
Diego yang keluar dari panggung, kini dia berada di tangga sayap kiri panggung tepat di mana Jessica dan kedua sahabat Jessica Anna dan juga Endah berada.
Diego menyaksikan bagaimana sikap Andre kepada Jessica yang nampak emosi karena kecemburuannya terhadap Jessica dan dirinya. Diego juga melihat bagaimana Jessica terlihat nyaman dan tanpa penolakan saat Andre membawa tubuh Jessica dalam pelukannya.
Apa yang dia lihat membuatnya bertanya pada dirinya sendiri.
" Siapa pria misterius yang menggunakan topi berkacamata hitam dan masker itu? Mengapa dia terlihat cemburu saat aku memeluk Jessica di panggung tadi?."
" Kenapa dia berani mengancam ku dan juga keluargaku jika aku masih mendekati Jessica? Apakah dia orang penting di negeri ini?"
" Mengapa Anna memanggilnya dengan sebutan kakak? Apakah dia Kakaknya Anna?"
" Ada hubungan apa Jessica dengannya? Mengapa dia terlihat dekat dengan Jessica? Mengapa juga Jessica tidak menolak saat pria misterius itu menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan pria itu? tidak seperti saat aku memeluknya penuh dengan pemberontakan dan penolakan."semua pertanyaan itu ada di benak Diego, seperti teka-teki yang harus ia pecah kan untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di benaknya.
Andre yang masih berdiri di sana, akhirnya mengangkat panggilan di ponsel miliknya yang sejak tadi terus saja berdering.
"Hallo, Jim." sapa Andre pada Jimmy yang berada disebrang sana.
"Hallo Tuan, Anda ada dimana tuan? Saya mencari anda sejak Anda menghilang dari kursi tadi." ucap Jimmy khawatir.
"Apa kau tidak melihat apa yang terjadi di panggung tadi?" tanya Andre pada Jimmy.
"Tidak Tuan, ketika saya menyadari Anda tidak lagi duduk di samping saya, saya langsung mencari keberadaan Anda." jawab Jimmy.
"Saya berada di backstage Jim." ucap Andre memberitahukan keberadaannya pada Jimmy.
"Baik saya akan menyusul Anda kesana Tuan." ucap Jimmy.
"Tidak perlu aku akan segera ke mobil, sebaiknya kau ambil tas Jessica dan kau urus kendaraannya, kita akan segera pulang." Andre memberi perintah dengan nada datar.
"Baik Tuan." ucap Jimmy yang akan menuruti perintah Tuannya itu.
"Memangnya apa yang terjadi dipanggung? Apa Tuan Andre membuat kegaduhan?" tanya Jimmy pada dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Jimmy di telepon Andre pun menutup sambungan teleponnya. Andre pun melangkah pergi meninggalkan backstage, namun langkahnya terhenti Diego menghentikan langkah Andre dengan cara menyentuh dan sedikit meremas bahu Andre.
" Tunggu!! Siapa Anda sebenarnya? Berani sekali Anda memukul dan mengancam saya tadi?" ucap Diego penuh penekanan.
" Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Tolong singkirkan tanganmu di bahu ku!!" pinta Andre.
" Saya harus tahu siapa Anda, saya ingatkan pada Anda Saya tidak takut dengan ancaman anda, dan saya ingatkan juga pada anda untuk tidak ikut campur dengan hubungan saya dan Jessica." ucap Diego seakan menantang lawan bicaranya.
"Ck... Kamu sudah mengancam saya rupanya, jika saya ikut campur, kamu akan melakukan apa pada saya?" tanya Andre dengan nada mengejek.
" Saya akan membuat Anda menyesal sudah ikut campur tentunya." ucap Diego.
" Menyesal??? Hati-hati dengan kata-katamu anak muda, kamu baru anak besar kemarin sore sudah berani m.enantang saya, kamu belum tahu sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Andre sombong.
__ADS_1
" Memangnya siapa anda? Apakah Anda adalah dewa kematian sehingga saya harus takut dan tunduk pada Anda tuan?" tanya Diego seakan menyindir kesombongan Andre.
" Perlu kamu ketahui, Saya memang bukan dewa kematian, tapi saya bisa membuatmu dan keluargamu tinggal di jalanan seperti pengemis hanya dalam waktu 5 menit." ucap Andre.
" Hahaha... Sombong sekali Anda tuan, sepertinya Anda harus menyimpan kesombongan Anda untuk orang lain, saya sangat tidak takut dengan apa yang Anda ucapkan barusan." ucap Diego menantang Andre.
Andre merasa meladeni perkataan Diego hanya membuang waktunya saja. Ia pun melangkah pergi.
" Tunggu, terima pembalasan ku ini." Diego mencengkram kuat bahu Andre, Diego membuat Andre membalikkan tubuhnya dengan kasar.
