
Pov Fabian
Aku memandangi wajah cantik wanita yang ku cintai dari pantulan center miror di mobil yang ku naiki, wajahnya yang kini berubah menjadi sendu dan tatapannya yang kosong seperti memikirkan sesuatu yang tak ku ketahui. Semua ini terjadi setelah ia mengetahui Andre akan pergi. Kenapa harus dia yang kau pilih? Kenapa bukan aku? semudah itukah kau berpaling? Kenapa kau begitu tega pada ku? Pertanyaan - pertanyaan yang muncul dibenakku tak bisa ku ungkapkan padamu. Karna sekarang kau seperti menghindariku.
Jessica, Aku akan meresapi semua makna dibalik kenyataan pahit yang kau berikan padaku. Ketika kau datang membawa cinta untukku, aku malah menorehkan luka di hatimu. Ketika kusadari aku mencintaimu dan tak ingin jauh dari mu. Aku malah telah kehilangan cinta itu. Kini semuanya telah terbalik kau-lah yang kini menggores luka di hatiku. Di balik tubuh kekar ku ini aku begitu ringkih, karena ada rasa sakit yang mungkin tak dapat terobati. Satu hal yang paling menyesakkan di hati ku dan jiwaku adalah saat kau menetapkan hatimu untuknya tanpa memperdulikan perjuanganku. Kini Ada kesadaran dalam diamku. Keegoisanku keangkuhanku dan kesalahan di masa laluku, serta semua kesalahan yang pernah kuperbuat padamu hingga kau merasa tersakiti olehku yang mungkin menjadi penyebab kau berpaling dariku. Namun hati ini belum bisa belum siap terima kehilanganmu, karena banyak mimpi-mimpi dan angan-anganku yang telah ku persiapkan untuk hidup bahagia bersamamu. Izinkan aku tetap berjuang untuk membawamu pulang kembali ke pelukanku meski aku harus merebut paksa dirimu dari Andre.
POV Author
Mobil yang di kendarai Toto telah tiba di Perusahaan Nagaswara. Fabian turun dari mobil dan diam berdiri didepan pintu mobil yang terbuka. Fabian menunggu Jessica untuk turun. Setelah Clara menuruni mobil barulah Jessica turun. Fabian yang tengah berdiri di dekat mobil sudah melihat Jessica turun langsung menarik tangan Jessica dan menggenggam tangan Jessica secara paksa. Jessica berusaha melepaskan genggaman tangan Fabian namun tenaga Fabian lebih besar dibandingkan tenaganya mebuat usahanya menjadi sia-sia. Akhirnya Jessica hanya bisa pasrah karena rasa sakit di tangannya mendominasi ketika ia berusaha melepaskan diri. Walaupun dia sudah mengeluh sakit Fabian tidak juga melepaskan tangan Jessica se akan tidak memperdulikan akan rasa sakit yang di rasakan Jessica.
"Sakit Pak, lepas!!" Keluh Jessica berulang kali berharap Fabian melepaskan tangannya.
Apa yang dilakukan Fabian pada Jessica tidak luput dari penglihatan Clara , Sisil dan juga Lina.
"Wah, si Bocil bikin drama cinta segitiga antara dia , si Bos dan Tuan Andre. Gue si berharap si bocil sama Tuan Andre aja. Kalau dia sama si bos bakalan sakit hati terus apalagi ngadepin cewek gatel yang ada di sebelah gue" batin Lina yang sedang berdiri diantara Clara dan juga Sisil dan yang dimaksud LIna adalah Clara.
"Kita lihat apa yang terjadi pada mu hari ini Jessica?" batin Clara menatap Jessica penuh kebencian.
"Jessica, semoga kamu baik- baik saja." batin Sisil ketika melihat Jessica seperti kesakitan mendapat perlakuan kasar Fabian. Yang menarik paksa tangan Jessica.
Kini Fabian dan Jessica berada di depan pintu lift. Mereka menunggu pintu lift terbuka. Cukup lama menunggu pintu lift terbuka. Dan saat pintu lift terbuka. Fabian terkejut karena melihat ke hadiran Rania yang ada di dalam lift. Mata Rania membulat sempurna saat ia melihat Fabian sedang menggenggam tangan Jessica. Sadar akan arah sorot mata Rania. Fabian akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Jessica memegangi tangannya yang sakit karena ulang Fabian. Ia merasa tangannya sedikit terkilir karena perbuatan Fabian barusan.
"Kau ada disini Nia?" tanya Fabian pada Rania.
"Iya seperti yang kau lihat Bie." jawab Rania yang menatap wajah Jessica penuh kebencian.
"Hahaha.... Sepertinya sebentar lagi aku akan menyaksikan kekejaman Rania pada mu Jessica." batin Clara yang begitu senang melihat kehadiran Rania ditengah-tengah mereka.
