
Di mansion Abraham
Pukul 19.00
Cynthia menuruni anak tangga berjalan menuju ruang makan, telah duduk disana Nico dengan wajahnya yang lesu tak bergairah sejak kepulangannya dari rumah sakit.
Cynthia datang dan langsung memberikan kecupan di pipi sang Ayah, tak membuat Ayahnya yang sedang melamun tak juga sadar dari lamunannya. Cynthia menarik kursi untuk duduk di samping sang Ayah. Ia memperhatikan tatapan kosong dari wajah sang ayah yang masih terlihat pucat.
"Ayah ada apa? Apa ayah masih merasa kurang enak badan?" Tanya Cynthia ketika memggoncangkan lengan sang Ayah yang dilipat di atas meja makan.
Guncangan yang Cynthia lakukan pada lengannya mebuat ia tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kearah Cynthia yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang sendu.
"Apa Ayah sudah berbuat salah pada Ibu dan saudara mu Nak, hingga mereka menghukum Ayah seperti ini?" Tanya Nico dengan air mata yang memggenang di kelopak matanya.
"Tidak Ayah, Ayah tidak pernah salah, mereka yang salah sudah meninggalkan dan mengacuhkan kita." Jawab Cynthia yang ikut sedih melihat kesedihan yang Nico rasakan tapi juga tidak mau di salahkan oleh Nico sehingga lebih baik dia menyalahkan mereka terlebih dahulu.
"Ayah harus bertemu dengan mereka Nak, Ayah tidak bisa membiarkan masalah ini terlalu lama. Ayah tak bisa melalui hari-hari Ayah tanpa Ibumu." Ucap Nico yang beranjak dari kursi duduknya.
"Mau kemana kamu Nic?" Tanya Dewi yang baru saja tiba di ruang makan.
"Mom, apa Mommy tahu dimana Mansion Andre berada?" Tanya Nico pada sang Mommy untuk pertama kalinya sejak ia datang ke Mansion Nico tak pernah bertegur sapa dengan Dewi maupun Abraham.
"Untuk apa kamu kesana Nic? Jika kamu mau kesana kenapa kamu tidak hubungi menantumu itu untuk menanyakan alamat mereka tinggal?" Pertanyaan Dewi seakan menampar pipi Nico.
"Betapa bodohnya aku nomor telepon menantuku pun aku tak punya haruskah aku menjawab pertanyaan Mommy yang akan menunjukkan betapa bodohnya aku sebagai kepala keluarga." Batin Nico.
Diamnya Nico dengan pertanyaan yang diberikan olehn dirinya, membuat Dewi mengerti sang putra tak meiliki nomor Andre yang bisa ia hubungi.
"Kamu tidak memilikinya Nic? Setidak perdulinya kamu pada Jessica, hingga nomor ponsel pria yang menikahinya saja kamu tak memilikinya. Jika saja Andre orang yang jahat, bagaimana bisa kamu tahu kabar mengenaskan putrimu sekarang?" Ucap Dewi yang menatap tajam wajah putranya.
"Maafkan aku Mom..." Suara permintaan maaf yang begitu lemah keluar dari mulut Nico. Ucapan Dewi benar-benar menyadarkan dia yang sudah salah selama ini.
"Kamu memang harus minta maaf pada semua orang yang kamu sakiti Nic, tapi permintaan maaf mu akan sia-sia jika sikapmu tak berubah dan masih bisa di provikasi oleh DIA." Dewi menunjuk wajah Cynthia dengan nada tinggi yang membuat Cynthia terkejut akan sikap sang Nenek.
"Mom...!!!" Pekik Nico yag tak terima Cynthia di salahka dan ditunjuk oleh Dewi dengan tatapan yang tajam.
"Kamu mau membelanya silahkan Nic, kami memang tidak lebih penting daripada dia di hidupmu." Ucap Dewi yang kemudian memilih meninggalkan Nico dan Cynthia.
__ADS_1
"Sialan, apa Nenek sudah tahu aku bukan cucunya sehingga dia bisa seperti itu padaku?"batin Cynthia.
"Mom mau kemana?" Tanya Nico yang berlari mengejar langkah sang Mommy.
"Pergi ketempat mereka menghabiskan malam untuk berkumpul bersama." Jawab Dewi tanpa menghentikan langkahnya.
"Aku ikut Mom." Ujar Nico yang membuat Dewi menghentikan langkahnya.
"Tidak jika kamu pergi bersama Dia." Ucap Dewi dengan mata yang tajam menatap Nico.
"Mom, kenapa Mommy sejak awal tak bisa menerima kehadiran Cynthia di sini, dia itu juga putriku sama seperti Jessica?" Tanya Nico yang merasa heran dengan sikap Dewi selama ini.
"Bagiku dia bukan cucu ku, dari awal dia datang menginjakkan kaki di mansion ini aku suda merasa dia bukan cucu ku." Jawab Dewi yang membuat Nico tercengang.
"Mom..."
"Sadarlah Nic, tidak ada saudara satu kandung yang selalu ingin menjatuhkan dan merebut milik saudaranya sendiri seperti putri kesayangan mu itu kepada cucu ku Jessica."
"Mom... Bukankah itu hal yang biasa?"
Dewi menghela nafas kasar ketika mendengar ucapan Nico.
