
"Bukan pria biasa??" Tanya Endah tak mengerti.
"Ya pria yang kau cintai memang bukan pria biasa, apa dia belum menceritakan tentang dirinya pada mu?" Sahut Adam sembari berjalan mendekati mereka. Adam menatap tajam wajah Jimmy saat melewatinya.
"Belum, aku dan dia baru saja menjalin hubungan Paman. Baru hitungan minggu, bukan bulan atau tahun. Masih banyak waktu untuk aku dan dia saling mengenal. Mungkin akan ada waktu dimana dia akan menceritakan dirinya dari A-Z." Endah menjawab sahutan Paman dengan tegas dan lantang.
Endah membuktikan pada Jimmy jika ia sama-sama ingin berjuang. Di hati Jimmy begitu berbunga-bunga mendengar sang kekasih membalas sahutan Adam yang seakan ingin mematahkan cintanya.
"Terima kasih sayang, kau sudah membuktikan perjuanganmu." Batin Jimmy yang menatap kekasihnya.
"Mungkin saat kau mengetahui semua hal tentang dirinya kau akan berfikir 1000 kali untuk tetap di sisinya karena rasa takutmu yang mendominasi." Ucap Adam yang lagi-lagi memprovokasi Endah untuk meninggalkan Jimmy.
"Memangnya apa yang harus aku ketahui dari diri kekasihku Paman? Apa maksud Nenek dan dirimu kekasihku ini bukan pria biasa? Apa kekasihku ini seorang vampir atau manusia serigala yang harus aku takuti?" Tanya Endah dengan suara yang tinggi membuat Abraham yang sedang merebahkan diri di kamar tamu merasa terusik karena suara Endah yang bergitu keras.
"Suara berisik siapa itu?" Pekik Abraham ketika berada di mua pintu kamar tamu yang letaknya sangat dekat dengan ruangan televisi.
"Aku, kenapa??" Sahut Endah yang sedang emosi.
"Ohh...kau cucu baru ku." Timpal Abraham yang berjalan menghampiri sang cucu yang sedang memasang wajah siap berperang.
"Kenapa kau marah-marah? Dengan siapa kau marah-marah hemm?" Tanya Abraham sembari mengacak-acak bagian atas rambut Endah.
"Diamlah Kek, aku sedang tidak mood kau ajak bercanda." Jawab Endah ketus.
Hubungan Endah dan Abraham sudah cukup dekat ketika Leon memperkenalkan Endah sebagai adik angkatnya saat di acara pernikahan Jessica dan Andre. Abraham sangat suka menggoda Endah yang mulutnya seperti petasan. Merepet kemana-mana jika emosinya terpancing, persis seperti dirinya dikala masa mudanya dulu.
"Hei, siapa yang membuat cucu ku marah, kau kah Mom atau kaukah Lestari hemm?" Tanya Abraham yang menunjuk keduanya secara bergantian.
Lestari dan Dewi kompok menjawab dengan menggelengkan kepala, membuat Abraham menatap ke arah Jimmy dan Adam.
__ADS_1
"Apa kalian berdua?" Tanya Abraham pada keduanya sembari menunjukkan jari telunjuknya.
"Dia marah pada ku Dad karena dia." Jawab Adam yang menunjuk Jimmy.
"Kenapa dengan Jimmy Son?" Tanya Abraham masih terlihat santai.
"Paman berbicara pada ku seakan ingin mematahkan cintaku pada Babang Jimmy ku." Endah tak menberi kesempatan Adam untuk menjawab pertanyaan Abraham dengan cepat ia menjawab pertanyaan itu.
"Cinta?? Babang Jimmy ku??" Abraham membeo menatap tajam ke arah Jimmy.
"Saya akan jelaskan Tuan." Ucap Jimmy tegas.
"Apa yang ingin kau jelaskan Jim?" Tanya Abraham dengan wajah tak biasanya.
"Kakek, apa kau sama saja dengan Paman, mau mematahkan cinta ku dengannya?" Tanya Endah dengan menarik lengan Abraham kasar hingga membuat Abraham menoleh padanya.
"Kenapa apa kau tak suka jika aku melakukannya?"tanya Abraham menatap tajam Endah yang bersikap berani padanya.
"Mau memisahkan kamu dengan dia itu pasti." Jawab Abraham.
"Kalian tak akan berhasil memisahkan aku dan dia. Karena aku dan dia satu, tak bisa terpisahkan."
"Kalian harus berpisah demi keselamatanmu kedepannya."
"Perduli setan dengan keselamatanku. Mati bersamanya pun aku sanggup."
"ENDAH, jaga bicara mu!" Pekik Adam.
