Cinta Jessika

Cinta Jessika
Endah dan Fabian


__ADS_3

"Setabah apapun hati mu memeluk sebuah cinta yang telah retak, sekuat apapun tangan mu menggapainya, se-berusaha apapun kamu menjaga hatimu untuknya, jika takdir sudah menetapkan bahwa dia bukanlah tulang rusuk mu, dia tak akan pernah jadi milikmu, ikhlaskan dia dan biarkan dia bahagia dengan pemilik hatinya yang tepat." Suara seorang wanita yang tengah berdiri tepat di belakang Fabian, berhasil membuat Fabian menoleh ke arah sumber suara itu.


Endah. Ya suara wanita itu adalah suara Endah. Ia baru saja tiba dengan sang suami, saat ia ingin menyapa sang adik dari kejauhan, ia malah mendapati sepasang suami istri itu tengah menatap kesatu arah yang sama, sambil berdiskusi begitu serius.


"Liat apa sih mereka? Serius banget, jadi kepo nih gue." Gumam Endah yang langsung disahuti sang suami.


"Kamu tuh gak cape kepoin hidup orang terus hum?"


"Gak, soalnya akukan gak punya kerjaan, kecuali di kerjain kamu diatas ranjang hehehe." Jawab Endah yang membuat Jimmy menengok kanan, kiri, depan dan belakang. Ia sangat takut ada yang mendengar ucapan istrinya yang asal itu.


Saat sang suami sibuk melihat -lihat keadaan sekitar, Endah dengan Jiwa keponya yang sudah meronta-ronta, merasa daripada anaknya ileran karena penasaran, akhirnya ibu hamil satu ini mengikuti arah pandang sepasang suami istri itu.


"Weleh-weleh, ternyata mereka lagi ngeliatin si Om Duda," ucap Endah dengan suara yang begitu pelan namun masi dapat didengar sang suami. Jimmy pun mengikuti arah pandang sang istri, ia juga terlihat begitu terkejut melihat kehadiran sosok Fabian disana.


"Ngapain tuh Om Duda gak waras kesini? Mau buat kegaduhan atau minta tiket nyusul nyokapnya?" gumam Endah.


"Udah biarkan saja dia, sayang. Selagi dia gak ganggu, kita tidak perlu menganggap keberadaannya," timpal Jimmy yang mendengar gumaman sang istri.


"Eitss, gak bisa begitu Kisanak, kehadiran dia disini tidak ada didalam list undangan, Dinda kesana dulu ya, Dinda mau menghempas lalat pengganggu, Kisanak duduk manis saja disana duluan,ya. Jangan lupa untuk carikan cembilan cepuluh buat isi tanki anak-anak kita di perut Dinda, ya!" protes Endah yang malah dengan entengnya menyuruh sang suami mencari cemilan untuknya terlebih dahulu.


Jimmy yang enggan ribut, dan mempertontonkan kelemahan dirinya saat bersama Endah, akhirnya memilih menurut saja.

__ADS_1


"Jika orang lain semua tunduk pada perintah ku, lain cerita dengan diriku, sudah jadi deritaku yang harus tunduk dengan apapun perkata istriku, yang sangat pandai memutar balikkan fakta," Batin Jimmy mengeluh saat berjalan sendiri ke arah meja yang telah tersedia untuknya.


Dengan langkah cepat Endah berjalan menghampiri Fabian namun saat ia ingin menaiki anak tangga menuju podium FOH, sebuah tangan pria mencekal langkahnya.


"Maaf, Nyonya. Jika tindakan saya ini lancang. Dia kesini hanya ingin melihat adik Nyonya untuk terakhir kalinya, karena dia akan oergi meninggalkan negara ini untuk sementara waktu, sebelum ia memulai hidupnya yang baru. Tolong izinkan dia hanya kali ini saja walau hanya sesaat untuk melihat adik Nyonya, saya jamin dia tak akan membuat keributan," Alan berkata dengan oenuh kehati-hatian, ia harus tahu diri dengan siapa dia sedang berhadapan.


"Bukankah dia mengalami gangguan jiwa?" Tanya Endah dengan wajah yang begitu serius menatap Alan.


