
Ketika tubuh Ferry ambruk jatuh ke bawah, pandangan Jimmy dan juga Adam sama-sama mengarah kepada Ferry yang berada di bawah. Yang mengurang kesakitan karena timah panas menyerang diri di betis dan juga lengannya.
Setelah melihat keadaan Ferry tatapan Adam beralih melihat Ferdy yang masih dalam posisi siap menembak kembali. Begitu juga dengan Jimmy setelah melihat Ferry tatapannya beralih pada Bobby yang masih berdiri di muka pintu.
"Saya hanya melakukan tugas saya Tuan, dia ingin menembak Anda dan Tuan Adam." Ujar Bobby yang mengerti arti tatapan Jimmy yang seakan bertanya mengapa dia menembak sebelum ia memberi perintah padanya.
"Ferdy turunkan senjata mu! Kau sudah membuat keponakan ku melihat yang tak perlu di lihat." Ujar Adam yang menatap kecewa pada Ferdy.
Ferdy segera menurunkan pistolnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Paman jangan salahkan dia, aku sama sekali tidak takut melihat ini semua, ini benar-benar keren seperti di film action yang pernah aku tonton." Ujar Endah dengan tatapannya yang melarang dia marah pada assistennya itu.
Sementara itu Jimmy sudah berjongkok di hadapan Ferry yang sedang mengerang kesakitan.
"Aku sudah pernah peringatkan Anda sebelumnya Tuan Ferry, untuk tidak berbuat curang pada keluarga Brata Kusuma. Rupanya peringatan ku waktu itu sama sekali tidak kau anggap." Ucap Jimmy yang menyejajarkan wajahnya dengan wajah Ferry.
"Cih, kau ini begitu bodoh Jimmy, kau ini hanya dianggap budak oleh mereka, mengapa kau sesetia ini pada mereka?" Ujar Ferry merendahkan dan coba mempengaruhi pemikiran Jimmy.
"Hahaha... mereka tidak pernah menganggapku seperti itu Tuan Ferry, itu hanya anggapan Anda. Jangan coba-coba mempengaruhi ku jika kau masih mau menghirup udara di dunia ini!" Sahut Jimmy dengan kalimat mengancam di akhir ucapannya.
"Jimmy, apa kau berniat melenyapkan ku hah?" Tanya Ferry dengan suara tingginya.
"Tentu aku akan melenyapkan mu, ini adalah konsekuensi yang harus kau terima karena sudah berani-beraninya mendepak perusahaan Batara Group dari perusahaan mu dengan cara licik mu." Ucap Jimmy dengan wajah datarnya dan suara yang tegas.
"Jim, sudah cukup kau benar-benar sudah tidak waras hah! Kau sudah terlalu banyak menghilangkan nyawa orang hari ini." Pekik Adam yang tak ingin Jimmy kembali menghabisi nyawa seseorang.
"Endah kau lihat sendiri bagaimana sifat suami itu, kejam dan sadis." Ucap Adam lagi.
"Itu tidak kejam dan sadis Paman tapi Keren dan Cool, aku suka itu." Sahut Endah yang membuat Adam membuang wajahnya malas, dia tidak mengerti dengan sudut pandang keponakannya itu.
"Apa suami?" Ferry terkejut mendengar Adam menyebut suami mu pada Endah.
"Ya anak angkatmu itu adalah istriku Tuan Ferry, apa kau terkejut?" Tanya Jimmy dengan wajah yang menyeringai.
__ADS_1
"Sial, selama ini aku membesarkan istri dari malaikat pencabut nyawaku sendiri." Ucap Ferry dengan wajah menyesal dan frustasinya.
"Hahahahaha..." tawa Jimmy dan Endah bersamaan saat mendengar ucapan Ferry.
"Endah stop, jangan menertawakan orang tua angkatmu! Hormati dia, bagaimana pun dia pernah berbuat baik membesarkan mu tanpa kekurangan materi hanya minust kasih sayang," Adam menarik lengan Endah untuk menghentikan tawanya itu.
"Di besarkan tanpa kasih sayang itu sakitnya di sini dan disini Paman," sahut Endah menunjukkan kepalanya dan dadanya untuk menunjukkan bahwa dia sakit hati dan fikirannya.
Adam yang mengerti akan luka hati Endah segera menarik tubuh keponakannya itu kedalam dekapannya.
"Tapi Paman tidak mau kamu tertular bengis seperti suami mu Nak, berjiwa besarlah nak, untuk memaafkan mereka yang pernah melukaimu. Karena sekarang kamu sudah bersama kami." Ucap Adam saat memeluk Endah.
"Sepertinya istriku amat sangat terluka karena mu Tuan Ferry, entah apa yang pernah kau lakukan pada istriku Tuan Ferry, yang jelas sekarang kau akan mendapat balasannya dari ku. Kau hanya tinggal memilih dengan cara apa kau menerima pembalasanku, dengan cara cepat atau perlahan tapi pasti kau sampai ke Alam Baka hemm?" Bisik Jimmy di telinga Ferry yang membuat Ferry bergidik ngeri. Apalagi senyum Jimmy yang terkesan mengerikan terbit di wajahnya yang begitu kenakutkan.
"Baiklah Paman aku tak akan memberikan mereka bertiga tiket ke Alam Baka hari ini, tapi aku akan menundanya 20 tahun ke depan, itu pun jika mereka panjang umur. Itu aku lakukan sebagai rasa terima kasihku karena mereka telah membesarkan istriku selama 20 tahun ini dengan penderitaan." Ucap Jimmy yang berdiri dari posisi jongkoknya.