"Aku tak perlu menjaga bicaraku pada orang-orang yang ingin mengusik kebahagiaan ku. Sudah cukup selama ini aku hidup menderita tanpa kasih sayang. Dikucilkan lingkunganku hanya karena aku anak angkat, tak pernah dianggap ada meskipun aku ada di tengah-tengah mereka, keluarga angkatku sendiri. Berpura-pura sakit hanya untuk mencuri perhatian mereka. Mirisnya hidup yang aku lalui mengemis kasih sayang dari mereka. Dan sekarang kalian hadir sebagai keluarga kandung ku hanya untuk merusak kebahagiaanku. Menjauhkan seseorang yang berarti dalam hidupku, orang yang dalam beberapa hari ini menjadikan aku ratu di hidupnya, menumpahkan segala.kasih sayangnya padaku, tak pernah ada kata penolakan dari mulutnya dari semua permintaan ku. Jadi tak akan pernah aku biarkan kalian memisahkan ataupun menjauhkan aku dengan Jimmy. Jika aku boleh memilih lebih baik kalian tak pernah hadir dalam hidupku." Pekik Endah membalas pekikan Adam dengan suara yang lantang tanpa air mata. Air matanya sudah mengering jika harus mengingat penderitaannya.
__ADS_1
"Kau begitu keras kepala," sahut Adam yang kesal karena Endah terus berani membalas kata-katanya.
"Jika aku tak keras kepala seperti ini, mungkin saat ini kalian hanya akan menemui batu nisan yang bertuliskan namaku. Orang lain belum tentu kuat menjalani hidup yang ku jalani. Terasingkan, terabaikan, tak dimengerti dan tak dianggap ada oleh keluarga angkatku. Mungkin mati adalah jalan yang terbaik untuk orang-orang lemah yang menjalani hidup seperti ku." Sahut Endah penuh emosi.
"Cukup Endah!" Pekik Abraham meminta Endah berhenti berucap karena hati Abraham sudah merasa bersalah dan bodoh tidak mengetahui cucunya berhasil di tukar oleh Melani dan Suci. Kata-kata Endah benar-benar memporak-porandakan hati Abraham.
"Kenapa? Kenapa aku harus berhenti Kek? Apa kau tak mau mendengar cerita hidupku yang oenuh dengan enderitaan?"tanya Endah dengan beraninya mengguncangkan tubuh tua Abraham yang masih terlihat gagah.
"Tanpa kau ceritakan aku sudah mengetahui semua penderitaanmu, aku melarang mu bersamanya hanya demi keselamatanmu. Agar kau tak merasakan penderitaan lagi dikemudian hari." Jawab Abraham dengan suara yang merendah.
"Apa maksud dari menjaga kesalamatan ku apa kekasihku seorang penjahat?" Tanya Endah dengan memasang wajah penasaran.
"Bukan hanya seorang penjahat, dia seorang anggota mafia internasional dan juga terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin." Adam menjawab pertanyaan Endah yang dilayangkan pada Abraham.
"Apa??" Endah terkejut tak percaya mendengar jawaban Adam. Seketika itu juga Endah menatap wajah Jimmy yang masih terlihat datar dan terlihat tenang seakan tak terjadi apa-apa dihadapannya.
Respon Endah tak jauh berbeda dengan Lestari. Lestari juga nampah terkejut dan menatap ngeri kepada Jimmy yang terlihat sopan dan berwibawa.
"Apakah menantuku juga sama sepertinya?" Batin Lestari yang tiba-tiba saja mencurigai Andre sang menantu.
"Damn.. Tuan Adam mengulitiku, aku harus mempersiapkan hati ku untuk patah hati kembali, Endah pasti takut dan ilfil dengan ku, lihat saja cara mu menatap ku sudah berbeda, apa maksud dari tatapan mu ini pada ku sayang?" Batin Jimmy.
"Apa kau tahu darimana dia pergi hari ini? Dia meninggalkan mu dengan kakak sepupunya dengan alasan menjemput keponakannya bukan? Dimana ia menjemput keponakan dan bagaimana cara ia menjemputnya apa kau tahu? Apa dia menceritakannya pada mu hah?" Tanya Adam pada Endah.
"Aku memang tidak tahu dan tidak perlu mencampuri daerah privasinya Paman. Jika ia ingin terbuka pada ku maka dia akan menceritakannya pada ku cepat atau lambat, jika ia memang menjaga privasinya aku pun tak mempermasalahkannya, aku harus hargai itu bukan? Aku ini baru berstatus kekasihnya bukan istrinya, bukannya tidak sepantasnya aku terlalu ikut campur lebih dalam kehidupan pribadinya?" Jawab Endah yang masih membela Jimmy.
"Apa setelah kau mendengar siapa dia sebenarnya kau sama sekali tak merasa bermasalah dengan profesinya diluar dari seorang assiten CEO? Apa kau masih mau menerimanya setelah hari ini dia sudah menghabiskan enam nyawa sekaligus dalam hitungan menit?" Tanya Adam memastikan pilihan Endah.
"Enam nyawa sekaligus?" Abraham membeo.
__ADS_1
"Ya enam nyawa sekaligus, Dad." Ucap Adam meyakinkan Abraham.
"Bagaimana Endah apa kau masih ingin bersamanya?" Tanya Abraham pada Endah yang masih setia berdiri di sampingnya..