
Malam hari di kediaman Fabian.
"Papi, apa papi baik-baik saja?" tanya Hana saat Fabian menemani kedua anaknya tidur di kamar pribadinya.
"Papi baik-baik saja sayang." jawab Fabian memandang wajah anaknya.
"Hana sangat mengkhawatirkan Papi." ujar Hana kemudian memeluk Fabian .
"Kenapa kamu mengkhawatirkan Papi? Papi baik-baik saja." terang Fabian sambil membelai rambut panjang Hana.
"ekm...ekm... papi berbohong?" jawab Hana dengan mengelengkan kepalanya.
"Papi sedang tidak berbohong sayang." Fabian berusaha meyakinkan putrinya.
"Jika papi baik-baik saja kenapa wajah papi penuh dengan luka-luka, apa ini sakit Papi?" tanya Hana sambil menunjuk- nunjuk luka pada wajah Fabian.
"Luka ini Papi dapatkan karena Papi kurang hati-hati sayang, dan ini tidak sakit, tidurlah sayang ini sudah larut malam. lihatlah Hani adikmu sudah tertidur" terang Fabian.
"Hana tidak bisa tidur Papi, Hana sedang merindukan Tante Jessica, apa Papi tidak merindukannya?"
"Papi juga merindukannya sayang." jawab Fabian jujur.
"Berarti Papi juga tidak bisa tidur seperti aku karena merindukan Tante Jessica, betulkan Papi?" Hana bangun dari posisi tidurnya kemudian duduk menatap Fabian.
"Katakan pada Papi kenapa bisa kamu merindukan Tante Jessica yang cerewet dan berisik itu?" Fabian malah balik bertanya pada Hana kemudian merubah posisi anaknya untuk kembali berbaring.
"Tante Jessica sangat baik pada kami, setiap kali menjemput kami. Tante Jessica selalu memeluk kami dan memberikan kami ciuman yang sangat banyak seperti Mami teman Hana pih. Tante Jessica juga selalu menyuapini kami makan sampai makanan kami habis bahkan tante Jessica sampai rela tidak makan hanya karena kita ingin makanan miliknya. Papi tau Kami tidak pernah makan dengan tangan kami sendiri ketika kami bersamanya. Tante Jessica seperti mami untuk aku dan Hani pih, Andai saja Tante Jessica bisa jadi Mami kita, pasti kita akan seperti keluarga teman-teman Hana. Ada Papi Maminya. Dan liburan nanti pasti akan lebih berwarna jika ada tante Jessica bersama kita" Hana mengungkapkan isi hatinya. Apa yang dikatakan Hana membuat Fabian merasakan sesak di dadanya.
"Maafkan Papi Hana" ucap Fabian lirih.
"Kenapa Papi meminta maaf pada Hana?" tanya Hana.
"Karena sikap Papi pada Tante Jessica membuat kamu menjadi sedih seperti ini. Papi berjanji akan membuat Tante Jessica kembali menjemput kalian disekolah"
"Apa yang papi lakukan pada Tante Jessica, apa Papi memarahinya seperti biasanya? Minta maaflah padanya Pih. Tante Jessica orang yang sangat baik, dia pasti akan memaafkan Papi dan akan kembali memeluk aku dan Hani lagi. Oh. Tante Jessica aku sangat merindukanmu." ungkap lirih Hana kemudian menghapus air mata yang jatuh ke pipi cabinya.
"Ya Papi akan minta maaf pada Tante Jessica, sekarang tidurlah berusahalah memejamkan matamu" perintah Fabian pada Hana agar ia segera tidur. Fabian menatap kosong langit-langit di kamarnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Hana tertidur Fabian mengambil Ponselnya yang ada di nakas. Ia mencoba menghubuni Alan.
"Tutt...tut..." nada memanggil.
"Hallo selamat malam Pak Fabian, ada yang bisa saya bantu?" suara Alan disebrang sana terdengar serak seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya.
"Alan, maafkan saya yang mengganggu waktu tidurmu, bisakah kamu tiba dirumah saya besok lebih awal."
"Jam berapa saya harus datang Pak?" tanya Alan memperjelas.
"Saya harap kamu bisa datang jam 5 pagi." jawab Fabian
"Baik Pak, saya akan datang jam 5 pagi sesuai dengan yang bapak harapkan." jawab Alan.
"Mau kemana dia pagi-pagi sekali? Apa kerumah Nona Jessica lagi, oh menyusahkan sekali." keluh batin Alan.
"Terima kasih Alan, selamat malam, kau boleh melanjutkan tidurmu." ucap Fabian mengakhiri panggilannya.
Fabian mencoba memejamkan matanya namun tak berhasil. Malam ini dia terjaga hingga pagi menyapa. Jam 5 pagi Fabian sudah rapih dengan setelan Jasnya. Para asisten rumah tangga melihat keheranan karena Fabian sudah rapih hendak berangkat ke kantor pagi-pagi buta seperti ini.
"Bi, katakan pada mami aku berangkat lebih awal karena ada pekerjaan yang harus aku urus." ucap Fabian ketika bertemu dengan salah satu asisten rumah tangganya.
Fabian menunggu kehadiran Alan di teras depan rumahnya. Fabian terus menghubungi Alan menanyakan dia sudah sampai mana. Fabian nampak sudah tak sabar untuk kerumah Jessica. Ketika Alan sudah sampai di rumah Fabian. Fabian menyuruh Alan untuk berlari mengambil mobil di Garasi.
"Jalanlah dengan cepat Alan jangan seperti kura-kura" umpat Fabian pada Alan dengan suara yang meninggi. Alan tidak melawan ia mengikuti perintah majikannya. Ia berlari menuju Garasi setelah mendapatkan kunci mobil dari Fabian.
