
Malam ini Cynthia dan Diego kembali melakukan percintaan mereka untuk kedua kalinya. Untuk malam ini mereka melakukannya dengan penuh kesadaran tanpa terpengaruh dengan minuman alkohol ataupun tipu daya.
Diego menjadikan malam ini malam yang indah untuk Cynthia. Melupakan sejenak rasa sakit dan kecewanya terbuang dari keluarga yang membesarkannya selama ini.
Diego mengerakkan tangannya menyusuri lekuk tubuh Cynthia yang masih begitu bagus meskipun dia sudah pernah hamil. Tubuh Cynthia sudah lolos tanpa sehelai benangpun yang menutupi bagian tubuh Cynthia.
Diego terus mengabsen bagian tubuh Cynthia satu persatu yang selalu ia kagumi sejak lama, hatinya mencintai Kessica tapi birahinya menginginkan Cynthia.
Dia menyentuh semuanya tanpa tersisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kecupan demi kecupan disetiap bagian inchi tubuh Cynthia tak ada yang terlewatkan dari Diego.
Cynthia merasa melayang, terbang ke cakrawala dengan semua sentuhan yang Diego berikan. Diego mulai menciumi bagian dada Cynthia, bahkan satu tangannya dengan lihai meremas bagian kenyal dan menggemaskan itu saat mulutnya menyesap lembut dari puncak benda kenyal menggemaskan itu.
Lidah Leon terus bergerak-gerak sesekali ia menggigit gemas membuat Cynthia melenguh dan menekan kepala Diego agar terus melakukannya.
"Die Mmmmmhhhh.... I like it Die mmmmm..." Lenguhan nikmat lolos dari bibir merah merona Cynthia.
Tubuh Cynthia terus beraksi, ia terus meminta Diego melakukan sentuhan lebih dari yang sekarang ia lakukan. Padahal jemari Diego sudah berada dibawah sana menyusuri lembah nikmat dengan bergerak lembut maju mundur.
"Ohh... Die!" Cynthia terus meracau merasakan kenikmatan yang diberikan tangan Diego.
Cynthia meremas sandaran sofa, tubuhnya menggelinjang, dia merasakan ada sesuatu yang lolos dari tubuhnya.
"Ahhh.... Die... Aku sudah menginginkannya." Pinta Cynthia yang menatap pada junior Diego yang mengeras sejak tadi.
Cynthia turun dari pangkuan Diego, Diego membuka resleting celananya dan membuka lebar pangkal pahanya. Cynthia duduk dilantai menghadap Diego. Ia duduk diantara kedua paha Diego.
Cynthia mengeluarkan Junior itu dari sarangnya dan memasukkannya kedalam mulutnya hingga mulutnya menggembung penuh. Ia memperlakukan milik Diego layaknya es cream cone.
Diego terlihat begitu menikmati permainan Cynthia pada juniornya dengan matanya yang sesekali terpejam dan saat ia menginginkan lebih dari sekedar ini. Diego langsung mengangkat tubuh Cynthia dan meletakkannya di atas ranjang.
__ADS_1
Diego memposisikan dirinya berada diantara kedua pangkal paha Cynthia. Diego memulai penyatuannya, Cynthia mende.sah begitu pula dengan Diego saat milik Diego sepunuhnya masuk kedalam intinya.
"Ahhh...." Mereka berdua mende.sah bersama..
Diego mulai bergerak perlahan maju dan mundur, Cynthia merasakan nikmat dan juga sakit mungkin karena dia belum lama melakukan operasi pengangkatan rahimnya. Harusnya dia belum diperbolehkan melakukan hubungan intim seperti ini. Tapi nafsu mengalahkan segalanya.
Cynthia terlihat sedikit meringis kesakitan tapi Diego terus bergoyang dengan ritme yang semakin lama semakin cepat. Ia sekan lupa dengan kondisi Cynthia.
Ingin ia menghentikan permainan mereka tapi sayangnya dia tak bisa menghentikan permainannya ditengah jalan seperti ini. Cynthia hanya pasrah menerima apa yang dilakukan Diego untuk memuaskan dirinya dan diri Diego sendiri.
Cynthia terus di buat mende.sah, sebuah kepuasan permainan yang di suguhkan Diego untuknya. Permainan Diego sungguh memabukkan. Entah sudah berapa kali Cynthia telah mencapai puncak pelepasannya namun Diego belum juga mengakhiri permainannya.
Dan di sudut lain, Fabian terus bersemangat menjalani hidupnya setelah mengetahui ada proyek besarnya yang akan mempertemukan dirinya dan Jessica dan di tambah lagi keponakannya yang datang dengan niatannya yang seakan menguntungkan dirinya itu.