Setelah menyelesaikan ucapannya Dewi memilih untuk pergi menaiki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia tak ingin lagi nerdebat dengan Nico.
"Mom, jika Mommy membencinya karena dia hamil di luar nikah salahkanlah aku yang tidak becus mendidiknya dan hukumlah saja aku jangan dirinya Mom, putriku hanya korban." Pekik Nico yang tak membuat Dewi menghentikan langkahnya.
.........
Di Mansion Andre
Pukul 20.00
Semua orang sudah duduk di kursi meja makan. Makan malam dadakan yang tak direncanakan begitu saja terjadi di Mansion Andre.
Andre dan Jessica menyambut senang kedatangan mereka untuk makan malam dan menginap di Mansion mereka. Suasaa hangat tercipta di ruang makan.
Adam begitu tercengang dengan sikap ke dua putrinya yang tiba-tiba saja berubah ketika sudah berkumpul dengan anak dan calon menantu Nico.
__ADS_1
Kedua putri Adam yang ia kenal begitu pendiam, tertutup dan selalu menjaga kesopanannya berubah menjadi wanita yang bar-bar tertawa lepas dan sering mengeluarkan lelucon di atas meja makan ketika sedang menikmati menu penutup makan malam mereka yaitu rujak yang Andre dan Jimmy belikan.
"Apakah ini sifat asli kedua putriku yang selama ini mereka sembunyikan?" Tanya Adam pada dirinya sendiri dengan suara yang begitu pelan yang masih bisa di dengar sang istri.
"Ya begitulah sifat asli putrimu yang terdampak masalah keluarga mu karena Dendam tua bangka itu pada Mommy mu." Sahut Milea dengan suara yang begitu pelan namun bisa di dengar oleh Adam.
"Sialan...!!! Hidupku tak berwarna karena memiliki anak-anak yang kaku ternyata karena dia." Tanggap Adam saat mendengar jawaban sang istri dengan suara pelannya.
"Tak perlu marah dengan ucapan mu Pih, percuma jika aku punya suami mantan mafia jika tidak bisa membalaskan semua penderitaan yang kita rasakan karena dia." Bisik Milea di telinga sang suami.
"Aku tidak bisa berkutik karena Daddy melarangku."
"Hah, payah sekali suami ternyata Mafia melempem. Ya sudahlah aku hanya tinggal menunggu Babang Jimmy kesayangan keponakan ku itu beraksi bersama para menantuku."
"Hai, kalian sedang merencanakan apa? Jangan ganggu rencana Daddy! Bisa berantakan nanti."
"Tidak ada yang kami rencanakan, aku hanya menunggu menantu-menantuku beraksi layaknya di film action."
"Mami, kamu jangan terlalu banyak menghayal yang tidak-tidak!"
"Aku tidak menghayal Papi, lihatlah cepat atau lambat, Mami rasa pergerakan Papi dan Daddy yang lambat akan di ambil alih oleh mereka barisan para menantu-menantuku. Dan jika itu terjadi Papi harus mengajak Mami pergi jalan-jalan keliling dunia menikmati hari-hari indah kita yang terlewatkan." Bisik Milea yang masih terobsesi dengan keinginannya untuk traveling keliling dunia yang tak pernah terlaksana karena pekerjaan sang suami.
"Mereka itu masih terlalu muda dan belum berpengalaman mana bisa mereka menyelesaikan masalah ini. Jika ucapan Mami tak terbukti bersiaplah untuk melayani imajinasi Papi ya Mih?" Ucap Adam dengan tatapan mesumnya.
"Isshhhh.... Buang jauh imajinasi Papi yang menyebalkan itu! Karena Mami rasa Mamilah yang akan menang dan bisa jalan-jalan keliling dunia dimasa tua Mami ini."
.....
Kembali ke Mansion Abraham.
Nico tengah duduk santai menikmati kesedihannya di balkon kamar pribadinya sambil menghisap rokok ditangannya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi istrinya putranya bahkan putrinya, tak ada satupun dari mereka mengangkat panggilan telepon darinya.
"Pasti kalian sedang berbahagia berkumpul bersama diatas penderitaan ku yang kalian tinggal sendiri disini." Keluh Nico sembari menghisap rokok ditangannya.
"Aku tak bisa setega itu pada Cynthia yang juga putriku yang memiliki nasib malang, hamil tanpa pertanggung jawaban pria yang menghamilinya. Aku tak mau meninggalkan dia demi keegoisan kalian yang membencinya tanpa alasan." Ucap Nico lagi yang menganggap semua ini adalah sebuah keegoisan mereka karena rasa benci terhadap Cynthia.
Sedang dikamar Cynthia, Cynthia yang berhasil mencuri salah satu ponsel Maid di mansion Abraham pun berusaha menghubungi Melani dan Suci.
__ADS_1
Dua kali mencoba menghubungi Cynthia pun berhasil berbicara dengan Suci. Cynthia terlihat begitu serius mendengarkan arahan yang diberikan Suci kepada dirinya setelah ia menceritakan semua yang terjadi dan di alaminya di Mansion ini.
"Kalian tak bisa menyingkirkan ku, jangan pernah berfikir untuk menyingkirkan ku karena aku yang akan lebih dahulu menyingkirkan kalian. Hahahaha...." Ucap Cynthia dengan tawanya yang menyeramkan.