
Villa Fabian.
Kondisi tangan Melani yang sudah membaik pasca di tembak oleh Adam tengah sibuk menyiapkan pakaian yang akan ia bawa ke Kota D. Dia sangat optimis Ferry akan memberikannya uang setelah mengetahui Cynthia adalah putri kandungnya.
Wanita tua yang masih terlihat muda dan cantik terlihat datang ke Villa bersama supir pribadinya yang setia dengan menenteng sebuah amplop coklat besar. Senyum terus terukir di wajah cantik wanita tua itu yang tak lain dan tak bukan ialah Suci.
Suci datang menghampiri Melani yang sedang mengemasi pakaiannya.
"Lihatlah Mel, Tante sudah menyiapkan surat - surat yang kau butuhkan untuk mendapatkan sebagian besar harta milik Ferry. Tante juga sudah menyiapkan tim pengacara untuk mu." Ucap Suci dengan tangan yang terus memukul-mukul amplop coklat yang ada di tangan kirinya dengan tangan kanannya.
"Terimakasih Tante, Tante sudah mau repot-repot menyiapkan semuanya untuk diriku." Ucap Melani dengan rasa terimakasihnya.
"Hahahaha.... Tentunya kamu tahukan semua yang Tante lakukan untuk mu ini tidak ada yang gratis?!" Tutur Suci dengan seringai tawa liciknya.
"Tentu aku tahu Tante, aku akan membagi 60 persen untuk Tante dari berapa bagian yang akan aku dapatkan nanti." Sahut Melani dengan berat hati.
"Andai saja kedua orang tuaku masih ada dan mereka tidak menitipkan diriku pada mu, aku yakin hidupku tak akan seperti ini jadinya." Batin Melani yang menyesali jalan hidupnya ditangan Suci.
"Hahahaha kamu memang keponakanku yang pintar Mel, tahu bagaimanan caranya berterima kasih dan kamu juga tahu apa yang sangat Tante inginkan. Tante yakin kamu akan mendapatkan bagian yang besar dari Ferry karena Tante sudah menyingkirkan istri Ferry untuk selama-lamanya. Tante sudah mengaturnya jika nantinya Nico tak bisa jadi milikmu sesuai keinginan putrimu, kamu bisa menikah dengan Ferry Mel, demi kenyamanan dan kesejahteraan hidupmu nanti." Ujar Suci yang membuat Melani terkejut.
"Tante membunuh istrinya?" Tanya Melani dengan wajah terkejutnya.
"Ya, tentu saja. Tante hanya membantu dia mempersingkat penderita yang ia rasakan saat ini...hahahaha... Dan kamu tahu Mel, saat Tante memberitahukan bahwa kamu adalah ibu dari putri kandung Ferry kepada orang-orang Ferry. Orang-orang Ferry itu langsung memberikan bantuan pada Tante untuk menghabisi istrinya itu, dan kasus kriminal yang kamu lakukan akan ditutup secara perlahan oleh orang-orang Ferry jadi sekarang kita bisa keluar dari Villa ini tanpa harus merasa takut dan was-was lagi jika kita berpapasan dengan polisi." Tutur Suci.
"Semudah itukah Tante?" Tanya Melani yang seakan merasa janggal dengan semua yang diceritakan Suci. Karena setahunya Ferry bukanlah orang besar.
"Ya semudah itu, karena Ferry sudah termasuk bagian kecil dari keluarga Kusuma, Mel." Jawab Suci yang dengan kebodohannya.
Tanpa disadari oleh Suci. Suci sudah terperangkap dengan jebakkan Tuan Brata, mertua Jessica yang ikut campur tangan. Brata yang sudah mengetahui keteledoran yang dilakukan Adam dan Jimmy saat bertemu dengan Ferry hingga membuat Ferry dan istrinya harus dirawat dan di siksa kembali di Rumah Sakit miliknya itu pun harus turun tangan agar semua tindakan Adam dan Jimmy ini tidak tercium oleh pihak kepolisian.
