
Di kota J
Suci nampak tergesa-gesa berjalan melewati lorong rumah sakit, ia ingin segera sampai di ruang rawat Fabian, untuk melihat kondisi putra bungsunya yang terkapar lemah tak berdaya.
Langkah Suci tiba-tiba saja terhenti saat melihat Margaret dan ketiga anaknya berada di luar ruangan. Margaret kala itu baru saja keluar dari ruang rawat Fabian ketika mendapat telepon dari pengasuh ketiga anaknya, pengasuh itu memberitahukan padanya bahwa mereka sudah tiba di depan pintu ruang rawat Fabian.
Margaret segara menggendong si kecil yang ada di gendongan suster pengasuh anaknya itu.
"Berikan Kenzo pada saya sus!" Pinta Margaret pada suster pengasuh anaknya.
Suster pengasuh itu pun memberikan Kenzo pada sang Mami. Ketika Kenzo sudah berada di dalam gendongannya, Margaret dan ketiga anaknya masuk kembali keruang rawat Fabian.
Margaret sengaja meminta suster pengasuh membawa ketiga anaknya untuk memancing kesadaran Fabian. Margaret berharap dengan kedatangan putra dan putrinya membuat Fabian bersemangat dan bangun dari tidur dalamnya.
Hana yang melihat sang Papi tergolek lemah tak berdaya di ranjang kesakitan segera berlari memeluk tubuh Fabian.
"PAPi!!!" Pekik Hana dengan air mata yang jatuh bercucuran melihat kondisi Papinya yang terbaring tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi Pih? Kenapa Papi bisa seperti ini? Bangun Pih... tolong jangan tinggalkan Hana? Hana sayang Papi..." ucapnya dengan deraian air mata sembari menggoncangkan tubuh Fabian.
Margaret meninggalkan Hani yang terpaku melihat kondisi sang Papi, ia melangkah kakinya mendekati Hana, kemudian mengusap lembut rambut putrinya, seakan menguatkan putrinya agar tetap kuat dan tegar menghadapi cobaan hidup yang sedang mereka alami.
Margaret berusaha menahan air mata yang sudah ingin keluar kembali namun ia tak bisa menahannya ketika melihat kedua putrinya begitu terpukul melihat kondisi Fabian saat ini, air mata yang ia kira sudah mengeringpun kembali tumpah ke permukaan saat melihat Hana terus berusaha membangunkan Fabian dengan menggoncangkan tubuh Fabian sekuat tenaganya namun Fabian tak merespon sedikitpun. Hana terus saja memeluk dada bidang Fabian tanpa mau melepasnya, ia seakan tak mau di pisahkan oleh Papi yang sangat ia sayangi.
"Hana sayang, kuatkan hati mu nak, kita berdoa semoga Papi cepat sadar dan bangun dari tidurnya,"ucap Maragaret dengan suara seraknya karena terlalu banyak menangis.
Margaret yang berdiri di belakang Hana kemudian melangkah maju mendekati telinga Fabian. Ia mencoba mendekatkan Kenzo yang tak berhenti berceloteh ke telinga Fabian. Ia berfikir siapa tahu dengan mendengar suara celotehan Kenzo akan memancing kesadarannya seperti yang di sarankan Dokter.
"Bie bangunlah Putra dan Putri mu sudah datang menjenguk mu, jangan biarkan mereka bersedih terlalu lama karena kamu yang masih menikmati tidur dalam mu," ucap Margaret dengan suara yang bergetar.
Hani yang sejak tadi berdiri di posisi yang sama seperti terlihat begitu syok melihat kondisi Fabian. Ia tak mampu berkata-kata ataupun melangkahkan kakinya mendekati ranjang Fabian. Ia hanya berdiri mematung dengan air mata yang menetes begitu derasnya tanpa bersuara.
Disisi lain Suci yang merasa enggan ke ruangan Fabian karena ada Margaret disana dikejutkan dengan suara Alan yang menyapanya dari belakang.
"Kenapa masih berdiri disini Nyonya? Apa Anda tidak jadi keruangan Pak Fabian?" Tanya Alan yang melihat Suci dengan pandangan tak biasanya.
"Nanti saja aku akan kembali lagi kesini Alan." Jawab Suci tanpa menatap wajah Alan.
"Kenapa harus menunggu nanti Nyonya? Apa Anda sedang menghindari seseorang Nyonya?" Tanya Alan lagi.
"Tidak, aku tidak sedang menghindari seseorang Alan." Jawab Suci mengelak, sebenarnya memang ia ingin menghindari pertemuannya dengan Margaret.
"Kalau Anda sedang tidak menghindari seseorang mari masuk bersama saya Nyonya," ajak Alan.
"Tidak, sudah ku bilang aku akan kembali nanti saja. Jaga sopan santun mu Alan! Dan jangan memaksaku untuk masuk saat aku sudah berkata nanti saja," ucap Suci penuh emosi dengan menatap tajam wajah Alan.
"Sekarang ataupun nanti orang yang sedang kau hindari tak akan pergi jauh dari suaminya yang sedang terbaring lemah tak berdaya Nyonya. Saya sangat yakin semua ini terjadi pasti Andalah penyebabnya," ucap Alan yang membalas menatap tajam Suci.
