
Hati Lestari begitu senang karena putra dan putrinya bisa di terima dan mendapatkan kasih sayang darikan keluarga suaminya, dulu dia pernah berfikir darah dagingnya bersama Nico akan di tolak dan di benci oleh keluarga suaminya itu karena telah lahir dari rahim wanita yang tak sederat dengan mereka. Tapi ternyata fikirannya itu salah, mereka begitu menyayangi anak-anaknya.
Di saat mereka berdebat Leon yang telah selesai membersihkan diri, terlihat keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki Leon menuruni anak tangga membuat semua orang berhenti berdebat.
"Leon cucuku sayang.... Lihatlah Nenli mu datang sayang," Dewi memanggil Leon kemudian segera berjalan menghampiri Leon dengan merentangkan kedua tangannya. Dewi berhenti dibawah anak tangga terakhir untuk menunggu Leon datang dan memeluknya. Leon yang mengerti Nenek yang begitu mencintainya itu menunggunya segara berlari kecil untuk mempercepat menuruni anak tangga.
Dewi yang melihat Leon berlari , terlihat begitu khawatir.
"Leon sayang, awas nanti kamu bisa jatuh, jangan berlari seperti itu, Nenli mu ini akan setia menunggu mu sayang," ucap Dewi yang membuat Abraham dan Adam menyeryitkan kedua alis mereka.
"Terlalu berlebihan," ucap Adam dan Abraham bersamaan.
Leon segera memeluk Dewi dan mencium kening Neneknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Cantik sekali Nenli ku hari ini yah bu," puji Leon pada Dewi sambil melirik ke arah Lestari.
Lestari menjawab dengan tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia masih nampak mengharu biru karena keluarga suaminya begitu menyayangi anak-anaknya.
"Leon, apa hari-hari kemarin Nenli tidak cantik hummm hingga kau berkata hari ini Nenli terlihat cantik?" Ucap Dewi sembari memukul dada bidang cucunya itu.
"Tentu hari kemarin Nenliku cantik dan hari ini lebih cantik dari hari kemarin." Puji Leon lagi yang membuat hati Dewi berbunga-bunga. Leon menempelkan pipinya ke pipi Dewi yang masih terlihat masih kencang dan kenyal di usia senjanya itu karena ia rajin melakukan perawatan kecantikan.
__ADS_1
"Gombal," umpat Abraham dan Adam bersamaan sembari melipat kedua tangannya di depan dada kemudian membuang pandangannya ke samping.
Entah kenapa kedua pria beda zaman itu terlihat begitu cemburu jika Leon bersama Dewi, seperti saat ini. Leon, Dewi dan Lestari mendengar umpatan itu namun mereka lebih memilih mengabaikannya. Tapi tidak dengan Dewi.
Sudah lama sekali sejak Nico pergi dari Mansion untuk waktu yang cukup lama hingga bertahun-tahun lamanya ia tak melihat lagi suaminya dan Anak sulungnya itu cemburu pada dirinya.
Dulu Dewi adalah Ratu satu-satunya di Mansion Abraham, semua orang berebut perhatian dirinya, mereka seperti bersaing dan berkompetisi mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih dari Dewi dan biasanya Nico-lah yang selalu jadi pemenangnya, karena dia punya daya pikat yang tinggi dan salah satu tipe pria yang hangat pada setiap wanita yang di sayanginya tidak seperti Abraham dan terlebih-lebih Adam yang terlihat kaku dan dingin pada setiap wanita.
Dan saat Nico kembali kini, Dewi pernah berekspektasi tinggi bahwa keadaan akan kembali seperti dulu namun sayangnya itu tidak terjadi. Nico telah berubah, ada benteng yang terlalu tinggi yang ia bangun untuk dirinya dan Dewi, hingga membuat harapan Dewi tak terwujud dan membuat hatinya sedih dan kecewa.
Saat harapan itu hilang dan musnah karena Nico membentengi dirinya, hingga memberi jarak yang begitu jauh yang Dewi rasakan kini. Tiba-tiba sosok Leon datang menggantikan peran sang Ayah yang diharapkan sang Nenek. Leon, cucu laki-laki satunya yang menjadi obat dari segala kesedihan sang Nenek dari rasa kecewanya akan perubahan sikap dan sifat sang ayah pada sang nenek.
"Cantik mana Nenli mu ini dengan Anna calon istrimu itu, Leon?" Tanya Dewi dengan sengaja, ia memancing Leon merayunya kembali.
"Kecantikan Nenli ku ini tak ada duanya, Nenli ku ini adalah biang dari segala biang kecantikan sedang Anna adalah biang dari segala biang gula, Anna itu manis sedang Nenli ku ini cantik. Karena Anna itu manis makanya aku ingin mempersuntingnya, Nenliku,"jawab Leon penuh kegombalan. Membuat Paman dan Kakeknya sama-sama seakan membuang ludahnya ke samping.
"Lalu... kalau Anna manis saja kau persunting bagaimana dengan Nenli mu yang cantik ini Leon?" Tanya Dewi lagi.
