselku meminta Alan mengirimkan seseorang untuk menangani Baby Sister yang pingsan ini.
Aku melanjutkan langkah kaki menghampiri Margaret yang katanya sedang beristirahat. Langkahku terhenti saat ku lihat bayi laki-laki sedang meminum asi dari sumbernya. Ku lihat Margaret yang belum sempat mengganti pakaiannya namun matanya tengah terpejam dan buliran bening mengalir disela-sela matanya.
"Maafkan aku Margaret...Aku tau kau habis menangis karena diriku." ucapku lirih didalam hatiku.
Bayi laki-laki itu melihat keberadaanku yang tepat berada di depan ranjang tidurnya, ia melepaskan mulutnya dari sumber asi yang tengah ia minum, Mata bayi itu terus saja memandangi wajahku kemudian memberikan ku senyuman yang begitu menggemaskan. Aku pun mengambilnya dari tempat tidur dan menggendongnya dalam dekapanku. Ku peluk dan ku ciumi putra yang tak pernah ku ketahui keberadaannya.
"Putraku..." ucap ku lirih.
Margaret terbangun dari tidurnya karena menyadari putranya tak berada disampingnya. Dia begitu terkejut melihat keberadaanku.
"Bie... Untuk apa kau kesini?" tanyanya dengan mata yang begitu merah khas orang yang terbangun karena terkejut.
"Untuk melihat putraku."
"Kau hanya boleh milihatnya tapi kau tak boleh mengambilnya Bie. Hanya dia yang ku miliki di dunia ini." ucapnya begitu lirih.
Ia segera membenahi pakaiannya memasukan kembali sumber asi kedalam pakaiannya. Setelah itu ia bangun dari posisi tidurnya.
"Margaret, kembalilah padaku. Aku ingin kita rujuk kembali memulai semuanya dari awal. Membesarkan anak-anak kita bersama." pinta ku padanya.
"Aku akan selesaikan semuanya segera dan tentang Mami kau jangan khawatirkan masalah itu. Aku akan ikut tinggal bersama mu dengan anak-anak."
"Sebaiknya kau cari tahu alasan kenapa aku meninggalkanmu dulu Bie! Sembari kau memastikan hati mu."
"Aku tak ingin lagi mengorek ataupun mencari tahu masa lalu yang kelam itu, sekarang bantu aku melupakan semua ini dan kembalilah padaku, kita buka lembaran baru bersama keluarga kecil kita, bersama anak-anak kita, ku mohon Margaret." Aku mencoba memohon pada Margaret. Dengan duduk bersimpuh dihadapannya sembari menggendong putraku.
"Baiklah aku akan kembali padamu Bie demi anak-anak." Margaret menerima tawaranku untuk rujuk. Hatiku begitu bahagia ditambah sekecil tersenyum melihat diriku dan juga Margaret.
Tak ingin membuang waktu lama, aku khawatir Margaret akan berubah fikiran kembali. Segera aku mencari tahu dimana tempat yang bisa menikahkan kembali diriku dan Margaret. Karena ini bukan di kota J aku sangat kesulitan mendapatkan tempat dimana bisa menikahkan kembali kami berdua ditambah Alan asistenku tengah sibuk menggarap Eventku yang belum selesai.
Dalam kebingunganku. Margaret mengusulkan padaku untuk bertanya pada Andre karena dia adalah orang asli kota D. Pastinya dia lebih banyak tahu tempat dimana bisa menikahkan kembali kami berdua.
Dengan berat hati aku menghubungi Andre sesuai permintaan Margaret. Ku cari nomor ponselnya di layar ponselku. Setelah ketemu aku segera menghubunginya.
"tut..tut..tut.." nada dering memanggil.
"Hallo.." sapa Andre disebrang sana.
"Kak Andre cepat ihhh ihhh..." suara seorang wanita yang begitu manja memanggil namanya ku dengar.
__ADS_1
"Iya tunggu sayang, aku lagi menerima telepon." jawab Andre pada wanita itu yang aku dengar.
"Maaf ada perlu apa Pak Fabian menghubungiku?" tanyanya dengan suara begitu cepat tidak sesantai tadi di Coffee Shop.
"Kak Andre lama banget sih ihhhh..." lagi-lagi suara wanita itu memanggilnya seakan tak sabar menunggu Andre.
"Iya sayang sebentar 5 menit oke." lagi-lagi ku dengar Andre menjawab panggilan wanita itu dengan rasa takut menurut ku.
