Cinta Jessika

Cinta Jessika
Akhir dari Diego


__ADS_3

Fabian terus menangis dipangkuan Jessica. Ia terus mengatakan kata cinta yang membuat Jessica muak mendengarnya. Jessica tak sedikitpun merespon kata-kata cinta yang di ucapkan Fabian padanya. Bagaimana ia mau merespon ucapan Fabian? Jika lakban yang menutup mulut Jessica tak ia lepaskan.


Hati Jessica tidak tergerak sedikitpun ketika Fabian menceritakan detik-detik Hana pergi untuk selama-lamanya diatas pangkuannya. Ia hanya merasa kasihan pada Hana, Hani dan juga Kenzo kecil yang memiliki kemalangan nasib karena keegoisan Papinya.


"Om, Dud jika sekarang saja demi diriku ini, kamu bisa mengabaikan ketiga buah cintamu hingga bernasib tragis seperti itu. Bagaimana nanti nasib diriku jika kamu merasakan perasaan cinta seperti ini pada wanita lain? Apa aku akan bernasib sama seperti istri mu? Tidak!! Aku tak akan mau menjadi korban dari keegoisan mu selanjutnya. Aku meragukan semua perasaan cintamu padaku. Yang seolah-olah lebih tinggi dari gunung dan lebih luas dari samudra. Jika kamu memang benar-benar tulus mencintai ku, kamu akan berusaha mengikhlaskan diriku bahagia dengan pilihan ku, tidak seperti ini. Maafkan aku jika aku mengabaikan semua perasaan mu yang datang terlambat. Karena perasaan cintaku seutuhnya sudah ku labuhkan pada suami ku yang sedang berjalan dengan kondisi seperti itu, hanya karena ingin menyelamatkan diriku dan kedua anaknya yang ada didalam kandungan ku. Suami yang tulus mencintaiku, yang rela terluka demi rasa cinta dan sayangnya kepada kami, orang-orang yang dikasihinya bukan seperti dirimu." Ucap batin Jessica yang menangis melihat kondisi Andre yang berlumuran darah. Ia membandingkan perasaan cinta Andre, sang suami dengan Fabian yang terobsesi dengan dirinya.


Langkah Andre berhenti di hadapan sang istri yang mulutnya masih tertutup lakban. Ia membukanya dengan perlahan, lakban yang menutup bibir merah jambu yang selalu menjadi candu baginya.


Kemudian Andre mencengkram bahu Fabian dengan sekencang-kencangnya dengan menggunakan tangan kirinya sedang tangan kanannya menodongkan pistol pada Diego. Tatapan mata Andre yang sendu menatap sang istri yang menangis melihat kondisi sang suami yang masih tegap berdiri dihadapannya meski bagian tubuhnya berlumuran darah.


"No Daddy... No...!!!" Ucap Jessica yang mengelengkan kepalanya agar sang suami tak lagi mengotori tangannya untuk menghilangkan nyawa orang-orang yang sudah menyakiti dirinya.


"Maafkan aku sayang, untuk kali ini aku tak bisa mendengarkan apa mau mu. Orang yang nekad ingin merebut dirimu dariku harus mati ditangan ku, tak perduli jika harus mengotori tangan ku" Ucap Andre yang kemudian melepaskan tembakannya ke anggota tubuh Diego yang sedang duduk dibelakang kursi Jessica.


Diego yang sedang merasakan kesakitan pada kakinya yang tertembak oleh Endah harus merelakan hidupnya berakhir di tangan suami dari wanita yang ia cintai.


Brukkk!!! Tubuh itu terjatuh bersamaan dengan teriakan Jessica.


"Daddy cukup!!!" Pekik Jessica dengan tangisnya.


"Cukup Daddy aku mohon Daddy cukup, aku sudah tidak tahan melihat banyak nyawa melayang dihadapan ku malam ini. Ini jadi malam yang terburuk dihidupku." Jessica berkata sembari terus menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Andre melepas cengkraman tangannya pada bahu Fabian, ia menyingkirkan Fabian dari hadapan istrinya dengan kasar. Ia melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh sang istri dengan kursi yang ia duduki. Ia memeluk tubuh sang istri yang bergetar hebat karena terus menangis.