Kini mereka semua berada di satu lift menuju lantai 5. Fabian terus memperhatikan Jessica dari pantulan bayangannya di pintu lift. Jessica berdiri di paling belakang. Ia terlihat sibuk memegangi pergelangan tangannya. Rania sengaja bergelayut manja dilengan Fabian. Menunjukkan pada semua orang di dalam lift terutama Jessica kalau Fabian adalah miliknya. Namun sayangnya Jessica tidak memperhatikan Rania dan Fabian karena dia tengah sibuk memperhatikan pergelangan tangannya sendiri..
Saat ini mereka semua telah keluar dari lift. Fabian menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat Jessica Lina dan Sisil yang berjalan menuju ruang kerja mereka. Di hati kecilnya ia masih ingin bersama dengan Jessica namun apa daya kedatangan Rania mengubur semua keinginannya pada Jessica.
"Sisil katakan pada Jessica lakukan tugasnya setelah ini" Pekik Fabian dengan suara yang keras. Karena mereka sudah berada sedikit jauh dari Fabian.
Sisil pun menoleh kearah Fabian. Kemudian menunduk dan menjawab perintah atasannya itu. "Baik pak."
"Jess, lu denger kan? Dia mau lu buatin kopi seperti biasa. Sana buatin baru balik keruangan! Sabar ya Jess?!" ucap Sisil sambil memegangi bahu Jessica.
"Iya mbak." jawab Jessica lesu.
"Sini tas lu gue bawain Cil!" Lina menawarkan diri membawa tas kerja Jessica. Jessica pun memberikan tasnya pada Lina.
__ADS_1
Jessica berjalan menuju pantry. Ia ingin membuat kopi untuk Fabian. Ia merebus air panas baru di teko elektrik yang ada di pantry. Fabian tidak mau kopinya dibuat dari air panas yang ada di dispenser. Jadi Jessica harus merebus airnya terlebih dahulu. Jessica duduk di pantry sambil menunggu airnya matang.
"Ting.." bunyi teko listrik menandakan air telah matang. Ia menuangkan tiga sendok teh kopi dengan satu sendok teh gula kedalam cangkir kemudian menuangkan air panas kedalam cangkir yang sudah terisi kopi itu. Ia mengaduk kopi itu hingga gulanya larut. Saat dia sedang mengaduk kopi untuk Fabian. Rania datang langsung menyiram tangan kanan Jessica dengan air panas didalam teko listrik yang ada dihadapan Jessica.
"A a a aaaaaaa panasss....." teriak Jessica, dia langsung meniup punggung tangannya yang tersiram air panas oleh Rania.
"A ... apa yang anda lakukan nona?" ucap Jessica yang tengah meringis kesakitan.
"Itu sedikit pelajaran kecil dariku karena tangan kotormu itu sudah menyentuh tangan calon suamiku. Jangan coba-coba merebut Fabian dari ku wanita murahan!!" Caci Rania pada Jessica didepan wajah Jessica tak lupa ia juga meludahi wajah Jessica yang sedang meringis kesakitan lalu ia beranjak pergi begitu saja meninggalkan Jessica.
Dibalik pintu sejak tadi Clara sedang berdiri mengintip apa yang dilakukan Rania pada Jessica. Wajah Clara nampak begitu senang melihat Jessica sedang di siksa oleh Rania.
"Rasakan Jessica itulah pelajaran untukmu karena sudah merebut Fabian dari kami." batin Clara. Clara yang melihat Rania ingin keluar dari pantry, ia dengan segera bersembunyi agar tidak terlihat keberadaanya oleh Rania dan juga Jessica.
Jessica pun berlari keruangannya sambil menangis merasakan sakit hati akan hinaan dan perlakuan buruk Rania terhadap dirinya yang membuat tangannya mengalami luka bakar seperti ini.
Jessica mendorong pintu ruang AE dengan kasar disertai isak tangisnya. Membuat seisi ruangan terkejut di buatnya. Jessica berjalan ke meja kerjanya dan berusaha mengambil ponsel miliknya di dalam tas dengan menggunakan tangan kirinya dengan tergesa-gesa. Lina dan Sisil serta karyawan lain menghampiri Jessica di meja kerjanya ingin menanyakan apa yang terjadi sehingga ia kembali dengan kondisi yang seperti ini.
"Kamu kenapa Jess?" tanya Sisil.
"Sil liat tangannya merah banget!" ucap Lina pada Sisil.
"A P A???" ucap mereka bersamaan karena sama-sama terkejut.
"Pasta gigi ada yang bawa pasta gigi nggak?" ucap Aldo terlihat panik ketika mendengar jawaban Jessica.
"Gue bawa tunggu - tunggu gue ambilin." ucap Iwan kemudian berlari kemeja kerjanya dan kembali dengan cepat. Memberikan pasta gigi pada Lina. Lina pun langsung mengolesi punggung tangan Jessica yang memerah dengan pasta gigi.
"Sudah jangan nangis lagi Jes!" ucap Aldo.
"Tapi ini itu perih dan panas kak." keluh Jessica yang masih saja menangis.
"Mbak tolong bantu aku carikan nomor Abang Leon di ponsel ku! aku mau pulang saja." pinta Jessica pada Sisil. Jessica memberikan ponselnya pada Sisil. Sisil membantu Jessica mencari nomor Leon di ponsel Jessica. Setelah mendapatkannya Sisil memberikan ponselnya pada Jessica dengan nada ponsel dalam kondisi sudah memanggil.
