
Setibanya di Istana Cassey berjalan pelan menuju ke paviliunnya, ia sengaja mengendap-endap agar tidak ada seseorang yang melihatnya.
**Greep!!
"Ngapain mengendap-endap kaya maling, memangnya kamu dari mana saja jam segini baru pulang, anak ditinggalkan sendirian, untung aku lewat kesini, jadi aku langsung tahu pas Rendra nangis minta susu," tutur Arkadewi kesal
"Maaf Omah, aku tadi menonton pertandingan Agni dan Garnetta, aku pikir cuma sebentar jadi gak sempat nitipin Kimmy sama Rendra ke Omah," jawab Cassey
"Siapa yang menang?" tanya Arkadewi
"Agni Omah, Garnetta sekarang harus kembali ke Surakarta, dan tidak boleh datang ke Jogja lagi sebagai hukumannya," sahut Cassey
"Syukurlah, karena kamu sudah kembali aku juga harus kembali ke paviliun ku," ucap Arkadewi
"Baik Omah, terima kasih sudah menjaga Kimmy dan Rendra," balas Cassey
"Sama-sama, lain kali jangan diulangi lagi, karena kalau Omah Welas tahu kamu bisa diusir istana ini, " jawab Arkadewi
"Iya Omah,"
Arkadewi segera berjalan meninggalkan kamar Cassey, ia menghentikan langkahnya ketika melewati paviliun Naeswari yang berada di sebelah paviliun Cassey, ia menengok ke arah kamar yang sedikit terbuka itu.
Arkadewi melihat Nay sedang mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, iapun memberanikan diri masuk untuk menolong gadis itu.
"Kamu kenapa Nay, apa perut kamu sakit?" tanya Arkadewi
"Perutku mulas sekali Omah," jawab Naeswari
"Jangan-jangan kamu mau melahirkan, memangnya sudah berapa bulan usia kandungan kamu?" tanya Arkadewi
"Tujuh bulan Omah," jawab Nay
Arkadewi kemudian memeriksa perut Naeswari.
__ADS_1
"Sepertinya kamu akan melahirkan, dimana suami kamu?" tanya Arkadewi
"Dia sedang mendampingi ka Bagas ke luar kota bersama kakek Danar," jawab Nay
"Sebentar aku panggilkan Lulu dan juga Damar dahulu,"
"Mama dan papa sedang pergi keluar kota Omah, mereka mengunjungi nenek Siti di Jakarta, jadi tidak perlu mengundang mereka pulang," jawab Nay
"Hadueeh!, kenapa saat genting seperti ini tidak ada orang di rumah, yasudah aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ujar Arkadewi
Ia segera memesan ambulance agar langsung membawa Nay ke rumah sakit.
Beberapa orang perawat segera berlari ke arahnya untuk melakukan pertolongan kepadanya Naeswari. Mereka membawanya ke ruang UGD.
Seorang dokter kandungan langsung membawa Naeswari ke ruang operasi.
"Maaf Yang Mulia karena kondisi Nay yang lemah terpaksa kami akan melakukan operasi cesar untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya, untuk itu mari yang mulia mengikuti saya untuk menandatangan surat persetujuan operasi," ujar sang dokter
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk cuciku," jawab Arkadewi
Sepuluh menit kemudian terdengar suara tangis bayi, sang dokter kemudian memperlihatkan sang bayi kepada ibunya. Naeswari terlihat shock dan langsung pingsan ketika melihat buah hatinya tidak terlahir normal seperti harapannya.
Dokter segera mengambil tindakan medis ketika mengetahui kondisi Nay yang menjadi kritis pasca melihat buah hatinya.
"Apa yang terjadi dengan cucuku dok?" tanya Arkadewi ketika melihat Nay yang belum sadarkan diri dibawa ke ruang perawatan
"Mohon maaf Yang Mulia mungkin Putri Naeswari shock ketika melihat buah hatinya, makanya ia sekarang belum sadarkan diri, tapi percayalah sebentar lagi ia akan segera sadar," jawab dokter
"Memangnya kenapa dengan bayinya, apa yang terjadi dok?, apakah bayi yang ia lahirkan tidak sempurna?" tanya Arkadewi penasaran
"Bayinya sempurna, hanya saja dia itu memiliki kelainan albinisme atau albino yang mana kulit dan rambutnya tidak seperti orang Indonesia mungkin hal ini karena yang mulia menikah dengan saudara sepupunya sehingga beresiko memiliki ketirunan dengan kelainan genetik," jawab sang dokter
Arkadewi mengangguk paham ketika dokter itu menjelaskan kenapa bayi Naeswari albino.
