Cinta Jessika

Cinta Jessika
Akhirnya SAH


__ADS_3

Ema berjalan mendekati Jessica yang tengah duduk di depan meja rias.


"Mari Nona saya bantu memakaikan kebaya ini!" Ema mengulurkan tangannya pada Jessica.


Para Maid ikut mendekat dan siap membantu Jessica. Jessica menggapai tangan Ema kemudian menarik tangan Ema. Jessica membuat Ema hampir jatuh meninpa dirinya sendiri. Untung saja Ema masih bisa menahan bobot tubuhnya. Namun posisi tubuh Ema saat ini begitu sangat dekat dan hampir tak berjarak dengan tubuh Jessica. Jessica mendekatkan wajahnya ke telinga Ema yang berdiri setengah menunduk dihadapannya.


Kemudian berbisik, "Bawa aku pergi dari sini Ema! Kalau kau bisa membawa ku pergi dari sini Tuan Andre akan mengabulkan segala permintaan mu nanti." bisik Jessica dengan suara yang begitu pelan namun masi dapat di dengar Ema.


Ema merespon bisikan Jessica dengan gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tidak Mbak Jessica, belum sempat Tuan Andre mengabulkan segala permintaanku, nyawa ku sudah melayang terlebih dahulu disini. Disini begitu banyak Bodyguard dan penjaganya tak mungkin ada kesempatan untukmu untuk lari dari sini, maafkan aku Mbak Jessica, aku tak bisa menolong mu." bisik Ema di telinga Jessica dengan suara yang sama seperti Jessica barusan. Ema tidak memiliki keberanian untuk menerima tawaran Jessica yang menggiurkan.


Jessica yang kecewa dengan jawaban Ema segera menggigit bahu Ema.


"Aaaaaa Aduuhhh sakit Nona," rintih Ema yang kesakitan sembari memegang bahunya yang baru saja digigit Jessica.


"Kau ini benar-benar 11, 12 ,13 dengan Nona Anna dan Nona Endah. Ahhhh semoga aku tidak rabies habis di gigit oleh mu."batin Ema yang mengeluh. Rasanya begitu sial hidupnya jika bertemu ketiga orang bersahabat itu ataupun bertemu salah satu dari mereka seperti saat ini.


Pupus sudah harapan Jessica untuk keluar dari Mension Abraham. Ia harus menerima takdir yang sudah tertulis untuknya. Ia mengira hari ini adalah takdir terburuknya padahal jika ia mengetahui yang sebenarnya, dia akan kegirangan tak semurung dan sesedih ini. Dan mungkin juga tak akan mencari kesempatan dan pertolongan untuk pergi melarikan diri di hari pernikahannya ini.


Beberapa menit kemudian Jessica sudah selesai memakai gaun kebaya pengantin. Penampilannya saat ini sudah begitu cantik dan angun dengan balutan gaun pengantin kebaya rancangan Claudia.


Para Maid membantu Jessica berjalan keluar dari kamar pribadi Jessica di Mension Abraham. Untuk pertama kalinya Jessica keluar dari sangkar emasnya semenjak kedatangannya di Mension Abraham.


Ferdi yang melihat Jessica telah keluar dari kamar segera datang menghampiri Jessica.


"Ingat baik-baik Nona, jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan Anda dan jangan coba-coba untuk lari di hari pernikahan Anda seperti Ayah Anda lakukan dahulu kala atau Anda tau sendiri akibatnya nanti!" bisik Ferdi seakan mengancam Jessica.


Jessica diam tertegun mendengar Ferdi mengatakan bahwa Nico ayahnya itu pernah pergi melarikan diri di hari pernikahannya. Jessica terus berjalan menuruni anak tangga dengan tatapan kosong dimatanya, karena ia berjalan sembari terus memikirkan perkataan Ferdi mengenai ayahnya itu.


"Kenapa Ferdi mengetahui masa lalu Ayahku yang pernah pergi di hari pernikahannya?Siapa sebenarnya Ferdi? Mengapa dia bisa mengenal Ayahku? Dari kemarin aku selalu bertanya-tanya kenapa Ayah sudah berada disini sebelum kedatanganku dan aku belum mendapatkan jawabannya hingga sekarang."