__ADS_1


"Maafkan aku! Maafkan aku! Aku salah aku minta maaf sayang." Ucap Andre yang memeluk tubuh sang istri yang tengah menangis.


"Aku tak mau Daddy di penjara karena diriku, bagaimana dengan anak kita nanti, Dad? Aku tak mau melahirkan sendiri tanpa mu." Ucap Jessica yang terus menangis.


"Tenanglah, aku akan baik-baik saja dan akan terus bersama mu, tak akan ada yang memenjarakan diriku sayang." Balas Andre yang berusaha menenangkan sang istri.


"Daddy kenapa kamu bisa berlumuran darah seperti ini? Bagian mana yang terluka?" Tanya Jessica yang begitu mengkhawatirkan suaminya.


"Cynthia yang melakukannya, samar-samar ku dengar ia ingin membuatku lupa ingatan agar aku bisa melupakan semua tentang dirimu, sayang. Bagian mana yang terluka itu tidak penting yang terpenting adalah kondisimu dan kedua calon anak kita baik-baik saja bukan?" Jawab Andre yang mebuat Jessica kembali memeluk sang suami.


Netra Fabian yang menyaksikan keromantisan Jessica dan Andre rasanya sudah tak karuan. Kejadian malam ini benar-benar menekan jiwanya. Ia tiba-tiba saja tertawa terbahak memecahkan keheningan. Seluruh mata tertuju pada dirinya yang berdiri tak jauh dari Jessica dan Andre. Ia dipegangi oleh orang-orang Ferry yang membelot.


"Aku mengorbankan segalanya untukmu, Jessica dan kamu dengan tega mengacuhkanku hahahaha... Aku datang untuk menjemput mu pergi dari negeri ini. Aku ingin memulai kehidupan kita yang baru Jessica. Tapi apa yang ku dengar dan ku lihat sangat menyakitkan hati dan jiwaku. Kenyataan pahit yang harus ku dengar saat Mommyku mengakui dirinyalah yang dengan tega membunuh ketiga cucunya dan menantunya hanya karena dendam pada keluarga mu. Ia juga melakukan semua itu seakan-akan membantu ku untuk mempermudah jalanku menuju dirimu. Tapi apa?? Aku tak mendapatkan dirimu apalagi cintamu. Aku malah mendapati Kakak mu yang tanpa hati menghabisi nyawa Mommy ku. Permainan hidup macam apa ini? Hahaha... AKU MENCINTAIMU JESSICA SANGAT MENCINTAI MU!!! HAHAHAHA" Fabian terus mengatakan cinta pada Jessica lalu tertawa terbahak-bahak. Ia seperti kehilangan kewarasan.


Jessica yang melihat Fabian seperti itu memeluk erat tubuh sang suami, ia meminta perlindungan di balik tubuh kekar sang suami yang berlumuran darah.


"Tenanglah, dia tak akan menyakiti mu, ada aku." Sahut Andre yang mengelus rambut Jessica kemudian mencium pucuk kening sang istri.


Sedang Endah yang kesal disebut tak punya hati segera menghampiri Fabian. Dia menampar wajah Fabian dengan kerasnya.


Plakk!!!! Plakk!!! Dua tamparan Endah mendarat di wajah Fabian.


"Jangan asal bicara kau Duda tidak berkualitas! Aku menembak Mommy tercinta mu itu karena dia mau membunuhku sebelum kau dan Mommy tercinta mu itu membawa pergi adikku secara ilegal. Apa salah jika aku membela diriku dan keluarga ku hah? Aku ini tak seperti dirimu. Bagiku keluarga ku adalah segalanya. Kamulah manusia yang tak punya hati sebenarnya Om Duda. Tanpa hati kau mengabaikan perasaan istri yang begitu mencintai mu setulus hati segenap jiwanya. Meskipun cintanya dipatahkan oleh Mommy tercinta mu dia tetap mencintai mu dan anak-anak mu bahkan dalam penyamarannya agar bisa dekat dengan anak-anak mu sampai hati kau jadikan dia pelampiasan nafsu mu. Hingga lahir bayi laki-laki malang yang tak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari seorang Ayah. Yang kini nyawanya hilang sia-sia karena cinta buta sang Ayah pada seorang wanita bersuami yang tak akan membalas perasaan cintanya." Ucap Endah yang menceramahi Fabian panjang Lebar.