"Bob, bawa mereka semua ke Rumah Sakit Central Kusuma, potong lidahnya dan suntik lumpuh mereka semua. Pastikan mereka tidak kabur, jika mereka berusaha kabur kau tahu sendiri apa yang harus kau lakukan." Perintah Jimmy pada Bobby.
"Jimmy..."Pekik Adam dan Ferry memanggil nama Jimmy bersamaan.
Bobby dan anak buahnya seger melakukan perintah yang diberikan oleh Jimmy. Tubuh Nayla yang terbaring dilantai karena pingsan segera di angkat oleh dua orang anak buah Bobby yang lain.
Saat dua orang anak buah Bobby yang lain ingin membawa assisten Ferry yang sejak tadi berdiri membeku. Assisten itu menolak dan melakukan perlawanan. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dan ketika.sudah lepas ia berlari menghampiri Jimmy dan menciumi sepatu Jimmy memohon ampun padanya.
"Tuan Jimmy ampuni aku, tolong jangan lakukan itu pada ku!" Assiten Ferry duduk bersimpuh di kaki Jimmy memohon ampun pada Jimmy.
"Tak ada ampun pada siapapun yang sudah berkomplot pada musuhku." Ucap Jimmy kemudian menghempaskan kakinya membuat assiten Ferry itu jatuh tersungkur.
Saat assiten itu jatuh tersungkur tak sengaja tangannya memegang pistol Ferry yang tadinya ingin digunakan Ferry untuk menembak Jimmy. Dengan tangan yang bergetar dia mengarahkan pistol itu ke pundak Jimmy, saat Jimmy sedang berjalan menghampiri Endah.
Jimmy berjalan begitu santai dan menebarkan senyum pada istri yang baru saja ia nikahi. Endah yang melihat Assiten orang tua angkatnya itu ingin menembak Jimmy dengan sigap Endah mengambil pistol yang masih ada di tangan Jimmy, belum sempat assisten itu menekan pelatuk pistolnya, Endah langsung menembak assisten Ferry tepat di kepalanya, membuat assiten itu langsung terkapar tak bernyawa.
Sebenarnya Endah hanya asal mengarahkan pistol yang ia ambil. Dia hanya beruntung bisa menembak tepat sasaran.
__ADS_1
"Endah..." pekik Adam dan Ferry terkejut ketika melihat Endah bernyali tinggi menembak mati seseorang di hadapan mereka.
Sedang Jimmy dan Ferdy berdecak kagum melihat apa yang dilakukan Endah barusan.
"Istriku benar-benar mengagumkan, aku makin mencintaimu sayang," batin Jimmy.
"Keponakan Anda sungguh luar biasa Tuan Adam, andai dia belum menikah mungkin aku akan mengejar cintanya untuk ku jadikan istri." batin Ferdy yang diam-diam menaruh hati pada Endah setelah menembak mati assisten Ferry orangtua angkatnya.
"Iya, kenapa panggil-panggil?" Sahut Endah yang bersikap biasa saja setelah menembak mati seseorang.
"Kenapa kau lakukan itu? kamu sudah jadi seperti suamimu sekarang." Tanya Adam yang menyesali apa yang di perbuat Endah barusan.
"Aku kepepet dari pada jadi Janda mending jadi pembunuh." Sahut Endah dengan rasa tak berdosa membuat Adam menggelengkan kepalanya.
"Babang Jimmy kamu hutang nyawa pada ku."ucap Endah pada Jimmy dengan senyum yang menggoda.
"Iya aku berhutang nyawa padamu sayang, aku harus membayarnya pakai apa humm?" Tanya Jimmy yang kemudian menarik tubuh Endah dalam pelukkannya kemudian ******* bibir Endah yang menggoda untuk beberapa saat.
"Bayar dengan desa.han kenikmatan bagaimana?" Jawab Endah berbisik di telinga Jimmy dengan suara sensualnya.
"Dengan senang hati sayang, kamu mau sekarang juga humm?" Tawar Jimmy menatap wajah Endah penuh dengan gairah.
"Tidak adakah tempat lagi untuk kalian memadu kasih?" Sindir Adam yang melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan dan bicarakan.
"Syirik aja bisanya nih Paman." Sahut Endah dengan wajah tidak sukanya pada sang Paman.
"Paman bukannya syirik kau lihat sendiri disini ada mayat yang baru saja menjadi korban ke bengisan mu Endah." Sahut Adam sambil menunjukkan mayat assiten Ferry yang belum di angkut.
"Sayang ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar ingin tidur bersma Ibu." Ajak Endah pada suaminya itu.
"Ibu?? Bukan ingin tidur dengan ku humm? Katanya mau dibayar dengan desa.han kenikmatan? " Tanya Jimmy dengan raut wajah yang kecewa.
"Iya tapi tidak hari ini, aku mau tidur sama ibu dulu malam ini ok suamiku?" Jawab Endah dengan mata yang berkedip-kedip menunggu kata iya dari mulut suaminya.
__ADS_1
"Ok baiklah." Jimmy dengan terpaksa mengiyakan apa yang Endah inginkan, walaupun dia sangat kecewa, baru saja Endah memberi angin segar ingin mendesah bersamanya tapi setelah di tegur oleh Adam dia jadi ingin cepat pulang untuk tidur bersama Ibunya bukan dirinya.