"Tidak mungkin jika Om Duda secepat itu membuat Ayahku berada disini. Sebenarnya siapa pria yang akan menikah dengan ku hari ini? Apa ayah mengenalnya? Kenapa bisa ia membawa Ayahku kesini sebelum kedatanganku? Dan kenapa ia bisa membuat Om Duda seolah-olah menjual diriku demi Eventnya? Aku merasa orang yang akan menikah dengan ku ingin menunjukkan siapa Om Duda sebenarnya. Kemarin Om Duda seperti tengah terjebak dalam situasi dimana ia harus memilih diri ku atau Event kali ini yang akan berpengaruh pada perusahaaannya jika sampai gagal. Dan sekarang aku tahu aku tak lebih penting di dalam hidupnya buktinya dia begitu mudahnya menyerahkan ku pada orang yang tidak dikenal begitu saja. Seharusnya dia menghubungi Kak Andre untuk meminta bantuan jika mengalami kesulitan, bukan malah mengambil keputusan sendiri dengan menyerahkan aku pada Tuan Besar yang sekarang akan menjadi suami ku. Mana udah tua bangka lagi, seburuk inikah nasib cinta ku hufftt..." Jessica menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Dan Ayah ternyata kau pernah di posisi ku seperti ini, akan dinikahkan dengan orang asing yang tidak kau cintai, kenapa kau melakukan semua ini pada ku? Tak adakah sedikit rasa belas kasihan dalam dirimu untuk ku? Apa kau tak ada keinginan untuk menolongku dengan membawaku pergi dari sini? Apa kau tak seberdaya itu hingga kau hanya diam saja menerima diriku yang akan menikah dengan laki-laki Ban.dot Tua yang Tua Bangka, ishhhh... Apa karena aku ini bukan Kak Cynthia? Ohh...aku tahu memang semua ini adalah rencana mu untuk memisahkan aku dengan Kak Andre? Begitu apik kau dan Kak Cynthia merencanakan semua ini padaku.. Aku benar-benar tak menyangka... Kau bisa mengorbankan kebahagiaan anak mu demi keinginan anak kesayangan mu itu. Pantas saja kau sudah datang kesini sebelum diri ku. Cynthia kau benar-benar kakak perempuan yang begitu jahat. Tega sekali kau menggunakan cara licik seperti ini." batin Jessica yang terus bermolog karena pertanyaan pada dirinya mulai mencuat ke permukaan.


*


*

__ADS_1


*


Para Maid menghentikan langkah mereka ketika sudah berada di hadapan Tuan Besar dan keluarga Besarnya. Beberapa karyawan WO (Wedding Organizer) segara menjalankan tugasnya ketika melihat pengantin wanitanya sudah siap.


Karyawan wedding organizer membariskan seluruh anggota keluarga Abraham membuat iringan pengantin perempuan. Jessica berjalan didampingi kedua orang tuanya. Jessica berjalan seperti mayat hidup dengan wajah tanpa ekspresi datar, Tatapannya yang kosong dan sikapnya yang begitu dingin tak merespon apapun yang diucapkan Nico dan juga Lestari yang berjalan di sampingnya. Ia seakan sudah pasrah dengan nasib buruk yang akan terjadi padanya beberapa menit ke depan.


Jessica yang nampak seperti itu membuat Nico merasa bersalah pada putri bungsunya ini. Ditambah lagi dengan Lestari yang tak kunjung berhenti menangis dan memohon maaf kepada putrinya atas ketidak berdayaannya sebagai seorang ibu, yang tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi memperjuangkan kebahagiaan anaknya.


Beberapa kali Nico menghembuskan nafas kasarnya, kemudian mendengus kencang meluapkan kekesalannya pada situasi yang ia hadapi saat ini. Berjalan mendampingi putrinya yang mengacuhkannya dan istrinya yang terus merajuk dari awal kepergian Jessica hingga sekarang.


Nico menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ketika ia mendengar Adam kakaknya tengah menahan tawanya namun tak berhasil, Ia seakan menertawai adiknya yang terlihat menderita karena ulah Daddynya dan ulahnya sendiri. Adiknya yang berjalan di depannya itu sedang berusaha memohon maaf pada Jessica putri bungsunya. Bukannya mendapatkan maaf dari putrinya. Nico malah mendapat ocehan absurd dari Jessica yang membuat Adam tak bisa menahan tawanya.