Untuk pertama kalinya Alan berbicara lancang pada orang tua atasannya itu.
__ADS_1
"Jaga bicaramu Alan! Kamu sudah mulai kurang ajar," ucap Suci geram, ia sudah ingin melayangkan sebuah tamparan ke pipi Alan namun sebuah tangan menghalanginya.
"Cukup Mom, jangan buat keributan dirumah sakit ini!" Ucap Bagas dengan suara lantangnya sembari meremas pergelangan istrinya.
"Dad, kau membelanya?" Tanya Suci tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Tentu aku membelanya, Alan sudah menceritakan segalanya pada ku, ibu macam apa kamu ini? Jika kamu mau pergi silahkan pergi tapi jangan harap aku akan mengizinkan mu menemui ketiga putra ku setelah ini!" Ancam Bagas pada istrinya kemudian menghempas kasar tangan istrinya.
Bagas berjalan bersama Alan menuju ruang rawat Fabian meninggalkan Suci yang berdiri mematung.
"Dad, kamu sudah berubah? Ini semua karena Margaret dan Dewi. Dua wanita sialan yang sudah mengacaukan hidupku." Batin Suci.
Suci yang takut akan ancaman suaminya segera menyusul langkah suaminya dari belakang.
Bagas dan Alan masuk terlebih dahulu keruang rawat Fabian. Bagas segera memeluk tubuh Hani yang berdiri terpaku sembari menangis dalam diam dengan mata yang terus saja menatap Fabian.
"Sudah jangan menangis cucu Oppa, Hani harus kuat dan terus berdoa untuk kesembuhan Papi ya sayang!" Pinta Bagas pada Hani.
"Oppa, Papi ku terus tertidur dan tak bangun walaupun Kak Hana sudah membangunkannya, apakah Papiku akan segera pergi ke surga?" Tanya Hani dengan polosnya.
Mendengar pertanyaan adiknya Hana kembali menangis tersedu-sedu di atas dada Fabian.
"Hana tenang nak, jangan terus menangis, Papi pasti tidak mau putri cantiknya terus bersedih dan menangis," ujar Margaret yang berusaha meredakan tangis Hana.
"Papi mu akan segera bangun secepatnya Hani, dia tidak akan pergi kemana-mana jika Hani berhenti bersedih dan terus berdoa untuk kesembuhan Papi, Hani maukan berdoa untuk kesembuhan Papi?" Jawab Bagas yang dibalas anggukan kepala oleh Hani.
Bagas menarik tubuh Hani untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia membelai lembut cucunya yang masuk kedalam pelukkannya.
Suci nampak membuka pintu, ia melihat pemandangan yang mengharukan dimana Hana sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh Fabian yang terbaring tak sadarkan diri, Margaret yang mencoba menenangkan putrinya itu tidak berhasil, kesedihan Hana begitu mendalam melihat kondisi sang Papi seperti itu, ia tak dapat membayangkan jika Fabian nantinya akan pergi selama-lamanya, bagaimana dengan kondisi kedua putrinya nanti yang sudah mengerti ini?.
Suci juga melihat Bagas sang suami yang sedang berusaha menenangkan Hani dengan memeluk erat tubuh cucunya itu dalam dekapannya. Berbeda dengan Hana, Hani mulai berangsur - angsur tenang saat Bagas memeluknya dan membelai sayang rambut panjang Hani yang sengaja tergerai.
"Ini semua tak akan terjadi jika kamu tidak kembali ke hidup Fabian, kamu ini memang wanita pembawa sial," ucap Suci sembari menarik tubuh Margaret dengan kasar agar menjauh dari Fabian dan Hana.
Margaret dan Kenzo hampir saja terjatuh untung ada Alan yang sigap menahan tubuh Margaret.
"MAMI APA YANG KAU LAKUKAN??"pekik Bagas yang melihat apa yang dilakukan istrinya terhadap menantunya itu.
"Apa yang aku lakukan? Aku hanya melakukan tugas ku menjauhkan wanita pembawa sial ini dari keluarga ku," sahut Suci yang menatap dingin wajah suaminya yang terlihat begitu membela menantunya itu.
"Omma jangan sakiti Mamiku!" Pinta Hana pada sang Omma yang berdiri tepat di belakangnya.
"Dia bukan Mami mu sayang, bukankah kami ingin Tante Jessica menjadi Mami mu?" Sahut Suci yang merendahkan posisinya agar sejajar dengan tubuh Hana.
"MAMI!!! CUKUP!!!" pekik Bagas kemudian berjalan mendekati Suci lalu menarik Suci menjauh dari Hana. Bagas mendorong kasar tubuh Suci ke sofa panjang yang ada di ruang itu.
"DAD!!!"pekik Suci yang merasa kesakitan di perlakukan kasar.di depan semua orang.