"Hallo, ada apa Jess?" sapa Leon.
"Bang...hiks...hiks..." Jessica memangil Leon disertai isak tangis.
"Hai kenapa kamu menangis? Kamu kenapa Jes?" Leon seketika panik mendengar suara adiknya menangis begitu pilu.
"Tanganku disiram air panas Bang hiks.... hiks ....Sakit bang tangan aku... Aku mau pulang hiks ....hiks.... Jemput aku Bang hiks...hiks...!" ucap Jessica dengan suara yang menyayat hati Leon.
__ADS_1
"A P A?? SIAPA YANG MELAKUKANNYA JESS? BILANG SAMA ABANG SIAPA YANG MELAKUKANNYA?!!" tanya Leon dengan suara yang memekik karena terkejut dengan apa yang menimpa adiknya. Jessica memilih diam tak menjawab dia hanya merengek minta di jemput untuk membawanya pergi dari perusahaan Fabian.
"Tapi abang sedang mau presentasi Jess!" ucap Leon dengan terpaksa meski hatinya bimbang dan rasa keinginan untuk menjemput adiknya sangat besar.
"A a a panas Bang... Aku mau pulang" rengekan Jessica pada Leon .
"Baiklah tunggu Abang disana dengan sabar dan berhentilah menangis!" ucap Leon dengan segera menutup panggilan telepon Jessica.
Kini Leon yang berada di perusahaan Batara Group. Dia sedang berada di ruang meeting. Beberapa Staff Perusahaan Dakota sedang menunggu acara meeting di mulai. Acara belum dimulai karena Andre belum datang ke ruang meeting.
"Sial lama sekali dia datang, sudah ku bilang aku tidak suka dibuat menunggu." rutuk Leon di hatinya. Ia merutuki calon adik iparnya itu.
Leon duduk dengan gusar di kursinya. Ia sibuk dengan ponselnya berusaha menghubungi calon adik iparnya itu agar segera datang untuk memulai meeting agar dia cepat bisa menjemput adiknya. Karena sibuknya Leon mengetik pesan diponselnya hingga ia tidak menyadari kedatangan Andre diruang meeting. Andre melihat raut wajah Leon yang begitu gusar dan kesals sedang sibuk mengetik di ponselnya menjadi penasaran dan perasaannya di hatinya tiba-tiba saja merasa begitu mengkhawatirkan Jessica.
Andre berjalan menghampiri kursi Leon untuk mengusir rasa penasarannya. Seluruh mata diruang meeting menatap heran Andre yang menghampiri Leon terkecuali Jimmy.
"Kau kenapa Leon?" tanya Andre dari belakang kursi Leon. Mengejutkan Leon hingga membuat Leon menjatuhkan ponselnya.
"Sialan. Kenapa kau lama sekali datangnya Hah?" ucap Leon marah tak perduli lagi posisi dia saat ini. Ia tidak perduli keharusan dia yang harusnya ia menghargai dan menghormati Andre sebagai calon investor untuk perusahaan di mana tempatnya bekerja saat ini.
"Hai ada apa? Kenapa kau semarah itu pada ku?" tanya Andre heran.
"Aku harus menjemput Jessica sekarang. Saat ini dia sangat membutuhkan ku. Kau harus menyetujui proyek ini tanpa harus aku presentasi." ucap Leon seenaknya kemudian beranjak pergi.
Andre menahan langkah Leon dengan menarik lengan Leon dengan kuat. Semua orang yang berada diruang meeting memperhatikan mereka.
"Katakan apa yang terjadi padanya? Kenapa kau harus segera menjemputnya? Jangan pergi sebelum kau menjelaskannya pada ku!" tanya Andre dengan wajah cemasnya.
"Dia di siram air panas oleh seseorang dikantornya." jawab Leon.
"A P A!!" Andre terkejut mendengar jawaban Leon.
"Lepaskan tanganku Ndre! Aku harus segera menjemput adikku." pinta Leon pada Andre.
"Tetaplah disini dan lanjutkan tugasmu! Biar aku saja yang menjemputnya. Bukankah sudah ku katakan semalam. Aku akan mengambil alih tanggung jawabmu pada Jessica." ucap Andre kemudian melepas lengan Leon dan pergi begitu saja meninggalkan ruang meeting dengan melebarkan langkah kakinya.
Jimmy langsung mengerti tugasnya ketika Andre pergi berlalu begitu saja dari ruang meeting. Ia pun langsung memulai meeting tanpa kehadiran Andre. Leon pun kembali duduk dengan hatinya yang mencemaskan kondisi adiknya karena Jimmy telah memulai acara meeting hari ini. Leon sangat paham betul adiknya sangat hiperbola jika terluka. Pastinya dia sekarang sedang menangis dan menjerit kesakitan dan akan terdiam ketika sudah tertidur karena lelah menangis.
bersambung
Nantikan cerita Andre mendatangi perusahaan Fabian untuk menjemput Jessica di episode selanjutnya yah...
__ADS_1