" Bugh" Diego meninju Andre secara tiba-tiba.
Andre yang tidak siap tidak dapat menangkis pukulan Diego. Meskipun begitu Andre masih berdiri tegak mendapati pukulan dari Diego, hanya wajahnya saja yang menoleh seketika saat mendapat bogem mentah dari Diego. Pukulan Diego sama sekali tidak bertenaga menurut Andre. Andre diam saja tidak melakukan perlawanan baginya Diego bukanlah lawan tandingnya.
Ketika Diego memberi bogem mentah kepada Andre para wanita yang ada di backstage berteriak histeris.
" Hah... tolong ada yang berkelahi!" yang salah satu dari mereka.
" Tolong panggil keamanan ada yang berkelahi!!"
" Tolong siapapun di sana tolong pisahkan mereka."
" Tolong dong yang merasa cowok pisahin mereka."
Sisil dan Lina kemudian memanggil pihak keamanan. Sedangkan para pria di sana mencoba menjauhkan Diego dari hadapan Andre. Diego dipegangi beberapa orang, ia nampak penuh emosi dan menggebu-gebu, Ia ingin memberikan pukulan lagi kepada Andre, sedang Andre hanya diam saja melihat Diego seperti itu, di balik masker yang menutupi mulutnya Andre sudah merapatkan gigi-giginya dan mengeraskan rahangnya serta dibalik kacamata hitamnya tatapan Andre sudah seperti ingin membunuh seseorang, Andre masih bisa menahan emosinya Andre pun akhirnya memilih untuk diam saja.
"Bugh." Fabian memukul wajah Diego.
" Sudah saya katakan padamu bocah tengil, kamu hanya mantan baginya, Terimalah kenyataan bahwa masa depan Jessica itu bersama saya." ucapan Fabian penuh keyakinan kepada Diego.
" Apa yang kau katakan duda gila? Jangan bermimpi di tengah hari bolong!!" ucap Diego menimpali perkataan Fabian, ia tidak menerima statement Fabian.
"Ck... percaya diri sekali kau Fabian." batin Andre saat mendengar pernyataan Fabian. Andre menghentikan langkahnya untuk pergi. Ia malah menyaksikan Fabian memukuli Diego.
Diego berusaha sekuat tenaga melepas diri dari pegangan beberapa orang. Namun karena emosinya yang besar membuat dia bertenaga untuk melepaskan dirinya, setelah terlepas Diego membalas pukulan Fabian begitu pula dengan Fabian, kecemburuannya kepada Diego membuat Fabian begitu emosi ia memukuli Diego bertubi-tubi dan membabi buta, seperti pada waktu yang lalu. Siapapun yang berada di sana tidak berani mendekat kepada mereka. Petugas keamanan yang belum kunjung datang.
Andre menyaksikan keberutalan Fabian memukuli Diego.
" Kau sungguh tidak bisa mengontrol emosimu Fabian. Jika kau terus seperti ini kau akan hancur dengan sendirinya. Seharusnya kau sadar dia bukan tandinganmu dia hanya anak baru besar kemarin sore." ucap Andre di dalam hatinya.
" Diego... Diego... anakku!!" teriak Wina histeris mendapati anaknya tergeletak di lantai yang sedang dihujani pukulan oleh Fabian. Wina datang bersama dengan petugas keamanan.
Mendengar teriakan seorang wanita membuat Fabian menghentikan pukulannya dan menoleh ke arah sumber suara. Ia mengenal siapa wanita yang sedang menatap tajam pada dirinya itu. Fabian bangkit dari atas tubuh Diego. Ia berdiri dan menyingkir dari hadapan Diego.
" Beraninya kau memukuli anakku, aku akan membuat perhitungan denganmu, aku akan bawa masalah ini sampai ke meja hijau" ancam Wina pada Fabian. Wina sudah menduga orang yang memukuli Diego saat ini adalah Fabian bos dari Jessica. Sehingga dia mengancam Fabian karena ini kali kedua Fabian membuat anaknya babak belur. Fabian yang mendengar Wina mengancamnya hanya diam saja tidak menanggapi ancaman dari Wina.
Wina dibantu beberapa petugas keamanan membangunkan Diego, wajah Diego sudah tak berbentuk, penuh luka lebam di wajah Diego dan banyak darah yang keluar dari sudut bibir Diego. Hasil karya Fabian di wajah Diego membuat wajah ganteng Diego hilang seketika. Wina segera membawa pergi Diego. Wina dibantu oleh beberapa petugas keamanan yang membopong Diego, kondisi Diego sudah lemah dan lemas.
__ADS_1
Setelah kepergian Diego Fabian menghampiri Sisil dan Lina yang berdiri tepat di dekat Andre.