__ADS_1


Kata-kata Endah lagi-lagi menapar hati dan jiwa Fabian. Tubuh tinggi tegap dan kekar itu jatuh tersungkur ke atas lantai. Kaki-kakinya lemas tak bertulang menyadari kesalahannya dan air matanya mengalir begitu deras membasahi rahang tegasnya. Mengingatkan kembali bagaimana Hana merenggang nyawa didalam pangkuannya.


"ARGHHHH... AKU BODOH, AKU MEMANG KEJAM, AKU INI MEMANG TAK PUNYA HATI, MAAFKAN PAPI HANA...HANI...KENZO...MAAFKAN PAPI...MAAFKAN AKU MARGARETH TOLONG MAAFKAN AKU...!!!!" Pekik Fabian dalam penyesalannya. Ia menangis sejadi-jadinya dan kemudian kembali tertawa terbahak-bahak.


Andre dan Jimmy melihatnya begitu prihatin begitu pula dengan Nico. Akhirnya Jimmy menyuruh orang untuk membawa kembali Fabian ke Kota J.


"Bantu kembalikan dia ke kota J, pulangkan dia ke kediaman Bagaskara Orang Tuanya!" Perintah Jimmy pada orang-orangnya.


Tak lama berselang Fabian dibawa pergi oleh orang-orang Jimmy, Brata masuk kedalam ruangan Pabrik. Ia berlari menghampiri sang putra yang terlihat berlumuran darah.


"Son, kau harus kerumah sakit untuk mengobati luka-luka mu!" Perintah Brata pada putranya.


"Ya, aku akan kerumah sakit bersama dengan istri ku dan kedua mertuaku. Sepertinya Ibu mertuaku pingsan sejak tadi." Jawab Andre yang membuat ketiganya melihat ke arah Lestari yang berada di ujung sana.


Netra Brata melihat sahabatnya masih terikat dan belum ada yang melepaskannya. Sedangkan Lestari terduduk dengn kondisi terikat dan tak sadarkan diri.


"Jimmy, kau ini bagaimana? Kenapa Mertuamu belum kau lepaskan? Kau malah asyik berpelukan dengan istrimu." Omel Brata yang membuat Andre dan Jimmy tepok jidat.


"Tuan maaf saya lupa, saya terlalu terkesima menyaksikan semuanya dan betapa hebatnya istriku ini Tuan" Jawab Jimmy yang segera melepaskan pelukannya dan berlari kearah kursi kesakitan Nico.


Pujian yang iucapkan Jimmy membuat Endah senyum-senyum sendiri karena kegirangan.


Jimmy segera melepaskan seluruh ikatan tali yang mengikat tubuh Ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"Dasar menantu bodoh dan lamban pantas saja putriku itu terus mengumpatimu. Ternyata memang sesuai dengan kenyataannya. Kau itu sejak tadi diam saja. Kau itu hanya beraksi di awal itu pun atas perintah putriku. Seharusnya sejak tadi kau melepaskan ku, kau biarkan hanya dirimu yang menjadi superhero putriku hemm... Sangat egois. Harusnya kamu bisa berbagi peran dengan Ayah, Jimmy" Omel Nico yang membuat Jimmy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menoleh kearah sang istri yang sedang menertawainya dan kembali melihat kearah Brata, Andre dan juga Jessica. Ia mengangkat kedua bahunya bersamaan sambil memajukan bibirnya.


"Nasib oh nasib... memiliki mertua dan istri hobbynya marah-marah terus dengan ku. Seakan apa saja yang aku lakukan dimata mereka tak ada benarnya selalu saja salah dan salah terus." Batin Jimmy yang nelangsa mendapati omelan dari sang mertua.


__ADS_2