__ADS_1
"Ya... aku paham, tapi aku minta padamu untuk tidak menyevarbarkan berita ini kepada siapapun, cukup aku, kau, dan Naeswari saja yang tahu jika bayi Nay itu terlahir albino," tandas Arkadewi
"Baik yang mulia," jawab Sang Dokter
Arkadewi segera menuju ke kamar inap Naeswari, ia melihat gadis itu masih belum sadarkan diri diatas brankarnya.
"Kasihan kamu Nay, Aku tahu kamu pasti shock ketika mengetahui buah hati kamu adalah seorang albino, sayang sekali Nay, dengan usiamu yang masih sangat muda harus menghadapi ujian yang begitu besar," wanita paruh baya itu mengusap lembut rambut Naeswari membuat gadis itu sedikit demi sedikit mulai membuka matanya.
"Dimana bayi saya Omah?" tanya Nay parau
"Ada di ruang inkubasi, karena bayimu terlahir prematur jadi harus di inkubator dulu," jawab Arkadewi
"Apa bayiku cacat Omah?" tanya Naeswari sedih
"Jangan bersedih sayang, karena kalau kau sedih pasti sakitkan perut kamu, karena jahitan kamu masih basah, jadi kalau sedih, ketawa atau batuk serta bersin masih sakit bukan?" tanya Arkadewi melihat Nay yang meringis sembari memegangi perutnya.
"Iya Omah, tolong jawab Omah, apa anaku cacat?, katakanlah Omah, aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak salah lihat tadi," ucap Nay memaksa
"Bayi kamu normal sayang, hanya saja memiliki kelainan genetik albinisme atau albino, dimana kulit dan rambutnya tidak normal seperti kita," jawab Arkadewi hati-hati
Mendengar jawaban Arkadewi Nay tidak kuasa menahan kesedihannya, ia menangis sejadi-jadinya meski harus menahan sakit fi bekas jahitannya.
"Sabar sayang, Omah sedang mencari jalan keluar untuk masalah kamu ini," tutur Arkadewi menenangkan Naeswari
"Aku tidak mau bercerai dengan Pandu Omah, aku gak mau jadi janda," ucap Nay semakin terisak
"Siapa yang akan menceraikan kamu, tidak ada sayang, aku yakin Pandu mengerti apa yang terjadi padamu," jawab Arkadewi
"Omah Welas yang akan memisahkan aku dan Pandu jika ia tahu aku melahirkan bayi yang cacat, karena itu sudah perjanjian kami. Waktu aku akan menikah dengan Pandu, Omah melarangku dengan alasan kami beresiko tinggi untuk memiliki keturunan yang cacat karena kelainan genetik, karena pernikahan sedarah kami, tapi aku selalu meyakinkan Omah bahwa aku tidak akan melahirkan bayi dengan kelainan genetik ataupun cacat, dan dengan sombongnya aku juga berjanji bersedia bercerai dengan Pandu jika aku memiliki bayi cacat," papar Naeswari sambil terisak
"Kau sudah tahu resiko pernikahan kamu, tapi kau masih saja melanjutkan Pernikahan ini, tapi ya sudahlah nasi sudah jadi bubur, jadu tidak bisa diperbaiki lagi. Jalan satu-satunya agar kau tidak bercerai dengan suamimu adalah kau harus membuang anakmu, dan membuat berita palsu kalau anak yang kau lahirkan mati, hanya itu yang ada dalam pikiranku saat ini, bagaimana kau setuju atau tidak?" tanya Arkadewi
"Apa tidak ada cara lain Omah, aku bahkan belum menyusui putriku, masa kami sudah harus berpisah?" tanya Nay semakin sedih
__ADS_1
"Hanya itu caranya Nay, kecuali kau bersedia berpisah dengan Pandu, maka kau akan selalu bersama anakmu," jawab Arkadewi membuat Nay semakin bimbang