"Sudah cukup jangan kamu meracuni lagi fikiran cucu ku! Jika kamu tidak bisa menerima Margaret dan tidak bisa menghapus dendam mu pada Dewi dan keluarganya. DENGAN TERPAKSA AKU AKAN MENCERAIKAN MU!!!" Ucap Bagas begitu lantang sembari menunjuk wajah Suci dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"DAD!!! Sampai kapanpun aku tak akan menerima dia menjadi menantuku."
"Baiklah kalau itu mau mu, berarti kau sudah siap untuk aku ceraikan, dan ingat jangan kau datangi kedua putra ku saat aku sudah menceraikan mu nanti. Pergi saja kau dengan Melani keponakan tersayang mu."
"Tidak Dad, aku tak mau kita bercerai,"
"Jika kau tidak mau aku ceraikan kau harus bisa menerima Margaret menjadi menantu mu dan berdamailah dengan hati dan fikiran mu untuk menghapus dendam mu yang menyebabkan malapeta di keluarga kita."
Suasana berubah hening ketika Suci tak lagi menjawab kata-kata Bagas. Ia duduk terdiam menatap wajah suaminya dengan deraian air mata.
"Tuan Bagas," panggil Alan yang berjalan mendekati Bagas.
"Apa kita coba sekarang?" Tanya Alan pada Bagas.
"Silahkan Alan, cobalah jika itu bisa membuatnya bangun dan sadar!" Jawab Bagas yang mempersilahkan Alan untuk melakukan sesuatu pada Fabian.
Alan kembali melangkah mendekati Fabian, ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah rekaman. Rekaman yang merupakan rekaman suara Jessica ketika bernyanyi.
Dua kali rekaman itu berputar, seluruh mata tertuju menatap Fabian, tiba-tiba Hana menjerit yang setia berdiri di samping ranjang Fabian.
"Mam...Lihatlah!!! Papi mengerakkan jarinya...Papi... Papi bangun Pih!!" Pekik Hana sembari menunjukkan jari-jari Fabian yang bergerak-gerak.
Margaret berjalan mendekati ranjang. Ia memperhatikan tangan Fabian yang terus bergerak merespon suara rekaman Jessica.
"Kau begitu dalam mencintainya Bie, hanya dengan mendengar suaranya kamu terbangun dari alam bawah sadar mu, aku tak yakin bisa menghapus cinta mu pada Jessica, dia terlanjur bertahta di hati mu, Bie," batin Margaret yang begitu lirih.
"Je...Jes...si..ca" suara Fabian pelan dan terbata mencari keberadaan Jessica. Bertambahlah kepedihan Margaret mendengar suara Fabian memanggil nama wanita lain ketika ia baru saja bangun dari tidur dalamnya.
Mata Fabian masih terpejam namun bibirnya terus menerus menyebut nama Jessica. Melihat respon Fabian, semua orang mendekati ranjang Fabian.
Bagas yang sudah berdiri disamping ranjang bersama Suci dan Hani segera meminta Alan memanggilkan Dokter untuk memeriksa kondisi Fabian yang mereka kira sudah bangun dan sadar dari tidur dalamnya.
"Bie, maafkan Mommy nak, bangun sayang.... bangun nak," ucap Suci sembari memeluk tubuh Anaknya itu.
Tanpa di duga mendengar suara Suci tubuh Fabian merespon, namun respon yang diberikan Fabian sangat tidak di harapkan semua orang.
Tubuh Fabian kejang-kejang, seketika suasana ruang rawat yang tadinya terpancar kebahagiaan itu berubah menjadi tegang dan penuh ke khawatiran. Suara isak tangis kedua putri Fabian kembali menggema seisi ruangan karena melihat tubuh Fabian kejang-kejang. Mendengar kedua kakaknya menangis kencang, Kenzo yang ada di dalam gendongan Margaret pun ikut menangis yang tak kalah kencang.
Margaret segera keluar untuk memberikan Kenzo pada sang pengasuh. Margaret kembali kedalam kemudian memeluk kedua putrinya, berusaha menenangkan kedua putrinya yang menangis.
Dokter yang tadinya berjalan santai menuju ruang rawat Fabian bersama Alan, akhirnya berlarian ketika Bagas menghampiri Dokter dan mengatakan kondisi putranya yang kejang-kejang saat ini.
Semua orang diminta keluar dari ruang rawat itu ketika Dokter telah tiba di dalam ruangan. Dokter dan tim medis lainnya segera melakukan penanganan pada Fabian.
Di luar ruang rawat Fabian, Bagas mencengkram kuat tangan istrinya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putraku, Suci?" Tanya Bagas dengan mata yang tajam bagaikan silet. Ia tak lagi memanggil istrinya dengan sebutan Mommy.
"Aku tidak lakukan apapun Dad." Jawab Suci berbohong.
__ADS_1
"Ck. Jangan coba-coba membohongi ku lagi! Jika kau tidak melakukan hal buruk padanya tidak mungkin tubuh Fabian merespon seperti itu, aku sangat menyesal telah menikahi wanita kejam seperti mu," ucap Bagas kemudian menghempas kasar tangan Suci yang ia cengkram lalu meninggalkannya.
"Dad..." Suci tak bisa berkata-kata apalagi ia hanya bisa memanggil suaminya dan menatap punggung suaminya yang berjalan pergi menjauhinya.