"Pak Fabian maaf aku tak bisa berlama-lama menerima panggilan telepon dari dirimu, katakan ada perlu apa Anda meneleponku." ia kembali memintaku untuk cepat mengutarakan maksud dan tujuanku menelepon dirinya.
"Aku butuh bantuanmu untuk mencarikan tempat ataupun orang yang bisa menikahkan aku kembali dengan mantan istriku."
"Apa??? Anda ingin rujuk dengan Margaret?? Apa dia sudah memberitahukan dirimu mengenai putramu?? Apa karena itu Anda ingin rujuk dengannya??" Andre membrodongku dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Iya aku sudah mengetahuinya." ku jawab seluruh pertanyaannya dengan satu kalimat pasti yang keluar dari mulutku.
"Aku tak akan membantumu untuk rujuk dengannya Pak Fabian. Kau hanya akan menyakitinya seperti yang kau lalukan pada Jessica. Tak akan aku biarkan kakak sepupu sahabatku kau sakiti lagi Fabian." tolaknya.
"Aku tak akan menyakitinya Tuan Andre. Ketiga anakku membutuhkan kedua orang tua yang utuh." aku berusaha menyakinkannya.
"Kenapa tidak kau lakukan sejak dulu Fabian? Kenapa baru sekarang? Aku harap kau tidak akan menyakitinya lagi, terlebih ibu mu yang begitu kejam dan keji mendepaknya karena dia bukan wanita yang terlahir dari kalangan atas. Seharus kau menyudahi hubunganmu dengan Rania terlebih dahulu sebelum rujuk dengan Margaret. Aku khawatir Margaret akan bernasib sama seperti Jessica. Ku harap kau tidak mempersulit hidup Margaret lagi Pak Fabian."
"Apa maksudmu Tuan Andre?"
"Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya pada mu, jika kau mau tahu alasannya kau bisa tanyakan pada Margaret ataupun Alan asistenmu. Aku akan meminta Jimmy mendatangi hotel dimana kalian menginap. Dia akan mengantarkan kalian ke rumah penghulu yang bisa menikahkan kalian kembali, itu pun jika dia setuju kau menikah kembali dengan kakak sepupunya. Dan untuk Rania aku akan membantumu mengetahui sepak terjang Rania dibelakangmu itupun jika kau jadi menikah dengan Margaret."
"Kau membuatku penasaran Tuan Andre, dengan semua ucapanmu pada ku barusan. Kenapa kau banyak tahu segela hal tentang diriku?"
"Itu tidak penting untuk di bahas Pak Fabian. Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan pada ku, aku akan menutup panggilan telepon ini."
"Ya baiklah silahkan kau tutup panggilan telepon ini Tuan Andre. Terimakasih atas informasi dan bantuanmu padaku." Andre tak menjawab ucapan terimakasih yang aku ucapkan padanya. Ia langsung memutuskan panggilan telepon ku begitu saja.
"Bie apa kau lihat Baby Sister ku?" tanya Margaret yang menyadari tak melihat batang hidung Baby Sisternya.
"Dia pingsan karena sudah menghalangi aku masuk menemui mu." jawabku santai.
Mata Margaret membola mendengar jawabanku. Sembari menggendong putraku ia berjalan menuju pintu kamar. Dan dia mendapati Baby Sisternya yang tersungkur di lantai dalam kondisi pingsan.
"Bie...Bie..." panggilnya namun aku tak mau menyahut.
"Bie...Bie... FABIAN!!!!" Margaret meneriaki nama ku. Suaranya begitu melengking.
Aku yang tengah duduk di sofa pun akhirnya bangkit dan menghampirinya.
"Apa?" tanya ku saat menghampiri dirinya.
"Apa kata mu? Lihatlah hasil perbuatanmu! Kau angkatlah dia ke ranjang. Jangan biarkan dia tergolek dilantai seperti ini. Dia bisa bertambah sakit jika di biarkan seperti ini. Kau memang seperti Banteng Bie... Pantas saja karyawanmu memberimu julukan itu pada mu." Margaret terus saja mengoceh dengan omelannya memerintahku seakan dirinya Boss.
__ADS_1
Aku mengangkat Baby Sister itu dengan terpaksa dan meletakkannya di ranjang. Ku lihat mata Margaret yang terus saja memelototiku sembari menggendong putraku. Sudah pasti dia tengah marah pada ku.
Bersambung