Wajahnya yang kusut sudah tak terlihat lagi. Tidak hanya Margareth tapi juga Clara yang merasakan perubahan pada diri Fabian yang kembali seperti dulu.
Pemandangan yang tak pernah terjadi di meja makan ini. Hana dan Hani terlihat begitu senang dengan suasana hati sang Papi yang begitu terpancar di wajahnya itu.
"Margareth dan anak-anak ku mulai hari ini aku akan berusaha membuat kalian bahagia, sebelum saat itu tiba. Saat dimana aku akan meninggalkan kalian untuk pergi bersama Jessica." Ucap Fabian di dalam hatinya.
Pria dewasa ini sudah memutuskan pilihannya untuk meninggalkan keluarga kecilnya demi rasa cintanya yang besar kepada Jessica.
"Bie, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Margareth pada Fabian yang sedang duduk menikmati sebatang rokok setelah selesai makan malam.
Margareth membuatkan Fabian secangkir kopi untuk menemani Fabian yang sedang menikmati sebatang rokok di Balkon yang berada di dekat ruang keluarga.
"Terimakasih kopinya sayang, aku baik-baik." Jawab Fabian yang membuat Margareth terperangah.
"Bie, tadi kamu memanggiku apa? Sayang?? Apa aku tak salah mendengarnya Bie?" Tanya Margareth dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tidak Margareth, kamu tak salah mendengarnya. Mulai hari ini aku akan mencoba membahagiakan dirimu dan anak-anak kita." Jawab Fabian yang meloloskan air mata Margareth jatuh membasahi pipi putih mulusnya itu.
"Bie, kamu sedang tidak mabuk ataupun bercandakan?" Tanya Margareth yang merasa tak yakin dengan ucapan Fabian yang ia dengar.
"Aku tidak mabuk sayang dan aku sesang tidak bercanda. Aku sudah memikirkan semuanya dengan baik, aku akan mencoba kembali untuk kembali pada keluarga ku. Membahagiakan kalian..." Jawab Fabian lagi.
"Membahagiakan kalian sampai tiba saatnya aku akan meninggalkan kalian untuk wanita yang aku cintai, Jessica." Batin Fabian meneruskan ucapnya ymg tak mungkin di dengar oleh Margareth.
"Bolehkah aku percaya dengan semua ucapan mu ini Bie?! Tanya Margareth yang seakan meminta izin pada Fabian.
Perasaannya begitu bahagia meskipun hatinya begitu janggal. Secepat itu suaminya berubah hanya dalam satu malam. Ketika suaminya pergi dan marah karena dia yang tak lagi mau melayani hasrat suaminya untuk ke dua kalinya. Itu semua karena rasa sakit hatinya yang hanya menjadi bayangan Jessica saat di setubuhi oleh suaminya sendiri.
"Tentu boleh sayang, kemarilah duduklah di pangkuan ku!" Jawab Fabian yang mematikan outing rokoknya dan merentangkan tangannya meminta Margareth duduk di pangkuannya.
Margareth yang duduk di kursi yang berseberangan dengan Fabian pun datang menghampirinya, Fabian menarik lengan Margareth memposisikan agar ia duduk di atas pangkal pahanya.
Dengan ragu dan kaku, Margareth duduk di pangkuan Fabian. Fabian menatap manik mata sang istri sambil bermonolog di dalam hatinya.
"Kami cantik Margareth, kecantikan mu tak pernah berubah. Bahkan kamu lebih cantik dari Jessica tapi kenapa hatiku tak bisa lagi tertarik pada mu." Batin Fabian.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu Bie?" Tanya Margareth yang juga menatap wajah Fabian.
"Aku sedang menikmati wajahmu yang cantik sayang, sungguh bodohnya aku menyia-nyiakan mu, maukah kamu memaafkan ku?" Ucap Fabian yang membuat wajah Margareth bersemu merah jambu menahan malu karena di puji sang suami yang tengah berbohong padanya.
"Aku sudah memaafkan mu Bie, aku selalu mendambakan masa-masa ini. Aku sangat mencintai mu Bie. " Jawab Margareth yang membuat Fabian terdiam merasakan rasa bersalahnya.
Margareth memeluk tubuh kekar suaminya itu, ia menangis bahagia didalam pelukan Fabian. Fabian membelai rambut panjang hitam lurus Margareth yang tergerai sampai ke bahunya.
"Maafkan aku Margareth, jika aku selalu melukaimu dan sekarang aku sedang membohongimu. Memberikan kebahagiaan palsu pada dirimu dan juga ketiga anak kita sebelum aku meninggalkan kalian." Batin Fabian.
__ADS_1