Dengan tindakan yang sekarang Brata lakukan, Brata sedang menjadikan Melani dan Suci sebagai pelaku utama dalam kasus pembantaian dan penyiksaan yang di alami Ferry dan keluarga.
.........
Di kota D, tepatnya di Rumah Sakit pusat Central Kusuma.
Pagi ini Nico yang sudah dinyatakan sehat oleh Dokter sudah diperbolehkan pulang. Lestari terlihat sibuk mengemasi barang-barang Nico kedalaman sebuah tas besar setelah mengetahui suaminya itu sudah diperbolehkan pulang.
Dokter yang menangani kondisi kesehatan Nico segera mengabari kepada Tuan Muda mereka bahwa Nico sudah sehat dan diizinkan untuk kembali pulang.
Andre yang mengetahui kabar itu segera membukuk istrinya untuk menjemput sang Ayah mertua karena sejak kedatangan mereka di Kota D, Jessica selalu saja beralasan dan menolak diajak bertemu dengan sang Ayah. Andre tak bisa memaksa sang istri yang menggunakan kehamilannya sebagai senjata ampuhnya itu untuk menolak bertemu sang Ayah yang sudah mengecewakan dan menyakiti hatinya.
Jessica yang memiliki sifat keras kepala terus menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan selimut tebal.
"Ok sayang, aku akan pergi lebih dulu, berjanjilah untuk datang ke kantorku sebelum jam makan siang. Setelah makan siang kamu tidak boleh menolak untuk datang kerumah sakit karena ayahmu sudah diperbolehkan pulang. Ingatlah sayang! Calon anak kita yang ada didalam rahim mu harus diperiksakan kondisi kesehatannya. Jangan menundanya terus! Lihatlah perutmu baru hamil dua bulan, perutmu sudah sebesar itu!" Tutur Andre yang mulai kesal dengan sikap Jessica.
"Hemmmm." Jawab Jessica cuek.
Jessica sangat paham Andre sedang marah dengannya. Tapi ia juga tak ingin dan belum siap bertemu dengan sang Ayah yang hanya membuatnya teringat akan rasa sakit dan luka hatinya. Betapa Nico tak pernah
mau ataupun ingin membela dirinya saat bersitegang dengan Cynthia ataupun mengerti sedikit perasaannya untuk mempertahankan miliknya.
Andre yang kesal namun gemas akhirnya memukul bokong Jessica yang membelakangi dirinya.
"Prok..."
"Au...."
"Prok...prok..."
"Au...Au... Sakit Daddy!" Pekiknya yang langsung keluar dari balik selimut. Ia menatap tajam wajah suaminya yang tersenyum geli melihatnya.
"Daddy KDRT." Ucap Jessica marah dengan wajah bantalnya.
"Bokongmu itu sekarang sungguh menggemaskan, aku selalu ingin memukulnya apalagi sikapmu tadi benar-benar menyebalkan." Balas Andre yang membuat Jessica memanyunkan bibirnya yang terlihat sedikit tebal.
__ADS_1
"Tuh apalagi bibirmu sekarang tampak lebih tebal seperti di filler makin tambah seksi." Ucap Andre lagi yang langsung menyosor bibir sang istri.
"Mmmpphh..." Jessica berusaha mendorong dada bidang suaminya untuk melepaskan serangan sang suami.
" Dad Mmmmppp... " Masih berusaha mendorong tubuh Andre yang makin ganas ******* bibirnya.
"Daddy mesum pagi-pagi." Ucap Jessica setelah suaminya makin membuat bibirnya makin tebal dan terihat jontor.
"Hukuman buat istri pembangkang kaya kamu." Sahut Andre yang beranjak dari ranjang.
"Daddy mau kemana?" Tanya Jessica ketika Andre beranjak dari ranjang tidur mereka.
"Mandi. Mau ikut?" Jawab Andre yang tetap melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Iya mau, tapi gendong." Ucap Jessica manja yang menerima ajakan sang suami untuk ikut ke kamar mandi.