"Nenlu ku yang cantik ini tanpa ku persunting saja sudah bertahta di hatiku, lalu mau aku apakan lagi Nenli ku ini hummm," jawab Leon yang membuat Dewi kembali tersenyum mendapat jawaban yang ia inginkan.
"Uwekkk... Lestari, rasanya aku ingin muntah mendengar bualan anak lelakimu itu," ucap Adam yang sudah tak tahan Leon terus menggombali Dewi.
"Paman apa kau masuk angin atau kau sedang tertular Jessica yang kini berbadan dua?" Tanya Leon yang mencibir Adam sekalian menginformasikan kondisi Jessica yang tengah hamil secara tidak langsung.
"Apa??? Jessica hamil?" Tanya mereka yang sama terkejutnya.
"Ya dia hamil, memang kenapa jika dia hamil apa ada masalah?" Jawab Leon yang kembali membalikkan pertanyaan pada mereka.
"Hebat sekali Andre, apa dia membuat anak dengan jalan Tol? Hingga secepat ini...luar biasa, kau harus belajar banyak dari dia Leon jangan hanya gombal saja bisanya mulut mu itu," ucap Adam merespon pernyataan Leon kemudian tak lupa Adam mencibir Leon di kalimat akhirnya.
__ADS_1
"Paman ini kenapa menjadi sensi sekali dengan ku?" Tanya Leon pada Adam namun Adam mengacuhkannya.
Sedang Abraham terlihat senyum-senyum sendiri setelah mendengar pernyataan informasi yang diberikan oleh Leon jika Jessica tengah berbadan dua. Ia sedang berandai-andai di dalam fikirannya tentang kehamilan cucu yang telah mencuri perhatiannya itu.
"Leon, dimana Endah adik kandung mu sekarang Nak? Ibu ingin bertemu dengannya." Tanya Lestari yang telah berdiri dihadapan Leon tanpa Leon sadari Lestari sudah berjalan mendekatinya sejak tadi.
"Iya dimana cucuku Endah aku tak melihatnya sejak tadi,Leon?" Tanya Dewi menambahkan. Mata Leatari mengedar kesuluruh penjuru ruangan mencari sosok yang dicari.
"Ibu kau sudah tahu Endah adalah adik kandung ku, anak perempuan ibu?" Tanya Leon seakan tak percaya ibunya telah mengetahui Endah adalah adik kandungnya.
"Iya Nak Kakek dan Nenek mu sudah memberitahukan hal ini pada Ibu. Sekarang dimana adikmu?" Jawab Lestari kemudian kembali bertanya dimana keberadaan Endah yang ia cari sejak tadi.
"Adikku sedang di unit apartemen kekasihnya, Jimmy, Bu." Jawab Leon sembari melirik Abraham yang sedang senyum-senyum sendiri.
Leon ingin melihat reaksi sang Kakek mendengar dia mengatakan Endah berada di aparteman Jimmy yang berstatus kekasihnya cucunya itu. Sayangnya Abraham tidak mendengar perkataan Leon,membuat Leon tak bisa melihat merespon apapun dari Abraham.
"Kenapa kau biarkan adikmu berduaan dengan lelaki yang bukan suaminya didalam apartemen lelaki itu,Leon?" Lestari bertanya dengan nada kecewa.
"Ibu tak perlu khawatir Jimmy tak ada di unitnya, dia sedang pergi menyelesaikan urusannya, tadi di Bandara Endah dan Jessica pingsan hingga akhirnya Jimmy membawa Endah ke unitnya. Ini semua karena perbuatan Paman Adam yang terlalu melau, ia tak bisa memahami kondisi kami yang letih karena baru saja melakukan perjalanan jauh, memberitahukan perihal Endah adalah adik kandungku di Bandara tidak bisakah dia menunggu kami sampai di apartemen dulu." jawab Leon yang menyalahkan Adam pamannya sendiri di akhir kalimat yang ia ucapkan sebagai balasan telah mencibirnya sebelumnya.
"Aku melakukannya karena khawatir Endah akan diantar kerumah orang tua angkatnya, karena orang tua angkatnya hanya tau Endah pergi jalan-jalan keluar negri dengan Anna. Jika Endah sudah bersama Ferry, kita akan sulit bertemu dengannya sebelum menyerahkan saham perusahaan Ferry yang dimiliki Andre." Sahut Adam yang tak mau di salahkan.
"Oooo begitu rupanya... Apa Paman menangis begitu sedih di Bandara tadi karena saham yang dimiliki Andre belum ada di tangan Paman?" tanya Leon dengan senyum mengejek yang membuat jati Adam memanas.
"Sembarangan, aku menangis karena terharu dengan jalan hidup keponakan ku bukan karena saham, Leon jaga bicara mu, kamu ini benar-benar suka sekali mengejek ku." sahut Adam dengan kesal dan marah.
"Aku tak mengejek mu Paman, kau begitu salah mengartikan ucapan ku." sangkal Leon masih dengan senyum mengejeknya.
"Susah-sudah jangan ribut terus, Adam, Leon panggilkan mereka semua kesini, aku ingin bicara penting pada mereka semua!" Ucap Abraham menengahkan keduanya yang ingin memulai perdebatan mereka.
__ADS_1