" Di mana Jessica." tanya Fabian kepada Lina dan juga Sisil.
" Jessica sudah pulang Pak." jawab Sisil.
" Pulang? Bukannya dia akan tampil satu kali lagi nanti?" tanya Fabian heran.
" Iya Pak tadi Tuan ini yang meminta kedua sahabat Jessica untuk membawanya pulang." jawab Lina menunjuk Andre yang berada di dekatnya, mata Fabian pun melirik ke arah Andre, Lina menunjuk seorang pria yang tidak bisa Fabian kenali, karena pria yang ditunjuk oleh Lina menggunakan kacamata hitam masker dan topi.
" Kau, siapa kau dengan beraninya mengatur - ngatur seseorang, karena kau bisa saja acara ini jadi berantakan." sentak Fabian, pertanyaan Fabian tidak ditanggapi oleh Andre.
" Bukankah kau yang tadi memukuli Diego di atas panggung?" tanya Fabian saat ia mengingat penampilan orang yang memukul Diego di atas panggung tadi. Lagi-lagi Andre tidak menjawab ia masih diam. Ia seakan sedang menguji kesabaran Fabian.
" Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab semua pertanyaanku?" tanya Fabian yang kembali tersulut emosi, karena lawan bicaranya tidak menjawab pertanyaannya satu kata pun.
Bukannya menjawab pertanyaan Fabian, Andre malah memilih untuk meninggalkan Fabian. Dia melangkahkan kakinya pergi.
" Tunggu!!" Fabian mencoba menghentikan langkah Andre dengan meremas bahu Andre dari belakang.
" Siapa kau sebenarnya? Jangan kau coba-coba merebut Jessica dariku dia adalah calon istriku!" ucapan Fabian.
Mendengar ucapan Fabian membuat Andre tersenyum miring di balik masker yang menutupi wajahnya itu. Andre tidak menanggapi perkataan Fabian secara langsung.
" Calon istrimu kau bilang? Dia bukan calon istrimu melainkan calon istriku. Berhentilah berbicara omong kosong!!" ucap Andre dalam hatinya.
Melihat lawan bicaranya tidak memberi tanggapan malah beranjak pergi, hal ini membuat emosi Fabian meledak kembali. Dia membalikkan tubuh Andre secara paksa dan kasar.
Fabian memberikan pukulan pada wajah Andre dengan sekuat tenaga, seperti banteng yang sedang mengamuk hingga kacamata hitam Andre pun terlepas dan sudut bibir Andre pun mengeluarkan darah segar di balik maskernya. Orang-orang di sana kembali berteriak di histeris ketika Andre juga tersulut emosi, emosi Andre tersulut karena ia merasa darah segar sudah keluar dari sudut bibirnya.
Andre membalas pukulan Fabian, Andre yang memiliki ilmu bela diri pun menjadi tandingan yang kuat untuk Fabian, aksi balas membalas pukulan membuat suasana backstage menjadi hancur berantakan. Tidak ada satupun yang berani dan mampu memisahkan mereka, termasuk petugas keamanan.
Jimmy yang merasa aneh Andre tak juga datang ke mobil membuatnya berinisiatif menyusul Andre ke backstage. Ia merasa khawatir seperti ada sesuatu yang terjadi pada tuannya, dan benar saja saat ia datang ke backstage, ia menyaksikan perkelahian antara Andre dan juga Fabian.
Jimmy langsung membuka masker dan topi serta kacamatanya, ia berusaha melerai perkelahian antara Andre juga Fabian. Fabian berhenti menyerang Andre ketika ia melihat Jimmy-lah orang yang melerai perkelahian mereka.
Jimmy melihat masker yang digunakan Andre sudah penuh dengan darah begitu juga dengan wajah Fabian yang sudah babak belur.
" Apa Anda baik-baik saja tuan Andre?" tanya Jimmy mengkhawatirkan tuannya. Andre menjawab dengan anggukan kepala.
Deg!! Jantung Fabian rasanya ingin berhenti ketika mendengar Jimmy menyebut nama Andre.
" Tuan Andre?" ucap Fabian pelan namun masih terdengar. Mata Fabian membola.
" Jaga batasan mu Fabian!! Kelola emosional mu!! Jika Project kita tetap berjalan itu semua karena kemurahan hati tuan Andre, setelah Apa yang kau perbuat saat ini padanya." ucap Jimmy dengan berwajah datarnya dan nada bicaranya penuh penekanan.
Fabian tidak mampu berkata apapun lagi. Ia seperti macan yang kehilangan taringnya. Bayangan kebangkrutan hinggap di pikirannya saat ini.
__ADS_1
Jimmy membawa Andre pergi dari backstage meninggalkan Fabian yang berdiri mematung.