Andre yang mendengar Jessica menerima ajakannya ke kamar mandi langsung membalikkan badannya dan berjalan menghampiri sang istri kemudian menggendongnya.
"Beratnya hemmmm.... Jaga pola makanmu sayang."
" Ya Daddy sudah dijaga tapi suka kelepasan kalau menu makanannya lagi enak. Daddy nanti mandiin aku ya?" Pinta Jessica dengan mengedipkan mata genitnya.
"Pintar sekali istriku ini beralasan sekarang ya? Bukannya kamu tidak mau makan kalau menunya tidak enak humm? Kamu tahu kan sayang tak ada yang gratis di dunia ini, satu ronde dulu di bathtub bagaimana, hummm?" Jawab Andre dengan permintaannya.
"Ok tapi pelan-pelan ya Daddy, ingat ada anak-anak kita di dalam sini." Jawab Jessica yang mengingatkan sang suami yang suka kelepasan jika sedang bermain dengannya.
"Ingatkan aku sayang, aku suka lupa karena saking enaknya." Ucap Andre yang meniru ucapan sang istri. Membuat Jessica tersenyum dan menciumi pipi sang suami.
"Pintar sekali suamiku ini beralasan sekarang ya humm?" Ucap Jessica yang juga meniru ucapan sang suami.
Akhirnya pagi ini sepasang suami istri ini memainkan permainan panas mereka di dalam bathtub, seperti biasa Jessica memimpin permainan dari awal hingga akhir. Andre sangat suka bermain di bathtub karena dia hanya menikmati semua permainan yang sang istri berikan padanya.
"Teruslah bergerak sayang, anggaplah kamu sedang berolahraga," ucap Andre yang menyemangati sang istri untuk terus bergoyang diatas juniornya.
"Olahraga raga kenikmatan maksud Daddy humm...ahhh...aku sudah berkali-kali apa Daddy masih belum juga hah, aku sudah hampir lelah Daddy?" Jawab Jessica dengan pertanyaannya.
"Aku kelelahan karena membawa gendang yang menempel di perutku setiap hari ini, Dad." Jawab Jessica sambil menunjukkan perutnya yang buncit yang ia sebut sebagai gendang.
"Sayang kamu ini yang benar saja, calon anakku kamu sebut gendang." Sahut Andre yang sekarang sering menyentil kening sang istri dengan pelan jika ia terus bicara asal padanya.
"Hehehe ... Gitu aja marah... Ternyata Daddy ini calon bapak-bapak sensian." Cetus Jessica dengan memanyunkan bibirnya dan menghentikan gerakan pinggulnya serta melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Andre yang tak mau Jessica berhenti menggerakkan pinggulnya yang samam saja menghentikan kenikmatan langsung menyambar bibir Jessica, melu.mat rakus bibir sang istri. Gairah ber.cin.ta Jessica On lagi dan mulai menggerakkan pinggulnya.
Mereka melanjutkan permainan mereka hingga Andre sudah menuntaskan hasrat nya dengan membucahkan larva kedalam goa milik Jessica untuk kedua kalinya.
Setelah itu dengan telaten Andre memandikan Jessica bagaikan seorang bayi. Tak hanya memandikan, Andre membantu sang istri hingga menggunakan pakaiannya dan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang sembari menunggu sang suami bersiap membersihkan tubuhnya.
......
Lebih dari tiga jam Nico dan Lestari dibuat menunggu oleh menantunya itu. Lestari tampak terlihat biasa saja karena sudah hafal betul bagaimana Andre yang akan datang selalu telat karena ulah putrinya yag seakan mengulur waktu. Tak rela membagi waktu suaminya untuk orang lain termasuk keluarganya.
Tapi tidak dengan wajah Nico yang sudah tak sabar ingin pulang, Ia merasa Cynthia sedang tak baik-baik saja. Semenjak kedatangan istrinya di rumah sakit untuk m menunggu dirinya yang dalam masa perawatan, Cynthia yang ia anggap sebagai putrinya itu tak lagi mendatanginya.