"Kita mau kemana Pak?" tanya Alan ketika sudah didalam mobil.
"Kerumah Jessica." jawab Fabian.
"Sepagi ini pak?" tanya Alan keheranan.
"Iya, apa salah?" jawab Fabian membalikkan pertanyaan pada Alan.
"Tidak salah Pak, mungkin Nona Jessica saat ini masih memeluk gulingnya dan kita sudah menjemputnya."
"Hahahaha kau betul Alan tapi walaupun dia masih tertidur aku akan tetap kerumahnya, aku akan menunggunya sampai dia keluar." terang Fabian bersikukuh untuk tetap datang kerumah Jessica.
__ADS_1
Pukul 05.20 Fabian dan Alan telah tiba dikediaman Jessica. Rumah tampak sepi namun lampu ruang tamu sudah menyala terlihat dari sinar terang yang keluar dari jendela rumah.
Fabian memutuskan menunggu didalam mobil, ia meminta Alan mematikan mesin mobil dan membuka sedikit jendela mobil agar udara segar dapat masuk kedalam.
"Kau menyadari perasaan mu sungguh terlambat Pak, dan kau yang seperti ini membuatku susah saja." gerutu Alan dalam hatinya.
Alan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya dibalik kemudi sambil menunggu Jessica keluar dari rumahnya karena ia sedikit mengantuk. Jam tidurnya berkurang karena ulah Fabian. Sedang Fabian, Ia terlihat sibuk mengecek E-mail dari karyawannya dikursi belakang. Ia memilih bekerja untuk menghilangkan rasa kantuknya. Berkali-kali arah matanya memandang rumah Jessica ia takut Jessica keluar rumah tanpa ia ketahui.
Ayah Nico yang baru pulang dari mesjid melihat mobil Fabian langsung mendekati mobil Fabian kemudian mengetuk kaca Jendela mobil Fabian.
"Tok...tok...tok" suara ketukan di jendela mobil Fabian.
Fabian melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya ternyata Ayah Nico, Melihat Ayah Nico berada didepan mobilnya. Fabian pun keluar dari dalam mobilnya. Ayah Nico sedikit terkejut melihat wajah Fabian yang terlihat memar dan ada beberapa luka sedikit terbuka dan terlihat memerah.
" Assalamualaikum." sapa ayah Nico.
" Waalaikumsalam Pak Nico." Fabian membalas salam Pak Nico. Fabian sudah mengenal Ayah Nico sejak kejadian Jessica tidak masuk kerja selama tiga hari waktu itu. Ketika itu Fabian sedang menunggu Jessica keluar, saat ada seseorang yang membuka pagar rumah Jessica, Fabian mengira yang keluar dari pagar rumah pada waktu itu Jessica namun ternyata yang keluar adalah Ayah Nico yang ingin berangkat bekerja. Mereka berkenalan dan berbicara sejenak.
"Pagi sekali anda menjemput putri saya Pak Fabian. Apa sedang ada event yang mengharuskan kalian berangkat sepagi ini?" tanya Ayah Nico.
"Hari ini tidak ada event Pak Nico, saya cuma eee.....eeee...... itu..... eeee." jawab Fabian tapi bingung untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
"Oh.... Saya mengerti Pak Fabian, tidak perlu anda jelaskan. Saya sebagai Ayah Jessica, saya mohon maaf atas perilaku dan sifat anak saya yang kurang sopan dan membuat Anda tidak nyaman Pak Fabian." ucap Ayah Nico yang mencoba menduga - duga yang telah terjadi pada anaknya dan Pak Fabian.
"Bapak tidak perlu minta maaf, disini sayalah yang bersalah. Makanya saya datang sepagi ini kerumah Bapak untuk meminta maaf pada Jessica. Saya juga mohon maaf jika kedatangan saya sepagi ini mengganggu kenyamanan Bapak Nico sekeluarga." ucap Fabian.
"Pak Fabian saya sangat mengenal bagaimana sifat putri saya, sebaiknya Anda pulang saja. Saya tidak ingin Anda kecewa dan kembali menyakiti anak saya. Beginilah anak saya jika disakiti dia akan merajuk dan sulit diajak bicara." terang Ayah Nico pada Fabian.
"Pak Nico bolehkah saya menunggu Jessica disini dan bolehkah saya meminta izin bapak untuk menaklukkan hati anak bapak, saya sadar akan status saya yang hanya seorang duda dengan dua putri." ucap Fabian meminta restu pada Ayah Nico.
"Duda atau bukan tidak jadi masalah bagi saya jika putri saya suka, saya bisa apa? Jika saya mengizinkan Anda, tolong jangan sakiti lagi putri saya." jawab Nico membawa angin segar untuk Fabian. Senyum terbit di wajah Fabian seketika itu juga.
"Anda harus berusaha keras untuk menaklukan putri saya Pak Fabian, Apalagi dalam kondisi yang seperti ini. Karena putri saya yang satu ini jika merajuk dia akan diam seribu bahasa dan bersikap acuh tak acuh pada orang yang menyakitinya. Jika anda kuat menghadapinya silahkan berjuang menaklukan hatinya tapi jika anda tidak sanggup tinggalkan dia tanpa harus menyakitinya lagi." terang Nico.
"Baik Pak, saya berjanji akan berjuang tanpa menyakiti hati putri Bapak." janji Fabian pada Nico.
"Saya pegang janji Anda, baiklah kalau begitu saya masuk dulu, maaf jika saya tidak meminta anda untuk masuk. Mohon anda mengerti." Nico pamit meninggalkan Fabian.
__ADS_1
bersambung....