"Saya pun menganggapnya seperti itu sebelumnya, Nyonya. Namun hari ini dia menjelaskan sebenarnya pada saya, jika dia tidak mengalami itu semua dan menceritakan pada saya dengan rencana hidupnya kedepannya nanti," jawab Alan yang membuat Endah hanya manggut-manggut memdengarnya.


"Ohhh, begitu. Kalau begitu minggirlah! Ada hal yang ingin aku bicarakan padanya, jika dia memang benar-benar waras," sahut Endah yang mendorong tubuh Alan kesamping.


"Endah," panggil Fabian dengan suara yang pelan dan bergetar saat melihat Endah berdiri di hadapannya.


"Ya, aku, kenapa? Apa kamu takut dengan ku Om?" Tanya Endah dengan santainya, ia menarik sebuah kursi kosong disana dan duduk sambil menopang kaki mentap Fabian dengan tatapan penuh arti.


Fabian terdiam mendengar pertanyaan Endah, mulutnya seakan tak bisa menjawab pertanyaan itu, rasa takut kembali menggelayuti dirinya. Bayang wajah sang Mommy yang tergeletak diatas lantai setelah ditembak oleh Endah muncul begitu saja. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan memajamkan matanya.


"Aku minta maaf atas kejadian waktu lalu Om Duda, aku tahu kau pasti merasa kehilangannya bukan? Setelah sebelumnya kau sudah kehilangan anak dan istrimu. Sejahat apapun dirinya padamu, tapi dia tetap Mommy mu, bukan? Mungkin kau akan mudah memaafkannya, tapi tidak dengan diriku, dia adalah akar dari segala kemalangan hidup yang menimpa diriku. Dua puluh tahun lebih Om, aku hidup dalam penderitaan. Aku sering terabaikan, makanya aku sangat mengerti bagaimana perasaan mu sekarang, jangan lagi kamu mengemis cinta yang hanya akan menyakiti jiwa mu." Tutur Endah yang didengar begitu serius oleh Fabian.


"Aku sudah memaafkan mu, Endah," jawab Fabian singkat.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memaafkan atas segala kejahatan ku yang berdampak pada kejiwaan mu Om," balas Endah yang membuat Fabian tersenyum.


"Aku tidak mengalami gangguan jiwa seperti dugaan kalian, aku hanya butuh waktu menenangkan diriku, pikiran ku begitu kalut, aku terus dihantui rasa bersalah, bayangan kejadian yang tak aku inginkan selalu saja hadir didalam pikiran ku. Aku berteriak karena aku berusaha mengusir bayangan itu, tapi kalian menganggapnya lain." Terang Fabian yang kemudian melangkahkan kakinya ingin meninggalkan FOH.


"Jika Om Duda ingin bertemu Jessica sebelum Om Duda pergi, aku akan membantu mu Om, tapi berjanjilah untuk tidak berbuat macam-macam dengannya," tawar Endah yang berhasil membuat langkah Fabian terhenti.


"Apa itu tak akan jadi masalah? Aku yakin Andre tak akan mengizinkannya," tanya Fabian yang tak yakin dengan tawaran Endah.


"Serahkan saja semuanya padaku, tunggulah kehadiran kami, di restoran hotel ini. Aku akan membawanya kepada mu." Jawab Endah yang kemudian beranjak dari kursi duduknya, ia berjalan menuruni anak tangga.


Endah menyusul keberadaan sang suami, sesampainya disana Endah mengatakan semua pembicaraannya kepada sang suami. Awalnya Jimmy tak mengizinkan, namun setelah mendengar alasan Endah. Jimmy pun akhirnya setuju.


Sekarang tugas Jimmy-lah yang meminta izin kepada adik ipar sekaligus Tuan Mudanya itu.


"Ndre," panggil Jimmy yang berdiri membungkuk di samping telinga Andre.


"Hemmm, ada apa?" Tanya Andre yang tetap menyantap menu makanan appetizer dihadapannya.


"Istri ku ingin meminjam istri mu, apa boleh?" jawab Jimmy dengan perasaan takut. Jawab Jimmy seketika menghentikan aktivitas Andre yang sedang menikmati makanannya itu.


"Dimana letak otak istri mu yang gesrek itu, hah? Memangnya istri ku ini barang, bisa di pinjam-pinjam begitu saja, lagi pula mau apa dia dengan istri ku, hah?" Tanya Andre yang membuat Jimmy bingung untuk menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2