Lestari yang ditanyai Nico kenapa Cynthia tak pernah datang kembali semenjak kedatangannya hanya menjawab tidak tahu tanpa mencari tahu penyebab Cynthia tak lagi mendatangi Nico ke rumah sakit.
Lestari terlihat begitu berubah dan memperlihatkan sikap tak perdulinya pada Cynthia. Apalagi saat Nico membahas Cynthia, Lestari segera pergi atau dia mengganti topik pembicaraan lain.
Nico merasa curiga namun ia tak bisa menggali keterangan apapun dari istrinya yang sudah bersikap dingin padanya.
Tok...tok... pintu terbuka setelah suara ketukan pintu terdengar.
Andre datang memberikan salam dengan wajah tanpa bersalahnya menghampiri kedua mertuanya yang tengah duduk di sofa.
Sadar mendapatkan tatapan yang membuatnya tak nyaman dari ayah mertuanya, Andrebpun meminta maaf saat mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
__ADS_1
"Maaf kalau aku datang terlambat, Jessica sedikit rewel tadi, jadi aku mengurus dia terlebih dahulu." Ucap Andre dengan permintaan maafnya.
"Rewel??" Tanya Nico yang merasa jaggal dengan alasan yang diberikan menantunya.
"Tidak apa Nak, seharusnya kami yang meminta maaf pada mu Nak, karena telah merepotkan dirimu. Dan lagi pula ibu sangat hapal betul sikap istrimu yang tak rela dirimu membagi waktumu untuk orang lain meskipun untuk orang tuanya sendiri. Terimakasih sudah menjadikan putri ibu prioritas dalam hidupmu Nak, memang kewajiban mu itu mengurusi anak ibu bukan mengurusi kami. Seharusnya Leonlah yang datang kesini menjemput kami. Yah ibu paham dia sekarang ini sangat sibuk jadi dia melemparkan kewajibannya kepadamu." Ucap Lestari yang seakan menampar Nico dengan bahasa sindiran yang halus.
"Kalau saya sempat saya pasti akan melakukannya Bu." Jawab Andre.
"Dan sepertinya kamu memaksakannya Nak?" Tambah Lestari yang tersenyum ke arahnya.
"Ibu bisa saja." timpal Andre yang juga tersenyum kepada Lestari.
"Apa kamu sudah menyelesaikan administrasi perawatan ayah nak?" Tanya Nico pada Andre.
"Sudah Ayah, mari kita segera keluar. Biarkan barang-barang ini nanti akan di bawa oleh orang-orang ku yang ada di depan." Jawab Andre.
"Kamu mau langsung ke kantor atau mengantar ayah dulu ke mansion kakek Nak?" Tanya Nico lagi pada menantunya.
"Aku tak mungkin mengantar ayah kesana selama ada Cynthia bersarang di sana. Jika Jessica tahu aku kesana tanpa dirinya. Bisa-bisa perang dunia akan terjadi di rumah tanggaku." Batin Andre menjawab pertanyaan mertuanya.
"Maaf ayah, 30 menitt lagi aku ada meeting penting di perusahaan, maaf jika aku tak bisa mengantar ayah ke Mansion Kakek. Di lobby aku sudah melihat mobil keluarga ayah sudah siap untuk menjemput ayah pulang."
"Oh oklah nak jika begitu." Jawab Nico.
Sesampainya di lobby Andre segera pamit untuk berjalaln terlebih dahulu untuk pergi ke perusahaan dengan alasan sudah di tunggu Client padahal, ponselnya sudah terus bergetar karena Jessica menghubunginya.
Jessica yang posesif sangat takut ada Cynthia di rumah sakit, ikut menjemput ayahnya dan akan bertemu sang suami disana. Ia takut sang suami berhasil di rebut kakak jadi-jadian nya itu
Andre yang tidak mau memperdengarkan omelan sang istri pada dirinya dihadapan mertuanya. Membuat Andre memilih langsung pamit dan berlari kecil menghampiri mobil pribadinya yang berada lebih depan dari mobil milik keluarga Abraham yang sedang menunggu kedatangan Nico.