"Tak usah lagi bicara dengan ku Ayah, aku sudah tidak mau mendengar ocehan ayah yang seperti burung gagak yang sombong. Permintaan maaf ayah itu hanya di bibir saja tidak setulus hati Ayah."


"Ayah tahu tidak ternyata di dunia ini tidak hanya ada istilah anak durhaka saja tapi ada juga istilah Ayah durhaka. Lagi pula aku sudah mengutuk Ayah durhaka seperti dirimu untuk menjadi batu seperti cerita dongeng si Malin Kundang. Dan dalam fikiranku Ayah yang sudah ku kutuk jadi batu, sudah ku hancurkan dirimu dengan palu Mjolnir milik Thor seperti di film Marvel. Jika ayah mau tahu kenapa aku lakukan itu semua pada Ayah, jawabannya hanya satu alasan karena Ayah sering kali meremukkan hati ku seperti mie kremes dan sekarang bagiku keberadaan Ayah disampingku saat ini hanya ku anggap sekedar eres-eresan abang gorengan saja. Jadi maaf jika sikap ku seperti ini pada mu." cerocos Jessica dengan wajah datarnya.


Semua orang yang mendengar ocehan Jessica dengan istilah-istilah absurdnya rasanya ingin tertawa. Lestari yang menangis pun jadi tersenyum mendengar ocehan putri bungsunya yang tidak ada saringannya itu.


"Nico si eres-eresan gorengan?! Hati yang remuk seperti mie kremes Hahaha..." tawa Adams dari barisan belakang. Ia sudah berusaha menahan tawanya namun tidak bisa.


Julukan yang diberikan Jessica pada hatinya dan Nicolah yang membuat Adam tertawa. Setelah Abraham yang disebut Ban.dot Tua sekarang ia mendengar Jessica memberikan julukan pada Nico ayahnya sendiri eres-eresan gorengan.


Nico terus menatap tajam Adam yang terus saja menertawainya. Membuat istri Adam yang berdiri disampingnya mencubit pinggang Adam untuk berhenti tertawa. Setelah Adam menghentikan tawanya. Mereka kembali berjalan menuju Aula yang berada di Kanan depan Mension Abraham.


Kini mereka sudah berada di depan pintu Aula. Dua orang pegawai WO membuka kanan kiri pintu besar Aula. Terlihat sudah banyak sanak saudara berada di dalam ruang Aula. Keluarga besar Abraham berjalan maju melewati kerumunan orang yang mengagumi kecantikan Jessica dan juga Lestari istri Nico yang baru mereka temui.


Setelah mereka dekat dengan meja akad nikah. Adam segera melakukan perannya. Ia menuntun keponakannya untuk duduk di salah satu kursi yang berada di meja akad, Nico duduk disamping penghulu setelah pegawai WO mengarahkannya. Belum tampak mempelai pria di meja akad nikah.


"Kemana Ban.dot tua yang akan menikah dengan ku?" tanya Jessica pada dirinya sendiri dengan suara yang begitu pelan namun masi bisa di dengar oleh Adam yang duduk di sebelahnya, Adam bertugas sebagai saksi nikah di pernikahan Jessica dan Andre.


Adam tersenyum mendengar pertanyaan polos Jessica.


"Tidak akan ada ban.dot tua disini Nak, yang ada pangeran tampan yang akan menikahi wanita cantik seperti diri mu dan yang pasti pangeran tampan ini bukan pangeran katak yang buruk rupa yang baru saja di kutuk oleh seorang wanita yang mendapat kekuatan dari bulan pastinya." ucap Adam sembari mengedipkan sebelah matanya seakan menggoda Jessica.


"Isss Paman ini siapa sih...? Kok dia seakan menggoda ku dengan kalimat yang pernah aku ucapkan untuk mengutuk Om Duda. Hah... apa jangan-jangan aku mau di nikahkan dengan Om Duda oleh Ayah.. Nggak-nggak aku nggak mau, lollipopnya itu udah bekas banyak orang aku gak mau... Bisa-bisa aku mati di tangan Mbak Clara dan Mbak Rania" ucap Jessica di dalam fikirannya sendiri. Lagi-lagi fikiran Jessica mengira akan di nikahkan oleh Fabian oleh Nico.