"Itu pasti Jessica yang menghubunginya tiada henti. Dasar anak itu memang paling-paling sekarang." Gumam Lestari dengan suara yang begitu pelan namun masi didengar sang suami.
"Kenapa Andre tak mau mengangkat panggilan Jessica dihadapan kita bu?" Tanya Nico yang menanggapi ucapan Lestari.
"Itu karena menantu kita masih mau menjaga perasaan mu, Jessica pasti menghubungi untuk meminta dia cepat pergi dari sini. Untuk menjauh darimu dan juga anak kesayanganmu yang ia duga ada disini bersama mu." Jawab Lestari dengan sinis kepada sang suami.
"Bu, kenapa ibu berbicara seperti itu pada ku? Maafkan aku jika aku telah salah selama ini bu." Tanya Nico sembari meminta maaf pada istrinya yang sedang membuang pandangannya.
"Sebaiknya ayah introspeksi diri kenapa ibu seperti ini pada ayah. Ibu sudah memaafkan Ayah, tapi ibu belum bisa menerima kekecewaan yang dirasakan anak-anak ibu kepada Ayah." Jawab Lestari dengan wajah datarnya.
"Bu...."
"Pak supir tolong bukakan pintu untuk Tuan mu ini." Pinta Lestari pada supir yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka.
Supir yang menjemput Nico segera membukakan pintu mobil untuk Nico dan Nico pun masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Nico masuk kedalam mobil, Lestari segera berjalan ke arah belakang mobil yang di tumpangi oleh Nico. Jalannya Lestari ke arah belakang mobilberbarengan dengan supir yang berjalan menuju pintu pengemudinya.
Nico mengira Lestari akan masuk kedalam mobil melalui pintu yang berada dibelakang supir ternyata tidak, Lestari tidak berjalan menuju pintu yang Nico kira tapi Lestari berjalan ke arah mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Angela yang mengetahui sang Ibu dari Nyonya mudanya sudah naik kedalam mobil yang ia kemudikan langsung menancap pedal gasnya mobilnya. Ia membawa Lestari pergi tanpa Nico ketahui.
Dan saat sang supir yang mengemudikan mobil yag di tumpangi Nico melajukan mobilnya, Nico meminta sang supir untuk berhenti karena ia menyandari betul sang istri belum naik ke dalam mobil.
"Stop Pak, istri ku belum naik." Ucap Nico yang tak membuat sang supir menghentikan laju mobil yang ia kendarai.
"Maaf Tuan, Nyonya tidak akan naik mobil ini, Nyonya sudah naik mobil sedan yang baru saja lewat tadi." Jawab sang supir yang bernama Topo.
"Apa kau bilang, istriku tidak naik mobil ini?" Tanya Nico dengan suara yang memekik. Ia terkejut supir yang menjemputnya sudah mengetahui istrinya tidak akan naik mobil bersamanya.
"Iya Tuan Maafkan saya, tidak memberitahukan Tuan sebelumnya." Jawab Topo singkat.
"Apa mobil itu akan menuju ke Mansion kita, Pak?" Tanya Nico penuh rasa khawatir, istrinya akan kembali meninggalkannya.
" Sepertinya tidak Tuan, saya kurang tahu kemana tujuan mobil itu." Jawab Topo sejujurnya.
"Kalau begitu kejar mobil itu sekarang!" Perintah Nico dengan cepat.
"Maaf Tuan mobil itu sudah tidak ada di depan kita," jawab Topo berbohong. Ia tak akan mungkin mengikuti perintah Nico jika tanpa persetujuan Abraham.
__ADS_1
"Apa?!!!" Nico terkejut mendengar mobil yang di tumpangi Lestari sudah tidak ada di depan mobilnya.
"Lestari kenapa kamu pergi lagi?? Kenapa kalian masih saja menjauhi ku. Aku tak mau jaih dari mu sayang, ini sangat menyiksaku." Ucap Nico begitu lirih dengan air mata yang meluncur deras di pipinya.