Sementara Andre yang gugup untuk mengucapkan kalimat ijab kabul terus saja ingin ke kamar mandi. Hingga Brata berhasil membuat Putra bungsunya itu tenang dan membawanya kembali ke meja akad nikah.


Saat Andre, Brata dan Santoso berjalan bersama mendekati meja akad Nikah. Nico dibuat terperangah dengan kehadiran mereka. Brata hanya mengantarkan putranya untuk duduk di samping Jessica sedangkan Santoso adik Brata bertugas menjadi saksi dari pihak mempelai laki-laki.

__ADS_1


Jessica yang sudah pasrah dengan nasibnya setelah MC mengatakan mempelai pria sudah datang membuatnya menundukan kepalanya menahan sedihnya walaupun air mata sudah terjun bebas dari kelopak matanya.


Pak Penghulu dengan segera memulai sesi Ijab Kabul di awali dengan membaca doa. Kemudian tangan Nico dan Andre saling berjabat tangan.


" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ananda Andreansyah Brata Kusuma bin Brata Kusuma dengan anak saya yang bernama Jessica Nurlita Sari dengan mas kawin berupa 500 gram logam mulia dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Nico mengucap kalimat Ijab dengan lantang.


Kalimat Ijab yang di ucap Nico membuat Jessica yang terus saja menundukkan kepala segera mengangkat kepalanya dan menengok kearah pria yang tengah duduk disamping kirinya. Senyum bahagia langsung terbit di wajah Jessica membuat Adam ikut tersenyum melihat Jessica tersenyum seperti itu. Jessica menggigit bibirnya dan mencubit tangannya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi.


"Au sakit... ternyata ini bukan mimpi. Aku beneran nikah sama Kak Andre bukan Ban.dot Tua ataupun Om Duda... Yeay." batin Jessica bersorak gembira.


Jessica menoleh ke Adam yang terus memperhatikannya. Jessica memberikan senyum terbaiknya pada Adam, Pamannya itu.


"Berbahagialah selalu Nak, Paman akan selalu mendoakan mu untuk selalu berbahagia dalam hidupmu." batin Adam sembari menatap wajah Jessica yang begitu bahagia.


" Saya terima nikahnya dan kawinnya Jessica Nurlita Sari binti Nicholas Abraham Adijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Andre mengucap Kabul dalam satu tarikan nafasnya.


"Bagaimana saksi sah?!" penghulu.


"Sah..Sah" ucap Adam dan Santoso bersamaan.


"Sah...!!!" ucap seluruh orang yang ada di dalam ruangan tanpa terkecuali.


"Alhamdulillah" penghulu.


"Yeayyy Sahh.... Kak Andre I love you." pekik Jessica reflek, Ia langsung memeluk erat Andre yang duduk di sampingnya. Andre terlonjak kaget mendapatkan pelukan yang mendadakan dari Jessica. Membuat orang-orang yang berada di Aula tertawa melihat tingkah Jessica yang begitu senang di nikahi oleh Andre. Dia tidak tahu jadinya bagaimana jika bukan Andrelah yang menikahinya.


Andre membalas pelukan Jessica dengan mengusap-usap punggung Jessica.


"I Love you to sayang" bisik Andre ditelinga Jessica kemudian mencium pipi wanita yang berada didalam pelukannya itu. Yang kini sudah menjadi istri sahnya.


"Ehemmm.... mari kita berdoa dulu anak - anak ku!" ajak penghulu yang membuat pengantin baru ini melepaskan pelukannya.


Nico yang melihat putrinya bahagia ikut larut dalam kebahagiaan, namun saat ini dia tengah menatap tajam Adam yang duduk di sampingnya.


"Kau harus jelaskan semua ini pada ku Kak Adam!" ucap Nico pelan sembari meremas paha kakaknya itu dengan kencang.


"Au... sakit sekali...Kau seperti wanita saja hah! Marah lalu menyakiti seperti ini" sahut Adam yang merasa kesakitan pahanya di remas sekuat tenanga oleh Adiknya, Ia terus saja mengusap pahanya yang sakit itu sembari tersenyum senang melihat kebahagiaan keponakannya.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2